Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Mengagumi


__ADS_3

Berduaan dengan Danish di rumah, mengingatkan Sinar akan kejadian di rumah Roki. Ada rasa takut dan was was di hati Sinar jika kejadian minggu lalu akan terulang hari ini. Tidak seperti biasanya jika kakek Joni di rumah, Sinar tidak menjaga jarak dengan Danish. Tapi hari ini, Sinar sengaja mengambil jarak yang lumayan jauh antara dirinya dan Danish.


Danish dan Sinar sama sama merasakan jika hari ini sangat membosankan. Danish yang sudah terbiasa dengan dunia kerja, tentu saja situasi ini sangat membuat dirinya seperti hidup di penjara. Kaki kanan yang sakit membuat dirinya hanya bisa duduk dan berbaring.


Satu minggu berada di tempat ini. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya sangat merindukan suasana rumah orang tua dan teman temannya. Danish rindu akan kecanggihan teknologi yang selalu menemani dirinya. Tapi karena kecelakaan dirinya terbawa arus. Entah dimana kini sudah ponsel miliknya.


Hanya Sinar, satu satunya teman berbicara yang diharapkan bisa membunuh rasa bosan itu. Melihat Sinar menjaga jarak dari dirinya sejak keberangkatan kakek Joni. Danish tidak tersinggung sama sekali. Yang ada, Danish merasa lucu dengan sikap Sinar.


"Kenapa tertawa?" tanya Sinar sedikit ketus karena dari tadi Danish menatap dirinya sambil tersenyum dan kemudian tertawa.


"Kenapa duduk jauh seperti itu?" tanya Danish balik. Sinar tidak menjawab. Gadis itu menundukkan kepalanya.


Cukup lama mereka berdua terdiam. Merasa dirinya masih ditatap oleh Danish. Sinar mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Benar saja, Danish menatap dirinya dengan senyuman manis di bibirnya.


Tatapan teduh itu membuat Sinar merasakan jantungnya berdetak kencang. Karena sulit mengendalikan detak jantungnya. Sinar sampai merasa gugup.


"Kamu tidak mau duduk dekat aku karena kamu takut ya?" tanya Danish lagi. Sinar menganggukkan kepalanya. Sinar memang takut duduk berdekatan dengan Danish karena dirinya takut jika sewaktu waktu ada orang yang datang dan melihatnya. Sinar takut akan difitnah dan mereka akan mendapatkan hukuman adat.


Danish tertawa terbahak bahak melihat anggukan kepala Sinar.


"Apa yang kamu takutkan Sinar. Aku saat ini adalah pria yang lemah yang bahkan bergantung pada bantuan kamu. Lihat, kaki kanan ku ini. Sekali sentuh saja akan sakit luar biasa. Masih kah kamu takut duduk berdekatan dengan aku?" tanya Danish lagi. Sinar menggelengkan kepalanya tapi tidak berpindah dari tempat duduknya.


Sinar dan Danish berbeda mengartikan kata takut itu. Sinar tentu saja mengingat jika Danish sedang sakit dan tidak mungkin menyakiti dirinya. Tapi kata takut yang diartikan oleh Danish lebih menakutkan dari kata takut yang ada di pikiran Sinar.


Lagi lagi Danish hanya tersenyum melihat penolakan Sinar.


"Ah, mengapa senyumnya sangat manis?" kata Sinar dalam hati. Meskipun wajah Danish belum sembuh sempurna, senyum yang tercetak di bibir pria itu sangat enak dipandang mata.


"Aku masak dulu," kata Sinar sambil berdiri. Dia tidak ingin Danish mengetahui jika dirinya mengagumi senyum pria itu.


"Aku akan membantu kamu memasak."


Sinar menghentikan langkahnya dan menatap Danish. Jika Danish membantu dirinya memasak itu artinya dia juga harus membantu Danish berjalan ke dapur.


"Tidak perlu. Istirahat lah Danish."

__ADS_1


"Kamu membiarkan aku menjadi pria yang tidak berguna Sinar. Hanya makan dan minum, tidur lalu ke kamar mandi?"


"Kamu sakit Danish."


"Kakiku yang sakit. Tanganku bisa bekerja."


"Dasar keras kepala," kata Sinar kesal tapi berjalan juga ke arah Danish. Sinar mengulurkan tangannya membantu pria itu berdiri. Danish kembali tersenyum.


"Berhenti lah tersenyum Danish."


"Kamu itu lucu kalau sedang kesal seperti ini Sinar. Tambah cantik," kata Danish lagi.


"Tanpa kamu puji pun, aku pasti membantu kamu. Aku bukan manusia yang haus pujian."


"Aku serius Sinar. Memang itu kenyataannya. Kamu kira aku menggombal?" kata Danish. Mereka sudah berjalan ke arah dapur.


"Tidak. Aku tidak mengira kamu menggombal. Aku juga sadar jika aku memang sudah cantik sejak lahir."


"Besar kepala," kata Danish sambil tertawa. Sinar juga ikut tertawa.


Seperti perkataan Danish sebelumnya. Dia benar benar membantu Sinar. Mereka saat ini sedang membuat keripik ubi dan saling bekerjja sama. Kaki kanan Danish yang sakit tidak menghalangi pria itu untuk mengerjakan pembuatan keripik ubi itu.


"Kalau kamu lelah, berhenti saja Danish," kata Sinar. Danish sedang mengiris ubi tipis tipis dan terlihat keringat mengucur dari keningnya.


"Tenang saja Sinar. Aku pasti berhenti kalau tidak sanggup lagi," jawab Danish tanpa menghentikan tangannya mengiris ubi itu.


Sinar tersenyum. Melihat Danish seperti ini. Sinar mengagumi pria itu. Banyak orang di saat sakit akan malas mengerjakan apapun atau bahkan menjadikan sakit sebagai alasan supaya tidak melakukan hal apapun. Tapi melihat Danish seperti ini. Sinar sangat berpikir jika pria itu adalah pria bertanggung jawab, pekerja keras dan laki laki yang baik.


"Sinar, kamu minum dulu, Dari tadi kamu belum minum," kata Danish sambil mengulurkan tangannya memberikan segelas air putih yang seharusnya untuk dirinya kepada Sinar. Bahkan Sinar yang mengambil air putih untuk Danish.


"Terima kasih."


Sinar tidak kuasa menolak segelas air putih. Benar dirinya sejak tadi belum minum dan ternyata Danish memperhatikannya.


"Jangan malas minum air putih. Jaga kesehatannya ginjal mu," kata Danish lagi. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Entah mengapa dirinya sangat senang mendapatkan perhatian seperti itu dari Danish.

__ADS_1


"Enak sekali. Lebih enak kalau ada lagi sambal pedasnya," kata Danish setelah mencicip keripik ubi buatan mereka.


"Benar, aku akan buatkan sambalnya," kata Sinar bersemangat. Keripik ubi buatan mereka sangat enak. Tapi lagi lagi, Sinar tidak mengejakan sambal itu sendirian. Dengan keterbatasannya. Danish kembali membantu Sinar.


"Keripik buatan kamu ini punya daya jual Sinar," puji Danish lagi. Sinar tersipu mendengar pujian Danish. Sinar juga senang pujian Danish tidak hanya di bibir saja. Sejak tadi, pria itu tidak berhenti mengunyah keripik.


"Sungguh beruntung, wanita yang kelak menjadi istrimu nanti Danish," kata Sinar dalam hati.


Setelah mengucapkan hal itu di dalam hatinya. Sinar seakan melupakan sesuatu. Dia belum mengetahui apakah Danish sudah mempunyai istri atau tidak.


"Danish, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sinar pelan.


"Boleh. Bertanya apapun boleh. Asal jangan bertanya kapan sembuh. Karena aku pasti tidak bisa menjawabnya."


Sinar tertawa kecil.


"Sebenarnya, kamu masih lajang atau pria beristri?"


Danish juga tertawa mendengar pertanyaan Sinar.


"Menurut mu?"


"Aku mana tahu. Kan aku bertanya?"


"Lajang."


"Oo. Masih lajang."


Sinar menyembunyikan wajah yang senang mendengar jawaban Danish.


"Kalau kamu. Lajang atau wanita bersuami?. Danish bertanya balik ke Sinar.


"Eh, donat. Kalau aku wanita bersuami mana mungkin disini," jawab Sinar bercanda. Mereka tertawa.


"Bisa saja kan lagi berantem sama suami kamu dan kabur kemari," kata Danish membalas candaan Sinar.

__ADS_1


"Jangan berbicara sembarangan ya. Aku masih gadis ting ting. Makan ini supaya jangan asal bicara," kata Sinar sambil memasukkan beberapa keripik ke mulut Danish. Sinar tertawa terbahak bahak ketika melihat Danish kesulitan mengunyah keripik ubi yang lumayan banyak di mulutnya.


__ADS_2