
Bintang tertegun melihat kepergian Danish tanpa menoleh lagi kepadanya. Danish bukan seperti Danish kekasihnya dulu yang sangat mencintai dan mengerti dirinya. Danish bersikap dingin dan meninggalkan dirinya. Danish jelas menunjukkan sikap jika dia tidak memperdulikan Bintang.
"Danish," kata Bintang pelan. Dari nadanya, Bintang terdengar menyesal atas semua yang terjadi dalam hubungan mereka. Dan kejadian hari ini akan memperburuk hubungan mereka atau bisa saja hubungan mereka tidak bisa diselamatkan lagi.
Bintang sangat mencintai Danish tapi baktinya seorang anak kepada orang tuanya membuat Bintang harus kehilangan pria yang dia cintai. Rasa ingin memiliki Danish sungguh kuat tapi sepertinya dia harus rela kehilangan pria itu.
Tentang Bunga edelweiss itu bukan lah ide Bintang. Bunga edelweiss itu adalah ide dari pak Idrus. Satu tahun terakhir ini, bisnis gelap yang dijalankan oleh pak Idrus sedikit terancam dan pak Idrus butuh pelindung seperti keluarga Danish. Pak Idrus merencanakan tentang Bunga edelweiss itu supaya keluarga Danish bersedia menuruti apapun keinginannya.
Siapa yang tidak mengenal pak Santosh di kalangan para pejabat di negeri ini. Bukan hanya kekayaannya yang melimpah. Pengaruhnya juga kuat. Pak Santosh sangat disegani karena dikenal pekerja keras dengan hati yang bersih. Harta kekayaannya hasil dari kerja dari berbagai bisnis yang dia jalankan.
Menyadari dirinya jadi korban dari rencana jahat papanya sendiri. Bintang menangis. Dia masih berada di depan gedung kantor milik Danish. Sungguh, Bintang tidak sanggup kehilangan pria seperti Danish. Danish tidak hanya mapan secara ekonomi tapi Danish juga pria yang mempunyai pendirian yang kuat. Bertanggung jawab dan penyayang. Danish sangat pengertian dan perhatian. Danish adalah pria impian Bintang. Tapi sayang, sepertinya Danish tidak akan bisa lagi menjadi miliknya. Dan Bintang sadar jika dirinya lah yang membuat hal itu. Andaikan dirinya bisa menolak rencana pak Idrus. Mungkin saat ini dirinya masih wanita yang paling tersayang di hati Danish.
"Apa yang harus aku lakukan supaya Danish percaya bahwa aku benar benar mencintai dia dan bunga Edelweis itu adalah rencana papa," kata Bintang dalam hati. Dia berencana untuk menyakinkan Danish bahwa bunga edelweiss itu adalah rencana papanya. Dia berjanji dalam hati akan kembali membuat Danish mempercayai dirinya. Tidak akan menggunakan bunga edelweiss itu untuk keuntungan keluarganya. Tapi Bintang ragu akan rencananya itu. Kejahatan pak Idrus adalah kejahatan kelas kakap dan butuh sosok untuk melindungi dan hanya tuan Santosh yang mempunyai hubungan dengan mereka.
Di dalam mobil. Danish masih terdiam dan memandangi jalanan. Danish malu, rasanya dia tidak mempunyai muka di hadapan para karyawannya. Perbuatan Bintang benar benar keterlaluan dan menjatuhkan harga dirinya. Para karyawannya pasti penasaran akan rahasia yang dikatakan Bintang. Danish pun berpikir jika rahasia yang dimaksudkan Bintang adalah bunga edelweiss itu. Danish menggelengkan kepalanya karena tidak percaya Bintang bisa berbuat seperti itu dan menyesal karena terlalu bodoh menuruti keinginan wanita itu.
"Kok kusut gitu bro?" tanya Nathan. Danish mengusap wajahnya kasar. Bayang bayang awal kecelakaan itu terlintas di pikirannya. Bagaimana dirinya menahan sakit di kaki kanannya. Tapi ternyata itu semua tidak berarti untuk Bintang. Pengorbanannya benar benar tidak dihargai justru dijadikan alat untuk menghancurkan dirinya. Danish benar benar muak akan Bintang dan keluarganya.
Danish juga merasa dirinya tidak mempunyai rahasia lain selain bunga Edelweis tapi mengapa Bintang menyinggung tentang rahasia.
"Hubungan ku dan Bintang sudah berakhir," kata Danish pelan. Nathan yang sedang menyetir terkejut dan menatap Danish tidak percaya. Dia tadi berpikir jika kedatangan wanita itu untuk bermanja manja kepada Danish seperti selama ini tapi ternyata tidak.
"Kamu tega bro?" tanya Nathan. Nathan mengatakan itu karena dia mengetahui bagaimana Bintang sangat mencintai Danish begitu sebaliknya. Dia berpikir jika hubungan Danish dan Bintang sudah berakhir maka yang rugi dan korban perasaan adalah Bintang.
"Tega atau tidak tega memang harus berakhir karena tidak ada gunanya jika dilanjutkan."
"Apa ada hubungannya dengan wanita yang menolong kamu itu. Atau jangan jangan kamu sudah jatuh cinta kepada wanita itu sehingga kamu dengan mudahnya memutuskan hubungan dengan Bintang," tebak Nathan. Nathan mengetahui jika Danish dan wanita yang menolongnya tinggal satu atap selama dua bulan dan wanita itu yang merawat dan mengurus Danish. Jadi tidak salah jika Danish jatuh cinta akan kebaikan wanita tersebut.
Jatuh Cinta?. Danish memilih dua kata itu. Dia merasa tidak jatuh cinta kepada Sinar karena dirinya tidak pernah merasakan jantungnya berdebar jika berhadapan dengan Sinar. Tapi sejak kepergian Sinar dari rumah. Danish merasakan Kekhawatiran yang luar biasa akan keselamatan wanita itu. Danish juga merindukan kenangan mereka saat bersama di rumah kakek Joni. Danish merasakan ketakutan yang luar biasa membayangkan Sinar dalam bahaya.
"Tidak," jawab Danish singkat.
"Bersama satu atap selama dua bulan lebih dan sudah menerima kebaikan wanita itu. Keterlaluan hati kamu bro jika tidak jatuh cinta kepadanya. Biasanya para laki laki akan luluh dengan kebaikan wanita."
Danish memandangi jalanan sambil berpikir. Benarkah hatinya keterlaluan atau dirinya sedang proses jatuh cinta saat ini. Bintang adalah cinta pertama dan wanita pertama yang sangat dicintainya tapi kini rasa itu perlahan memudar hanya karena satu kesalahan. Bukankah cinta itu saling memaafkan dan menerima kekurangan pasangan. Tapi mengapa hatinya secepat itu terkunci bagi Bintang. Apakah ada pengaruh karena kehadiran Sinar di dalam hidupnya. Danish menanyakan itu dalam hatinya. Dan dirinya belum menemukan jawaban. Satu yang pasti. Nama Bintang sudah bergeser di hatinya. Tidak lagi nama wanita itu yang dibayangkan setiap malam. Tapi nama Sinar yang selalu memenuhi pikirannya.
"Aku juga tidak tahu apakah aku keterlaluan atau tidak. Yang pasti saat ini aku sangat merindukan Sinar."
__ADS_1
"Siapa Sinar?"
"Wanita yang menolong aku itu."
"Jadi namanya Sinar."
Nathan menjentikkan jarinya. Dia seperti mengingat sesuatu kemudian menoleh kepada Danish.
" Nama yang sangat bagus dan indah. Sepertinya kalian memang berjodoh Danish."
"Sok peramal kamu."
"Nama kamu Danish Alam Permana kan?. Danish menganggukkan kepalanya. Namanya memang itu.
"Bagaimana pun Sinar tidak bisa dipisahkan dari Alam. Karena Alam sangat membutuhkan Sinar. Alam tidak ada apa apanya jika Sinar tidak Ada. Begitu juga dirimu Danish. Kamu tidak ada disini kalau bukan karena Sinar. Nama kalian saja sudah sangat serasi dan aku yakin ini bukan kebetulan melainkan takdir. Sinar Untuk Alam. Tanpa Sinar, Alam akan gelap gulita."
Danish mendengar perkataan Nathan baik baik. Dia tidak sadar, bibirnya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu. Baru dia sadar jika namanya dan nama Sinar saling berkaitan. Benar kata Nathan. Alam membutuhkan Sinar. Mungkin saja, dirinya juga sangat membutuhkan Sinar.
"Pintar kamu merangkai kata," kata Danish.
"Aku jadi penasaran melihat wanita bernama Sinar itu. Dia pasti cantik kan?"
"Sebenarnya kecantikan wajah itu nomor dua Danish. Kecantikan hati lah yang terutama. Jika hati sudah cantik, maka wajah juga pasti memancarkan kecantikan hati itu sendiri. Lagi pula kecantikan wajah saat ini sudah bisa dibeli dengan perawatan perawatan mahal."
Danish setuju dengan perkataan Nathan. Untuk apa cantik wajah seperti Bintang tapi ternyata cintanya hanya untuk memanfaatkan keluarga Danish.
"Sebenarnya aku sudah berjanji untuk menikahi dia," kata Danish pelan. Nathan terlihat bingung.
"Menikahi siapa."
"Sinar."
"Apa?. Menikahi Sinar?.
Nathan berkali kali menggelengkan kepalanya sedangkan Danish menundukkan kepalanya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu apalagi dia baru saja menggelar pertunangan dengan Bintang.
"Kapan rencana kamu menikahi Sinar."
__ADS_1
"Seharusnya dua hari setelah pertunanganku dengan Bintang. Tapi karena Sinar kabur. Pernikahan itu ditunda."
"Aku rasa otak kami bergeser saat kecelakaan ya Danish. Masa kamu tidak mempunyai hati. Bertunangan dengan Bintang tapi menikah dengan Sinar."
Nathan tidak mengerti dan sulit menerima apa yang terjadi dengan kehidupan sahabatnya itu. Dan akhirnya Danish menceritakan semuanya kepada Nathan tapi tidak menceritakan tentang Bunga edelweiss itu. Nathan bisa mengerti tapi tidak bisa menerima keputusan Danish yang terlalu serakah menurut dirinya.
"Tetap juga kamu kurang pendirian Danish. Haruskah jika kamu mengagungkan cinta maka kamu tidak seharusnya berjanji menikahi Sinar. Jika kamu mengagungkan janji. Harusnya kamu harus melepaskan Bintang dan menikahi Sinar apapun rintangannya."
"Kamu benar. Akhirnya jadi rumit seperti ini."
Danish terlihat menyesal karena mengambil keputusan yang salah. Pembicaraan mereka berhenti setelah mobil Nathan berhenti di depan kantor polisi.
"Semoga Sinar untuk Alam," kata Danish dalam hati. Dua sahabat itu pun turun dari mobil dan hendak membuat laporan kehilangan mobil.
Di tempat terpisah. Roki terlihat sedang duduk di sebuah warung yang berada di seberang jalan di depan pabrik tempat Sinar bekerja.
Dari kejauhan dia memandangi Sinar yang sedang bekerja. Pintu gerbang besi pabrik yang terbuka lebar lebar membuat Roki leluasa memperhatikan gerak gerik Sinar.
"Kasihan sekali hidup mu mantan pacarku. Andaikan kamu bersedia menjadi mainanku. Kamu pasti tidak lelah seperti ini," batin Roki sambil tersenyum meremehkan Sinar. Dia sangat senang melihat Sinar kelelahan seperti itu.
"Mbak minuman dingin satu. Dibungkus ya," kata Roki memesan minuman dingin sementara minuman masih banyak di dalam gelas yang ada di depannya.
" Ini bang."
"Terima kasih mbak. Bisa antar ke baju kuning itu. Nanti aku kasih tip kepada mu. Namanya Sinar."
Pelayan itu terlihat sangat senang kemudian pergi ke dalam pabrik setelah terlebih dahulu meminta ijin pada petugas keamanan.
"Sinar."
Sinar menoleh dan berhenti. Dia menatap wanita yang sama sekali tidak dikenalnya tapi mengetahui namanya.
"Aku?" tunjuk Sinar pada dirinya sendiri. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Ini minuman untuk kamu."
Sinar semakin bingung tapi tangannya terulur menerima minuman itu.
__ADS_1
"Ini darimana?"tanya Sinar. Wanita itu menunjuk ke arah luar. Sinar memandangi warung yang bisa terlihat dari tempatnya berdiri. Tapi Sinar merasa tidak mengenal siapapun.
"Dari Roki," jawab warung Pemilik warung. Mendengar nama Roki, Sinar terlihat melemas Dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah luar dan ternyata tidak Ada laki laki di warung itu.