
"Apa ini Sinar?" tanya Danish pelan dengan wajah yang sangat kecewa. Di tangannya ada satu strip pil kontrasepsi yang masih tersisa beberapa tablet.
Sinar yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang melekat di tubuhnya hanya bisa berdiri mematung tanpa bersuara menatap Danish dengan perasaan sangat bersalah. Apa yang baru saja dia takutkan akhirnya terjadi juga di hari yang sama.
"Kamu tidak mendengar pertanyaan ku. Atau kamu akan mengatakan ini bukan milikmu?" tanya Danish lagi. Sinar masih terdiam. Dia sudah menyembunyikan pil kontrasepsi itu ke tempat yang paling tersembunyi tapi suaminya masih dapat menemukannya. Tiba di rumah mereka sendiri setelah sore tadi pulang dari rumah kedua mertuanya. Sinar sudah menyembunyikan pil kontrasepsi itu dari tas kerjanya ke bawah lipatan bajunya.
"Maafkan aku Danish," kata Sinar. Danish memang tidak bertanya dengan suara yang keras maupun membentak tapi Sinar bisa melihat kemarahan di wajah suaminya.
"Kamu tidak sudi mengandung janinku?" tanya Danish semakin pelan. Danish tidak pernah menyangka jika Sinar menggunakan pil kontrasepsi itu untuk menolak benihnya bersemayam di rahimnya. Benar, kata kata orang jika tidak ada kebohongan yang sempurna. Andaikan pil kontrasepsi itu masih berada di tas kerja Sinar. Bisa saja sampai saat ini, dia tidak mengetahuinya tentang pil kontrasepsi itu.
Pada akhirnya, apa yang disembunyikan Sinar dari Danish. Kebohongan itu menemukan jalannya sendiri untuk terbongkar.
Beberapa menit yang lalu, setelah Sinar masuk ke kamar Mandi. Danish ingin memberikan kejutan dengan menyediakan pakaian ganti untuk istrinya itu. Danish berniat untuk menyeimbangkan apa yang dilakukan oleh Sinar kepada dirinya. Hampir setiap selesai mandi. Sinar selalu menyediakan pakaian ganti untuk dirinya. Dan saat ini Danish ingin membalas kebaikan istrinya itu.
Niat baik Danish akhirnya menemukan kenyataan yang menyakitkan bagi dirinya sendiri. Beberapa hari terakhir ini, Danish merasa khawatir akan kesehatan organ reproduksinya karena belum ada tanda tanda kehamilan dalam diri Sinar. Danish meragukan kesehatannya sendiri dan bahkan menyalahkan dirinya. Ternyata kesalahan itu terletak pada istrinya yang dia bela di hadapan papa.
Danish mengacak rambutnya frustasi. Dirinya bukan tipe pria yang bisa melampiaskan kemarahan kepada seorang wanita. Apalagi pada wanita yang sudah menjadi istrinya sejak sebulan yang lalu. Danish bisa merasakan amarahnya meledak kepada laki laki tapi untuk seorang wanita. Danish bisa menahan amarah itu. Kekecewaan itu jelas terlihat di wajah dan gerakan. Dengan lesu, Danish melangkah dari ruang ganti itu ke kamar mereka dan duduk di ranjang.
"Maafkan aku Danish," kata Sinar dengan wajah tertunduk yang kini sudah berdiri di hadapan Danish dengan pakaian yang sudah dikeluarkan Danish dari lemari.
"Simpan ini, supaya ada kamu gunakan setelah bersih dari datang bulan itu," kata Danish sambil meletakkan pil kontrasepsi itu ke telapak tangan Sinar.
Sinar menggelengkan kepalanya dengan cepat. Seperti tekadnya ketika di rumah mertuanya. Sinar sudah siap hamil dengan resiko apapun nantinya yang akan dia hadapi dari tuan Santosh.
__ADS_1
"Maafkan aku Danish. Jujur, aku menggunakan ini sejak dua minggu yang lalu. Dan aku sudah berjanji dalam hatiku sendiri tidak akan menggunakan itu lagi. Aku siap hamil. Aku siap mengandung anak kita Danish," kata Sinar dengan berlutut di kaki Danish yang kakinya menjuntai ke lantai.
Danish tidak membiarkan Sinar merendahkan dirinya hanya karena pil kontrasepsi itu. Danish mengulurkan tangannya membantu Sinar supaya berdiri kemudian membantu wanita itu duduk di sebelahnya.
Meskipun kata kata Sinar sangat terdengar menyakinkan. Danish tidak langsung memberikan maaf kepada istrinya itu. Sejujurnya, hal yang paling dia benci adalah sebuah kebohongan dan kini, istrinya sudah ketahuan membohongi dirinya.
"Seharusnya kamu berterus terang jika tidak ingin mengandung anakku. Kamu bisa mendiskusikan nya dengan aku Sinar. Tidak seperti ini. Aku merasa dikhianati. Asal Kamu tahu, apa yang kamu lakukan ini adalah kesalahan fatal seorang istri."
Sinar menundukkan kepalanya. Dia juga sadar membohongi suami sendiri adalah sebuah kesalahan fatal. Dan Sinar merasa apa yang dilakukannya itu karena adanya alasan kuat. Dia pun ingin mempunyai anak secepatnya tapi kalau hanya menjadikan anak menjadi korban dari keegoisan papa mertuanya. Sinar pun tidak menginginkan itu.
"Kenapa kamu lakukan ini. Apa tujuan kamu menikah dengan ku bukan karena alasan mencintai atau karena ibadah. Kamu bersedia menikah dengan ku untuk menghindari Roki kan. Kamu hanya berniat cari aman saja kan?" tanya Danish. Pria itu menghubungkan keras kepala Sinar yang mengalah dengan Bintang waktu itu dengan kejahatan Roki terhadap Sinar yang berujung pria jahat itu mendekam di penjara. Ingatan Danish juga melayang ketika papa mertuanya menyebutkan ancaman Roki jika Sinar tidak menikah. Waktu itu mereka berada di puncak dan di hari yang sama Sinar juga setuju menikah dengan dirinya.
Sinar merasakan hatinya sakit mendengar tuduhan Danish. Dirinya memang tidak ingin diganggu oleh Roki lagi bukan berarti dirinya ketakutan kepada pria jahat itu dengan bersedia menikah dengan Danish.
"Kamu berpikiran seperti itu Danish. Harusnya kamu bertanya mengapa aku melakukan itu. Tidak langsung memberikan tuduhan seperti ini," jawab Sinar. Dia tidak terima dengan tuduhan Danish. Dirinya bersedia menikah dengan Danish karena alasan cinta. Jika hal itu membuat dirinya aman dari Roki. Bukankah seperti itu semestinya. Seorang suami harus melindungi istrinya dari kejahatan apapun termasuk kejahatan dari seorang mantan yang jahat seperti Roki.
"Adakah alasan yang tepat bagi seorang istri menunda kehamilan tanpa sepengetahuan suaminya. Sedangkan si suami dan semua keluarga sangat menginginkan berita bahagia itu?" tanya Danish dengan sinis. Sinar kembali menarik nafas panjang.
Mendengar bagaimana Danish berkata sinis kepada dirinya. Sinar berpikir akan percuma saja menjelaskan kepada suaminya itu apalagi tindakan yang dia lakukan itu berkaitan dengan Sikap tuan Santosh kepada dirinya.
"Mungkin bagi kamu apapun alasan yang aku katakan nanti bukan alasan yang tepat. Sekali lagi, maafkan aku Danish. Di saat kamu masih marah dan kecewa seperti ini. Aku belum bisa menjelaskan alasannya. Hanya saja kamu harus tahu. Aku bersedia menikah dengan kamu murni karena alasan cinta bukan karena alasan menghindar dari Roki apalagi karena alasan harta. Aku berharap, masalah pertama yang aku lakukan ini tidak membuat kamu krisis kepercayaan kepada diriku."
Sinar tidak ingin menjelaskan alasannya karena khawatir hal itu bukan menyelesaikan masalah melainkan menimbulkan masalah baru. Sinar takut, Danish berpikir dirinya menjelekkan tuan Santosh nantinya. Karena Alasan dia melakukan hal itu erat katanya dengan Tuan Santosh. Sinar akan menunggu amarah dan kekecewaan suaminya mereda baru kemudian dengan pelan pelan dia menceritakan alasannya menggunakan pil kontrasepsi itu.
__ADS_1
"Tidak ada alasan yang tepat atas apa yang kamu lakukan ini."
Sinar menundukkan kepalanya. Keputusannya untuk tidak menjelaskan alasan itu saat ini juga sudah tepat. Tidak ingin hubungan mereka kaku karena masalah itu. Sinar memberanikan diri memeluk pinggang suaminya. Danish tidak menolak tapi juga tidak membalas pelukan itu. Itu artinya Danish masih marah kepadanya.
"Maafkan aku ya Danish. Aku janji ini yang pertama aku melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan kamu," kata Sinar. Entah sudah berapa Kali dirinya meminta maaf tapi balasan dari permintaan maafnya itu belum terdengar dari mulut suaminya.
"Lakukan apapun yang kamu suka dan yang kamu anggap benar Sinar," kata Danish. Sinar tidak hanya merasa bersalah atas semua tindakannya. Kini wanita itu merasa sangat sedih. Perkataan Danish seperti tidak ingin perduli lagi kepadanya. Sinar mengartikan perkataan Danish seperti itu.
Sinar melepaskan pelukannya dari pinggang Danish saat dering ponsel terdengar. Sinar beranjak dengan cepat dari duduknya untuk mengambil ponsel itu dari atas meja rias. Ponsel itu adalah milik Danish. Sinar melakukan hal itu berharap amarah Danish mereda.
"Ini, Nathan memanggil," kata Sinar. Nama Nathan masih berkedip kedip di layar ponsel miliknya suaminya. Danish mengambil ponsel itu dari tangan Sinar tanpa senyum seperti biasanya.
"Oke bro. Aku bisa. Di tempat biasa kan?. Aku segera meluncur ke sana."
Sinar mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya berbicara dengan Nathan.
"Sinar, aku keluar sebentar. Ada urusan sedikit dengan Nathan."
Sinar merasa lega. Meskipun Danish marah kepada dirinya tapi masih pamit untuk keluar dari rumah menemani sahabatnya. Tapi otak Sinar dengan cepat berpikir. Hari ini adalah hari minggu. Jadi urusan apa antara suaminya dengan Nathan. Tidak mungkin urusan pekerjaan. Pasti mereka untuk nongkrong bersama. Sinar menebak dalam hati.
"Bolehkah aku ikut dengan kamu?" tanya Sinar. Tidak ada salahnya dia minta ikut karena selain dirinya adalah istri dari Danish. Dia sakit yakin keberadaannya selalu di sebelah Danish tidak akan mengganggu kegiatan suaminya. Lagi pula ini malam minggu.
Danish menggelengkan kepalanya. Dia menyetujui permintaan Nathan untuk bertemu di kafe langganan mereka karena dia berusaha untuk menghilangkan amarahnya kepada Sinar. Jika Sinar ikut. Dirinya takut terus mengingat tindakan bodoh istrinya yang akhirnya perdebatan tentang pil kontrasepsi itu tidak berakhir. Bagaimana pun Sinar meminta maaf berkali kali, hatinya masih kecewa.
__ADS_1
Sinar memandangi mobil suaminya yang sudah bergerak menjauh hendak keluar dari halaman rumah itu. Sinar memegang dadanya. Hatinya sakit akan penolakan Danish yang tidak bersedia membawa dirinya menemui Nathan. Tapi Sinar juga sadar. Tingkah suaminya itu seperti itu karena dirinya.
"Aku berharap masalah pertama yang aku buat ini tidak menjauhkan aku dari dirimu Danish," kata Sinar dalam hati.