Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Aku Sangat Mencintainya


__ADS_3

Di sebuah rumah, beberapa pemuda sedang berkumpul. Mereka sedang tertawa bersama karena kebahagiaan meliputi hati mereka. Orang yang mereka andalkan dalam segala hal di dalam organisasi mereka telah kembali. Itu artinya, Organisasi itu akan aktif kembali tanpa kekurangan dana dan ide.


Pemuda pemuda itu adalah anggota organisasi pecinta alam yang dibentuk oleh Danish dan teman temannya. Mereka berkumpul di rumah itu karena ajakan Danish. Para pemuda itu bersuka cita. Danish adalah orang yang tidak pelit jika berhubungan dengan kegiatan mereka. Mereka sangat senang, Danish bisa selamat dari kecelakaan. Dua hari mereka berusaha mencari keberadaan Danish di sepanjang tepi sungai tempat Danish terjatuh tapi mereka tidak berhasil menyelamatkan Danish.


Kini, Danish sudah berada di hadapan mereka. Berkali kali mereka mengucapkan syukur atas keselamatan Danish.


"Jadi yang menolong kamu seorang perempuan?" tanya Nathan, salah satu teman Danish yang ikut mendaki waktu itu. Danish menganggukkan kepalanya. Danish baru saja menceritakan pengalamannya selama dua bulan di rumah kakek Joni. Pemuda pemuda itu terlihat tidak percaya dengan cerita Danish yang selamatkan oleh seorang wanita.


"Luar biasa keberanian perempuan itu. Perempuannya masih muda atau sudah tua. Bro?" tanya Niko. Niko juga salah satu teman Danish yang ikut dalam pendakian itu.


"Masih muda donk," jawab Danish kemudian tersenyum. Pertanyaan Niko mengingatkan Danish akan Sinar yang beberapa hari ini mereka kurang berkomunikasi.


"Kamu berhutang nyawa kepada perempuan itu, Bro. Sebagai teman teman kamu. Kami juga perlu berterima kasih kepada dia. Kalau kamu tidak selamat dalam kecelakaan itu. Selamanya kami akan dibayang bayangi rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan kamu," kata Nathan. Yang lain menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan Nathan.


Nathan dan teman teman yang lainnya tidak bisa membayangkan jika Danish tidak selamat dari kecelakaan itu. Menyampaikan kabar kecelakaan itu saja kepada kedua orang tua Danish. Mereka tidak mampu karena rasa takut dan rasa bersalah. Apalagi ketika melihat Nyonya Amalia yang tidak sadarkan diri setelah mendengar kecelakaan itu. Hanya karena informasi singkat dari seorang kakek yang mengabarkan Danish selamat membuat mereka bernafas lega.


"Sebenarnya, setelah mendapatkan informasi tentang keselamatan mu. Kami juga berangkat ke desa itu Bro. Tapi kami tidak bisa menemukan identitas si penelepon," kata Niko.


"Bisa jadi. Karena saat itu aku maupun kakek Joni tidak berada di desa itu. Aku diobati di perkampungan terisolasi."


"Apa yang sudah kamu berikan kepada perempuan dan kakeknya itu?" tanya Nathan lagi.


Danish menarik nafas panjang. Selama dua bulan di rumah kakek Joni. Kakek itu tidak pernah menyinggung biaya sedikit pun kepada Danish. Meskipun Danish sudah berkali kali berjanji akan membayar imbalan atas semua jasa kakek Joni. Pria tua itu hanya terdiam.


Pertanyaan Nathan mengingatkan Danish akan cerita sang utusan Santosh yang mengantarkan sejumlah uang kepada kakek Joni dan kepala kampung terilosi itu. Kepala kampung sangat berterima kasih saat menerima uang itu sedangkan kakek Joni tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Jangan jangan, kakek Joni sedang menanti kedatangan aku dan kedua orang tuaku untuk melamar Sinar," kata Danish dalam hati. Dia mengingat janjinya kepada kakek Joni akan secepatnya membawa kedua orang tuanya untuk melamar Sinar.


Danish mengusap wajahnya dengan kasar. Ternyata menepati janji tidak semudah mengucapkan. Setelah lebih satu minggu kembali ke kota ini. Danish tidak mengingat janji itu. Dia justru menyibukkan diri dalam pekerjaan dan teman temannya seperti saat ini.


"Ada apa?" tanya Niko. Niko dapat melihat kegalauan di wajau Danish.


"Tidak apa apa. Aku pulang sekarang," kata Danish. Keinginannya untuk bersenang senang dengan teman temannya itu hambar hanya karena mengingat janjinya menikahi Sinar.


"Danish. Ransel kamu disini. Kamu tidak membawanya sekarang?" tanya Nathan.


"Ransel?" tanya Danish. Seketika itu juga Danish mengingat ransel miliknya yang dia letakkan di batu besar sebelum dirinya tergelincir ke dalam sungai.


"Iya. Aku membawanya ke rumah ini. Aku lupa memberikannya kepada tante Amalia."


Nathan masuk ke kamarnya untuk mengambil ransel itu.

__ADS_1


"Ayo, aku akan mengantarkan kamu sampai ke mobil," kata Nathan. Danish berusaha beranjak dari duduknya. Melihat Danish kesulitan untuk berdiri. Niko dengan cepat membantu Danish dan membantu pria itu untuk berjalan.


"Aduh."


Danish mengerang kesakitan. Kakinya terasa sangat sakit. Kaki salah satu dari temannya yang sejak tadi asyik bermain ponsel menyentuh kaki kanannya.


"Kamu sengaja ya Candro," bentak Danish marah sambil meringis kesakitan.


"Ada apa?" tanya pria yang bernama Candro itu merasa tidak bersalah. Danish menatap Candro dengan tajam. Dia sangat yakin. Kaki Candro yang menyentuh kakinya bukan kebetulan melainkan unsur kesengajaan.


"Sudah, jangan diperpanjang. Candro tidak mungkin sengaja," kata Nathan. Danish masih menatap Candro dengan tajam tapi pria itu sudah asyik kembali dengan ponselnya.


Danish keluar rumah itu dengan kesal. Seketika dirinya merasa seperti pernah mengalami hal yang seperti tadi. Tapi dimana, Danish tidak mengingatnya.


"Kamu tidak membuka ransel ini kan?" tanya Danish setelah dirinya duduk di dalam Mobil. Danish khawatir, Nathan melihat isi dari tas itu yang didalamnya ada bunga edelweiss.


"Tidak. Bagaimana aku bisa membuka ransel ini jika kamu membuat pengamannya seperti ini," kata Nathan sambil menunjuk ransel yang dilengkapi dengan gembok. Danish menarik nafas lega. Kunci dari gembok itu berada di saku celananya saat itu. Tapi karena terseret air sungai. Mungkin kunci itu terjatuh.


"Bagus."


"Apa ada rahasia di dalamnya?" tanya Nathan penuh selidik.


"Tidak ada."


"Apa maksud kamu?" tanya Danish bingung. Jelas dirinya memang melanggar etika pendakian karena sudah mengambil Bunga edelweiss tanpa ijin. Tapi Danish bisa memastikan jika tidak ada satupun orang yang melihat dirinya ketika mengambil Bunga edelweiss tersebut.


"Apa kamu tidak tahu. Ternyata pendakian kita yang terakhir ini tidak tercatat di basecamp yang berjaga. Kami mengetahui itu setelah melaporkan kamu hilang dalam kecelakaan itu."


"Apa maksud kamu. Bukankah saat itu. Aku memerintahkan Aslan untuk mendaftarkan regu Kita?" tanya Danish.


"Tapi menurut Aslan. Dirinya tidak ada mendapatkan perintah untuk mendaftarkan regu kita."


"Ada apa ini?" tanya Danish bingung. Nathan mengangkat bahunya pertanda tidak mengerti.


"Mengapa Aslan tidak datang hari ini?" tanya Danish. Diantara teman temannya yang ikut di pendakian terakhir ini hanya Aslan yang tidak hadir di rumah Nathan itu.


"Dia sedang bersama pacarnya. Kan kamu tahu sendiri. Kalau sudah bersama pacarnya. Aslan tidak akan mau berkumpul bersama Kita."


"Tolong atur waktuku bertemu dengan Aslan secepatnya," kata Danish. Danish tidak sabar untuk bertanya kepada Aslan mengapa mereka sampai tidak terdaftar di basecamp penjagaan. Untuk bertanya lewat telepon. Danish merasa tidak puas.


"Baiklah. Aku aku usahakan secepatnya." Danish menganggukkan kepalanya kemudian menutup kaca mobil.

__ADS_1


"Jalan Pak," kata Danish kepada supir pribadinya.


"Kita langsung ke rumah tuan?" tanya supir itu. Danish melihat jam tangannya. Masih jam delapan malam dan masih terlalu cepat pulang ke rumah.


"Bawa aku ke taman dekat rumah pak."


Baru saja Danish berkata seperti itu. Sebuah pesan masuk ke ponsel barunya. Danish membuka layar ponsel itu dan melihat pesan papanya menyuruh dirinya harus cepat pulang.


"Langsung ke rumah saja pak."


"Baik Tuan."


Danish bertanya tanya dalam hati maksud sang Papa menyuruh dirinya pulang secepatnya. Hingga mobil itu berhenti di halaman rumahnya. Danish meminta sang supir untuk membantu dirinya berjalan masuk ke dalam rumah. Danish benar benar tidak sasaran untuk bertemu dengan sang papa.


"Ada apa papa?" tanya Danish begitu pria itu duduk di hadapan tuan Santosh dan Nyonya Amalia.


"To the point saja Danish. Pertunangan yang telah tertunda. Akan dilaksanakan bulan bulan depan."


Danish membulatkan matanya.


"Papa, bagaimana aku melaksanakan pertunangan itu sementara aku sudah berjanji akan menikahi Sinar secepatnya," kata Danish pelan. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya sangat mencintai Bintang dan menginginkan wanita itu menjadi istrinya. Tapi janji yang sudah terucap pantang untuk dilanggar.


"Dari segi bibit, bebet dan bobot. Yang memenuhi kriteria untuk menjadi istrimu adalah Bintang. Apa kata dunia jika Danish memperistri seorang Sinar yang tidak mempunyai kelebihan apapun. Meskipun begitu. Papa tidak melarang kamu untuk menikahi Sinar. Karena baik Bintang dan Sinar. Mereka berdua bersedia terikat pernikahan poligami dengan kamu."


"Apa pa. Poligami?" tanya Danish tidak percaya.


"Kamu beruntung dicintai dua wanita yang bersedia di poligami. Seperti janjimu kepada penduduk perkampungan itu. Kamu akan menikahi Sinar dua hari setelah pernikahan. Dan menikahi Bintang setelah satu tahun pernikahan kamu dan Sinar," kata Santosh menjelaskan seperti kesepakatan antara dirinya dan Nyonya Amalia.


Danish terdiam mencerna kata kata dari Santosh. Dia tidak menyangka jika cinta Bintang teramat besar kepada dirinya rela menunggu dirinya hingga satu tahun setelah pernikahannya dengan Sinar.


"Bintang. Aku sangat mencintai kamu. Terima kasih karena mencintai aku sedalam ini," kata Danish dalam hati. Danish memuji ketulusan cinta kekasihnya itu kepada dirinya. Danish merasa menyesal karena sudah mengabaikan wanita itu selama lebih satu minggu ini. Danish sadar, Bintang adalah pihak yang tersakiti di situasi ini dimana dirinya membawa calon istri.


"Papa, aku ingin menjumpai Bintang dulu," kata Danish. Dia tidak sabar untuk mengucapkan terima kasih kepada wanita yang sangat dicintainya itu.


"Malam ini, Bintang pulang ke rumah orang tuanya," jawab Nyonya Amalia. Tadi pagi, Bintang sudah minta ijin kepada Nyonya Amalia untuk tidak pulang ke rumah ini. Danish terlihat sangat kecewa sekali.


"Bintang adalah wanita yang sangat baik dan berbesar hati. Jarang jarang ada wanita seperti Bintang. Kamu tidak salah pilih Danish," puji Tuan Santosh. Danish menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa tidak salah memilih Bintang sebagai kekasih hatinya. Meskipun dirinya mengabaikan wanita itu selama satu minggu ini. Danish juga mengetahui pertemanan antara Sinar dan Bintang.


Dimana ada wanita seperti Bintang. Wanita yang secara tulus menawarkan pertemanan kepada wanita kedua dalam hubungannya dengan sang kekasih. Tapi Bintang bisa melakukan hal itu. Hal yang sangat sulit dilakukan oleh wanita yang tersakiti.


"Benar papa. Aku tidak salah pilih. Andaikan kekasihku bukan dia. Mungkin Sinar pun tidak akan betah di rumah ini. Aku sangat mencintai Bintang dan aku merasakan cintaku bertambah banyak kepadanya setelah dirinya bersedia dipoligami dan bahkan harus menunggu satu tahun lagi."

__ADS_1


Danish memuji wanita yang sangat dicintainya itu. Dia tidak mengetahui, tidak jauh dari ruang tamu itu. Sinar memegang dadanya karena merasa sangat sesak mendengar pujian dan ungkapan rasa cinta Danish kepada Bintang.


"Jika Bintang adalah wanita yang sangat baik dan tulus. Lalu aku wanita seperti apa. Wanita egois yang memaksakan diri masuk ke dalam hubungan mereka?" tanya Sinar dalam hatinya.


__ADS_2