
Kesedihan seakan akrab berteman dengan Bintang dalam satu tahun terakhir ini. Tidak cukup hanya terlihat hutang karena kasus pak Idrus, kehamilan di luar nikah. Kini, Bintang dihadapkan dengan situasi duka cita yang mendalam karena harus kehilangan sang mama untuk selama lamanya.
Bintang merasa kehilangan separuh jiwanya. Pada akhirnya, sang mama tidak tertolong lagi. Tidak ada lagi tangisan yang terlihat dari matanya mungkin karena dirinya sudah kehabisan air mata menangisi perjalanan hidup menyedihkan sepanjang satu tahun ini.
"Sinar, mengapa ini bisa terjadi kepada kamu. Siapa yang melakukan ini?" tanya pak Idrus. Pria itu dijinkan melihat pemakaman istrinya dengan pengawalan yang ketat dari pihak kepolisian. Pak Idrus berhasil ditangkap dari upaya kabur yang dilakukan oleh pria itu.
Pak Idrus tentu saja terkejut melihat situasi di dalam rumahnya. Bukan karena perabotan yang tidak terlihat lagi melainkan terkejut dengan keadaan Bintang yang sedang hamil. Pak Idrus semakin terkejut mengetahui jika Bintang belum mempunyai suami.
Sepanjang waktu sebelum pemakaman istrinya. Pikiran pak Idrus tertuju kepada Bintang. Tanda tanya dan dugaan dugaan buruk melintas di pikirannya hingga Bintang bisa hamil tanpa suami.
"Masuk lah ke mobil pa. Jalani hukuman papa di penjara sana. Aku hanya berharap papa bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan pikirkan hidupku. Aku bisa mengatasi masalah ini sendirian. Dan jangan berusaha kabur lagi dari penjara pa."
"Maaf papa Bintang."
"Kita harus mengubah hidup menjadi manusia yang lebih baik Pa. Apa yang kita alami saat ini adalah karma perbuatan kita di Masa lalu."
Tidak ada kemarahan di wajah Bintang. Setelah kepergian sang mama. Bintang semakin sadar jika tidak ada yang perlu di sombongkan dalam hidup jika berkecukupan. Karena satu jam kemudian tidak ada yang tahu dalam kehidupan ini. Menyadari kesombongannya dulu. Bintang menjadi malu kepada dirinya sendiri.
Pak Idrus menatap putrinya dengan sedih. Melihat kondisi Bintang yang hamil tanpa suami membuat laki laki itu sangat marah dalam hati. Berat hatinya meninggalkan putrinya itu. Tapi pak Idrus tidak bisa berbuat apa apa. Bahkan untuk menghibur putrinya itu saja, dia tidak mempunyai waktu karena dua orang pihak yang berwajib sudah mendorong tubuhnya untuk segera melangkah menuju Mobil.
Bintang terduduk di dekat pusara mama sambil menatap punggung papanya yang semakin menjauh. Harusnya dalam situasi kehilangan seperti. Dia dan pak Idrus harus saling menguatkan dan saling menghibur. Tapi apa yang terjadi saat ini. Dirinya dan Pak Idrus harus menghadapi masalah masing masing. Pak Idrus harus menjalani vonis hakim akan hukuman nya. Sedang Bintang harus menghadapi kelahiran anak pertama nya tanpa status resmi dan juga tanpa kehadiran keluarga di sisinya.
__ADS_1
Bintang sudah merasakan kehancuran itu. Sangat menyedihkan. Jika ada sebagian para tetangga yang menghibur jika kepergian mamanya adalah hal terbaik bagi Bintang dan sang mama. Tapi tidak dengan Bintang. Meskipun, sang mama dalam keadaan sakit. Bintang ingin, wanita yang melahirkan nya sehat kembali tapi takdir berkata lain.
Bintang memandangi mobil yang hendak membawa papanya kembali ke dalam penjara. Hatinya semakin sesak membayangkan pak Idrus akan menjalani sisa hidupnya di dalam penjara. Mengingat vonis hakim. Kecil kemungkinan untuk mereka berkumpul bersama. Bisa saja, penjara adalah tempat tinggal terakhir pak Idrus di dunia ini.
"Mari, kita pulang Bintang. Angin kencang ini tidak bagus untuk kesehatan mu," kata Nathan. Sejak mamanya Bintang di rawat di rumah sakit sejak dua hari yang lalu hingga pemakaman. Nathan setia menemani Bintang.
Bintang berdiri. Dia juga merasa angin yang lumayan berhembus kencang itu tidak bagus untuk kesehatan dirinya dan sang janin di rahim. Bintang membiarkan Nathan menuntun dirinya hingga masuk ke dalam mobil.
Suasana di mobil itu terlihat sunyi. Nathan tidak pintar merangkai kata kata untuk menghibur Bintang. Nathan menunjukkan rasa perduli kepada Bintang lewat tindakan. Nathan menoleh sebentar kepada Bintang yang sangat terlihat sangat berduka. Dia sangat kasihan kepada wanita itu.
Nathan menarik tubuh Bintang ke dalam pelukannya. Dalam keadaan sedih seperti ini meskipun Bintang tidak mengeluarkan tangisan. Nathan sangat mengetahui jika Bintang sangat rapuh dan Nathan siap menjadi tempat menumpahkan kesedihan wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu.
Bintang tidak dapat menahan kesedihan itu. Dalam pelukan Nathan. Bintang menumpahkan tangisan. Dia berusaha terlihat baik baik saja supaya pak Idrus bisa menjalani hukuman dengan tenang.
Baru saja, Nathan hendak menjalankan mobilnya. Ponsel Nathan berdering.
"Iya ma," sapa Nathan.
"Nathan, kamu dimana?"
"Di luar ma. Mama tahu kamu bersama Bintang sekarang kan?.
__ADS_1
"Tidak ma. Ini aku di jalan baru pulang. Tadi aku sibuk bertemu dengan klien sehingga aku melupakan panggilan dari mama."
"Tidak masalah. Asal kamu tidak bersama wanita itu. Mama merasa lega."
Nathan mengakhiri panggilan itu meskipun dari perkataan mamanya. Nathan khawatir jika Bintang mendengar perkataan sama.
Seperti dugaan Nathan. Bintang mendengar perkataan antara Nathan dengan wanita itu. Hatinya berdenyut nyeri.
"Nathan, mulai nanti setelah aku tiba di rumah. Tolong Jangan temui aku lagi. Kamu bukan jodoh ku."
Bintang sengaja berkata seperti itu karena Bintang tidak ingin Nathan berpikir jika kebersamaan mereka selama tiga hari ini merupakan harapan baik bagi Nathan untuk hubungan mereka.
"Tapi mengapa Bintang?"
"Karena setelah bayi ini lahir. Mungkin aku akan melangsungkan pernikahan dengan pria lain Selain kamu.
Nathan seketika menginjak rem kemudian menatap Bintang.
"Apa maksud kamu?"
"Aku rasa perkataan ku sangat jelas. Ada laki laki yang bisa menerima aku dengan segala permasalahan hidupku. Kami sudah berpacaran selama dua bulan ini dengan hubungan jarak jauh. Beberapa bulan lagi, dia akan datang ke kota ini untuk melamar aku. Orangtuanya tidak mempersalahkan keadaan yang mempunyai anak di luar pernikahan. Aku harap kamu mengerti."
__ADS_1
Bintang berkata jujur. Laki laki yang dimaksudkan oleh Bintang adalah laki laki teman Masa kecilnya. Dulu, mereka bertetangga. Tapi karena harus berpindah pindah mengikuti papanya yang merupakan aparat negara membuat dia dan laki laki itu terpisah. Mereka bisa berkomunikasi kembali karena Kekuatan Media sosial. Keputusannya untuk lebih memilih laki laki teman masa kecilnya semakin bulat setelah mendengar pembicaraan antara Nathan dengan mamanya. Kehadiran janin itu tidak bisa mempengaruhi kedua orang tua Nathan untuk memberikan restu kepada mereka.
"Kamu bercanda kan Bintang," kata Nathan. Bintang menggelengkan kepalanya dan saat itu juga Nathan mengusap wajahnya frustasi.