
Sinar tidak mengerti jalan pikiran papanya Danish. Bagaimana mungkin seorang pria akan melangsungkan pertunangan yang sudah mempunyai calon istri. Sinar juga tidak mengerti jalan pikiran Bintang. Wanita itu mengucapkan selamat kepada dirinya tapi masih bersedia melangsungkan pertunangan dengan Danish.
Sinar terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya ingin penjelasan dari Danish tentang rencana pertunangan itu. Andaikan utusan papanya Danish masih belum berangkat ke perkampungan itu. Sinar akan memilih ikut pulang ke Sana. Tanpa dijelaskan panjang lebar Sinar mengartikan jika pertunangan yang akan dilangsungkan itu adalah bentuk penolakan atas dirinya. Dan bantuan yang sudah diantar sang utusan sebagai balas budi atas pertolongan kepada Danish.
"Sinar, kami melakukan ini karena ada alasan yang sangat kuat. Setelah kamu mengetahui siapa sebenarnya keluarga kami. Kamu pasti mengerti," kata papanya Danish lagi.
Sinar hanya terdiam. Melihat istana nan mewah ini. Dia sudah mengerti maksud perkataan papanya Danish. Apalagi kalau bukan starata sosial. Dia sangat yakin jika perbedaaan status sosial lah yang menyebabkan dirinya ditolak oleh papanya Danish.
Tapi tunggu dulu. Setelah mengetahui mereka yang sebenarnya?. Perkataan itu kembali terngiang di kepala Sinar hingga dia memberanikan menatap wajah papanya Danish. Sinar merasa wajah itu seperti pernah dia lihat sebelum ini. Tapi Sinar tidak tahu dimana dia pernah melihat papanya Danish.
"Baiklah Tuan, Nyonya. Aku menerima apapun keputusan kalian," kata Sinar akhirnya. Setelah pembicaraan ini. Dia berencana akan menemui Danish dan minta ijin untuk pulang saja ke desanya.
"Terima kasih atas pengertian kamu Sinar," kata Nyonya Amalia sambil menyentuh punggung tangan Sinar. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Sinar memalingkan wajahnya dari tatapan Nyonya Amalia yang tersenyum. Sinar merasa kembali terhina atas penolakan ini. Matanya memanas. Sinar menahan air mata itu tidak tumpah karena dia tidak akan menunjukkan air matanya di hadapan tiga orang itu.
"Om, Tante. Apakah Danish sudah mengetahui dan akan setuju rencana ini?" tanya Bintang. Sinar mengalihkan tatapannya ke arah Bintang. Ternyata rencana pertunangan itu adalah ide kedua orang tua Danish tanpa sepengetahuan Danish.
"Setuju atau tidak setuju. Pertunangan itu harus terjadi. Danish butuh istri yang pintar, elegant dan berpendidikan seperti kamu."
Jawaban papanya Danish kembali melukai hati Sinar. Kata kata yang menunjukkan kelebihan Bintang merupakan kata kata kekurangan Sinar. Papanya Danish memang tidak mengatakan kekurangan Sinar. Tapi Sinar merasa jika pria itu sengaja mengatakan hal itu untuk menyindir dirinya.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Sinar?" tanya Bintang lagi.
Sinar tersenyum miris sambil menundukkan kepalanya. Dia berpikir jika pertanyaan Bintang bukan bentuk perhatian wanita itu kepada dirinya melainkan untuk memperjelas posisi Sinar.
"Itu urusan Danish. Dia yang membawa Sinar ke rumah ini. Kami hanya berurusan dengan kamu sebagai kekasih Danish. Karena pertunangan yang pernah batal bukan hanya rencana antara kalian berdua saja. Tapi juga rencana antara keluarga Santosh dan kedua orang tuamu. Sebagai calon besan, aku harus bertanggung jawab."
Lewat ekor matanya, Sinar melihat Bintang menganggukkan kepalanya. Itu artinya Bintang setuju dengan semua perkataan yang dikatakan papanya Danish itu.
"Bagaimana kalau Danish ingin menikahi mereka berdua. Papa tahu sendiri bagaimana sifat Danish. Dia paling tidak bisa mengingkari janji," kata Nyonya Amalia.
Sinar dan Bintang sama sama menatap Nyonya Amalia. Baik Sinar maupun Bintang tidak pernah memikirkan hal yang dikatakan oleh Nyonya Amalia. Sinar menggelengkan kepalanya hampir tidak terlihat oleh siapa pun.
Tidak, Sinar tidak mau berbagi cinta. Lebih baik dirinya menyerah daripada harus berbagi suami dengan wanita lain. Dia tidak bisa membayangkan pria yang dia cintai bersama dengan wanita lain apalagi jika terikat dengan pernikahan. Bagi sebagian orang, pria mempunyai lebih satu istri katanya asal berlaku adil sah sah saja. Bagian sebagian wanita, mempunyai madu itu boleh boleh saja asal tidak tinggal dalam satu atap karena alasan cinta dan kebahagiaan pria yang dicintai atau dengan alasan apapun itu. Tapi Sinar bukan salah satu dari wanita yang ihklas berbagi suami.
Lalu bagaimana, jika Danish menginginkan mereka berdua. Sanggupkah Bintang berbagi cinta. Bintang menatap Sinar. Dari segi apapun, Bintang sadar jika dirinya yang lebih unggul. Tapi Bintang juga sadar karena Sinar lah, mereka bisa kembali melihat Danish.
Sama seperti Sinar. Bintang juga tidak sanggup berbagi cinta. Kedatangan Danish membawa Sinar sebagai calon istri sangat menghancurkan hatinya. Satu malam ini dirinya menangis karena itu. Kalau bukan karena riasan bisa dipastikan jika wajah cantiknya akan terlihat berbeda karena sembab. Lalu, bagaimana jika dirinya melihat pernikahan Danish dengan orang lain?. Sungguh dia tidak sanggup membayangkannya?.
Bintang tidak membenci Sinar. Bahkan dirinya sangat berterima kasih kepada wanita itu. Dia bahkan mengucapkan selamat kepada Sinar meskipun dengan hati yang sangat hancur. Bintang menawarkan pertemanan kepada Sinar dengan tulus karena Bintang berpikir, dirinya dan Sinar akan bersaing sehat mendapatkan Danish.
__ADS_1
"Aku sangat setuju jika Danish mengambilkan keputusan seperti itu. Dengan seperti itu, baik Sinar dan Bintang sama sama memiliki Danish. Danish dan Bintang saling mencintai. Dan bisa saja, Danish dan Sinar juga saling mencintai. Tidak salah, jika seorang pria mempunyai dua istri. Danish adalah pria yang baik. Aku bisa menjamin jika dia bisa berlaku adil."
Sinar dan Bintang sama sama membulatkan matanya. Perkataan papanya Danish sangat jelas mendukung putranya berpoligami.
"Aku harap. Sinar dan Bintang adalah wanita yang rela berkorban demi pria yang kalian cintai," kata papanya Danish lagi.
Papanya Danish menatap dua wanita itu secara bergantian. Dia mengetahui apa yang dia katakan tadi adalah hal yang sangat tidak disukai para wanita manapun di muka bumi ini. Dia juga mengerti jika bahwa karena Sinar lah, Danish bisa kembali ke rumah itu. Tapi untuk mempunyai menantu seperti Sinar hanya akan mempermalukan keluarga mereka nanti.
Papa Danish menginginkan Danish mempunyai istri yang pintar dan berpendidikan tinggi dan dari keluarga yang terhormat. Semua relasi bisnis dan rekan kerjanya sudah mengetahui jika Danish mempunyai calon tunangan dari keluarga yang setara dengan mereka. Mereka adalah keluarga terhormat. Mempunyai menantu seperti Sinar hanya akan mempermalukan keluarga mereka.
Tapi jika Danish, Sinar dan Bintang bisa terikat dalam pernikahan poligami akan lebih bagus lagi. Danish akan tetap dikenal khayalak umum mempunyai istri yang cantik dan berpendidikan tinggi. Dan Danish bisa menepati janjinya kepada Sinar.
"Bagaimana Bintang, Sinar. Kalian berdua bersedia menjadi istri istri dari Danish?" tanya papanya Danish lagi.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan itu om," jawab Bintang.
"Bagaimana dengan kamu Sinar?.
Sinar tidak menjawab. Wanita menundukkan kepalanya. Dia tidak akan mau berbagi cinta.
__ADS_1
"Sinar, aku tahu ini adalah pilihan sulit untuk kalian berdua. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Berpikir lah terlebih dahulu seperti Bintang," kata Nyonya Amalia lembut.
Lagi lagi Sinar tidak menjawab. Dia tetap berpikir jika usul untuk berpoligami hanya untuk membuat dirinya menyerah.