Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Kejahatan Roki


__ADS_3

Sinar merasakan tubuhnya gemetar ketakutan. Sinar tidak mempunyai keberanian lagi untuk melihat ke arah luar. Wanita itu memundurkan langkahnya dan duduk di tempat yang tidak bisa dilihat dari luar. Sinar mencubit tangannya sendiri. Rasa sakit yang dia rasakan pertanda jika kejadian ini bukan mimpi.


"Benarkah dia di kota ini atau ada nama salah satu karyawan di pabrik ini yang bernama Roki."


Sinar berkata dalam hati. Sinar berusaha menenangkan dirinya bahwa Roki yang disebutkan oleh ibu Pemilik warung itu bukan Roki mantan pacarnya yang jahat. Sinar bangkit dari duduknya dan mencoba melihat ke luar gerbang. Di warung ibu yang mengantarkan dirinya tadi minuman tidak terlihat mantan pacarnya. Hanya ada supir supir pabrik yang sedang beristirahat di warung itu. Sinar pun menyakini jika Roki yang dikatakan oleh si ibu tadi adalah salah satu supir pabrik. Sinar meyakini itu karena salah satu teman Sinar pernah menyampaikan jika ada seorang supir yang menaruh hati kepada dirinya. Tanpa memberitahukan nama si supir tersebut.


Siang itu hingga ke sore hari, Sinar berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Sinar merasa tidak sabar menunggu hari jumat tiba. Kerinduannya akan kedua orang tuanya dan kakek Joni semakin tidak terbendung lagi. Sinar menunggu beberapa hari seperti menunggu bertahun tahun. Jarum jam seperti bergerak lambat bagi Sinar.


"Kamu duluan saja Hana. Aku ke pasar sebentar," kata Sinar ketika Hana mengajak pulang bersama.


"Bukankah stok ubi masih cukup untuk malam?"


"Benar. Aku ingin membeli sesuatu untuk kedua orang tuaku dan kakek ku," jawab Sinar. Sinar berencana membeli oleh oleh untuk tiga orang yang sangat di sayangi itu. Dia masih mempunyai uang yang cukup dan Sinar merasa tidak ada ruginya membeli oleh oleh untuk mereka. Sinar sangat yakin wajah dari ketiga orang yang sangat disayanginya itu pasti akan senang menerima dengan wajah yang berbinar.


"Ya sudah. Ayo naik. Aku akan menemani mu," ajak Hana


"Terima kasih Hana."


Sinar naik ke motor Hana. Dua sahabat itu meluncur ke pasar tradisional terdekat dari pabrik. Mencari oleh oleh yang cocok untuk kedua orang tuanya membuat Sinar dan Hana lupa waktu hingga mereka tiba di rumah hari sudah gelap.


Sinar boleh puas dengan oleh oleh pilihan untuk kedua orang tua dan kakeknya. Ketika Sinar membuka pintu rumah dan menekan sakelar lampu. Sinar terkejut dan jantungnya terasa mau lepas dari raganya.


"Hai Sinar."


Sinar tidak dapat menjawab hanya wajah ketakutan yang terlihat di wajahnya. Suara itu terdengar lembut tapi sangat menakutkan. Di kursi plastik di dalam rumah itu. Roki sedang duduk santai dengan kaki yang disilangkan. Roki bersikap seperti dirinya yang menjadi pemilik rumah.


"Siapa kamu," tanya Hana tidak kalah terkejut. Hana tidak mengenal pria itu sama sekali. Hana juga mendengar pria itu menyebut nama Sinar. Dari situ, Hana mengetahui jika pria itu adalah tamu Sinar. Tapi melihat sikap tidak sopan pria itu. Hana merasa perlu bertanya dan menunjukkan bahwa dirinya lah Pemilik rumah itu. Hana juga dapat melihat wajah ketakutan sahabatnya itu.

__ADS_1


Hana merasa sudah mengunci pintu rumah itu dengan benar tadi pagi tapi mengapa pria itu bisa duduk santai tanpa ada kerusakan pada pintu. Darimana dia mendapatkan kunci. Jalan utama masuk ke dalam rumah itu satu satunya hanya pintu masuk. Dari jendela tidak mungkin karena jendela rumah itu dilengkapi dengan jerejak besi. Dan Hana mengamati jendela itu semuanya dalam keadaan baik.


"Perkenalkan aku Roki. Calon suami Sinar," kata Roki tenang dan beranjak dari duduknya. Hana langsung menatap Sinar sedangkan Sinar menggelengkan kepalanya. Roki berjalan mendekati Sinar dan Hana yang berdiri bersebelahan dekat pintu. Sinar tidak hanya merasa takut tapi muak melihat senyum palsu Roki. Roki mengulurkan tangannya ke Hana setelah berdiri berhadapan dengan Hana tapi matanya tertuju pada Sinar. Hana tidak menerima uluran tangan itu karena sikap Roki hendak bersalaman dengan dirinya kurang sopan.


"Tanpa aku jelaskan. Aku rasa kamu mengetahui maksud kedatanganku Sinar. Ayo kita pulang. Kita akan secepatnya menikah."


Sinar merapatkan giginya dan memundurkan tubuhnya menjauh dari Roki. Dia tidak sudi bertemu dengan pria itu apalagi sampai harus menikah dengan dirinya. Sinar sudah bisa menangkap maksud jahat pria itu.


"Pulang lah terlebih dahulu Roki. Jumat aku akan pulang. Aku belum minta ijin dari bosku," kata Sinar tenang. Dia berharap dengan dirinya yang melunak. Roki percaya dan pergi dari rumah itu secepatnya. Memang benar dirinya akan pulang Hari jumat. Tapi melihat Roki seperti ini. Sepertinya, Sinar harus menunda pulang kampung karena Sinar merasa sangat beresiko. Jika sudah di kampung nanti bukan hanya Roki yang dihadapi tapi juga kedua orang tua dari pria itu.


"Tidak bisa. Kita harus pulang sama sama," kata Roki lagi bersikeras. Roki menatap Sinar dengan tatapan liar membuat Sinar merasa tidak nyaman dan takut. Tapi di hadapan pria itu. Sinar harus bersikap biasa dan tidak menunjukkan ketakutannya.


Sinar mengepalkan tangannya. Sepertinya dia tidak perlu berkata lembut kepada pria bajingan itu. Roki tidak berubah sama sekali justru saat ini, pria itu menunjukkan tujuan aslinya datang ke rumah ini.


"Jika kamu tidak keluar dari rumah ini sekarang juga. Aku akan berteriak minta tolong," ancam Sinar. Tapi Roki hanya tersenyum. Senyumnya menyeramkan membuat Hana juga ikut ketakutan.


"Diam Roki. Aku tidak mempunyai hubungan lagi dengan kamu. Kedatangan mu pasti mempunyai niat jahat. Diantara kita juga tidak ada apa apa lagi. Jadi pergi lah dari rumah ini. Jangan ganggu aku."


Sinar berbicara dengan lumayan kencang berharap ada tetangga yang mendengar Dan masuk ke dalam rumah itu. Dengan seperti itu. Dia sangat yakin Roki tidak akan berani untuk melakukan kejahatan kepada dirinya.


Hana merasa bingung mendengar pembicaraan Sinar dan Roki. Hana berpikir jika pria itulah penyebab Sinar berada di rumah ini.


"Maling. Maling. To...,"


Sinar berteriak. Tapi belum sempat dia mengucapkan kata tolong. Hana sudah terjatuh di lantai hingga tidak sadarkan diri karena Roki menendang perut Hana dengan kuat.


Sinar ketakutan dan memundurkan tubuhnya. Kejahatan Roki terjadi di depan matanya dan menyakiti sahabat yang banyak membantu dirinya. Melihat keadaan Hana. Sinar panik, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa apa. Sepertinya apa yang terjadi di rumah Roki dulu. Sepertinya Akan terjadi juga di rumah ini juga.

__ADS_1


Tapi Sinar tidak tega melihat keadaan Hana. Sinar takut Hana mengalami hal yang dialami Roki dulu membuat Sinar takut dan mendekat ke tubuh Hana. Sinar takut, Hana tidak sadarkan diri berhari hari.


Tangan Sinar masih menggantung hendak menyentuh tubuh Hana, tangan Roki sudah menarik tangan itu dengan kasar. Sinar meronta tapi tenaga Roki terlalu besar untuk menjadi lawannya.


"Ayo, kamu memang wanita menyebalkan yang suka pemaksaan," kata Roki marah.


"Oke Roki. Aku akan ikut dengan kamu. Tapi aku harus memastikan sahabatku ini siuman terlebih dahulu."


Sinar tidak mengulur waktu. Jika dirinya tidak bisa menolak ajakan paksa Roki saat ini setidaknya dia memastikan Hana baik baik saja. Urusan Roki, Sinar berencana akan memikirkan nanti bagaimana dirinya kabur dari pria itu.


"Jangan sok baik kamu. Dulu kamu meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini kan?. Aku tidak suka menunggu." Setelah mengatakan itu. Roki meludah ke lantai dan hampir mengenai kaki Hana. Sungguh menjijikkan. Sinar merasa menyesal karena pernah mencintai pria itu dan mempercayai nya. Sinar merasa bersyukur karena bisa lepas dari pria itu tapi kini pria itu sudah membuat keributan di rumahnya.


Roki kembali menarik tangan Sinar dengan paksa. Sebenarnya Sinar ingin berteriak minta tolong tapi peringatan Roki tidak main main .Roki mengancam akan membuat Hana lebih menderita lagi dan juga mengancam akan mematahkan kaki dan tangan siapa saja yang berniat akan menghalangi keinginan. Bukan hanya itu yang membuat Sinar tidak berkutik tapi karena Roki juga membisikkan ancaman tentang Hana. Pria itu akan menginjak perut Hana dengan sepatu pentofel yang alasnya terlihat sangat keras. Hana tentu saja hal itu terjadi pada sahabatnya membuat Sinar tidak menolak dirinya ketika diseret paksa oleh Roki.


Sinar didorong dengan kasar masuk ke dalam mobil. Kekuatan Sinar tidak sanggup melawan tenaga Sinar. Sinar merasa Hari ini adalah hari kesialan bagi dirinya karena tidak ada satupun tetangga yang berada di luar rumah. Melihat mobil itu, Sinar berpikir jika pria dan Mobil yang parkir si jalanan sewaktu dirinya pulang menawarkan keripik ubi di dekat Sekolah adalah Roki. Ternyata Roki sudah lumayan lama mengintai dirinya.


Tidak ada yang bisa dilakukan Sinar saat ini selain berdoa dalam hati. Sinar berharap ada keajaiban yang melepaskan dirinya dari Roki.


Roki masuk ke dalam mobil. Ternyata di dalam mobil itu sudah ada orang yang siap menjalankan mobil itu.


"Bawa kami ke hotel yang terdekat. Yang murah saja," kata Roki. Pria yang duduk dibelakang setir hanya menganggukkan kepalanya. Sinar sudah menebak apa yang akan dilakukan Roki kepada dirinya. Dia tidak berontak dan tidak berteriak melainkan memikirkan rencana bagaimana kabur dari pria itu untuk yang kedua kalinya.


"Kamu jahat Roki," kata Sinar pelan. Roki tertawa.


"Siapa yang mengatakan aku baik?" tanya pria itu.


"Aku sangat yakin. Cepat atau lambat. Kamu akan menerima imbalan dari apa yang kamu perbuat kepada ku dan Hana."

__ADS_1


Sinar susah berjanji dalam hati tidak akan memohon kepada pria jahat ini supaya dilepaskan dan dikasihani. Sinar sangat yakin, jika dirinya pasti bisa meloloskan dirinya dari Roki..


__ADS_2