
"Duluan saja pa, aku mau ke kamar mandi sebentar," kata Danish. Laki laki itu sepertinya kebelet terlihat dari cara jalannya yang cepat menuju kamar Mandi. Tidak ingin ada pembicaraan antara dirinya dengan Tuan Santosh. Sinar juga cepat berbalik menuju ruang makan.
"Tunggu Sinar."
Sinar berhenti. Dia tidak dapat menghindar. Sepertinya pembicaraan antara dirinya dan Tuan Santosh harus terjadi. Sinar memegang dadanya seakan mempersiapkan hatinya menerima kata kata yang menyakitkan dari papa mertuanya itu.
"Jangan merasa dirimu menjadi kuat dengan kehamilan itu. Ingat siapa dirimu. Dan ingat siapa aku. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."
Tuan Santosh berkata sambil menunjuk dirinya sendiri dan menunjuk Sinar. Tatapan masih tetap tajam seakan Sinar tidak layak diperlakukan dengan lembut.
"Apa maksud tuan."
Sinar bertanya bukan bermaksud untuk menunjukkan keberaniannya berdebat dengan laki laki itu. Sinar bertanya karena memang benar benar tidak mengerti maksud dari perkataan papa mertuanya. Sinar tidak merasa kuat sama sekali dengan kehamilan itu. Dia hanya merasa bahagia. Apa kah dia salah?.
"Aku tahu apa yang kamu inginkan dari kehamilan itu. Tapi satu pun yang harus kamu ingat. Kehamilan itu hanya menguntungkan keluarga Santosh tapi tidak dengan kamu."
"Aku belum mengerti apa maksud tuan," kata Sinar lagi. Perkataan tuan Santosh masih seperti teka teki terdengar di telinganya.
"Kamu bersedia hamil untuk memperkuat posisi mu di keluarga ini kan. Kamu berharap dengan kehamilan kamu itu. Aku akan merestui kamu. Begitu kan. Aku akan mengakui anak yang kamu kandung itu sebagai cucuku tapi tidak dengan kamu."
Sinar menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, mengapa papa mertuanya bisa bersikap bodoh seperti ini yang notabene dia seorang pengusaha, pejabat dan berpendidikan tinggi. Sangat jelas, jika dia mengetahui jika papa mertuanya tidak menyukai dirinya sendiri tapi juga tidak menyangka mempunyai pemikiran seperti itu kepada dirinya. Sinar memang berharap tuan Santosh merestui dirinya. Yang tidak dimengerti oleh Sinar. Tuan Santosh mengatakan jika kehadiran janin itu hanya menguntungkan keluarganya.
"Tuan, kehadiran anak adalah hal yang dirindukan oleh setiap pasangan suami istri termasuk aku dan Danish yang masih pasangan muda. Aku tidak perlu memperkuat posisi di keluarga ini karena aku percaya jika aku ditakdirkan jodoh seumur hidup Danish. Maka siapa pun tidak dapat menghalangi. Tuan Santosh membuat posisi ku serba salah. Tidak hamil salah. Hamil makin salah."
"Tapi aku tidak yakin. Kamu jodoh seumur hidup Danish. Dia menikahi kamu karena balas budi."
__ADS_1
Sinar memejamkan matanya. Dia pernah menyerah menjadi calon istri Danish karena alasan balas budi itu. Kini tuan Santosh kembali mengungkitnya. Perkataan tuan Santosh jelas ingin menjatuhkan mentalnya tapi Sinar berusaha tidak akan terpengaruh dengan perkataan papa mertuanya. Baginya cinta Danish sudah cukup memperlihatkan jika pernikahan itu bukan hanya sekedar balas budi.
"Apa yang anda inginkan dari ku tuan. Meninggalkan Danish?" tanya Sinar sengit.
"Tentu. Tapi tidak sekarang. Biarkan Danish mendapatkan keuntungan terlebih dahulu dari pernikahan kalian. Baru kamu boleh meninggalkan nya."
"Apa setelah dia menduduki Direksi Global Anugerah Group. Aku boleh pergi?" tanya Sinar lagi. Tuan Santosh menjentikkan jarinya. Dia sama sekali tidak terkejut dengan tebakan Sinar itu.
"Ternyata kamu pintar juga Sinar. Tidak. Kamu boleh pergi setelah melahirkan anak itu."
Tuan Santosh semakin tidak mempunyai perasaan. Dia mengatakan apa yang diinginkan dari pernikahan itu. Dia tidak pernah menginginkan Sinar untuk menjadi menantunya selamanya. Dia mengijinkan Danish menikahi Sinar untuk memenuhi ambisinya supaya Danish bisa mencalonkan diri menjadi Direksi. Tuan Santosh berpikir jika mencari jodoh bagi Danish sangat mudah setelah kepergian Sinar nantinya.
"Tapi aku lebih percaya kepada takdir yang digariskan sang Pencipta daripada percaya dengan segala kejahatan anda tuan. Kita hanya manusia biasa yang bisa berencana dan merancang. Tapi ada yang Maha Tinggi untuk menghendakinya. Maaf, aku tinggal tuan. Sebentar lagi. Danish akan keluar dari kamar mandi. Aku tidak ingin hubungan antara kalian retak. Bagaimana pun. Danish pasti tidak akan terima jika istrinya anda perlakukan seperti ini."
Sinar mengakhiri pembicaraan itu. Hatinya tentu saja tidak baik baik saja setelah mendengar perkataan papa mertuanya. Dia sudah menduga sebelumnya jika Tuan Santosh ingin memisahkan dirinya dari Danish dan anaknya kelak. Dan hari ini, dugaannya itu dipertegas oleh tuan Santosh.
Makan siang itu akhirnya tiba juga. Dua pasang suami istri saling berhadapan dengan menu makanan yang lezat di hadapan mereka. Danish sangat antusias untuk menikmati menu makanan itu sedangkan Sinar bersikap biasa saja. Bahkan wanita itu tidak selera dengan semua menu makanan itu. Pembicaraan antara dirinya dengan Tuan Santosh masih jelas terekam di otaknya membuat Sinar tidak selera.
Di saat yang lainnya terlihat menikmati makanan itu. Sinar dipenuhi banyak tanda tanya di pikirannya. Dia sangat penasaran mengapa tuan Santosh membenci dirinya separah itu. Rasanya tidak masuk akal kebencian tuan Santosh hanya karena status sosial diantara mereka.
Tiba tiba Sinar mengingat ketika dirinya pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini. Tuan Santosh tidak membenci dirinya seperti saat ini. Sinar berusaha mengingat kapan perubahan sikap Tuan Santosh kepada dirinya.
"Mungkinkah kebencian tuan Santosh ada hubungannya dengan utusan yang ditugaskan mengantarkan bantuan kepada masyarakat kampung terilosi itu?" tanya Sinar dalam hati. Rasanya sejak kepulangan para utusan itu. Tuan Santosh langsung mengambil keputusan saat itu jika pertunangan Danish dan Bintang tetap dilanjutkan. Padahal Danish sudah memperkenalkan dirinya sebuah calon istri.
"Apa makanannya kurang enak, Sinar?" tanya Nyonya Amalia. Danish seketika menoleh ke arah istrinya.
__ADS_1
"Enak ma. Mungkin karena kebanyakan makan buah masih kenyang," jawab Sinar beralasan. Jawaban yang masuk akal bagi nyonya Amalia dan Danish.
Tuan Santosh menatap Sinar dengan sinis. Dia sangat yakin jika Sinar tidak selera makan bukan karena masih kenyang melainkan karena suasana hatinya tidak baik karena pembicaraan mereka tadi. Tuan Santosh terlihat sangat menikmati makanannya karena dia sangat puas telah menjatuhkan mental Sinar.
"Terkadang manusia berbicara tidak sesuai dengan isi hatinya," kata Tuan Santosh setelah selesai makan. Matanya menatap sinis ke arah menantunya dan Sinar menyadari itu.
"Maksudnya?" tanya Nyonya Amalia bingung. Danish juga terlihat menatap wajah papanya.
Tuan Santosh tidak menanggapi pertanyaan Nyonya Amalia. Pria itu sibuk mengusap bibirnya dengan tissue. Perkataan tuan Santosh masih misteri bagi Nyonya Amalia dan Danish tapi tidak bagi Sinar. Sinar sangat yakin jika kata kata itu papa mertuanya itu ditujukan untuk dirinya.
Sinar semakin yakin jika kebencian tuan Santosh ada hubungan dengan kepulangan para utusan dari kampung terilosi itu. Sinar ingin menyelidiki tapi para utusan itu jarang terlihat di sekitar rumah ini. Dan dia tidak mengenal mereka.
Makan siang itu sudah selesai. Sinar sudah tidak betah lagi di rumah itu. Tapi Nyonya Amalia menahan Sinar dan Danish.
"Sebentar lagi. Mama belum puas. Akhir pekan masih lama lagi."
Sinar tidak tega untuk bersikeras mengajak Danish untuk pulang. Demi menghargai mama mertuanya Sinar akhirnya menganggukkan kepalanya. Tapi berlama lama di rumah itu akan membuat dirinya merasa tertekan.
Sinar menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menyimpan sendiri sikap Tuan Santosh hanya membuat dirinya makan hati. Sinar bisa bersikap seolah olah tidak ada masalah antara dirinya dan Tuan Santosh di hadapan Danish dan mama mertuanya. Nyatanya, hampir setiap bertemu. Tuan Santosh selalu menunjukkan kebenciannya.
"Maaf sebelumnya. Ada hal yang ingin aku tanyakan kepada papa," kata Sinar. Tuan Santosh seketika menatap Sinar.
"Mau tanya apa sayang?" tanya Danish lembut.
"Aku ingin bertanya. Mengapa tuan Santosh sangat membenci aku sampai merencanakan memisahkan aku dari janin yang masih berbentuk gumpalan darah. Kesalahan apa yang aku perbuat?" tanya Sinar berani.
__ADS_1
Sinar akhirnya nekat menanyakan hal itu di hadapan Danish dan Nyonya Amalia. Dia tidak perduli sebesar apa kemarahan papa mertuanya itu nanti. Dia sengaja bertanya seperti itu untuk melihat reaksi Danish dan Nyonya Amalia.