
Pagi pagi sekali. Sinar, Danish dan kakek Joni sudah berangkat dari rumah. Mereka sengaja berangkat dari rumah sebelum penduduk lainnya terbangun dari tidur. Kakek Joni juga mengambil jalan pintas supaya Danish tidak terlalu kelelahan berjalan. Kakek juga melakukan itu supaya tidak berpapasan dengan pihak keluarga Roki yang direncanakan akan menjemput paksa Sinar hari ini.
Kakek Joni mengantarkan Sinar dan Danish hingga duduk di dalam bus. Sinar merasa berat hati meninggalkan kakek Joni dan kedua orang tuanya. Tapi karena ancaman pihak keluarga Roki tidak ada jalan lain selain mengikuti Danish ikut ke Kota.
Sepanjang perjalanan itu. Sinar memikirkan bagaimana dirinya bersikap di hadapan kedua orang tua Roki. Dirinya hanya gadis desa yang belum pernah ke kota sama sekali. Sinar sangat merasa ketakutan jika kehadirannya akan tertolak nantinya.
Kekhawatiran itu semakin terlihat di wajah Sinar ketika sudah turun dari bus. Sinar mengeratkan tangannya ke tangan Danish seakan takut terlepas di keramaian terminal. Sinar hanya diam seribu bahasa mengikuti langkah Danish. Untuk bertanya hal baru yang dilihatnya saat ini. Sinar merasa malu. Dia sadar diri sebagai gadis kampung.
"Kamu haus?" tanya Danish ketika melihat Sinar hendak minum tapi botol minumnya sudah kosong. Sinar menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita ke sana," kata Danish sambil menunjuk swalayan di seberang jalan. Sinar menahan tangan Danish ketika hendak menyebrangi jalan yang padat kendaraan.
"Tidak akan terjadi apa apa. Pegang tanganku," kata Danish. Danish mengerti ketakutan Sinar karena dia juga tahu bahwa ini pertama kalinya bagi Sinar menginjakkan kakinya di kota. Dengan rasa takut yang luar biasa. Sinar memegang erat tangan Danish ketika menyebrang. Orang orang banyak memperhatikan tingkahnya. Tapi melihat sikap yang ditunjukkan oleh Danish yang tidak malu menggandeng tangannya membuat Sinar semakin yakin jika Danish memang benar benar bisa menerima dirinya apa adanya.
"Tunggu disini sebentar ya!" kata Danish setelah mereka di depan swalayan. Sinar menganggukkan kepalanya. Dia melihat Danish yang mendorong pintu kaca swalayan itu dan masuk ke dalamnya. Sinar juga melihat Danish berbicara dengan kasir. Hingga beberapa menit kemudian. Danish keluar dari swalayan dengan membawa dua botol air mineral dan juga beberapa cemilan.
"Minum Sinar," kata Danish. Mereka masih berdiri di depan swalayan itu.
"Dimana rumah mu Danish?" tanya Sinar.
"Masih lumayan jauh dari sini," jawab Danish. Pria itu menyodorkan cemilan kepada Sinar.
"Kamu membeli banyak makanan. Apa uangnya masih ada untuk biaya Kita ke rumah kamu?" tanya Sinar heran. Seingatnya uang yang diberikan kakek Joni untuk biaya perjalanan mereka hanya cukup untuk membayar bus dan membeli minuman.
"Kamu tenang saja. Bersama aku, kamu tidak akan kelaparan," kata Danish. Sinar tersenyum. Dia merasa jika perkataan Danish itu adalah ungkapan tanggung jawab seorang pria kepada pasangan hidupnya. Dalam hal ini dirinya.
__ADS_1
"Pak Danish?" kata seorang pria dengan sangat sopan kepada Danish.
"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Danish dingin. Sinar merasa aneh dengan perubahan sikap Danish kepada pria itu dibandingkan kepada dirinya.
"Pak Santos."
"Mana mobilnya."
"Itu pak," tunjuk pria itu ke arah mobil warna hitam yang tidak jauh dari mereka. Bahkan Sinar tadi memperhatikan mobil itu ketika datang dan berhenti. Ternyata mobil itu adalah mobil jemputan untuk mereka berdua.
Danish menarik tangan Sinar. Dia membuka pintu mobil dan menyuruh Sinar masuk ke dalam kemudian dirinya menyusul masuk.
"Kamu tahu kan kemana kamu mengantarkan kami berdua," kata Danish. Melihat sikap Danish yang terkesan kurang sopan menurut Sinar. Sinar mencubit pelan tangan Danish.
"Tahu pak."
Mobil hitam itu membelah Kota. Sinar tidak melewatkan pemandangan yang hanya dia lihat di televisi selama ini. Dia mengagumi apa saja yang dia lihat. Mulutnya tidak mengungkapkan kekaguman itu tapi mata dan mimiknya jelas terlihat takjub.
"Nanti setelah tiba di rumah orang tuaku. Apapun yang kamu lihat. Jangan tunjukkan wajah seperti itu. Bersikap lah biasa!"
Sinar mengalihkan pandangannya dari jalanan itu. Sinar malu. Bukan hanya malu, suara dan intonasi Danish terdengar berbeda di telinganya. Sinar tidak lagi memandangi jalanan itu karena takut ekspresi wajahnya terlihat memalukan. Sepanjang perjalanan menuju rumah Danish. Sinar menundukkan kepalanya.
"Ayo turun. Kita sudah sampai," kata Danish pelan dan lembut. Sinar menyadari perubahan suara Danish. Sinar hanya menganggukkan kepalanya dan bergerak mengikuti Danish keluar.
Sinar mengangkat kepalanya memperhatikan rumah yang menjulang tinggi seperti istana itu.
__ADS_1
"Danish," panggil Sinar. Langkahnya tertinggal beberapa langkah di belakang Danish. Sinar berlari mengejar langkah Danish.
Sinar tidak berani mengaitkan tangannya ke tangan Danish ketika masuk ke dalam rumah. Dia merasa harus bersikap sopan di hari pertama dirinya bertemu dengan kedua orang tuanya. Seperti perkataan Danish sebelumnya. Sinar bersikap biasa melihat situasi rumah yang sangat berbeda jauh dengan rumah kedua orang tuanya apalagi rumah kakeknya.
"Papa, mama," kata Danish setelah mereka berdua tiba di hadapan tiga orang manusia berbeda usia. Tanpa dikenalkan. Sinar dapat menebak kedua orang tua Danish.
"Danish,"
Kedua orang tua Danish menyebut nama Danish bersamaan dan mereka langsung berdiri menghambur memeluk Danish. Suara tangis haru yang dipanggil mama oleh Danish terdengar memenuhi ruangan itu.
"Danish anakku. Terima kasih Tuhan. Engkau kembalikan anakku kepada kami."
Kedua orang tua Danish tidak henti hentinya bersyukur sambil memeluk dan mencium wajah Danish.
"Kami tidak menyangka kamu secepat ini kembali nak. Pak tua itu mengatakan paling cepat kamu pulang setelah empat bulan berobat di Sana."
Sinar mematung dan sepertinya kehadirannya tidak disadari oleh mereka yang sedang berbahagia. Danish juga terlihat berkali kali memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Bintang, mengapa kamu hanya melihat saja. Sambut calon tunangan mu. Bukankah kamu juga merindukannya selama ini?" kata mamanya Danish setelah puas meluapkan kerinduan kepada putra tercinta.
Sinar merasakan kakinya gemetar mendengar perkataan wanita itu. Pertama Kali melihat ketiga orang itu tadi. Dia menyangka jika wanita muda itu adalah adiknya Danish. Tapi ternyata dia adalah wanita calon tunangan Danish.
Sinar berusaha tetap berdiri di tempat itu. Hatinya sangat sakit ketika melihat Danish dan wanita itu berpelukan erat seakan hal seperti itu sudah hal biasa bagi mereka. Sinar dapat melihat kebahagiaan di wajah Danish ketika berpelukan dengan wanita itu. Wajah yang berbinar penuh kebahagiaan yang tidak pernah dia lihat selama bersama.
"Siapa wanita ini Danish?" tanya mamanya Danish setelah dia menyadari jika ada orang lain selain mereka berempat.
__ADS_1
Semua mata tertuju kepada Sinar. Sinar yang ditatap penuh selidik hanya bisa menundukkan kepalanya menunggu Danish menjawab pertanyaan mamanya.