SESUATU YANG TERTUNDA

SESUATU YANG TERTUNDA
17. Antara keraguan dan keinginan 03


__ADS_3

"Jaka ketemu sama Mas Dodi, dengan Nanang?" tanya Papa.


"Iya Pa," sahut Jaka.


Rena pun datang, dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan cemilan.


"Kopinya Mas," ucap Rena sambil tersenyum manis.


"Iya Dek, makasih ya," balas Jaka pun tersenyum.


'Eehmm... Eehmm... Gitu dong Dek, ini baru calon istri yang baik, calon suami datang disambut dengan secangkir kopi, dan senyuman," goda Mama.


"Kan Adek latihan Ma, biar bisa kayak Mama dan Papa," sahut Rena sambil tersipu.😚😚


Jaka yang sudah terbiasa dengan kejadian kayak gini pun hanya tersenyum.


"Berarti Mas Dodi, sudah tau kalo Jaka jadi Anak angkatnya Ayah, dan Bunda. Dan tentang hubungan kalian berdua," tanya Papa dengan penasaran.


"Iya Pa, Om Dodi sudah tau kok, karena Jaka sudah ceritain semua apa adanya," jawab Jaka sambil mengambil sebatang rokok, dan menyalakan nya.


"Ya udah kalo kayak gitu, nanti kita sambung lagi ceritanya, di rumah Ayah mu. Papa mau mandi dulu," kata Papa sambil beranjak dari duduknya.


"Iya Paa, silahkan," jawab Jaka.


"Emangnya Mas Jaka dari mana tadi?" tanya Rena.


"Mas tadi dari showroom mobil kota Z Dek, cari info harga mobil, dan persyaratan kredit, rencananya, untuk armada angkutan kebun," jawab Jaka sambil menyeruput kopinya.


"Sendiri aja berangkat tadi Mas?" sambung Rena.


"Nggak Dek, Mas berangkat bersama Nanang," sahut Jaka sambil menghisap rokoknya.


"Nanang? Yang kerja sama Papa ya Mas?" tanya Rena lagi.


"Iya Dek, emangnya kenapa?" sahut Jaka sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa Mas, cuma nanya aja," sahut Rena.


"Tadi nyampe sini jam berapa Dek?" tanya Jaka


"Kami nyampe nya baru kok Mas, paling juga cuma selisih 15 menitan, dari kedatangan Mas Jaka," sahut Rena.


"Mas Jaka biasanya tidur di kamar belakang ya?" sambung Rena.


"Iya Dek, emang itu kamar siapa sebelumnya?' balas Jaka.


"Itu kamar tidur Adek, Mas," sahut Rena.


"Oke, berarti nanti Mas beres-beres barang dulu Dek, selama kamu liburan disini, nanti Mas ngungsi ke rumah Ayah aja." Ucap Jaka sambil tersenyum.


"Iyaa mas," jawab Rena.


"Dek, Mas mandi dulu ya. Kayaknya Papa, dan Mama sudah selesai." Sambung Jaka.


"Iya Mas." Jawab Rena tersenyum


Jaka pun bergegas mandi, dengan langsung membawa pakaian ganti nya.


Setelah mandi Jaka pun langsung membereskan pakaiannya, ke dalam tas ransel, untuk dibawa ke rumah Ayah angkatnya. Dan langsung melaksanakan kewajiban nya seperti biasa.


Setelah semuanya telah selesai, melaksanakan kewajiban mereka, semuanya bersama-sama berjalan, menuju rumah Ayah angkat Jaka.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka bersama.


"Wa alaikumussalam warahmatullah. Ayoo, silahkan masuk semuanya," sambut Ayah Jaka.


"Jaka barang-barang mu masukkan aja, ke kamar depan, trus langsung ke meja makan ya, kita makan malam bersama," kata Ayah yang melihat Jaka membawa tas ranselnya.


"Ayoo Mas Hadi, Mbak dan semuanya, kita langsung ke meja makan aja, untuk makan malam bersama." Ajak Ayah ramah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya Ayah," jawab Jaka sambil tersenyum.


Setelah selesai meletakkan tas ranselnya di kamar, Jaka pun langsung menyusul, ke meja makan, untuk makan malam bersama.


"Ayo semuanya, silahkan, jangan malu-malu," ucap Bunda ramah.


Mereka pun makan malam bersama, dengan riang dan bahagia, karena bisa berkumpul bersama.


Setelah makan, jaka menyusul Papa, dan Ayah nya ke teras rumah.


Dia mendengar percakapan antara Papa, dan Ayahnya, tentang Gatot, dan anak buahnya.


"Papa kurang setuju, dengan mereka dijadikan sebagai orang kepercayaan Jaka. Ayah pun tersenyum sambil menjelaskan, kalo Jaka bersikeras untuk menjadikan Gatot, dan anak buahnya, sebagai orang kepercayaannya. Jaka pun muncul dihadapan Papa, dan Ayah nya.


"Nah Mas Hadi, nih Anaknya baru nongol. Mas Hadi tanyakan aja langsung." Ceplos Ayah.


"Emang ada apa Pa?" sahut Jaka.


"Papa penasaran Jaka, kenapa kamu mau menjadikan Gatot, dan anak buahnya, sebagai orang kepercayaan mu," jawab Sang Papa kesal.


"Papa jangan marah-marah dulu dong, Papa nggak merhatiin ya, kalo Papa marah-marah kerutan-kerutan di jidat Papa nambah, entar cepat tua lhoo," goda Jaka.🤭🤭


"Iya Mas Hadi, bener tuh omongan Jaka. jangan suka marah-marah nanti cepat tua." Sambung Ayah. 🤭🤭


"Memang ya, kalian berdua ini kompak banget, ngerjain aku, dasar Ayah, dan Anak sama errornya," sahut Papa sambil tersenyum.


"Nah gitu dong Pa, kalo Papa tersenyum, Papa tuh kelihatan lebih muda 10 tahun," sambung Mama. Rena pun datang, sambil membawa nampan, berisi 3 gelas kopi hitam, dan cemilan. 🤔🤔


"Ternyata kalian semua memang kompaknya kelewatan," sahut Papa.


'Siapa dulu dong Papa nya," sahut Rena. 😉😉


"Jadi gini Pa, mereka berenam sudah bersumpah dan kami bertekad, untuk menjadi saudara angkat. Mereka pun sudah anggap Jaka sebagai Abang mereka. Alhamdulillah, setelah melakukan aktifitas bersama beberapa hari ini, mereka berenam, menunjukkan semangat, dan perilaku yang baik. Jaka yakin bahwa mereka berenam bisa berubah, menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.' Kata Jaka.


"Kok bisa mereka berubah seperti itu Mas, emangnya mereka kamu apain Mas?" Tanya Papa penasaran.


"Mereka nggak di apa-apain Mas Hadi, cuma dihajar Jaka aja sampe rawat jalan," ceplos Ayah sambil tersenyum.


"Nggak juga sih, nggak dihajar kok Pa. Mereka yang awalnya nantang, trus Jaka ajak olahraga bareng," jawab Jaka sambil cengengesan.


"Pantesan mereka berenam bisa berubah seperti itu.


Ya sudahlah kalo kayak gitu, sekarang semua terserah sama Mas aja." Kata Papa sambil tersenyum.


"Terus gimana Jaka urusan mu, yang katanya mau cari armada bakal angkutan hasil kebun," ucap Ayah penasaran.


"Iya Mas gimana hasilnya," kata Rena yang diikuti wajah penasaran Papa, Mama, Bunda dan Tami.


Wah udah mau serius nih, bentar-bentar time out dulu ya, mau ngatur nafas dulu, jawab Jaka 😅😅


Jaka pun langsung mengeluarkan 2 bungkus rokoknya, mengambil sebatang rokok kretek dan menyalakannya. Tak lupa dia menyeruput kopinya lalu menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.


"Sabar ya." Sambung Jaka sambil mengambil HP nya, dan bergegas menelpon video call Om Dodi, dengan me-loud speaker HP nya.


"Halo. Assalamu'alaikum, ada apa Jaka?" ucap Om Dodi.


"Wa alaikumussalam warahmatullah, ini Om, ada Papa sekeluarga, dan Ayah, Bunda, mau dengar cerita yang kita obrolin di kantor Om Dodi kemaren.


Pesan Om Dodi kan, kalo kami ngumpul, dan ada yang nanyain tentang obrolan kemarin harus nelpon Om Dodi dulu. biar Om Dodi yang menjelaskan sendiri. Mangkanya Jaka nelpon Om,, sahut Jaka panjang kali lebar.


'Silahkan Om Dodi, HP nya sudah di loud speaker kok. Nih, rame kan disini," kata Jaka sambil mengambil gambar semua orang yang ada disitu.


"Apa kabar Mas Dodi,"kata Papa, Mama bersamaan.


"Iya Mas, Mas Dodi, dan keluarga sehat kan?" sambung Ayah, dan Bunda bareng.


"Alhamdulillah kabar ku baik, dan kami sekeluarga sehat wa Afiat." Sahut Om Dodi ramah sambil tersenyum.


"Hadi, yang bakal jadi calon istrinya Jaka yang mana?" Tanya Om Dodi penasaran.

__ADS_1


"Yang ini Om," sahut Jaka sambil mengarahkan kamera ke Rena.


"Itu anakku,Rena Mas Dodi," balas Papa.


"Pantesan Jaka kesemsem sama dia, ternyata Jaka pinter banget nyari calon istri," goda Om Dodi.


"Om Dodi bisa aja," sahut Jaka dan Rena 😚😚


"Itu cewek yang satu lagi siapa?" sambung Om Dodi.


"Itu Anak kami sendiri," sahut Mama sambil tersenyum.


"Mbak Lisa dan Dira, kemana Mas Dodi?" tanya Bunda.


"Mereka berdua lagi keluar, mungkin sekarang dalam perjalanan pulang." Jawab Om Dodi.


"Ngomong-ngomong kapan nih ceritanya dimulai," ceplos Papa yang penasaran.


"Oke, oke, jadi gini ceritanya.


Kemaren aku ngeliat Jaka di showroom, lagi ngobrol dengan Rudi karyawan ku, aku kenal jaka karena dia itu ojol Gojek, langganan ku. Dan aku merasa kenal dengan karakter, dan wataknya, yang mirip dengan Almarhum mas Adjie, sejak awal pertama kali kami bertemu.


Akhirnya aku minta tolong Rudi nganterin Jaka dan Nanang ke kantor ku.


Setelah Jaka menceritakan maksud, dan tujuannya datang ke showroom mobil.


Jaka menceritakan pertemuannya dengan Rena dan Mirna, terus ketemu Tami, dan mampir ke rumah mu Hadi, dan kamu kasih kepercayaan, untuk mengurus kebun sawit, mangga dan durian.


Dan akhirnya kesini dan diangkat Seno dan Ratih sebagai Anak. Alhamdulillah keinginan Seno dan Ratih menjadikan Anak Almarhum Mas Adjie sebagai anak angkatnya tercapai.


"Iya Mas Dodi, Alhamdulillah, keinginan kami tercapai," sahut Ayah dan bunda Jaka, sambil tersenyum bangga.


"Ternyata setelah perpisahan selama 8 tahun ini, Allah SWT mempertemukan kita, dan Jaka dengan cara yang berbeda. Jaka telah hadir sebagai sosok yang baik, pemberani, tegas, suka menolong, dan berwibawa. Persis seperti watak dan karakter Almarhum Mas Adjie dan Mbak Fira.


Akhirnya setelah pertemuanku dengan Jaka kemarin, aku memutuskan untuk membuka, dan menceritakan sesuatu yang tertunda dulu.


Sesuatu yang seharusnya, kita bicarakan 8 tahun yang lalu dengan jaka, karena saat itu kita tidak mengetahui keberadaan jaka.


Sekarang Jaka sudah ada disini bersama kita. Apapun yang terjadi, dan konsekuensinya, setelah semua didengar dan diceritakan ke Jaka adalah sesuatu yang harus kita terima, dan jalani tanpa ada penolakan.


"Bagaimana Hadi, Seno, apakah kalian semua setuju dengan keinginan ku ini, yang juga merupakan pesan terakhir Almarhum Mas Adjie?" ucap Om Dodi panjang kali lebar, dengan tegas dan lugas.


"Iya Mas Dodi, kami siap Mas," jawab Papa dan Ayah dengan tegas.


"Ratih, Mirna bagaimana dengan kalian berdua, apakah kalian siap?" sambung Om Dodi.


"Kami siap Mas Dodi," jawab Mama dan Bunda dengan tegas.


Jaka, Rena dan Tami hanya menyimak dalam diam karena mereka semuanya bingung dengan apa yang terjadi.


"Jaka Pambudi bin Setyo Adjie Pambudi apakah kamu mendengarkan suara ku?" ucap Om Dodi dengan penuh ketegasan.


"Iya Om Dodi, aku dengar suara Om dari tadi," sahut Jaka tegas dan berwibawa.


"Inilah yang aku suka dari mu Jaka, dalam keadaan apapun kamu masih bisa tegas dan berwibawa, walaupun sebenarnya kamu sedang bingung. Karakter ini pun dimiliki oleh Almarhum Papamu.


Sesungguhnya apa yang kamu alami, selama 8 tahun ini mirip, dengan apa yang dialami almarhum Papa mu dulu. Kalian sama-sama memulai segalanya dari nol, dan kalian pun merekrut, orang-orang kepercayaan dengan cara kalian sendiri.


Mas Adjie dan kamu bisa melihat, menilai, dan mengevaluasi kinerja seseorang yang kalian temui, dan merekrut mereka tanpa paksaan, untuk mendedikasikan hidupnya, untuk selalu mengikuti, dan mentaati semua keinginan kalian. Dan apa yang kau ceritakan, tentang enam saudara angkat mu mirip dengan kejadian yang kami alami, dengan Almarhum mas Adjie Papamu. Dan apa yang kami miliki sekarang, sesungguhnya adalah milik Almarhum mas Adjie, dan mbak Fira. Kami hanya mengelola bisnis, dan keuangan Almarhum mas Adjie. Rumah yang kami tempati, dan kebun, serta beberapa perusahaan, showroom yang aku, mas Harto, Hadi, Seno, dan almarhum mas Haryo kelola, semua nya adalah milik Almarhum mas Adjie papa mu. Itu berarti semuanya yang kami tempati, dan kami kelola adalah milikmu. Milik Jaka Pambudi." Kata Om Dodi menjelaskan panjang kali lebar dengan tegas.


"Maksud Om Dodi. Jaka yang memiliki semua itu Om?" tanya Jaka dengan tegas.


"Iya Jaka, semua itu milik mu," sahut Om Dodi sambil tersenyum.


"Ayah, Bunda, apakah semua yang dikatakan Om Dodi tadi benar?" tanya Jaka.


"Iya Nak, semua yang diceritakan benar," jawab Ayah dan Bunda bersamaan, sambil tersenyum.


"Papa, Mama apakah..." Sebelum Jaka menyelesaikan kata-katanya.

__ADS_1


"Iya Mas semua itu milik mu," potong Papa dan Mama sambil tersenyum.


__ADS_2