
Danish terkejut mendengar perkataan pria itu. Hukuman yang tidak masuk akal bagi dirinya dan Sinar. Apalagi dirinya adalah orang yang lahir dan besar di Kota. Hal seperti ini seperti lelucon bagi dirinya.
Danish menatap Sinar yang tertunduk lesu. Danish tidak tega membayangkan wanita baik yang sudah menolong dirinya itu dicambuk sepuluh kali. Rasanya pasti sakit sekali dan bisa saja Sinar tidak bisa menahan rasa sakit itu. Danish juga sadar jika kejadian ini semua karena dirinya. Danish juga sadar, saat ini dirinya tidak mempunyai apa apa untuk menjalankan hukuman yang dikatakan oleh pria itu.
Sinar terus menundukkan kepalanya. Kesedihan ini sepertinya bertubi tubi menghantam dirinya. Setelah Roki menyakiti, menghina bahkan merendahkan dirinya. Sinar dihadapkan dengan status yang belum jelas. Niat baiknya menolong Danish sepertinya hanya berarti untuk diri Danish sendiri. Tapi tidak untuk dirinya. Niat baik merawat Danish menjadikan dirinya seseorang yang harus dihukum.
Berbeda dengan Danish yang memberontak dalam hati tentang hukuman. Sinar lebih bersikap pasrah. Sejak kecil, Sinar sudah mengetahui peraturan di desa itu sehingga dirinya tidak terkejut. Dia rela dihukum dan dicambuk asalkan jangan dituduh berbuat Zina.
"Jika hukuman itu mendatangkan kebaikan. Maka hukum lah aku sekarang juga paman. Aku siap menerima hukuman bukan berarti karena berbuat yang tidak baik. Aku siap dihukum karena menghormati peraturan di desa ini. Tentang hukuman Danish. Biarlah dia sembuh terlebih dahulu."
Danish mengusap wajahnya dengan kasar. Dalam keadaan seperti ini. Sinar masih memikirkan dirinya dan siap dihukum.
"Sinar, kamu jangan bodoh. Jangan bersedia dihukum atas kesalahan yang tidak kamu perbuat," larang Danish dengan tegas. Dia tidak setuju dengan peraturan di perkampungan itu. Sebagai pria yang berwawasan luas, Danish menentang peraturan yang amat kuno itu.
Sinar menggelengkan kepalanya. Karena apapun pembelaan mereka itu hanya akan sia sia. Peraturan di perkampungan ini sangat ketat.
"Kalian berdua harus ikut ke balai pertemuan. Sinar dihukum disaksikan penduduk supaya peraturan itu benar benar nyata dan bisa contoh kepada orang lain."
"Peraturan seperti apa itu?. Aku dan Sinar benar benar tidak melakukan hal negative. Keadaan ku juga sedang sakit dan kami baru mengenal. Aku bahkan berani bersumpah bahwa kami tidak melakukan hal apapun yang melanggar Norma."
__ADS_1
Danish masih lantang menentang peraturan dan hukuman itu. Meskipun dirinya tidak mengenal warga di perkampungan ini. Tetap saja rasa malu itu ada jika dihukum di depan orang banyak apalagi dihukum bukan karena salah. Danish merasa dirinya dan Sinar sudah difitnah.
"Kalau kamu tidak bersedia mematuhi peraturan di kampung ini. Silahkan angkat kaki dari tempat ini sekarang juga."
Pria itu terlihat marah melihat sikap Danish yang terang terangan menentang. Danish mengepalkan tangannya mendengar perkataan pria itu. Di saat keadaan dirinya dan tidak berdaya seperti ini. Danish merasa harga dirinya diusik.
"Apa yang bisa aku lakukan supaya Sinar tidak dicambuk dan tidak dipermalukan?" tanya Danish akhirnya. Nadanya suaranya terdengar melunak.
"Jika tidak mau dihukum. Kamu bisa menikahi Sinar."
"Baiklah, aku akan menikahi Sinar."
"Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Aku berjanji akan menikahi Sinar. Tapi setelah aku sembuh," kata Danish tanpa pikir panjang.
"Jadi kapan?" tuntut pria itu.
"Menikah butuh proses dan perkenalan antar keluarga. Saat ini, aku sedang dalam pengobatan dan orang tuaku juga belum mengetahui keberadaan ku saat ini. Setelah aku sembuh. Aku berjanji membawa kedua orang tuaku ke kampung ini untuk melamar Sinar. Aku berjanji, meskipun Sinar sudah . menjadi calon istriku. Aku tidak akan melakukan apapun yang melanggar Norma di kampung ini," kata Danish sungguh sungguh.
"Pegang kata kata mu," kata pria itu sambil menunjuk wajah Danish. Danish menganggukkan kepalanya dan merasa lega.
__ADS_1
"Sinar, kamu tidak jadi dicambuk hari ini. Dan dia bersedia menikahi bukan berarti kamu bisa melakukan hal bebas dengan dia."
Sinar tidak menjawab apapun. Dia hanya menatap datar kepada pria itu. Baginya keputusan ini tiba tiba dan sejujurnya dia tidak menginginkan hal seperti ini meskipun dirinya mengagumi Danish.
Bagi Sinar memutuskan menikah bukan lah hal yang sangat mudah. Dirinya masih satu minggu mengenal Danish. Dia tidak mengetahui apa pekerjaan pria itu di kota dan latar belakang keluarganya. Sinar berpikir jika Roki yang sudah bertahun tahun bahkan sejak keci dia kenal bisa melakukan hal yang tidak baik kepada dirinya apalagi yang baru dikenal.
Hingga tiga pria itu pergi dari rumah itu. Sinar masih terdiam. Baginya tidak apa apa dicambuk sepuluh kali daripada berjanji dengan mudah seperti yang dilakukan oleh Danish.
"Sinar, aku tahu keputusan ku itu membuat kamu terkejut. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghindari kamu dari hukuman itu," kata Danish. Ternyata dibalik jawaban Danish yang sepertinya tidak berpikir panjang. Danish memikirkan dampak dari hukuman itu untuk Sinar.
Orang orang akan menilai Sinar sebagai wanita yang tidak baik. Dan yang lebih parah lagi, orang orang akan menilai Sinar seorang wanita yang tidak suci lagi.
"Aku tahu tujuanmu Danish. Tapi mengapa harus menjanjikan pernikahan?
"Bukankah mereka tadi yang meminta harus menikahi kamu?" tanya Danish balik. Sinar terdiam.
"Apa tidak bisa cara alasan lain?" tanya Sinar lagi.
"Sudah Sinar. Jangan dibahas lagi. Yang terpenting sekarang kamu tidak dihukum dan tidak dipermalukan."
__ADS_1