Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Buatan Sinar


__ADS_3

Sinar merasa tidak tersinggung sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh tuan Santosh karena memang begitu adanya. Siapakah dia pemilik usaha rumahan dibandingkan dengan Tuan Santosh yang memiliki harta dunia yang sangat banyak. Dia memang sudah bagian dari keluarga itu tapi sikap Tuan Santosh membuat Sinar merasa tidak berhak dengan apa yang dimiliki oleh mertuanya.


Danish tidak begitu perduli dengan perkataan sang papa. Kewajiban sebagai anak selalu dia tunaikan meskipun tuan Santosh tidak menyukai pilihannya.


"Bisakah kamu tidak sombong pa. Kamu tidak menyukai makanan itu tapi jangan menghinanya. Lagi pula menghargai apa yang dilakukan oleh seorang anak itu sangat penting," kata Nyonya Amalia. Sejujurnya, Nyonya Amalia juga tidak menyukai makanan yang digoreng apalagi makanan itu dibeli dari luar rumah. Tapi setidaknya, dia tidak seperti suaminya yang bersikap sombong.


Dengan santai Danish menikmati keripik ubi itu. Baginya tidak masalah jika kedua orangtuanya tidak mau memakan oleh oleh mereka. Dia tidak terpengaruh dengan perkataan papanya. Suara khas terdengar dari mulut Danish ketika pria itu mengunyah keripik tersebut.


"Enak?" tanya Nyonya Amalia dengan wajah penasaran. Melihat Danish mengunyah keripik sebenarnya membuat Nyonya Amalia juga ingin mencoba keripik tersebut.


"Makan sesekali dari luar tidak membuat mama langsung baik kolesterol. Asal jangan terlalu banyak," saran Danish.


Danish bisa melihat sang mama menginginkan keripik itu. Danish mengulurkan tangannya ke arah Nyonya Amalia supaya wanita itu mencoba keripiknya.


"Kok bisa enak gini ya!" kata Nyonya Amalia dengan keripik ubi itu masih di mulut. Kini tangannya sudah menjangkau satu bungkus keripik ubi itu.


Nyonya Amalia terlihat menikmati makanannya itu. Sinar tersenyum dalam hati. Dia senang karena keripik buatannya ternyata cocok di lidah Nyonya Amalia. Hal itu menambah semangat bagi Sinar untuk membuat keripik dengan rasa lain.


"Tidak mau coba pa. Enak loh!" kata Nyonya Amalia menawarkan keripik ubi itu kepada suami. Tuan Santosh melirik sinis ke arah tangan istrinya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sinar melihat lirikan sinis dari papa mertuanya. Sinar menarik nafas panjang. Tuan Santosh belum mengetahui jika keripik ubi itu buatannya, respon pria itu sudah merendahkan usahanya apalagi jika dia mengetahui jika keripik ubi itu adalah sumber penghasilan Sinar. Atau bisa saja, tuan Santosh sudah mengetahuinya usahanya itu dan sikap saat ini untuk menjatuhkan mentalnya.


Tidak. Sinar berjanji dalam hati tidak akan terpengaruh dengan sikap Tuan Santosh kepada dirinya. Dia akan tetap bangkit mengembalikan usahanya.


Sinar tersenyum melihat Nyonya Amalia yang ternyata menyiksa keripik ubi buatannya. Kadang di sela sela mengunyah, Nyonya Amalia memberikan penilaian akan keripik itu. Dan semua penilaian itu membuat Sinar semakin bersemangat.


"Sinar, mengapa kamu tidak mencoba. Ayo makan, jangan takut kehabisan. Sejak hari ini, aku akan menjadikan keripik ubi ini menjadi makanan favorite aku. Untung saja, gigiku masih kuat. Kalau tidak aku hanya menjadi penonton Danish menghabiskan semua keripik itu."


Sinar terkekeh, dia mengambil satu bungkus keripik dan kemudian memakan nya juga. Cara Sinar memakan keripik itu seakan dirinya bukan pembuat nya.


"Yakin tidak mau mencoba pa. Ini makanan pedas kesukaan kamu loh. Manis dan pedasnya pasti sangat cocok dengan lidahmu," kata Nyonya Amalia lagi. Tuan Santosh menggelengkan kepalanya. Melihat tiga orang di hadapannya sangat menyukai keripik ubi itu sudah cukup membuktikan jika keripik itu benar benar enak. Tapi demi gengsi karena sudah meremehkan makanan itu membuat pak Santosh menggelengkan kepalanya.


Kini sudah dua bungkus keripik ubi masuk ke perut Nyonya Amalia. Kalau tidak memikirkan kesehatan dan kecantikan, Wanita itu pasti akan menghabiskan lebih banyak lagi keripik tersebut. Usia yang tidak muda lagi membuat Nyonya Amalia menahan keinginan itu. Ketika keripik terakhir dari bungkus ke dua itu berpindah ke tangannya. Nyonya Amalia iseng memasukkan keripik tersebut ke mulut suaminya. Tangan Nyonya Amalia yang tiba tiba di depan mulut tuan Santosh membuat pria itu spontan membuka mulut.


Terlanjur masuk ke dalam mulutnya, Tuan Santosh akhirnya mengunyah keripik tersebut. Benar kata istrinya, rasa manis dan rasa pedas yang menyatu dengan rasa ubi itu pas di lidahnya. Bahkan setelah keripik itu turun ke perutnya. Tuan Santosh berharap Nyonya Amalia membuka satu bungkus lagi keripik itu dan menyuapi seperti tadi. Tapi Nyonya Amalia tidak melakukan itu bahkan kini wanita itu sedang mengusap bibirnya dengan tissue kemudian minum air putih.


Tuan Santosh melirik keripik ubi yang tersisa dua bungkus lagi. Rasa keripik itu membuat lidahnya nagih tapi untuk meraih satu bungkus keripik ubi itu. Tuan Santosh merasa malu. Ternyata makanan rendahan yang dia sebutkan tadi sangat cocok di lidahnya. Tuan Santosh tidak pemilih dalam hal makanan termasuk dari olahan ubi. Dia berkata kasar seperti tadi karena dirinya mengibaratkan keripik ubi itu seperti Sinar. Makanan kampung yang masuk ke rumahnya. Dia berkata seperti itu tentu saja tujuan untuk menyindir Sinar. Sama seperti keripik ubi makanan yang kampung yang ditolaknya. Begitulah penolakannya akan kehadiran Sinar di rumah itu.


"Enak kan pa. Mau lagi?" tanya Nyonya Amalia. Tuan Santosh tidak menjawab tapi gerakan matanya menjawab pertanyaan istrinya. Dan sebagai istri, Nyonya Amalia mengetahui jawabannya. Wanita itu kembali membuka satu bungkus keripik dan menyuapi suaminya.

__ADS_1


Danish menyembunyikan wajahnya dengan tertunduk. Dia ingin tertawa dan mengejek papanya yang sudah seperti menjilat air ludahnya kembali. Tapi Danish tidak melakukan itu karena dia menjaga wibawa papanya di hadapan Sinar istrinya. Sedangkan Sinar merasa senang karena mengetahui papa mertuanya menyukai makanan buatannya sendiri.


"Itulah sebabnya jangan mudah berkomentar apalagi komentar negatif terlebih dahulu pa."


Tak ingin menjatuhkan wibawa papanya nyatanya kini Danish sudah berkata memperingatkan papanya. Danish sengaja mengatakan itu supaya papanya berubah supaya papanya tidak mengulang kesalahan yang sama.


"Kamu benar Danish. Pelajaran untuk aku." Tuan Santosh menyadari kesalahan kepada keripik ubi tersebut tapi tidak menyadari kesalahan kepada Sinar.


"Sama seperti keripik makanan kampung itu yang ternyata cocok di lidah papa. Aku berharap, semoga papa juga merestui Sinar masuk ke dalam keluarga Kita," kata Danish.


"Uhuk, uhuk.


Tuan Santosh hampir tersedak. Untung saja, Nyonya Amalia dengan sigap menepuk punggung Tuan Santosh menepuk punggung hingga keripik ubi itu yang sangkut di tenggorokan bisa keluar.


"Keripik ini sangat enak. Lain Kali bawa lagi untuk ku, ya," kata Nyonya Amalia.


"Baik ma, tapi daripada aku repot repot membelikan untuk mama. Lebih baik pesan sendiri pada orang yang mempunyai usaha keripik ubi itu," kata Danish. Sinar menendang pelan kaki suaminya karena dia tidak siap jika kedua mertuanya mengetahui usaha rumahannya.


"Maksud kamu Danish?" tanya Nyonya Amalia.

__ADS_1


"Keripik itu buatan Sinar ma," kata Danish. Danish tidak lagi menyembunyikan usaha Sinar dari kedua orangtuanya. Danish berharap, tuan Santosh mengubah penilaiannya kepada Sinar.


__ADS_2