
Rasanya Sinar tidak puas jika hanya menebak. Dan ingin kepastiaan apakah dirinya diterima atau tidak sebagai calon istri Danish. Setelah makan bersama di dalam kamar. Danish meninggalkan Sinar di kamar itu.
Sinar memperhatikan pakaian yang diberikan mama Amalia untuk dirinya. Beberapa setelan pakaian tidur dan dua buah gaun berwarna merah dan hitam. Sinar tentu saja tidak mengetahui apa tujuan pemberian gaun itu. Yang pasti saat ini. Dirinya butuh pakaian tidur. Karena Sinar tidak membawa sehelai baju ganti dari kampung karena Danish melarangnya. Setelah tiba di rumah ini. Sinar mengetahui apa alasan Danish melarang membawa baju ganti. Ternyata karena pakaian yang dia kenakan selama di kampung tidak layak pakai lagi di rumah ini. Sinar berpikiran seperti itu, karena pakaian terbaik yang dia kenakan masih kalah jauh dari pakaian yang dikenakan oleh pelayan di rumah itu.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Sinar tidak beristirahat. Dia sedang mengamati tubuhnya di depan cermin di kamar Mandi milik Danish.
Sinar meraba wajahnya. Wajahnya tidak secantik Bintang. Rambutnya juga tidak selembut rambut Bintang. Sinar tidak menemukan satu keunggulan apapun di tubuhnya dibandingkan di tubuh Bintang.
"Jodoh adalah rahasia Tuhan. Siapapun tidak bisa menebaknya. Jika semua yang aku lalui dan yang sudah dilalui Danish untuk mempertemukan kami sebagai jodoh. Apapun tidak ada yang bisa menghalangi nya. Termasuk fisik," kata Sinar dalam hati. Dia menyemangati dirinya sendiri.
Sinar melangkahkan kakinya ke luar kamar Mandi. Seperti perkataan Danish sebelumnya. Dia tidak akan memikirkan Bintang karena itu bukan urusannya. Sebelum Danish keluar dari kamar itu. Pria itu juga berpesan supaya Sinar tidak bertanya apapun kepada para pelayan.
Berada di tempat asing seperti ini. Sinar butuh teman berbicara. Setelah beristirahat sekitar dua jam. Danish tidak kunjung datang ke kamar itu. Untuk keluar dari kamar, Sinar merasa sungkan.
Hari juga sudah malam. Ketika di rumah kakek Joni. Di jam seperti ini dirinya dan Danish akan mengobrol ringan sebelum tidur. Tapi kali ini, hal itu tidak terjadi. Hingga jarum jam menunjukkan angka sebelas. Danish tidak kunjung datang menemui Sinar.
"Mungkinkah dia bersama Bintang?" tebak Sinar dalam hati. Membayangkan Danish bersama Bintang saat ini. Sinar merasakan hatinya cemburu dan juga cemas. Hingga mata tidak bisa lagi menahan kantuk. Danish tidak kunjung datang menemui dirinya.
Subuh menjelang. Sinar terbangun di saat para pekerja di rumah Danish juga sudah terbangun. Sinar memberanikan diri keluar dari kamar itu tapi seorang pelayan yang sedang membersihkan lantai dua tidak memperbolehkan Sinar keluar dari kamar dan membantu mereka. Sinar kembali ke kamar.
__ADS_1
Sinar tidak tahu harus mengerjakan apa di rumah itu. Di saat seperti ini, dia mengharapkan kedatangan Danish di kamar itu. Mengarahkan dia mengerjakan sesuatu supaya tidak terkesan makan tidur nantinya. Sinar merasa tidak enak hati menerima kebaikan mama Amalia. Baginya membantu meringankan pekerjaan di rumah itu untuk membalas kebaikan wanita itu karena sudah memberikan dirinya beberapa pakaian.
Sinar merasakan hatinya senang luar biasa ketika mendengar ketukan pintu kamar. Sinar cepat bergegas membuka pintu karena berpikir jika yang datang itu adalah Danish.
"Iya mbak," jawab Sinar lesu. Bukan Danish yang berdiri di hadapannya melainkan seorang pekerja.
"Tuan besar dan nyonya meminta anda turun ke bawah non," kata pekerja itu sopan.
"Untuk apa ya mbak. Danish juga ada di bawah?" tanya Sinar.
"Saya tidak tahu non. Saya belum melihat tuan Danish sejak tadi," jawab pekerja itu. Sinar semakin lesu. Matanya berkeliling menatap pintu kamar yang ada di lantai dua itu. Dia berpikir jika Danish mungkin saja berada di salah satu kamar itu tapi untuk langsung memanggil nama pria itu, Sinar tidak mempunyai nyali untuk itu.
"Duduk Sinar!" perintah orang yang sedang duduk di sofa itu. Sinar terlihat ragu untuk duduk. Orang yang sedang duduk di sofa itu bukan sang pemilik rumah seperti yang dikatakan oleh pelayan tadi melainkan Bintang. Apakah pekerja itu disuruh berbohong? Atau memang benar, sang pemilik yang menyuruh dirinya turun untuk berhadapan dengan Bintang.
"Perkenalkan namaku Bintang."
Sinar menerima uluran tangan Bintang. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Sejak kedatangannya ke rumah ini. Dia sudah mengetahui nama wanita di depannya itu adalah Bintang. Sinar tidak menyebutkan namanya karena Sinar sangat yakin jika Bintang sudah mengetahui namanya.
Sinar hanya berpikir. Jika Bintang sudah ada di rumah ini di jam segini. Jam berapa dia berangkat dari rumahnya. Sekarang masih jam enam. Atau jangan jangan, dia menginap di rumah ini. Dan tadi malam mereka tidur bersama dengan Danish. Bukankah Danish yang mengatakan beristirahat bersama sama di kamar yang sama tidak akan langsung dipaksa menikah?. Mereka sudah dua bulan berpisah dan menurut pengakuan Danish mereka saling mencintai. Membayangkan Danish dan Bintang menghabiskan malam bersama satu malam ini membuat Sinar merasakan dadanya sesak.
__ADS_1
Sinar mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Berharap menemukan Danish atau melihat Danish.
"Kamu mencari Danish?. Dia masih tidur."
Benar kan. Bintang mengetahui Danish masih tidur. Itu artinya mereka benar benar tidur bersama tadi malam. Sinar menatap Bintang. Wajah wanita itu tidak seperti semalam yang terlihat kacau setelah mengetahui Sinar sebagai calon istri Danish. Bintang terlihat tenang.
"Sinar, aku mengucapkan selamat kepada kamu karena menjadi calon istri Danish."
Sinar mengerutkan keningnya mendengar ucapan selamat dari Bintang. Sikap tenang yang ditunjukkan wanita itu membuat Sinar semakin bingung. Bagaimana bisa seorang wanita yang berstatus calon tunangan mengucapkan selamat kepada calon istri dari pria yang dia cintai. Apakah itu berarti jika Danish sudah memutuskan hubungan dengan Bintang.
"Apa maksud dari ucapan selamat itu?" tanya Sinar memberanikan diri.
"Danish adalah calon tunanganku. Aku sangat mencintai dia. Dia juga sangat mencintai aku. Apa pun keputusan Danish dan keluarganya aku akan mendukung."
Sinar semakin tidak mengerti maksud dari perkataan Bintang. Entah mengapa dia menangkap jika kata kata yang baru saja diucapkan Bintang bukan kata kata yang menjelaskan mengapa Bintang mengucapkan selamat kepada dirinya.
"Sinar, mulai hari ini kita berteman ya. Kamu mau kan jadi teman aku?" tanya Bintang.
Sinar semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Bintang. Dirinya bisa dikatakan orang ketiga bagi hubungan Danish dan Bintang. Bagi wanita lain, Sinar pasti sudah dibenci atau dimusuhi tapi Bintang beda sendiri. Dia justru menawarkan pertemanan.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Sinar dalam hati.