Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Permintaan Danish


__ADS_3

Pria berkoas merah itu bernama Danish. Dia salah satu anggota dari organisasi pemuda pecinta alam. Di usianya yang sudah 28 tahun. Danish sangat aktif di setiap kegiatan yang berhubungan dengan alam. Danish sudah menyukai tantangan alam sejak dirinya duduk di bangku kuliah. Alam seperti jiwanya. Berada di alam, membuat Danish menemukan kesenangan dan kebahagiaan tersendiri. Mendaki gunung, arung jeram dan bahkan panjat tebing adalah hal yang ingin dia tahklukkan. Hobby yang lumayan berbahaya bagi sebagian orang tapi tidak untuk Danish. Bermain main dengan gunung, sungai dan tebing seperti permainan biasa bagi dirinya.


Sejak di bangku kuliah hingga di usianya saat ini. Entah sudah berapa gunung yang dia jelahahi bersama organisasinya. Danish rela mengeluarkan banyak biaya untuk hobby nya itu. Baginya menjelahi alam adalah bagian dari perjalanan waktu yang tidak bisa lepas dari dirinya. Danish bersama anggota organisasi lainnya sudah membuat jadwal untuk setiap perjalanan mereka setiap tahunnya. Bisa dikatakan, mendaki gunung, arung jeram dan panjat tebing sudah seperti rutinitas bagi Danish dalam sepuluh tahun terakhir ini.


Demi keselamatan bersama. Mereka memperhitungkan dan mempersiapkan banyak hal. Persiapan itu tidak spontan. Danish dan anggota organisasi lainnya juga mempertimbangkan cuaca di setiap pendakian mereka. Berkali kali, mereka menyatu dengan alam, tidak pernah terjadi kejadian apapun. Danish berhasil menaklukkan lebatnya hutan demi bisa berada di puncak gunung. Danish bisa melawan lelah karena mendaki ber jam jam demi menikmati keindahan alam dari puncak gunung.


Hobby yang digeluti oleh Danish dan organisasinya bukan hanya sekedar bisa menikmati keindahan alam. Bukan hanya kesenangan dan kepuasan. Di setiap perjalanan mereka, Danish selalu menekankan untuk berbicara dan bertindak sopan. Kecintaanya kepada alam tidak hanya sekedar menikmati alam tapi juga melestarikan alam. Mereka juga menjaga kebersihan alam.


Tapi yang namanya hidup tidak selalu beruntung. Yang namanya jalan tidak ada yang mulus. Bulan yang diperkirakan musim kemarau ternyata menumpahkan hujan yang sangat deras. Hingga cuaca alam yang kurang bersahabat itu membuat Danish harus terseret air sungai dan bahkan terluka. Hanya saja, Danish masih boleh bersyukur karena pada akhirnya dirinya bisa diselamatkan oleh Sinar.


"Cuaca sekarang ini, memang sulit ditebak," kata Sinar. Danish baru saja menceritakan tentang hobby hingga dirinya bisa terseret air sungai.


"Kalau kamu tidak menolong aku. Entah apa jadinya aku Sinar. Aku benar benar berhutang nyawa kepada kamu. Sekali lagi terima kasih banyak Sinar."

__ADS_1


Danish menatap wajah Sinar dengan rasa terima kasih yang tulus. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Perkataan Danish mengingatkan Sinar akan kejadian di rumah Roki hingga dirinya masih tetap di rumah ini menahan rindu kepada kedua orang tuanya.


"Aku berjanji akan mengingat kebaikan kamu dan kakek Joni, Sinar. Nanti, kalau aku sudah sembuh. Aku akan memberikan apa pun yang kamu minta sebagai ucapan terima kasihku." kata Danish lagi. Rasanya tidak cukup hanya kata terima kasih yang dia ucapkan untuk segala pertolongan dan kebaikan Sinar dan juga pengobatan yang diberikan oleh kakek Joni kepada dirinya.


"Jangan pikirkan hal lain. Fokuslah ke kesehatan kamu supaya bisa cepat kembali ke kota. Orang tua mu pasti sudah sangat khawatir memikirkan kamu," jawab Sinar.


"Kamu benar Sinar. Kedua orang tuaku pasti sudah menduga aku sudah mati," kata Danish sedih. Sudah hampir satu minggu dirinya berada di rumah kakek Joni. Danish tidak bisa langsung kembali ke kota karena tulang betis kaki kanannya patah lumayan parah. Butuh empat sampai enam bulan bagi Danish untuk bisa sembuh dan bisa berjalan tanpa tongkat.


"Kamu merindukan kedua orang tuamu?" tanya Sinar. Danish menganggukkan kepalanya.


Sinar menarik nafas panjang. Dia menatap langit yang bertaburan bintang. Malam ini dirinya juga merindukan kedua orang tuanya. Tapi karena dirinya adalah orang yang sedang dicari polisi saat ini. Dia tidak bisa bebas pulang ke rumah orang tuanya. Sinar dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Danish kepada kedua orang tuanya.


"Sinar, bisa kamu memberikan kabar kepada kedua orang tuaku jika aku masih hidup saat ini?" tanya Danish penuh harap. Patah tulang yang sedang dialami oleh Danish. Membuat pria itu tidak bisa bebas bergerak. Selama satu minggu berada di rumah ini. Segala pergerakan Danish dibantu oleh Sinar. Sinar sudah seperti perawat pribadi bagi Danish. Sinar sama sekali tidak keberatan membantu Danish. Hanya saja, rindu kepada kedua orang tuanya membuat Sinar merasa bosan di tempat itu. Meskipun Sinar berada jauh dari desanya. Sinar sudah diingatkan pak Ilham sebelumnya untuk tidak berkeliaran di luar rumah. Pak Ilham takut, keberadaan Sinar di perkampungan terilosi itu diketahui oleh keluarga Roki dari penduduk perkampungan terilosi itu yang sewaktu waktu bisa saja datang ke desa tempat pak Ilham jika ada keperluan yang mendesak. Sinar merasa dirinya seperti tahanan rumah.

__ADS_1


Sinar terkejut mendengar permintaan Danish. Jika dirinya bersedia. Itu artinya berisiko. Sinar bisa menangkap maksud dari permintaan Danish.


"Tolong aku dan orang tuaku Sinar. Tolong aku sekali lagi Sinar. Kabar tentang diriku sangat berarti untuk kedua orang tuaku. Aku berjanji, biaya yang sudah kamu keluarkan. Pasti aku ganti nantinya. Aku hanya ingin kedua orang tuaku tidak bersedih dan mengetahui aku masih hidup."


Sinar menatap wajah Danish yang penuh harap. Sinar juga tidak bisa membayangkan kesedihan kedua orang tua Danish yang sudah berpikir jika Danish sudah meninggal.


"Aku tidak meminta kamu untuk mendatangi rumah kedua orang tuaku. Aku hanya meminta kamu menghubungi nomor ponsel kedua orang tuaku. Mengabarkan aku selamat dan meminta mereka menunggu kedatanganku beberapa bulan lagi."


Danish berkata pelan seakan putus asa karena Sinar tidak menjawab permintaannya dari tadi.


Sinar menarik nafas panjang. Permintaan Danish sebenarnya sangat sederhana. Tapi perkampungan terilosi ini benar benar minim teknologi. Jangankan ponsel, sinyal saja tidak Ada. Penduduk perkampungan akan pergi ke desa tempat pak Ilham jika mereka akan menghubungi kerabat di rantau orang. Bukan hanya karena masalah sinyal atau ponsel. Jarak tempuh dari perkampungan ini ke desa seberang butuh waktu berjam jam dan harus menempuh jalan terjal juga harus menyebrangi sungai. Tapi bukan itu yang ditakutkan oleh Sinar. Sinar hanya takut jika dirinya akan tertangkap nantinya jika dia menyanggupi permintaan Danish. Untuk mengatakan keberatannya menyanggupi permintaan Danish. Sinar merasa malu. Dia malu jika dirinya adalah seorang buronan.


"Aku mohon Sinar," kata Danish pelan.

__ADS_1


__ADS_2