
Pernikahan itu ada ada saja ujiannya. Ada pernikahan yang diuji dengan salah satu pasangan berselingkuh. Ada pernikahan yang diuji dengan masalah ekonomi. Ada juga masalah yang diuji dengan ketidakhadiran seorang anak. Kini pernikahan Sinar dan Danish harus diuji dengan kehadiran putra putra mereka yang lahir prematur.
Danish memandangi dua inkubator bergantian. Kedua putranya saat ini berjuang untuk bertahun hidup.
"Dokter apakah putra putra saya akan baik baik saja?" tanya Hans. Kekhawatiran akan kesehatan kedua putranya membuat Hans berada di ruangan dokter kandungan yang menanangani Sinar.
"Kita berdoa saja pak. Dan untuk lahir prematur. Kedua putra anda termasuk bayi yang beruntung karena lahir diatas satu kilogram," jawab dokter itu. Danish mengucap syukur akan hal itu.
"Ayo ikut Saya Pak Danish," ajak dokter itu. Danish mengikuti langkah dokter yang ternyata ke ruang bayi.
"Ada keistimewaan bayi lahir prematur pak Danish yaitu respon otak yang cepat karena sentuhan orang tuanya. Sentuhan dan pendengaran adalah indera pertama yang berkembang. Dan sentuhan skin to skin adalah adalah cara bayi untuk berkomunikasi. Jika anda bersedia. Anda bisa melakukannya sekarang dengan putra putra anda dengan melepaskan kemeja Anda."
"Saya bersedia dokter," jawab Danish cepat. Apapun dia lakukan asalkan itu membuat kedua putranya akan menjadi lebih baik.
Danish dan dokter masuk ke dalam kamar bayi itu setelah terlebih dahulu memakai masker. Dokter kandungan itu terdengar menjelaskan kepada dua perawat yang berjaga di kamar bayi.
Danish mendekap putranya yang pertama. Bagian tubuh paling atas tidak dilapisi oleh Kain. Danish hampir menitikkan air matanya ketika tubuh bayinya bersentuhan dengan kulitnya. Danish juga membisikkan kata kata yang indah di telinga bayinya itu.
Hampir sepuluh menit Danish mendekap putra pertamanya. Hingga pada akhirnya, Danish menitikkan air matanya setelah mendengar tangisan putranya dengan kencang. Danish tidak panik karena dokter sudah menjelaskan sebelumnya jika tangisan bayi yang kencang itu artinya upaya skin to skin itu berhasil. Danish melakukan hal yang sama dengan putranya yang kedua. Lagi lagi bayi itu menangis kencang setelah lebih sepuluh menit mendapatkan dekapan dari papanya.
"Detak jantung mereka sudah normal pak Danish," kata dokter itu membuat Danish sedikit lega. Meskipun setelah ini atau beberapa tahun ke depan, Danish dan Sinar harus rutin membantu kedua putra mereka kontrol ke dokter. Tapi setidaknya, saat ini. Detak jantung putranya itu sudah normal.
Danish keluar dari ruang bayi. Dia mengirimkan pesan kepada kedua orangtuanya dan mertuanya jika status mereka sudah resmi menjadi kakek dan nenek. Danish baru mengabari mereka saat ini karena memastikan keadaan dua bayinya baik baik saja.
"Bagaimana Danish. Mereka baik baik saja kan?" tanya Sinar.
Tidak seperti ibu ibu yang baru melahirkan seperti biasanya. Sinar tidak tertidur. Dia terbebani pikiran dengan suara tangisan lemah putra putra ketika baru dia lahirkan tadi.
"Detak jantung mereka sudah normal. Jangan terlalu khawatir. Putra putra kita akan baik baik saja. Sekarang kamu tidur ya."
"Kamu sudah mengabari papa dan mama. Ayah dan ibu?" tanya Sinar. Danish menganggukkan kepalanya kemudian menunjukkan layar ponselnya. Mungkin karena sudah larut malam. Pesan yang dikirimkan oleh Danish kepada kedua orangtuanya masih abu abu sedangkan pesan untuk mertuanya masih centang satu.
Sinar berusaha memejamkan matanya. Mendengar detak jantung kedua putranya sudah berdetak dengan normal membuat Sinar lebih tenang sedikit.
__ADS_1
Pagi hari tiba, kehebohan terjadi di rumah kedua orang tua Danish.
"Mama, mama. Bangun," kata Tuan Santosh. Laki laki itu baru saja terbangun dan memeriksa ponselnya. Ternyata pagi hari ini. Mereka mendapatkan kabar bahagia dengan kelahiran cucu kembarnya.
"Apa sih pa. Bentar lagi ya!.
"Mama. Sinar sudah lahiran tadi malam."
"Apa?. Cucu kita sudah lahir?. Kita sudah menjadi nenek dan kakek donk."
"Iya ma. Sekarang bersiap ya. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Iya. Iya pa."
Nyonya Amalia beranjak beranjak dari ranjang. Terlihat wajah Tuan Santosh dan Nyonya Amalia sangat berbahagia. Pergerakan mereka cepat sekali. Untuk mempersingkat waktu. Nyonya Amalia menarik suaminya ke kamar mandi. Di dalam kamar Mandi. Mereka terus membicarakan tentang cucu mereka.
"Cepat Mandi nya pa. Mama tidak sabar melihat wajah cucu kita. Apakah wajahnya tampan seperti papanya atau justru menyeramkan seperti kakeknya."
Nyonya Amalia tertawa. Dia berhasil membuat suaminya kesal.
"Pa, bukankah kehamilan Sinar masih tujuh bulan. Seharusnya lahiran dua bulan lagi kan? tanya Nyonya Amalia. Tuan Santosh membenarkan perkataan istrinya dalam hati. Tapi pria itu tidak menjawab melainkan mempercepat gerakan membersihkan tubuhnya.
"Ayo ma. Cepatan," kaya tuan Santosh. Sejak menyadari cucunya lahir prematur. Nyonya Amalia termenung.
"Papa, aku takut," kata Nyonya Amalia pelan.
"Cucu kita pasti baik baik saja. Bersiaplah secepatnya," perintah Tuan Santosh.
Tuan Santosh dan Nyonya Amalia berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Memastikan cucu cucu mereka dalam keadaan baik jauh lebih penting daripada mengisi perut.
Tiba di rumah sakit. Ruangan pertama yang mereka tuju adalah ruangan Sinar.
"Papa dan mama sudah melihat cucu cucu kalian?" tanya Sinar setelah selesai berpelukan dengan Nyonya Amalia dan bersalaman dengan Tuan Santosh.
__ADS_1
"Belum, kami ingin memastikan kesehatan mu terlebih dahulu nak," jawab Nyonya Amalia.
"Terima kasih ma, pa," jawab Sinar. Dia terharu karena kedua mertuanya sangat perduli kepada dirinya.
"Mana Danish?" tanya tuan Santosh.
"Tadi pamit ke ruang bayi pa."
"Maafkan aku pa, ma," kata Sinar lagi. Dia menundukkan kepalanya. Sinar merasa bersalah dalam hati karena bayi bayinya lahir secara Prematur. Sinar menghubungkan kelahiran prematur itu dengan aktivitas yang baru dia kurangi beberapa hari yang lalu.
"Mengapa minta maaf Sinar?.
Sinar tidak menjawab. Wanita itu justru menitikkan air matanya. Dalam hati, Sinar merasa menyesal karena tidak mengurangi kegiatannya jauh jauh hari sebelum usia kehamilannya tujuh bulan.
Bersamaan dengan tangisan Sinar. Danish masuk ke dalam ruangan itu. Danish tidak terkejut melihat kedua orangtuanya di Sana karena dia sendiri yang memberitahukan ruangan dimana Sinar berada. Mengapa kedua orangtuanya itu bisa masuk sebelum jam besuk tentu saja karena kekuasaan mereka.
"Sinar, kenapa menangis sayang?" tanya Danish. Kedua matanya menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Aku sedih Danish. Aku sedih karena tidak bisa menjaga kandungan ku sehingga lahir prematur."
"Ssst, jangan menangis lagi. Itu bukan kesalahan kamu. Kelahiran putra putra kita sudah ditentukan yang Maha Kuasa. Ini bukan masalah bisa menjaga atau tidak menjaga. Tapi memang putra putra kita harus lahir tadi malam."
"Tapi aku takut kelahiran prematur itu berdampak buruk ke perkembangan putra putra kita nantinya."
Sinar merasakan sentuhan di tangannya yang dilakukan oleh nyonya Amalia.
"Sinar, perlu kamu ketahui. Jika suami mu pun dulu lahir secara Prematur. Tapi lihat dia sekarang. Melihat gagahnya suami mu dan pencapaian yang dia miliki selama ini. Siapa yang mengira jika dia lahir prematur?. Benar kan pa?"
Tuan Santosh menganggukkan kepalanya.
"Jangan khawatir dengan perkembangan mereka Sinar. Mama ahli gizi untuk perkembangan bayi," kata Tuan Santosh.
Sinar menatap wajah suaminya sebentar. Jika suaminya yang lahir prematur bisa setampan dan pintar. Sinar optimis kedua putranya itu bisa seperti papanya.
__ADS_1