Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Kesedihan Bintang


__ADS_3

"Untuk apa kamu disini?" tanya Bintang. Nathan sudah berdiri di depan mobil di halaman rumah tempat usaha Sinar.


"Aku mau menjemput kamu. Setelah itu, kita bersama sama ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan kamu," jawab Nathan.


"Tidak perlu Nathan. Minggu laku aku sudah memeriksa kandungan ku dan hasilnya baik baik saja," jawab Bintang.


Nathan tidak puas dengan jawaban Bintang. Dia ingin memeriksa kandungan Bintang ke dokter specialis kandungan. Mendengar Danish bercerita tentang janin kembarnya. Nathan juga penasaran ingin mendengar detak jantung janinnya. Di usia kandungan Bintang yang sudah memasuki enam bulan. Jenis kelaminnya akan bisa dilihat jika sang janin tidak menutup kelaminnya ketika di usg.


"Ayolah Bintang. Aku juga ingin sesekali ingin mengetahui bagaimana kondisi janin itu. Aku sudah membuat janji dengan Dokter kandungan," bujuk Nathan.


"Maaf Nathan. Aku tidak mempunyai waktu sekarang. Sore ini, aku akan membawa mama terapi," kata Bintang. Nathan terlihat sangat kecewa tapi tidak bisa lagi memaksa. Dia mengetahui bagaimana kesehatan mamanya Bintang yang tidak menunjukkan kemajuan meskipun Bintang rajin membawa mamanya terapi dan berobat jalan.


"Baiklah kalau begitu. Tapi lain kali ajak aku jika kamu mau memeriksa kandungan ya," kata Nathan pasrah. Bintang menganggukkan kepalanya. Bintang tidak akan menolak niat baik Nathan karena dia merasa Nathan berhak untuk itu. Selama ini, Nathan rutin mengirimkan sejumlah uang setiap bulan sebagai tanggung jawabnya kepada sang janin itu.


"Tunggu Bintang," kata Nathan cepat. Wanita itu sudah melangkah melewati mobil Nathan.


"Apa lagi?" tanya Bintang kesal. Dia sengaja berjalan cepat karena tidak ingin terlambat membawa mamanya untuk terapi.


"Aku mengantar mu. Aku tidak mau kedatanganku sia sia . Jika kamu tidak mau aku ajak periksa ke dokter. Setidaknya, aku harus mengantar kamu pulang. Masuk!"


Bintang memutar matanya malas tapi tetap melangkah ke arah mobil Nathan. Bintang tidak dapat menolak karena selama ini. Nathan tidak bersikap aneh aneh kepada dirinya. Nathan menghargai keputusannya yang tidak bersedia menikah dengan pria itu.


Bintang dan Nathan sudah duduk di dalam mobil. Nathan sudah siap menjalankan mobilnya. Sekilas, mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang menantikan kelahiran anak pertama. Nyatanya mereka memang menanti kelahiran anak pertama tapi tanpa ikatan pernikahan.


"Aouh," pekik Bintang dan memegang perutnya.


"Ada apa?" tanya Nathan khawatir. Bintang menggelengkan kepalanya. Dia memegang perutnya karena tiba tiba janinnya bergerak aktif di dalam sana. Tidak sakit, tapi Bintang terkejut dengan gerakan tiba tiba itu.


Nathan tidak langsung menjalankan mobil itu. Kini tatapannya tertuju pada perut Bintang yang bergerak membentuk seperti gelombang.


"Perut kamu kenapa Bintang?" tanya Nathan cemas. Dia menduga jika kehamilan Bintang bermasalah. Dia tidak tahu jika itu gerakan anaknya yang bergerak aktif.


"Tidak apa apa. Ayo Nathan jalankan mobilnya. Aku tidak bisa terlama mengantarkan mama terapi," kata Bintang. Bintang tidak pernah melewatkan jadwal terapi sang mama karena dia berharap dengan terapi dan makan obat yang teratur dan disiplin. Sang mama bisa sembuh kembali.


"Tidak apa apa maksud kamu. Sudah jelas itu ada yang salah di perut kamu," kata Nathan lagi. Dia terus menatap perut Bintang yang terkadang bergelombang dan terkadang kembali ke bentuk semula.


"Dasar bodoh," umpat Bintang. Seharusnya tanpa dia jelaskan. Nathan mengetahui jika gerakan itu karena tendangan janinnya.


"Aku bodoh?. Aku hanya khawatir Bintang. Apa kita tidak sebaiknya ke rumah sakit memeriksakan kandungan kamu. Kamu bilang tidak apa apa. Tapi kamu meringis kesakitan ketika perut mu bergelombang."


"Itu anak mu yang sedang latihan bela diri di dalam perut ku," jawab Bintang kesal. Baginya, Nathan terlalu bodoh tidak mengetahui jika itu adalah gerakan sang janin.


"Ah, benarkah?. Jadi itu Gerakan anakku?"


Bintang menganggukkan kepalanya dengan malas. Bintang mengelus perutnya dengan lembut, berharap sang janin bisa tenang dan tidak bergerak aktif lagi.


"Sehat sehat di dalam Sana anakku. Nanti kalau kamu sudah keluar. Papa akan mengajak kamu latihan bela diri," kata Nathan. Matanya masih lekat memandang perut Bintang. Nathan menunggu perut Bintang untuk bergelombang lagi tapi sepertinya usapan lembut Bintang di perutnya mampu membuat sang janin tenang.


"Mengapa tidak bergerak lagi?" tanya Nathan bingung.


"Nathan, kamu niat ga sih, mengantarkan aku pulang. Kalau tidak, biar aku Naik angkutan umum saja."


Bintang semakin kesal. Dia ingin cepat cepat tiba di rumahnya tapi Nathan dengan santai hanya menatap perutnya.


"Baik, kita jalan sekarang."


Akhirnya Nathan menjalankan mobil itu dengan bayang bayang pergerakan sang janin di perut Bintang. Entah mengapa, setelah mengetahui jika perut Bintang bergelombang karena pergerakan janinnya. Nathan ingin melihat pergerakan itu lagi.


"Bintang, boleh minta sesuatu?" tanya Nathan setelah mereka beberapa saat terdiam.


"Boleh, asalkan jangan minta yang aneh aneh."


"Aku tidak minta yang aneh aneh. Aku hanya minta sesuatu hal biasa yang diinginkan oleh calon papa muda seperti aku."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Boleh tidak aku mengelus perut kamu. Kali aja, anak kita bergerak lagi. Aku ingin merasakannya. Kan tidak adil, hanya kamu yang merasakan gerakan anak kita."


Bintang menatap Nathan sekilas kemudian menatap jalanan. Apa yang diinginkan oleh Nathan bukan hal yang sulit sebenarnya. Tapi mengingat status mereka. Tidak seharusnya Nathan menyentuh perutnya meskipun dengan alasan anaknya.


"Kalau di pikir pikir. Tidak ada yang adil di dunia ini Nathan. Asal kamu tahu, aku yang mengandung dengan segala suka duka nya. Tapi kamu juga mendapatkan gelar orang tua karena kehadiran janin ini. Maaf, sebaiknya kamu harus menahan diri untuk itu Nathan. Kita bukan pasangan halal yang bisa melakukan apa saja. Cukup kesalahan fatal yang mengakibatkan janin ini ada yang pernah kita lakukan."


Bukan tanpa alasan Bintang menolak permintaan Bintang. Jika dia mengijinkan Nathan menyentuh perutnya hari ini tidak akan menutup kemungkinan di waktu waktu selanjutnya. Nathan akan menyentuh perutnya lagi. Bintang tidak akan membiarkan itu terjadi. Nathan adalah laki laki yang penikmat wanita malam. Tidak akan menutup kemungkinan juga, Nathan akan menyentuh tubuhnya yang lain yang akhirnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimana pun, mereka sudah pernah melakukan dosa itu dan sudah mengetahui bagaimana nikmatnya melakukan dosa itu. Bintang hanya ingin membentengi dirinya saja. Karena dia tidak yakin bisa menjaga diri jika Nathan melakukan rayuan maut kepada dirinya.


"Masa hanya menyentuh saja tidak bisa. Ada ada saja. Dimana mana, calon ayah itu bisa memberikan kasih sayang kepada janinnya lewat sentuhan," kata Nathan menggerutu. Dia kesal dengan penolakan Bintang tapi tidak bisa memaksa.


"Memang benar seperti itu. Tapi ingat posisi mu. Kamu hanya ayah dari janin ini. Bukan suamiku. Itu artinya kamu tidak bisa sesuka hati menyentuh aku apalagi menyentuh perutku."


"Kan hanya perut. Lagipula lebih dari itu. Kita sudah melakukannya. Kamu sangat menikmati waktu itu makanya janin itu Ada."


Wajah Bintang sudah memerah karena perkataan Nathan yang mengingatkan aktivitas panas mereka waktu itu. Bintang merasa menyesal karena bersedia ikut mobil Nathan yang akhirnya mempermalukan dirinya sendiri.


"Kalau kamu mengajak aku ikut mobil kamu hanya untuk mengingatkan dosa besar itu. Lebih baik turunkan aku disini," kata Bintang kesal. Dia merasa Nathan sangat keterlaluan karena mengungkit masa lalu itu. Mungkin itu hal biasa bagi Nathan tapi bagi Bintang sendiri itu seperti penghinaan. Perkataan Nathan seakan mengatakan dirinya wanita murahan.


"Loh, kok jadi marah. Itu kenyataan kan.. Lagipula hanya kita berdua yang ada di dalam mobil ini. Jadi santai saja," kata Nathan merasa tidak bersalah. Bintang semakin kesal. Dia merasa beruntung karena tidak bersedia menikah dengan laki laki seperti Nathan yang tidak peka dengan perasaan wanita.


"Ternyata kamu itu tidak pernah menggunakan hatimu dengan benar. Sesekali, pakai itu hati. Supaya bisa menghargai wanita."


Nathan mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti mengapa Bintang marah marah hanya karena permintaannya itu. Bagi, Nathan jika Bintang tidak bersedia cukup katakan saja tidak tanpa marah marah seperti ini. Dia pun tidak memaksa itulah sebabnya dia meminta ijin terlebih dahulu.


"Maaf Bintang, kalau ada kata kata ku yang salah. Keinginan ku itu murni karena anak itu bukan untuk melukai perasaan mu. Maaf, aku tidak akan meminta lagi," kata Nathan. Tidak Ada gunanya memperpanjang perdebatan itu kalau hanya membuat suasana hati Bintang tidak baik. Biarlah dia sendiri yang menahan keinginan itu.


Bintang tidak menjawab permintaan maaf Nathan. Dalam hati, Bintang merasa lega, karena Nathan tidak akan meminta menyentuh perutnya lagi. Sedangkan Nathan, kini sudah fokus menjalankan mobilnya walau sesekali melirik ke arah perut Bintang berharap perut itu kembali bergelombang.


Nathan merasakan hidupnya mendadak rumit. Hanya untuk menyalurkan kasii sayang kepada anak sendiri tidak bisa. Andaikan dia bersedia menikahi Bintang saat pertama kali mengetahui wanita itu hamil mungkin kejadiannya tidak seperti ini.


Nathan mengusap wajahnya dengan kasar. Janin yang pernah tidak dia inginkan itu ternyata bisa membuat dirinya galau seperti ini padahal belum melihat wajahnya dan anak itu belum bisa melakukan apapun tapi sudah bisa membuat hidup Nathan terasa rumit.


"Apakah aku mengatakan seperti itu?".


Meskipun tebakan Nathan benar. Bintang tidak bersedia mengakuinya. Dia takut, Nathan tersinggung. Bagaimanapun selama ini, laki laki itu menepati perkataannya. Bintang menjaga perasaan laki laki itu.


"Kamu tidak mengatakan seperti itu tapi aku berkesimpulan seperti itu."


"Terserah kamu mengartikannya Nathan.. Yang pasti. Pasangan bukan suami istri seperti Kita tidak baik melakukan kontak fisik," jawab Bintang.


"Baik lah kalau begitu," kata Nathan terdengar pasrah tapi tangan dan kakinya menghentikan mesin mobil.


"Mengapa berhenti di tempat ini Nathan," tanya Bintang bingung. Nathan menghentikan mobil di tepi jalan.


"Maaf jika aku egois kali ini Bintang. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengelus perut kamu," kata Nathan. Tepat ketika dirinya menyelesaikan kalimat itu. Tangan Nathan sudah mendarat sempurna di perut Bintang. Bintang berusaha menyingkirkan tangan Nathan tapi tangannya itu langsung ditangkap oleh tangan kiri Nathan. Nathan mengelus perut Bintang dengan lembut Dengan tatapan ke wajah Bintang.


"Aduh. Ya ampun. Anak kita bergerak Bintang," kata Nathan senang. Janin itu memang bergerak dan seperti menendang tangan Nathan. Bintang akhirnya pasrah ketika Nathan dengan lembut mengelus perutnya. Bintang tidak tega menghancurkan kebahagiaan Nathan yang sangat menikmati gerakan janinnya. Bintang merasa jika janin itu mempunyai kontak batin dengan papanya.


"Ayo, nak. Tendang tangan papa," kata Nathan senang sambil mengusap perut Bintang. Gerakan itu sudah berhenti.


"Sudah Nathan. Mungkin dia kelelahan dari tadi bergetar. Singkirkan tangan mu dari atas perutku," kata Bintang. Dia tidak bisa berbuat apa apa karena dua tangannya di tahan oleh Nathan supaya tidak menganggu dia mengelus perut Bintang.


"Mana ada dia lelah. Itu pintar pintaran kamu saja. Buktinya dia masih bergerak ini," kata Nathan. Janin itu kembali bergerak meskipun tidak sekuat tadi.


"Papa tidak sabar melihat kamu nak," kata Nathan. Secepat kilat, Nathan mencium perut Bintang. Dia tidak perduli, jika setelah itu. Bintang akan kembali marah kepada dirinya.


Benar saja, setelah melepaskan tangan Bintang. Nathan mendapatkan pukulan dari Bintang di lengannya. Nathan tidak perduli. Rasa sakit di lengannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa bahagia yang dia rasakan saat ini.


Bintang tidak lagi marah. Dia hanya meminta Nathan supaya cepat cepat mengantarkan dirinya ke rumah.


"Jangan khawatir. Aku akan mengantarkan kamu dan tante ke rumah sakit.

__ADS_1


"Tidak perlu Nathan," kata Bintang. Dia tidak ingin terlalu banyak menerima kebaikan Nathan. Apalagi nanti tujuannya ke tempat umum. Dia tidak mau ada teman atau siapapun yang mengenal keluarga Nathan yang melihat dirinya dan Nathan bersama. Dia tidak ingin mendapatkan penghinaan dari keluarga Nathan.


"Jangan seperti itu Bintang. Kita memang bukan suami istri. Tapi dengan adanya anak itu selamanya kita akan terikat. Tidak bisa terikat sebagai suami istri. Kita terikat sebagai orang tua dari anak itu. Dan hal yang wajar jika Kita harus berteman dan berhubungan baik demi dia. Dan sebagai teman. Aku berkewajiban untuk membantu kamu. Apalagi ini kepentingan dari nenek anakku."


"Kamu benar. Tapi ada saatnya kamu akan membantu aku. Saat ini, aku masih bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan kamu. Jadi jangan buat aku mempunyai hutang budi kepada kamu."


Benar kata Nathan mereka harus berteman dan berhubungan baik demi anak mereka tapi Bintang tidak akan memanfaatkan pertemanan itu untuk meringankan bebannya. Mamanya adalah tanggung jawabnya kecuali dirinya berkepentingan yang berkaitan dengan sang janin.


Tapi apa yang ada di pikiran Bintang bertolak belakang dengan kenyataan yang dia hadapi hari ini. Sepertinya dia tidak bisa menolak tawaran Nathan. Tiba di rumah. Bintang merasakan nyawanya seperti melayang. Dia tidak sambut seperti biasa oleh sang mama. Jika biasanya, sang mama menyambut kepulanganya dengan duduk di kursi roda. Kali ini, sang mama terbaring di tempat tidur. Tapi ada yang aneh. Wanita sakit itu tidur dengan mendengkur. Hal yang tidak biasa.


"Mama, bangun. Kita ke rumah sakit sekarang," kata Bintang sambil membangunkan sang mama. Wanita itu tidak bergerak sama sekali.


"Bintang."


Bintang menoleh. Wanita yang selalu dimintai tolong oleh Bintang untuk sesekali melihat sang mama ketika dia bekerja berdiri di depan pintu.


"Iya mbak," jawab Bintang.


"Sebaiknya mama kamu di bawa saja ke rumah sakit Bintang. Satu jam yang lalu aku datang ke sini. Mama kamu sudah tertidur seperti itu dengan mendengkur."


"Ayo, Kita bawa sekarang," kata Nathan. Dengan sigap, laki laki itu langsung menggendong tubuh mamanya Bintang dan membawanya ke dalam mobil.


Menyadari ada yang tidak beres dengan sang mama. Bintang menangis. Dia mengelus kepala sang mama yang ada di pangkuannya. Kini mereka sudah di dalam mobil menuju rumah sakit.


"Jangan tinggalkan aku ma. Kalau mama sudah sehat. Aku akan menjelaskan ini semua," kata Bintang di sela sela tangisannya. Sejak perut terlihat membuncit. Tatapan sang mama sering terlihat ke arah perutnya. Mungkin karena tidak bisa saja berbicara sehingga wanita itu tidak bertanya. Bintang menyadari itu dan belum bisa menjelaskan keadaan itu di saat sang mama dalam keadaan sakit seperti ini.


Di belakang setir, Nathan menarik nafas panjang. Dia sudah menduga dalam hati jika perkataan Bintang itu berkaitan dengan kehamilan Bintang yang belum jelas diketahui oleh sang mama.


"Bintang, tenangkan hatimu. Tante pasti akan baik baik saja."


"Bagaimana kalau mama meninggal Nathan. Dia belum mendengar penjelasan aku tentang kehamilan ini," kata Bintang dengan terisak. Beban Bintang bukan hanya menjalani kehamilan itu tanpa pernikahan. Tapi selama ini, dia juga berusaha menyembunyikan kehamilan itu dari sang mama. Di awal kehamilan mungkin bisa saja disembunyikan tapi setelah membuncit seperti ini, sangat mustahil bisa disembunyikan.


Nathan tidak berani menjawab. Bagi pasien yang mengalami penyakit stroke seperti ini sangat berbahaya dan kecil kemungkinan jika masih bisa selamat. Dia sering mendengar pengalaman sang mama yang bekerja di rumah sakit Sebagai dokter.


"Mama, sebentar lagi. Mama akan mempunyai cucu. Bertahan ma," kata Bintang lagi.


"Ah, mengapa cobaan ini bertubi tubi menghampiri."


Bintang meluapkan kesedihannya. Bagaimana pun lelah nya dia mengurus sang mama dalam keadaan hamil seperti ini. Bintang masih berharap mama masih bisa diselamatkan.


Tiba di halaman rumah sakit, Nathan sudah memanggil perawat sebelum mencari parkiran. Dua perawat dengan sigap mendorong tempat tidur dan mengeluarkan mamanya Bintang dari dalam Mobil. Wanita itu dimasukkan ke ruangan Ugd.


"Aku takut Nathan. Aku takut kehilangan mama," kata Bintang. Nathan memberanikan diri memeluk wanita itu. Bintang terlihat sangat rapuh dan sangat butuh dukungan saat ini.


Ponsel yang berdering, Bintang melepaskan dirinya dari pelukan Nathan.


"Ya mbak."


"Bintang, tadi ada tetangga kita yang melihat


jika tadi siang ada dua orang polisi mendatangi rumah mu. Katanya pak Idrus berhasil kabur dari penjara."


Bintang merasakan tubuhnya melemas. Ternyata apa yang membuat sang mama seperti ini bukan karena kehamilannya melainkan karena tindakan sang papa yang tidak berpikir panjang.


"Apa polisi itu memberikan informasi itu kepada mama?"


"Tidak, ada tetangga yang kepo dan polisi itu mengatakan informasi itu. Mungkin mama kamu mendengar secara tidak sengaja dari dalam rumah."


Bintang mengakhiri panggilan itu. Bintang mengepalkan tangannya. Dia sudah banyak berkorban demi sang papa tapi papanya itu ternyata hanya memikirkan dirinya sendiri. Tindakan pak Idrus kali ini sudah membahayakan hidup sang mama.


Nathan mengelus lengan Bintang.


"Ingat janin itu. Jika kamu lemah maka dia juga akan lemah," kata Nathan. Bintang seketika mengelus perutnya. Hanya janin itu sekarang yang menjadi sumber semangatnya. Dia sadar, jika sang mama sangat kecil kemungkinan untuk selamat meskipun jauh di dalam hatinya. Bintang mengharapkan mukjizat untuk keselamatan sang mama.

__ADS_1


__ADS_2