
Pagi hari ini, Sinar menjalani hari seperti biasanya. Belanja ke pasar membeli bahan bahan segar untuk membuat keripik ubinya. Semakin lama, Sinar semakin pintar mengelola keungannya. Untuk mendapatkan ubi yang masih baru dengan harga yang murah. Sinar rela berkeliling di pasar itu. Sinar juga memastikan jika bahan bahan lain seperti cabai untuk bumbunya juga harus yang masih segar.
Mesin Sinar baru menjalankan usaha itu. Sepertinya Sinar paham jika kepuasan konsumen adalah yang terpenting dan terutama. Itu lah sebabnya. Sinar berusaha untuk mempertahankan rasa keripik ubinya dengan menggunakan bahan bahan yang segar. Dia tidak mau, keripik ubinya di puji dan disukai di awal tapi lama kelamaan akan ditinggal dan dilupakan.
Jika menginginkan keuntungan yang lebih banyak sebenarnya Sinar bisa melakukan itu. Cukup membeli bahan bahan yang kurang segar dengan harga yang lebih murah. Tapi Sinar tidak melakukan itu. Baginya, usaha keripik ubi ini adalah masa depannya. Dan Sinar sudah mencoba membuat rasa yang lain tambahan dari rasa Asin dan rasa pedas yang sudah diminati para konsumennya.
Bukan hanya memperhatikan bahan bahannya. Sinar juga mengutamakan kebersihan dalam proses pembuatan. Dia menerapkan kepada ketiga anggotanya untuk menutupi rambut selama proses pembuatan dan juga memakai sarung tangan. Rasa enak dengan harga terjangkau jika keripiknya kurang bersih apalagi menemukan rambut atau kotoran lainnya. Pasti membuat konsumen akan merasa jijik.
Pagi ini, mereka sudah memulai kegiatan membuat keripik ubi itu. Mulai dari mengupas ubi, membersihkan, mengiris sampai menggoreng. Untuk meramu sambal untuk keripik pedasnya. Sinar masih membuat sendiri. Itulah keunikan dari rasa keripik ubi itu. Dia tidak akan memberikan resep itu kepada anggotanya meskipun Hana adalah sahabatnya. Bisnis adalah bisnis. Sinar tidak takut tersaingi jika sewaktu waktu salah satu dari anggotanya itu membuka usaha seperti itu. Sinar tidak keberatan. Karena dia percaya rejeki manusia sudah ada yang menentukan. Tapi untuk menggunakan resepnya. Sinar tentu saja keberatan. Sinar mengantisipai itu dengan meramu sambal sendiri.
Sinar sadar untuk mengetahui mana orang yang tulus atau tidak tulus sangat sulit untuk melihatnya. Bukan dirinya berprasangka buruk kepada tiga anggotanya tapi pelajaran hidup lah yang membuat Sinar untuk berusaha meminimalkan orang orang untuk memanfaatkan dirinya.
Uang dan kebutuhan yang mendesak terkadang membutakan hati manusia untuk tidak pandang bulu memanfaatkan orang yang bisa menolong dirinya. Sinar selalu menekankan kepada tiga anggotanya untuk selalu menjaga kualitas keripik mereka supaya usaha ini bertahan dan mereka terhindar dari kesulitan ekonomi.
Sinar dapat melihat keseriusan Hana dalam bekerja dengan dirinya. Sinar juga dapat melihat jika Hana tulus bekerja tanpa banyak bertanya. Sepertinya wanita itu sangat berterima kasih dengan adanya usaha yang dikelola Sinar itu. Selain waktu belajar yang semakin banyak. Hana juga bisa bersantai. Biasanya jam tiga siang. Pekerjaan mereka sudah selesai hingga pengemasan. Sedangkan jika bekerja di pabrik. Jam lima baru selesai. Hana dan Sinar jadi mempunyai waktu istirahat dan belajar sebelum berangkat kuliah sore.
Tapi tidak dengan salah satu dari ibu yang menjadi anggota Sinar. Ibu itu selalu ingin tahu apa yang menjadi resep dari sambal keripik ubi itu. Dan sering bolos dengan berbagai alasan. Hampir setiap minggu dia ada bolosnya. Alasan pesta, alasan anak sakit dan ada ada saja alasannya supaya bolos bekerja. Sinar sebenarnya sudah kurang betah memperkerjakan ibu itu tapi mengingat anaknya yang berjumlah tiga orang ditambah dengan kerja suaminya yang serabutan membuat Sinar tidak tega untuk memberhentikan nya.
"Sinar, hari ini aku hanya bisa sampai jam dua belas ya," kata ibu itu setelah Sinar masuk ke ruang tengah. Dia baru saja selesai membuat sambal pedas keripik ubi itu.
"Loh, kok sampai jam dua belas bu. Mau kemana?"
Hana yang bertanya karena Sinar sudah malas untuk bertanya kepada ibu itu.
"Mau ke rumah saudara. Ada yang sakit."
Sinar hanya memutar matanya malas mendengar jawaban ibu itu. Dia maunya pulang cepat tapi upah harus sama dengan anggota lainnya yang bekerja lebih lama. Untung saja hanya dia yang bersikap seperti itu.
"Bisa kan Sinar?" tanya ibu itu lagi. Sinar belum memberikan jawabannya. Sinar hanya menarik nafas panjang. Sepertinya, dia harus bersikap tegas kepada ibu itu.
"Bisa bisa saja bu. Tapi aku sudah memutuskan jika upah yang terlebih dahulu pulang dengan upah yang lebih lama bekerja tidak akan sama. Bekerja sampai jam dua belas maka upahnya hanya setengah hari," kata Sinar tegas. Hana dan ibu yang satunya terlihat suka dengan perkataan Sinar itu. Sedangkan ibu itu terlihat cemberut.
"Kok seperti itu sih Sinar. Kemarin kemarin tidak seperti itu?" tanya ibu itu protes. Sinar berusaha untuk tidak marah. Ibu ini ternyata orang yang tidak peka akan sekelilingnya dan mau menang sendiri. Hana dan ibu yang satu lagi sangat disiplin dalam bekerja tapi tidak dijadikan contoh oleh ibu tersebut.
"Sudah, jangan banyak protes kamu. Syukur Kita bisa bekerja disini untuk mendapatkan uang tambahan," kata ibu yang satu lagi. Ibu yang satu ini sangat bersyukur mempunyai pekerjaan yang tempatnya dekat rumah. Selain tidak mengeluarkan uang transport untuk bekerja. Ibu ini juga bisa mengawasi anak anaknya. Terkadang dari pintu rumah Sinar itu dia berteriak menyuruh anaknya untuk tidur siang atau pergi ke rumahnya sebentar untuk memastikan jika anak anaknya benar benar tidur siang. Sinar tidak melarang atau keberatan jika ibu itu pergi ke rumahnya sebentar.
Ibu yang banyak maunya itu terlihat cemberut tapi masih mengerjakan pekerjaannya.
"Atau kalau ibu tidak nyaman bekerja di sini. Tidak apa apa mengundurkan diri bu," kata Hana. Dia tidak menyukai ibu itu yang terlihat remeh bekerja di usaha kecil rumahan seperti ini. Sinar terkejut mendengar perkataan Hana itu. Menghadapi sikap ibu itu sebenarnya lebih baik dia keluar. Tapi Sinar mempunyai sisi kemanusian yang tinggi. Dia tidak tega. Sinar berpikir jika ibu itu masih bekerja pada dirinya. Itu artinya si ibu tersebut masih butuh pekerjaan.
"Bukan itu maksud ku. Aku hanya minta ijin. Apa itu tidak bisa?"
"Bisa bisa saja bu. Tapi jika terlalu sering kami juga tidak terima bu. Kita makan gaji yang sama tapi jumlah jam bekerja yang berbeda," kata Hana menjelaskan.
"Sudah, jangan berdebat. Jika ibu mau bekerja sampai jam dua belas tidak apa apa. Silahkan. Tapi apa yang aku bilang tadi tidak bisa diganggu gugat. Hanya upah setengah hari. Sekarang ganti topik pembicaraan," kata Sinar. Dia sudah malas mendengar pembicaraan itu karena akan bisa menimbulkan sakit hati karena Hana dan Ibu yang satu lagi tidak terima dengan sikap ibu itu.
"Sinar, calon suami mu orang tajir juga ya. Tidak nyangka aku," kata ibu yang satu lagi.
"Calon Suami?" tanya Sinar bingung. Ibu yang bernama Isna itu menganggukkan kepalanya. Sinar mengerutkan keningnya kemudian mengingat kedatangan Danish tadi malam.
"Mobilnya keren, pakaiannya juga bagus. Kenal dimana sih Sinar?" tanya ibu Isna itu lagi.
"Kenal di kolam renang bu."
Uhuk uhuk.
Sinar terbatuk mendengar sindiran Hana. Sinar menatap sahabatnya itu dengan malas karena selalu menjadikan perkataan itu bahan sindiran.
"Di kolam renang?" tanya ibu itu tidak percaya. Hana menganggukkan kepalanya.
"Mengapa ibu mengatakan dia calon suamiku?" tanya Sinar. Ibu itu pun menceritakan jika kemarin jika Danish menyebut dirinya sebagai calon suami Sinar ketika hendak memarkirkan Mobil di depan rumah itu.
"Orangnya sopan Sinar dan sepertinya sangat baik. Pokoknya suami impian masa kini" kata ibu Isna lagi.
"Kalau kenalan di kolam renang. Jangan langsung percaya jika pria itu orang kaya karena mobil dan penampilannya. Bisa saja, dia hanya supir pribadi kan. Apalagi orang kaya kan tidak mungkin berenang di kolam renang celup," kata ibu yang protes tadi menanggapi perkataan ibu Isna. Ibu hanya berpikir jika kolam renang yang dimaksudkan Hana tempat perkenalan Sinar dan pria itu adalah kolam renang yang biasa mereka datangi yang mereka juluki sebagai kolam renang celup karena kedalamannya hanya satu meter lebih sedikit.
Sinar tertawa kecil mendengar perkataan si ibu itu jika Danish bisa saja hanya sebagai seorang supir pribadi. Jika ibu itu masuk ke rumah Danish. Bisa dipastikan ibu itu akan terkejut karena melihat kemewahan rumah Danish.
"Jadi benar dia calon suami mu?"tanya ibu itu lagi.
Sinar tidak menjawab. Kedatangan Danish ke rumah ini tadi malam menegaskan jika dirinya adalah calon istri dari pria itu.
__ADS_1
"Benar bu. Pria itu adalah calon suami Sinar. Nikahan nya tidak lama lagi. Kita pasti nanti diundang. Iya kan Sinar?" tanya Hana.
"Hana."
"Kenapa harus menyembunyikan dari kami. Tadi malam aku mendengar pembicaraan kalian. Berkali kali pria itu mengatakan jika kamu adalah calon istrinya. Kami...."
Hana hendak meneruskan perkataannya tapi melihat Sinar menyuruh dirinya diam dengan meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Hana terdiam. Mereka mendengar suara Mobil yang berhenti di depan rumah.
"Jangan jangan itu Danish," kata Sinar dalam hati. Details jantungnya kembali tidak beraturan hanya menduga jika seseorang yang sedang turun dari mobil adalah Danish.
"Sinar."
Ternyata benar dugaan Sinar. Suara yang memanggil namanya itu adalah suara Danish. Sinar berdiri setelah mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum membuka pintu.
"Selamat pagi menjelang siang," sapa pria itu setelah pintu terbuka.
"Selamat pagi."
"Boleh masuk?.
"Silahkan," kata Sinar sambil menggeser tubuhnya ke samping. Danish masuk Dan tangannya terlihat mengelus rambut Sinar sebentar.
"Sedang menggoreng ternyata," kata Danish. Pria itu terus melangkah ke ruang tengah dan melihat tiga orang sedang sibuk di Sana.
"Selamat pagi semuanya," sapa Danish.
"Selamat pagi," jawab tiga orang itu hampir serentak. Mereka mencuri pandang melihat penampilan Danish yang memakai kemeja warna biru dengan celana bahan warna hitam. Tidak lupa dengan sepatunya yang warna hitam mengkilat. Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan jika dirinya bukan orang yang sembarangan. Rambutnya juga tertata rapi. Penampilan Danish sedikit pun tidak menunjukkan dirinya seperti supir pribadi yang membuat si ibu itu merasa malu sendiri memberikan pendapat tanpa melihat orangnya terlebih dahulu
Danish dengan santai menarik kursi plastik dan duduk dekat para wanita itu sedang menggoreng ubi.
"Jangan duduk dekat situ. Nanti kamu kecipratan minyak panas," kata Sinar mengingatkan Danish. Keripik yang di dalam penggorengan itu sebentar lagi akan matang. Jika memasukkan ubi yang baru. Sinar khawatir, Danish terkena cipratan nya.
"O iya. Kamu benar. Terima kasih atas perhatiannya calon istriku," kata Danish sambil berdiri dan menarik kursi itu agak menjauh dari penggorengan.
"Berlebihan," jawab Sinar sedikit kesal. Perkataan Danish sudah menjawab pertanyaan ibu Isna bahwa benar pria itu adalah calon suaminya. Danish hanya tersenyum. Dia mendengar suara Sinar yang pelan itu.
"Apa sudah ada keripiknya yang sudah bisa dimakan?" tanya Danish. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu mengambil keripik yang dimaksudkan Danish. Karena belum ada yang dikemas. Sinar membuat keripik itu di dalam piring.
"Temani aku makan," kata Danish. Pria itu menyuruh Sinar untuk memegang piring dan gelas itu. Kemudian Danish mengangkat kursi dan meja kecil itu dan membawanya menjauh dari ruang tengah itu.
"Mama ingin bertemu dengan kamu. Apa kamu bersedia. Kamu yang menentukan tempatnya. Jika kamu malas keluar rumah. Aku bisa membawa mama ke rumah ini," kata Danish setelah mereka duduk berduaan di ruang tamu.
"Apa Nyonya Amalia sudah sehat?" tanya Sinar.
"Sebenarnya dalam satu minggu ini. Mama dalam keadaan sehat. Jadi kamu mau kan. Sebenarnya akan lebih baik aku membawa kamu ke rumah menemui mama."
"Eh jangan. Jangan Danish. Biarkan saja kami bertemu di rumah ini," kata Sinar cepat. Perkataan Danish di akhir kalimatnya membuat Sinar tidak bisa berpikir untuk menolak pertemuannya dengan Nyonya Amalia. Dia hanya menolak Danish membawa dirinya kembali ke rumah itu.
Danish tersenyum. Sengaja dirinya membuat perkataan menjebak supaya Sinar tidak bisa menolak. Dia tahu, untuk saat ini. Sinar pasti belum bersedia datang ke rumah orang tuanya karena tidak mau bertemu dengan Tuan Santosh. Danish pun belum mempunyai rencana untuk mempertemukan Sinar dan tuan Santosh dalam waktu dekat ini.
"Baiklah, bisa besok kalian bertemu?" tanya Danish.
"Bagaimana kalau hari minggu saja. Selain hari minggu aku sibuk. Tidak enak sama yang lain jika aku banyak mengobrol," kata Sinar. Sebenarnya itu hanya alasan saja. Sinar hanya belum siap bertemu dengan Nyonya Amalia dalam waktu yang sangat dekat.
"Baiklah, Hari minggu ya!. Sinar menganggukkan kepalanya sedikit ragu.
"Ada apa?" tanya Sinar. Danish seperti berpikir.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Tapi, kurang enak jika aku membicarakan di tempat ini," kata Danish. Sinar mengerutkan keningnya. Hal apalagi yang ingin dibicarakan oleh pria itu dengan dirinya.
"Aku ingin mengajak kamu keluar. Boleh kan?" tanya Danish lagi.
"Aku masih banyak pekerjaan," jawab Sinar menolak. Danish sepertinya tidak mengindahkan jawaban Sinar. Pria itu berdiri dan berjalan ke ruang tengah.
"Hana, aku ingin mengajak Sinar keluar sebentar. Kamu bisa menghandle pekerjaan ini kan?"
Hana seketika mendongak dan menatap pria itu. Cara Danish minta ijin kepada dirinya untuk mengajak Sinar keluar dari rumah seperti orang yang sudah lama mengenal dirinya. Hana dan Sinar yang duduk di tempat berbeda merasa heran, karena Danish tidak canggung sedikit pun menyebut nama gadis itu.
"Boleh. Yang penting. Sinar keluar dari rumah ini dalam keadaan baik maka kembali juga dalam keadaan baik. Jangan sampai terluka apalagi terluka hati."
Danish hanya menganggukkan kepalanya kemudian berbalik.
__ADS_1
"Ayo, aku sudah mendapatkan ijinnya." Tidak ada lagi alasan Sinar untuk menolak.
Sinar meneliti pakaiannya sendiri. Danish seakan mengerti apa yang di pikiran Sinar. Pria itu menyuruh Sinar untuk mengganti pakaiannya.
"Masuklah," kata Danish sambil membuka pintu mobil dan mempersilahkan Sinar masuk ke dalam mobil itu. Sinar naik dengan gugup. Dan Danish memegang tangan Sinar membantu wanita itu untuk Naik.
"Kakiku sudah sembuh total. Jadi jangan takut. Aku bisa kok menyetir," kata Danish. Setelah duduk di belakang setir Dan Sinar memperhatikan kakinya sekilas.
"Kita mau kemana?" tanya Sinar. Mobil sudah berjalan dan sudah keluar dari gang.
"Mau mu kita mau kemana. Bagaimana kalau ke kampung saja. Aku tidak sabar untuk segera melamar mu," kata Danish. Perkataan Danish itu sanggup membuat wajah Sinar memerah.
"Jangan bercanda."
"Aku serius hendak melamar mu ke pak Ilham dan ibu Yanti. Dan meminta restu dari kakek Joni."
Sinar tidak menjawab. Dia sibuk memandangi jalanan. Berduaan dengan Danish bukan ini yang pertama kalinya tapi Sinar merasa canggung sedikit apalagi sejak pertemuan dengan pria itu selalu membicarakan tentang pernikahan.
"Aku tahu kamu pasti tidak mau dipoligami. Dan aku tidak akan melakukan itu. Aku dan Bintang sudah selesai," kata Danish lagi. Sinar masih terdiam.
"Mengapa kamu tidak memberikan tanggapan Sinar?" tanya Danish lagi.
"Kamu membawa aku kemana?" tanya Sinar.
"Kita ke puncak. Jangan takut. Aku tidak akan melakukan hal apapun kepada mu. Aku hanya butuh tempat yang cocok untuk membicarakan tentang hubungan kita," kata Danish menenangkan Sinar. Sinar terlihat pasrah dengan menyandarkan tubuhnya.
"Aku mau mau membeli sesuatu. Atau ikut turun bersama ku?" tanya Danish begitu Danish menghentikan mobil di depan sebuah mini market.
"Aku disini saja." Danish turun dari Mobil dan masuk ke dalam mini market. Dari dalam mobil. Sinar dapat melihat pergerakan Danish yang sedang memaksakan cemilan dan air mineral ke dalam keranjang.
"Untuk bekal di perjalanan," kata Danish sambil meletakkan bungkusan plastik itu ke pangkuan Sinar kemudian pria itu memundurkan mobilnya dan bersiap berlalu dari tempat itu.
Tiba di puncak. Mereka sedang duduk menikmati suasana pegunungan. Untung saja, Danish menyediakan jaket di mobilnya sehingga Sinar tidak kedinginan.
"Bagaimana, kamu suka pemandangannya?" tanya Danish. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya daerah itu terlalu dingin untuk dirinya meskipun sudah memakai jaket tapi Sinar tidak mengatakanya.
"Papa sudah mengijinkan kita untuk menikah meskipun tidak memberikan restu," kata Danish. Sinar menoleh dan menatap Danish. Kini, wanita itu sudah mulai percaya jika Danish serius ingin menikahi dirinya.
"Aku tidak mengerti."
"Papa tidak memberikan restu bukan berarti tidak mengijinkan. Sinar, aku mohon. Meskipun seperti itu jangan ragu untuk menikah denganku."
"Danish, menikah itu menyangkut dua hati dan restu kedua belah pihak keluarga. Sungguh, aku tidak mengerti dengan kamu. Kita sudah tidak berkomunikasi selama enam bulan dan kamu tiba tiba muncul di hadapanku dan mengatakan aku masih sebagai calon istri mu. Sekarang kamu membicarakan restu. Tidak segampang itu merencanakan pernikahan Danish."
"Aku mengerti. Tapi tolong dengarkan penjelasanku mengapa aku tidak langsung menemui kamu sejak enam bulan yang lalu," kata Danish.
Danish pun menceritakan dengan jujur semua yang terjadi dalam keluarganya. Termasuk dengan keluarga Bintang. Bunga Edelweiss dan dampaknya bagi keluarganya.
"Aku tidak mau berkomentar tentang itu Danish," kata Sinar. Mendengar cerita Danish. Sinar semakin merasa dirinya dijadikan sebagai cadangan. Andaikan keburukan keluarga Bintang tidak terbongkar, bisa dipastikan jika pertunangan itu akan dilanjutkan ke pernikahan tanpa terhalang restu dari tuan Santosh. Sinar masih merasa kecewa karena Danish menikahi dirinya masih hanya sebatas terikat janji dan balas budi. Bisa jadi, Danish akan melupakan dirinya jika Bintang jadi menikah dengan Danish. Begitulah pemikiran Sinar setelah mendengar cerita Danish.
"Tapi kamu harus mengetahuinya."
"Tidak perlu dan aku tidak mau tahu tentang itu semua. Aku sudah tegaskan berkali kali kepada mu. Jangan nikahi aku hanya karena terikat janji. Kita sudah impas. Tidak ada lagi balas budi karena aku sudah menerima bayaran atas pertolonganku kepadamu," kata Sinar dengan tegas. Bersedia bertemu dengan Nyonya Amalia bukan untuk mengambil simpati atau berusaha mendekatkan diri lagi dengan keluarga Danish. Tapi Sinar hanya berusaha untuk menghargai kebaikan wanita itu.
"Mengapa kamu tidak percaya kepada ku Sinar?"
"Apa yang harus aku percaya dari kamu Danish?. Coba katakan. Aku harus percaya dengan janji janji mu itu. Oke, aku percaya kamu seorang pria yang memegang janji dan pasti menepatinya. Tapi dengan seperti itu. Aku juga mempunyai hak untuk menolak," kata Sinar.
"Kalau aku mengatakan ingin menikahi kamu bukan karena terikat janji atau balas budi. Apa kamu percaya?" tanya Danish. Kini Danish menatap wajah Sinar. Tapi Sinar memalingkan wajahnya dari pandangan Danish.
"Jawab Sinar. Aku tidak mau hubungan kita hanya berputar putar seperti ini saja. Aku ingin melangkah bersama dengan mu menyongsong Masa depan bersama," kata Danish serius.
"Aku tidak percaya," kata Sinar sedikit ketus.
"Kenapa tidak percaya."
"Karena aku tahu, aku bukanlah wanita impian mu dari segi apapun. Dari segi kecantikan, dari segi penampilan apalagi dari segi pendidikan."
"Siapa bilang?" tanya Danish tersenyum.
"Aku."
__ADS_1
"Kamu yang merasa seperti itu. Tapi hatiku memilih mu untuk pendamping hidupku. Kamu adalah wanita impianku Sinar. Jadi percaya kepadaku. Jangan ragu untuk menikah dengan kamu. Aku jatuh hati kepada mu dan tidak ada satupun yang bisa menghalangi Kita untuk bersatu. Meskipun itu maut. Karena kamu sudah menyelamatkan aku dari maut. Sinar, kamu adalah wanita impianku," kata Danish lembut sambil meraih tangan Sinar..