Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Bunga Edelweis


__ADS_3

Berduaan di dalam rumah itu membuat Sinar dan Danish semakin akrab. Ada ada saja pembicaraan diantara mereka membuat rumah panggung itu dihiasi tawa dan canda. Meskipun mereka semakin akrab. Pembicaraan diantara mereka masih dalam kategori sopan. Hari ini berbeda dengan hari hari sebelumnya. Jika di beberapa hari sebelumnya mereka berbicara masih terkesan kaku. Saat ini mereka berbicara seperti dua teman yang sudah lama saling mengenal.


Danish menceritakan pengalaman dirinya selama menjadi anggota organisasi pecinta alam. Dia menceritakan daerah mana saja yang sudah dia kunjungi. Lewat cerita dari Danish. Sinar bisa mengetahui tentang karakteristik beberapa gunung yang sudah pernah menjadi tempat berpetualang Danish. Dari cerita Danish juga. Sinar mengetahui bahwa ini bukan yang pertama bagi Danish mendaki gunung dimana Danish kecelakaan terbawa arus sungai. Pengalaman Danish menahklukkan medan tantangan, kembali membuat Sinar merasa kagum terhadap pria itu. Sinar membandingkan Danish dengan pemuda di desanya di dalam hati. Pemuda kota yang lebih berani menjelahi alam dan mencintai alam. Sedangkan dirinya dan pemuda lainnya yang tinggal di desa merasa ketakutan untuk menjelahi gunung. Jangankan naik ke puncak. Berada di kaki gunung saja, nyali mereke tidak ada.


"Sekarang giliran kamu. Ceritakan apa yang menjadi hobby!" kata Danish setelah dirinya bercerita banyak hal.


"Tidak ada yang bisa diceritakan dalam perjalanan hidupku. Tidak ada pengalaman yang istimewa," jawab Sinar kemudian menarik nafas panjang.


Raut wajah Sinar berubah setelah mengatakan itu. Di usianya yang masih dua puluh tahun. Dia tidak pernah bepergian keluar dari desanya kecuali ke perkampungan terilosi ini. Itu pun karena kakeknya berdomisili di tempat ini. Jika tidak perjalanan hidup Sinar hanya berputar putar di sekitar desanya. Mendengar pengalaman Danish. Tentu saja Sinar merasa rendah diri.


Perusahaan raut wajah Sinar ternyata bisa diperhatikan oleh Danish.


"Jangan berkata seperti itu. Semua yang kita jalani saat terdahulu dan saat ini adalah pengalaman yang istimewa yang harus kita syukuri. Menolong aku dari deras air sungai. Aku rasa, itu adalah pengalaman yang istimewa."


Sinar kembali tersenyum. Ternyata apa yang dilakukan oleh dirinya dianggap istimewa oleh Danish membuat Sinar merasa bangga di dalam hati.


"Kamu tahu tidak Sinar. Tindakan kamu menolong aku adalah satu sikap heroik. Sikap yang penuh keberanian. Aku bangga diselamatkan oleh kamu. Setelah sembuh dan pulang dari sini. Aku pasti bangga menceritakan pengalaman hidup ini kepada semua teman temannya ku," kata Danish lagi membuat Sinar semakin merasa tersanjung.


Perasaan tersanjung itu hanya sebentar hinggap di hati Sinar mengingat dirinya menolong Danish tapi menceritakan Roki sebelumnya.


"Kamu benar benar pahlawanku Sinar. Tapi kok bisa ya. Hujan hujan seperti itu kamu bisa di tepi.sungai. Apa sih yang membuat kamu ke sungai saat itu?" tanya Danish antusias. Entah mengapa Danish ingin mengetahui mengapa Sinar bisa di sungai itu saat itu.


"A...a..ku. Saat itu..... Aku ke sana karena..."

__ADS_1


Sinar merasa gugup untuk menjawab pertanyaan Danish. Kejadian memalukan yang membuat dirinya berada di tepi sungai itu adalah aib dan dirinya tidak ingin Danish mengetahuinya. Sinar tidak sanggup jika Danish sudah memuji dirinya setinggi langit akan dihempaskan ke dasar jurang yang paling dalam jika mendengar kejujurannya.


"Karena patah hati," tebak Danish sok tahu.


"Bukan. Bukan karena patah hati. Mungkin saat itu jiwamu memanggil jiwaku. Dan yang pasti keberadaan ku di sana bukan kebetulan. Karena jiwa yang terpanggil."


"Puitis sekali. Aku suka jawaban kamu," puji Danish kemudian terkekeh. Sinar menepuk dadanya mendengar pujian Danish.


"Pantang tidak dipuji. Bangganya langsung setinggi langit," canda Danish. Sinar tertawa.


"Setidaknya sudah pernah dipuji daripada tidak pernah dipuji."


"Tadi katanya tidak gila pujian."


"Danish, mengapa kamu berkali kali naik ke gunung Sana. Apakah gunung yang ini lebih istimewa dibandingkan gunung gunung di daerah lain?"tanya Sinar ingin tahu. Sebenarnya dari tadi dirinya sudah sangat ingin bertanya tentang hal itu.


Danish tidak menjawab. Pria itu justru terlihat termenung mendengar pertanyaan Sinar. Danish memandang pepohonan hijau yang jauh di pegunungan lewat jendela rumah itu. Pikirannya seperti menerawang. Setelah terdiam beberapa menit, Danish terdengar menarik nafas panjang.


"Karena gunung itu yang terdekat dari kota tempat ku tinggal."


Akhirnya Danish menjawab pertanyaan Sinar. Tapi Sinar merasa kurang puas dengan jawaban Danish. Dan sepertinya sikap diam Danish beberapa menit tadi hanya untuk memikirkan jawaban yang tepat.


"Aku menangkap sepertinya itu bukan jawaban yang sebenarnya. Maaf, aku bukan menuntut jawaban yang sejujurnya. Kalau tidak menjawab pun, tidak apa apa," kata Sinar jujur. Begitu lah Sinar. Dia tidak akan bisa berpura pura menerima perkataan orang lain padahal di hati berkata tidak. Baginya tidak masalah jika Danish tidak jujur karena bagi Sinar ketidakjujuran Danish tidak akan merugikan dirinya.

__ADS_1


"Kamu seperti orang yang bisa membaca pikiran saja," kata Danish kemudian tertawa.


"Jadi benar kan, bukan itu jawaban yang sebenarnya. Sebenarnya tadi asal bicara saja. ternyata benar."


"Aku percaya kamu orang baik dan orang yang bisa menjaga rahasia Sinar. Jika nyawaku saja kamu tolong. Kamu tidak akan mungkin menjemuruskan aku ke hal yang berbahaya."


"Apa maksud kamu Danish?" tanya Sinar terkejut. Sinar dengan cepat mengambil jarak dari Danish. Sinar tiba tiba merasa takut jika ternyata dirinya menyelamatkan orang yang salah. Bukankah gunung adalah tempat yang aman bagi pelarian orang orang jahat dari Kota. Sinar takut jika alasan Danish berada di gunung bukan seperti yang diceritakan oleh pria itu sebelumnya melainkan karena bersembunyi. Jaman sekarang ini banyak berita berita di televisi tentang pelaku kejahatan yang masih buron. Sinar takut, Danish adalah salah satu dari orang itu.


"Jangan berpikiran yang macam macam Sinar. Kedatangan ku ke gunung itu memang karena ada alasan khusus yang tidak diketahui oleh anggota organisasi lainnya. Tapi percaya kepada ku. Aku bukan orang jahat."


Danish bisa menangkap ketakutan di wajah Sinar.


"Lalu apa alasan khusus itu?" kata Sinar. Kali ini pertanyaan terdengar menuntut jawaban yang jujur.


"Bunga edelweiss. Tanpa sepengetahuan teman temanku. Aku memetik bunga edelweiss dan menyimpannya di ransel milikku. Aku mohon, tolong jaga rahasia ini.


Sinar menarik nafas lega. Dia bisa menangkap kejujuran dari mata Danish ketika mengatakan alasan mendaki gunung.


"Kamu tahu kan Bunga edelweiss dilindungi undang undang. Mengapa kamu nekad. Jika ketahuan bisa dipenjara sepuluh tahun."


"Aku tahu," jawab Danish pelan.


Baru saja Sinar ingin bertanya alasan Danish memetik bunga edelweiss itu. Panggilan dari luar rumah membuat Sinar merasakan jantungnya dag dig dug.

__ADS_1


"Kakek Joni, kakek Joni."


__ADS_2