
Baru saja Sinar menutup pintu taksi yang akan membawa Bintang pulang ke rumahnya. Wanita itu mendapatkan panggilan dari Danish. Danish minta ijin untuk pulang agak terlambat karena sedang bersama dengan Nathan.
"Tunggu aku di tempat itu Danish. Aku ke sana sekarang," kata Sinar. Dia memutuskan panggilan itu kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Awalnya, Sinar ingin pulang saja ke rumah. Sinar berubah pikiran untuk bergabung dengan suaminya dan Nathan karena dia ingin menceritakan kondisi kesehatan Bintang saat ini kepada Nathan. Sinar merasa, Nathan perlu mengetahui kondisi janin yang ada di rahim Bintang meskipun mereka tidak terikat pernikahan.
"Duduk sayang."
Sinar sudah tiba di kafe dimana Danish dan Nathan berada. Sebelum duduk, Sinar melirik wajah Nathan sebentar. Berbeda dengan Bintang. Nathan terlihat lebih gemuk dan sehat. Dan sepertinya juga laki laki itu sedang berbahagia. Hal yang sangat berbeda yang dilihatnya dari keadaan Bintang.
Sinar tidak habis pikir. Masih beberapa menit dia bergabung dengan dua laki laki itu. Nathan terlihat seperti tidak mempunyai beban pikiran. Dia bisa tertawa lepas ketika ada perkataan Danish yang terdengar lucu. Apakah dia bisa tertawa lepas seperti itu jika mengerti kondisi kesehatan Bintang saat ini?. Sinar bertanya dalam hati.
Sinar masih membiarkan dua laki laki itu berbincang bincang. Dia tidak ikut dalam pembicaraan mereka karena pembicaraan Danish dan Nathan seputar tentang pendakian gunung. Meskipun dia anak kampung yang juga mengetahui tentang gunung. Sinar tidak ingin ikut dalam pembicaraan itu apalagi dari tadi dia sama sekali tidak dilibatkan dari pembicaraan itu.
"Jadi serius nih. Kamu tidak ikut. Sudah sehat juga," kata Nathan. Nathan dan anggota pecinta lainnya akan kembali melakukan pendakian minggu depan.
Sinar pura pura sibuk menatap layar ponselnya padahal kedua telinganya terpasang dengan baik. Dia menunggu jawaban Danish. Apakah di saat hamil muda seperti ini. Danish akan tega meninggalkan dirinya hanya karena hobby semata. Atau memilih menjadi suami siaga untuk dirinya..
"Tidak Nathan. Aku tidak bisa ikut. Istriku sedang hamil muda mana mungkin aku meninggalkan dia sendirian di rumah."
__ADS_1
Sinar mengulas senyum sambil menundukkan kepalanya. Ingin rasanya dia menghadiahi suaminya itu dengan ciuman karena Sinar sangat senang dengan jawaban suaminya itu. Dia merasa sangat dicintai dan Sinar merasa bahagia dengan jawaban suaminya. Seandainya Danish minta ijin untuk ikut pendakian itu. Sinar akan memberikan ijin. Dia bukan tipe wanita yang mengekang suami. Lagi pula kesehatannya juga baik baik saja. Tidak akan berpengaruh jika ditinggal selama empat hari.
"Kan bisa dititipkan di rumah orang tua bro," kata Nathan lagi. Sinar mengerucutkan kedua bibirnya. Perkataan Nathan mengganggu suasana hatinya. Dia menunggu jawaban Danish. Jangan sampai suaminya itu terpengaruh dengan perkataan sahabatnya itu.
"Sinar tanggung jawab ku bukan tanggung jawab kedua orang tua ku bro."
Sinar kembali tersenyum. Dia menyukai jawaban suaminya. Danish tidak mementingkan hobby melainkan lebih mementingkan istrinya. Benar benar laki laki yang bertanggung jawab. Sinar benar benar tidak salah memilih suami. Banyak laki laki yang mengagungkan pertemanan dan hobby hingga tidak memikirkan perasaan istrinya. Ternyata Danish tidak seperti itu. Sinar mengetahui bagaimana kerinduan Danish untuk melakukan pendakian gunung. Tapi suaminya itu bisa meredam kerinduan itu dan lebih mementingkan keluarganya daripada mengikuti pendakian gunung itu.
"Ya sudah kalau tidak mau ikut. Kamu hanya mendengar cerita keseruan kami nanti," kata Nathan masih berusaha mempengaruhi keputusan Danish. Sinar mendongak menatap wajah suaminya. Sinar tersenyum. Tidak ada tanda tanda keterpaksaan di wajah suaminya menolak ikut dalam pendakian itu.
Hal berbeda yang ditunjukkan oleh Nathan. Laki laki itu sangat terlihat kecewa. Dia berpikir jika Danish adalah laki laki yang takut istri.
"Kebahagiaan pria beristri dengan kebahagiaan pria yang masih lajang sangat berbeda Nathan. Mungkin saat ini, kamu mendapatkan kebahagiaan dengan menyalurkan hobby. Tapi untuk aku. Keluarga adalah kebahagiaanku. Calon anakku bertumbuh dengan baik di rahim istriku itu sudah melebihi keseruan mendaki gunung."
"Nanti kalau kamu sudah menikah. Kamu bisa saja seperti itu aku," jawab Danish. Nathan tertawa tapi menggelengkan kepala. Sinar melihat itu dan tidak bisa menebak arti Nathan menggelengkan kepalanya.
"Danish, tadi aku bertemu dengan Bintang di rumah sakit," kata Sinar. Nathan seketika menatap wajah Sinar. Wajahnya terlihat menegang hanya mendengar nama Bintang. Belum mengetahui keadaan wanita yang sedang mengandung janinnya itu.
"Dia sakit. Kondisi kandungannya tidak dalam keadaan baik," kata Sinar lagi. Dia menatap wajah Nathan ketika mengatakan itu karena sebenarnya kabar itu untuk Nathan bukan untuk suaminya.
__ADS_1
"Bertemu di rumah sakit. Kamu ke rumah sakit tadi. Ada masalah dengan calon anak kita?" tanya Danish panik. Sinar menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengharapkan Danish berkomentar dan suaminya panik. Danish tidak begitu perduli akan keadaan Bintang tapi sangat khawatir akan calon anaknya.
"Aku tidak apa apa. Aku ke rumah sakit karena aku yang mendesak Bintang supaya berobat." Danish terlihat menarik nafas lega mengetahui tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi calon anaknya.
Di seberang meja. Nathan terdiam mendengar cerita Sinar. Wajah ceria hilang dari wajahnya.
"Maaf Nathan. Bukan bermaksud ikut campur hubungan kalian berdua. Tapi menurutku. Ada baiknya juga kamu memberikan sedikit perhatian untuk calon anak kamu meskipun hubungan kalian tidak jelas. Kasihan janin itu berjuang bertumbuh tanpa perhatian dari kedua orangtuanya," kata Sinar pelan. Sinar tidak perduli apakah Nathan mendengar perkataannya yang penting Sinar sudah berusaha menyadarkan laki laki itu. Tidak ada yang bisa memaksa mereka untuk menikah karena menikah itu adalah keinginan dua Hati. Tapi tidak ada salahnya mengarahkan Nathan. Karena bagaimanapun nantinya kondisi sang janin itu. Yang menjadi orangtuanya adalah Nathan.
"Aku mengatakan ini kepada mu karena keadaan janin itu sangat tergantung dengan keadaan ibunya. Saat ini Bintang sakit. Dokter sudah menjelaskan dampaknya kepada Bintang. Selain janin lahir dengan berat badan yang tidak normal. Janin bisa saja lahir cacat jika asupan gizi kurang. Demi kebaikan janin itu sendiri. Aku sengaja memberitahukan ini kepada mu," kata Sinar lagi.
"Terima kasih sudah perhatian kepada calon anakku Sinar. Dan terima kasih karena sudah memberitahukan aku tentang kondisi Bintang dan calon anakku. Aku pergi dulu."
Sinar dan Danish saling berpandangan menatap Nathan yang beranjak dari duduknya.
"Mau cabut bro?" tanya Danish. Nathan menganggukkan kepalanya.
"Nathan, kamu tidak berniat untuk menjenguk Bintang?" tanya Sinar lagi. Sinar berharap, Nathan mengunjungi Bintang hari ini. Sinar sangat yakin, Bintang akan bertambah semangat menjalani hidupnya jika Nathan perhatian kepada calon anaknya. Tindakan Nathan saat ini tidak bisa ditebak apakah dia berniat mengunjungi Bintang dan mendengar perkataan Sinar untuk memberikan perhatian kepada calon anaknya.
"Aku tahu apa yang harus aku perbuat sekarang Sinar. Aku duluan," jawab Nathan. Menepuk punggung Danish kemudian melangkah pergi meninggalkan Danish dan Sinar yang terkejut melihat reaksi Nathan.
__ADS_1
"Dia marah atau bagaimana Danish?" tanya Sinar. Sikap yang ditunjukkan Nathan tidak bisa ditebak apakah laki laki itu marah atau tersentuh hatinya karena mendengar kondisi Bintang.
"Aku juga tidak tahu," jawab Danish.