
Sinar kalang kabut mendengar panggilan itu dari luar. Apa yang dia khawatirkan sebelum kakek Joni berangkat dari rumah akhirnya terjadi juga. Seorang pria berada di luar rumah dan sepertinya hendak bertemu dengan kakek Joni. Masalahnya sekarang kakek Joni tidak ada di rumah. Masalah yang lainnya adalah Sinar berada di rumah itu dengan Danish yang bukan saudara karena pertalian darah.
Sinar menempelkan jari telunjuknya ke arah Danish menyuruh pria itu untuk diam. Sinar bingung. Siapa diantara mereka berdua yang harus bersembunyi supaya tidak membuat pria di luar itu curiga.
Danish menurut. Pria itu juga merasa bingung melihat wajah Sinar yang penuh kecemasan. Jika Sinar mengetahui tentang adat dan Norma yang berlaku di pertama terilosi ini. Danish tentu saja tidak mengetahui hal itu. Hal yang wajar, karena Danish pendatang baru dan bahkan karena terpaksa berada di tempat ini.
Akhirnya Sinar memutuskan Danish yang bersembunyi. Untuk membantu pria itu bersembunyi di dalam kamar tentu saja butuh waktu yang lebih lama. Akhirnya Sinar menggeser ember besar ke hadapan Danish. Beruntung mereka masih berada di dapur sehingga kecil kemungkinan jika pria yang berada di luar itu mengetahui ada orang lain selain Sinar di rumah itu.
Sinar berjalan ke dalam rumah. Bahkan dirinya juga lupa jika dirinya juga seharusnya tidak boleh diketahui orang lain di rumah itu. Dengan yakin, Sinar membuka pintu rumah.
"Sinar, kamu cucunya kakek Joni kan?" tanya pria itu.
"Benar paman. Paman ingin bertemu dengan kakek?. Tapi sayangnya, kakek tidak ada di rumah. Nanti sore paling lama kembali," jawab Sinar dari pintu rumah. Sinar tidak mempersilahkan pria itu masuk ke rumah Karena hal itu tidak boleh. Sinar seorang perempuan. Dia tidak boleh menerima tamu laki laki di saat dirinya hanya sendiri di dalam rumah. Pria yang berada di luar rumah itu juga sudah mengerti jika hanya Sinar yang ada di dalam rumah. Begitulah suatu kebiasan di perkampungan itu dan masih lestari s sampai saat ini.
"Benar Sinar. Tolong sampaikan pesan kepada kakek supaya nanti datang ke balai pertemuan jam tujuh. Ada rapat tentang pembangunan jembatan di sungai," kata pria itu.
"Baik paman. Akan aku sampaikan," jawab Sinar. Sinar merasa senang mendengar perkataan pria itu. Sebagai cucu dari orang kampung ini. Sinar ingin perkampungan ini maju dan tidak terilosi lagi. Jika ada jembatan di sungai, mobilitas penduduk ke luar perkampungan akan tinggi. Setidaknya akan bisa masuk kendaraan bermotor ke perkampungan terilosi itu. Sinar juga berharap pembangunan jembatan itu cepat dilaksanakan demi kemajuan perkampungan.
Sinar menarik nafas lega melihat pria itu menjauh dari halaman rumah. Saat ini dirinya dan Danish selamat dari kecurigaan orang kampung. Meskipun dirinya dan Danish tidak melakukan hal hal yang melanggar Norma. Jika ketahuan dan dijelaskan pun. Penduduk tidak akan percaya.
__ADS_1
Kecemasan di wajah Sinar kembali terlihat ketika sore hari menjelang. Wujud sang kakek belum muncul di rumah itu seperti janji kakek Joni sebelum berangkat. Bahkan hingga pergantian hari sudah di depan Mata. Kakek Joni juga belum muncul. Berkali kali Sinar membuka pintu rumah dan menatap jalanan berharap kakek Joni muncul dari kejauhan.
"Mungkin kakek kelelahan dan memutuskan menginap di desa seberang," kata Danish berusaha menenangkan Sinar yang sedari tadi mondar mandir ke pintu rumah.
"Tidak mungkin dan tidak boleh," jawab Sinar cepat. Sinar juga tahu bahwa kakek Joni tidak mungkin membiarkan mereka berdua di rumah itu. Kakek Joni adalah salah satu orang yang dituakan di perkampungan itu dan pasti mengetahui apa dampaknya jika dirinya tidak pulang.
Danish tidak mengatakan hal apapun lagi. Dia berpikir jika Sinar cemas berlebihan seperti itu karena memikirkan keselamatan kakek Joni. Melihat kecemasan Sinar, Danish juga merasa bersalah. Karena memenuhi permintaan dirinya lah Kakek Joni tidak ada di rumah saat ini.
Hingga hari sudah gelap. Jam tujuh sudah tiba. Kakek Joni juga belum muncul. Ketakutan semakin jelas terlihat di wajah Sinar.
Ketakutan itu semakin jelas terlihat ketika ada suara dari luar kembali memanggil kakek Joni. Kali ini tidak satu orang melainkan ada tiga orang. Mendengar langkah mereka. Bisa dipastikan jika tiga orang itu sedang menaiki tangga. Sinar kembali kalang kabut. Pintu itu tidak terkunci hingga pintu di dorong dari luar. Sinar dapat melihat jika salah satu dari tiga orang itu adalah salah satu dari orang yang tadi siang.
"Sinar, kakek Joni sudah pulang?" tanya salah satu dari orang. Mereka bertiga memang terkejut melihat ada pria lain di rumah itu masih terlihat bersikap biasa.
"Be..be..lum paman," jawab Sinar gugup dan jujur.
"Jadi sejak tadi siang kalian berdua di rumah ini?" tanya pria itu lagi. Wajahnya dan wajah dua orang lainnya sudah terlihat berubah. Sinar menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap tiga orang itu. Tanpa dijawab, mereka pasti sudah mengetahui jawabannya.
"Siapa namamu?" tanya pria itu lagi kepada Danish. Matanya mengamati kaki Danish. Mereka tidak heran jika ada orang yang berobat di rumah ini karena mereka mengetahui keahlian kakek Joni. Tapi apapun alasannya mereka tidak akan membiarkan dua manusia berbeda jenis kelamin yang bukan bersaudara tinggal dalam satu atap tanpa adanya pernikahan. Mereka mempunyai kepercayaan jika membiarkan hal seperti itu akan mendatangkan bala di perkampungan mereka.
__ADS_1
"Danish Pak," jawab Danish.
"Sudah berapa lama kamu sudah disini?"
"Sudah satu minggu?" tanya pria itu terkejut. Danish menganggukkan kepalanya merasa tidak bersalah sedangkan Sinar masih menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya sendiri.
"Apa hubungan kamu dengan Sinar?" tanya nya lagi. Sinar semakin cemas.
"Sinar yang menyelamatkan aku dari sungai."
"Kamu tahu apa hukuman bagi kalian yang mencemari perkampungan kami?" bentak pria itu sudah mulai marah. Danish menggelengkan kepalanya. Pria itu mengatakan apa yang menjadi peraturan di desa itu. Mendengar perkataan pria itu, Danish mengerti apa yang ditakutkan Sinar sejak keberangkatan kakek Joni tadi pagi.
"Tapi kami tidak melakukan hal yang melanggar Norma paman," kata Sinar.
"Siapa bisa percaya. Apa ada orang yang mengawasi kalian selama kakek Joni tidak ada di rumah. Siapa yang bisa percaya kalian tidak melakukan apapun di malam hari ketika kakek Joni sudah tidur."
Pemikiran pria itu sudah terlalu jauh tentang Danish dan Sinar.
"Tapi apa yang dikatakan Sinar benar pak," bela Danish
__ADS_1
"Tidak Ada orang yang mengaku berbuat dosa. Peraturan tetap peraturan. Kalian berdua harus dihukum karena ini. Sinar dicambuk sepuluh kali. Dan kamu harus memberikan penduduk perkampungan ini makan selama dua hari berturut turut.