
Sinar memandangi gaun gaun indah yang terpajang di lemari. Dirinya akan terlihat cantik dan anggun memakai gaun gaun itu. Gaun, sepatu dan tas mahal bisa menutupi latar belakang keluarganya dari orang lain. Tapi tidak dari tuan Santosh. Orang orang percaya jika Sinar adalah putri dari seorang pengusaha tapi justru itu juga yang membuat Sinar semakin dilanda kekhawatiran. Dia khawatir jika sewaktu waktu latar belakang keluarganya terbongkar membuat dirinya mendapatkan penilaian negative.
Sinar menggerakkan tubuhnya saat merasakan Danish memeluk dirinya dari belakang.
"Apa kamu menggoda ku sayang?" tanya Danish. Pria itu meletakkan bibirnya di bahu Sinar yang masih terbuka. Saat ini Sinar hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
"Ahh Danish. Tolong, jangan sekarang. Aku sudah ada janji dengan Hana," tolak Sinar. Tangan Danish sudah aktif menjelajah di tubuh Sinar.
"Kita kejar target sayang. Kalau tidak sering sering kapan benih ku tumbuh di dalam sini."
Danish mengelus perut rata milik Sinar.
"Kejar target?. Apa maksud kamu?" tanya Sinar.
"Kamu harus secepatnya hamil. Supaya papa cepat luluh dan merestui pernikahan kita."
"Hanya karena itu?"
"Iya."
Sinar menerimanya sentuhan Danish di tubuh meskipun pikirannya terganggu dengan kejar target yang dikatakan Danish. Entah mengapa, Sinar Merasa perkataan itu ada hubungannya dengan pencalonan Direksi yang dibicarakan dua wanita sewaktu di taman rumah Nyonya Amalia.
Meskipun perkataan itu mengganjal di pikirannya. Sinar sengaja tidak menanyakan hal itu kepada Danish. Karena Sinar ingin mempercayai suaminya itu. Dan Sinar berharap, Danish tidak seperti tuan Santosh yang Mengharapkan kehadiran janin di rahimnya demi kepentingan bisnis. Sama seperti keinginan Tuan Santosh. Sinar juga menginginkan dirinya cepat hamil. Dia berharap, jika dirinya hamil. Tuan Santosh bisa mengubah pandangannya terhadap Sinar dan merestui pernikahan itu.
Pagi hari itu, mereka kembali memadu kasih demi mendapatkan anak secepat mungkin.
"Bagaimana kalau aku tidak kunjung hamil Danish?"
Sinar akhirnya menanyakan hal itu seusai kegiatan panas mereka.
"Kita harus optimis sayang, kamu sehat aku juga sehat. Aku sangat yakin kita pasti mempunyai anak secepatnya."
Sinar menarik nafas panjang kemudian masuk ke kamar mandi. Sinar juga optimis. Dan jika menyangkut tentang anak. Mengandalkan kesehatan tidak lah cukup Banyak pasangan yang dinyatakan sama sama sehat tapi nyatanya tidak kunjung dikaruniai anak. Kata kata Danish tidak memuaskan hatinya. Meskipun Sinar menginginkan anak secepatnya. Sinar lebih menyukai jika Danish menjawab akan memasrahkan semuanya kepada sang Pencipta.
Danish mengulurkan tangannya kepada Sinar ketika mereka hendak keluar dari kamar. Sinar dapat merasakan jika sikap Danish sedikit pun tidak berubah setelah mereka menikah. Justru Sinar merasakan sikap Danish memperlihatkan cintanya terlalu berlebihan. Seperti saat ini, Sinar bisa menuruni tangga tanpa bergandengan tangan. Tapi Danish bersikeras menggandeng tangan Sinar.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya," sapa pelayan ketika Sinar dan Danish sudah di ruang makan.
"Selamat pagi."
__ADS_1
"Selamat pagi Bibi," jawab Sinar.
"Apa menu sarapan pagi ini bi?" tanya Danish. Sang Bibi langsung menunjukkan dua menu jenis menu sarapan yang dia buat untuk majikannnya.
"Saya membuat sandwich telur dan Roti tawar mata sapi Tuan."
"Bagus," kata Danish. Sang pelayan menyajikan dua menu sarapan itu diatas meja. Danish tidak langsung menyantap makanan itu. Pria itu terlihat berdiri dari duduknya.
Sinar memandangi dua menu sarapan pagi itu. Bisa dipastikan perutnya tidak akan kenyang hanya dengan makanan olahan roti itu. Dia sudah terbiasa makan makanan berat di pagi hari supaya perut tidak lapar sampai tengah hari.
Menikah dengan Danish. Sinar sungguh merasakan perubahan dalam dirinya. Bukan hanya mempunyai materi yang lebih dari cukup. Sinar juga harus menyesuaikan diri dengan kehidupan Danish termasuk dalam hal sarapan seperti pagi hari ini. Sinar ingin makan nasi dan lauk pauk seperti sebelum menikah tapi Sinar enggan merepotkan para pelayan. Sinar memang sudah menjadi Nyonya tuan muda yang kaya. Tapi Sinar tidak langsung bersikap bossy kepada para pelayan di rumah itu.
"Ya ampun Danish. Aku jadi merasa tidak enak. Seharusnya aku yang membuatkan susu untuk kamu."
Sinar sungguh merasa tidak enak hati ketika Danish membuat susu untuk dirinya.
"Santai saja sayang. Ini susu untuk program kehamilan," kata Danish santai kemudian memutari meja makan dan duduk berhadapan dengan Sinar.
Membulatkan hati untuk percaya kepada suaminya ternyata dengan sikap Danish seperti ini membuat keraguan di hati Sinar. Sinar takut apa yang dilakukan Danish saat ini untuk membuat dirinya memenuhi kriteria menjadi calon Direksi itu. Mulut Sinar rasanya sangat gatal untuk bertanya tentang pencalonan Direksi itu tapi Sinar berusaha menahan diri. Dia takut jawaban Danish sesuai dengan kepentingan Tuan Santosh. Sinar belum siap kecewa di usia pernikahannya yang masih baru jika ternyata keinginan Danish secepatnya dirinya hamil demi pencalonan Direksi itu.
"Ayo makan," kata Danish.
"Sinar, apa Hana tidak bisa menghandle usaha keripik ubi itu?" tanya Danish membuat Sinar berhenti mengunyah dan menatap Danish sebentar. Danish sudah pernah berkata sebelumnya akan membebaskan sinai melakukan hal positive di luar asalkan kewajibannya sebagai istri tidak terganggu.
"Bukankah kamu sudah pernah berka..."
"Iya benar. Aku ingin menawari kamu bekerja di kantor ku untuk megantipasi jika nantinya Aku terpilih menjadi Direksi di Global Anugerah group. Kamu bisa mengawasi perusahaan."
Uhuk. Uhuk
Sinar hampir tersedak mendengar perkataan Danish. Dari tadi sejak mereka di kamar, pikirannya mengingat Danish adalah calon Direksi Global Anugerah Group. Kini suaminya itu sudah menyinggung tentang pencalonan itu. Sinar tidak membuang kesempatan itu untuk mengorek informasi.
"Pelan pelan."
"Iya," jawab Sinar singkat.
"Apa kamu menginginkan jabatan itu?" tanya Sinar tenang.
"Banyak orang menginginkan jabatan itu termasuk aku. Global Anugerah Group adalah perusahaan besar yang diakui di dalam maupun di luar negeri. Menjadi Direksi di perusahaan itu akan mendapatkan pengakuan dari kalangan pebisnis."
__ADS_1
Entah mengapa Sinar semakin yakin jika keinginan Danish mempunyai anak secepatnya ada hubungan dengan pencalonan Direksi itu.
"Hebat ya. Semoga keinginan mu terkabulkan."
Danish tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dengan dukungan seorang istri. Aku sangat yakin akan mencapai apa yang aku inginkan."
Sinar menundukkan kepalanya. Dia tidak berani lagi untuk bertanya lebih lanjut tentang Direksi.
"Jadi bagaimana Sinar. Kamu menerima tawaran ku?"
"Maaf Danish. Aku tidak bisa."
"Berikan satu alasan mengapa kamu menolak tawaran ku."
"Karena Hana tidak bisa menangani sendiri usaha keripik ubi itu," jawab Sinar berbohong. Danish terdengar menarik nafas panjang.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksa kamu."
"Maaf ya Danish," kata Sinar sekali lagi. Dia menolak tawaran Danish karena Sinar mulai merasa ragu. Meskipun Danish tidak mengungkapkan secara jelas jika dirinya menginginkan anak secepat mungkin karena berkaitan dengan pencalonan Direksi. Tapi Sinar sudah menduga seperti itu.
Sinar tidak bersedia meninggalkan usaha keripik ubinya karena Sinar tidak ingin jika suatu nanti, tuan Santosh memisahkan dirinya dan Danish. Dia tetap mempunyai usaha yang dia bangun sendiri.
"Apa aku benar benar istri yang kamu inginkan Danish atau kamu hanya memperalat aku untuk mencapai keinginanmu?" tanya Sinar dalam hati.
Mengingat bagaimana Danish pernah berkata jika dirinya menikahi Sinar karena alasan balas budi membuat Sinar merasa ragu.
"Ini Nyonya. Bekal untuk nanti siang," kata sang Bibi. Sinar mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak meminta Bibi itu menyiapkan bekal untuk dirinya nanti siang.
"Aku yang meminta Bibi menyiapkan itu untuk kamu. Menunya dari olahan ikan salmon kan Bibi?" tanya Danish.
"Benar tuan seperti keinginan Tuan."
"Ikan salmon bagus untuk wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk hamil," kata Danish. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Dia semakin tidak suka dengan kata kata yang berkaitan dengan hamil.
"Kita berangkat sekarang," kata Sinar. Sinar beranjak dari duduknya kemudian menyambar tas miliknya yang dia letakkan di kursi sebelahnya.
"Pak, pastikan istriku sampai ke tempat tujuan tanpa kekurangan sesuatu apapun," kata Danish setelah Sinar sudah duduk di dalam mobil. Kata kata Danish memang terdengar sangat mencintai Sinar.
__ADS_1
"Baik Tuan."