
"Non Sinar, non Sinar. Buka pintunya."
Sinar melompat dari ranjang mendengar panggilan dari luar kamar.
"Ada apa mbak?"
"Nyonya Amalia meminta anda ke ruang tamu non."
"Nyonya atau Bintang?" tanya Sinar. Pekerja yang berdiri di hadapannya adalah pekerja yang memanggil dirinya tadi pagi. Dia tidak mau seperti tadi pagi. Dia diminta turun ke bawah karena perintah Nyonya rumah tapi yang dia jumpai adalah Bintang. Meskipun pplBintang menunjukkan sikap yang baik kepada dirinya. Tapi untuk berlama lama dekat dengan wanita itu. Sinar masih merasa sungkan.
"Nyonya Amalia non," jawab pekerja itu.
"Satu lagi non. Nyonya berpesan supaya anda memakai gaun warna merah.
"Apakah itu suatu keharusan?" tanya Sinar bingung. Pekerja itu menganggukkan kepalanya. Sinar ragu untuk memakai gaun. Dia ingin meminta pendapat Danish tentang permintaan sang Nyonya rumah. Tapi lagi lagi sejak selesai sarapan. Sinar tidak melihat Danish.
Sinar menutup pintu kamar. Dia tidak tahu harus menuruti permintaan Nyonya Amalia atau tidak. Jika dirinya memakai gaun itu setidaknya dia harus memoles wajahnya sedikit. Dia tidak mempunyai peralatan make up karena dia memang tidak membawa peralatan make up miliknya.
Sinar berputar putar di kamar itu. Ternyata hanya karena perkara gaun merah itu Sinar sampai pusing tujuh keliling. Jika dia tidak menurut pasti langsung dicap sebagai pembangkang. Jika menurut, entah seperti apa tampilan dirinya memakai gaun tanpa riasan.
"Lebih baik menjadi diri sendiri daripada terpaksa memakai gaun merah yang akhirnya jadi bahan tertawaan," kata Sinar dalam hati. Dia memutuskan akan ke ruang tamu tanpa memakai gaun itu.
__ADS_1
"Selamat siang," sapa Sinar setelah tiba di ruang tamu. Ternyata bukan hanya Nyonya Amalia yang ada di sana. Ada Bintang dan Papanya Danish.
"Selamat siang Sinar. Duduk," kata Nyonya Amalia sambil menunjuk sofa supaya Sinar duduk di sofa tersebut.
"Sinar, perkenalkan. Gadis ini namanya Bintang," kata Nyonya Amalia.
"Kami sudah berkenalan nyonya tadi pagi Nyonya," jawab Sinar. Sinar semakin yakin jika yang meminta dirinya turun tadi pagi bukan Nyonya Amalia melainkan Bintang. Tapi Sinar tidak mempermasalahkan itu.
"Benarkah itu Bintang?" tanya nyonya Amalia.
"Benar tante. Bahkan kami sudah sepakat berteman," jawab Bintang sambil tersenyum.
"Kamu memang benar benar wanita yang baik Bintang," puji Papanya Danish sambil tersenyum. Bintang terlihat tersipu mendapatkan pujian itu.
"Sinar, selama Danish di Sana. Pernahkah dia bercerita tentang Bintang?" tanya Nyonya Amalia.
Sinar terdiam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Nyonya Amalia. Karena jika dia menjawab iya. Itu artinya dia bisa dicap sebagai perebut kekasih wanita lain. Mereka pasti tidak akan percaya jika Sinar menceritakan jika dia mengetahui Danish mempunyai calon tunangan setelah pria itu berjanji akan menikahi dirinya. Jika Sinar menjawab tidak. Itu artinya dia berbohong.
"Yang aku tahu. Danish suka melihat bintang bintang di malam hari.".
Terserah mereka menilai apakah pertanyaan Nyonya Amalia sesuai dengan jawaban Sinar. Sinar tidak perduli. Yang pasti dia tidak akan membiarkan dirinya dicap sebagai perebut karena Sinar bukan perebut kekasih Bintang. Sinar bisa menangkap jika pertanyaan itu adalah jebakan.
__ADS_1
"Danish memang suka melihat bintang di langit karena calon tunangannya sama indahnya dengan bintang."
Benar yang dikatakan Danish. Bintang di langit dan Bintang yang ada di tempat itu sama sama mempunyai keindahan yang memikat hati Danish. Tapi mendengar pujian papanya Danish yang terkesan berlebihan membuat Sinar muak. Sinar tidak membenci Bintang. Sinar juga mengakui bahkan mengagumi kecantikan wanita itu. Dan pujian papanya Danish terhadap wanita itu merupakan satu bentuk perbandingan dan sindiran untuknya.
"Benar Tuan. Bukan hanya cantik wajah. Bintang juga cantik hati," puji Sinar. Dia ingin menunjukkan jika dirinya tidak akan merasa rendah diri karena kalah saing dengan kecantikan Bintang.
Nyonya Amalia tersenyum sambil menatap Sinar.
"Jadi begini Sinar. Danish sudah menceritakan kebaikan kamu selama Danish di Sana. Sesuai dengan janji Danish kepada penduduk. Kami sudah mengutus seseorang mengantar sejumlah uang kepada kakek kamu untuk digunakan dalam pembangunan jembatan dan keperluan lainnya."
"Cepat sekali," kata Sinar dalam hati.
"Terima kasih nyonya," kata Sinar.
"Sinar, Danish sudah berjanji akan menikahi kamu bukan?" tanya papanya Danish.
"Benar tuan."
"Sebelum dia berjanji akan menikahi kamu. Dia dan Bintang juga sudah merencanakan pertunangan. Tapi karena kecelakaan itu. Pertunangan itu ditunda."
"Ditunda tuan?" tanya Sinar tidak mengerti.
__ADS_1
"Iya ditunda. Aku sudah memutuskan. Meskipun kamu adalah calon istri Danish dan dia sudah berjanji akan menikahi kamu. Pertunangan antara Danish dan Bintang akan tetap terlaksana. Ini adalah keputusan ku Sinar.
Sinar merasakan tempatnya duduk berputar. Perkataan papanya Danish cukup jelas tidak mengingat dirinya sebagai menantu di rumah itu.