
"Siap Bang! Semuanya bermula dari Bang Jaka, Karena perintah Abang yang kadang berubah, tentang tempat untuk acara akad nikah, dan resepsi pernikahan. Aku sempat bingung, ngatur persiapan acaranya Bang, Awalnya sudah mulai disiapkan di aula serbaguna, yang ada di Hotel. Trus, karena ngeliat rooftop Hotel, Abang minta acara diadakan disana. Jadi, karena hal itulah aku belum pulang kerumah, sampai saat ini Bang." kata Fendi bercerita.
"Jadi aku yang salah nih?" tanya Jaka, sambil tersenyum jahil.
Fendi pun hanya diam, tanpa kata. Karena tidak berani menyalahkan Boss nya.
"Fendi, Fendi! Menurutku kamu nya, yang bego bin goblok! Kamu bisa mengatur persiapan acara sebesar ini, tapi kamu nggak bisa ngatur persiapan mu untuk keluarga kecilmu!" kata Jaka.
"Maksudnya apa Bang?" tanya Fendi dalam kebingungannya.
"Fendi! Kamu kan bisa atur sendiri, bego! Kalo kamu nggak bisa pulang, tapi ingin kumpul bersama keluarga mu," kata Jaka kesal.
"Aku masih nggak nyambung Bang!" kata Fendi.
"Ya Allah, cukup satu aja adikku yang bego kayak gini, jangan engkau beri aku Adik bego yang lainnya." sahut Jaka sambil geleng-geleng kepala.
"Fendi! Sekarang aku tanya sama kamu! Yang ngomong ke aku kalo kamar VVIP di lantai 7, semuanya sudah dibooking, dan disiapkan untuk keluarga kita, siapa?" tanya Jaka kesal.
"Iya aku lah Bang," jawab Fendi, yang masih bingung dan belum tau, arah omongan Jaka kemana.
"Nah, udah mulai pinter dia, udah bisa jawab!" kata Jaka.
__ADS_1
"Sekarang aku tanya lagi! Kamu sudah ku anggap Adikku! Adikku yang bego bin goblok, yang barusan mulai pinter, karena bisa jawab pertanyaan Abangnya! Kalo kamu sudah ku anggap Adikku, berarti kamu itu keluarga ku atau bukan?" tanya Jaka kesal.
Fendi pun bengong lagi.
Pletaak ...
"Aduuh ... sakit Bang," kata Fendi yang dijitak Jaka, sambil mengosok-gosok keningnya.
"Mangkanya, cepetan dijawab!" kata Jaka.
"Aku mau jawab Bang! Tapi aku tuh bingung, pertanyaannya apa?" sahut Fendi.
Pletaak ...
"Ini terakhir aku mengulangi pertanyaannya, kalo sampe kamu minta ulangi lagi. Awas!" kata Jaka.
"Iya Bang," sahut Fendi.
"Sekarang dengerin aku baik-baik! Aku sudah anggap kau adikku, trus kau juga sudah anggap aku ini, Abang mu! Berarti kamu itu, keluarga ku atau bukan?" tanya Jaka.
Dengan respon cepat Fendi pun menjawab, "Iya keluarga lah Bang."
__ADS_1
"Nah, sudah mulai printer dia," kata Jaka.
"Sekarang Aku tanya lagi! Kita ini keluarga kan? Dan kamar VVIP di lantai 7 sudah dibooking semua untuk keluarga kita! Trus yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa Istri dan anak mu nggak dibawa ke Hotel, dan menempati salah satu kamar VVIP itu. Adikku yang bego?" Kata Jaka.
"Iyaa ya ... kok aku nggak mikir kayak Abang barusan," sahut Fendi sambil menepuk keningnya sendiri.
"Sini ku bantu," kata Jaka dengan posisi siap menjitak kepala Fendi lagi.
"Terimakasih Bang, nggak usah repot-repot, Bang Jaka jitak kening Abang sendiri aja," kata Fendi sambil cengengesan.
"Sekarang kamu pulang jemput anak istrimu ke Hotel. Tapi, aku ingin tau, bagaimana cara menjemput keluargamu?" tanya Jaka lagi.
"Aku langsung ke parkiran Bang, ambil mobilku, dan langsung menjemput keluarga ku," sahut Fendi sambil tersenyum puas.
Pletaak ...
Aduuh ... Bang sakit," kata Fendi yang menggosok-gosok keningnya lagi.
"Ya Allah, ternyata adikku ini masih bego, jadikanlah Adikku ini pinter Ya Allah," kata Jaka.
"Salah lagi ya Bang?" tanya Fendi dengan polosnya.
__ADS_1
"Fendi, Fendi! kamu itu wakil Direktur Utama Bank KH, kreatif dikit, masak nggak bisa! Kata Jaka sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.