Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Maaf, Aku Egois


__ADS_3

Sinar mencari ketulusan di wajah Bintang sebelum bersedia menerima pertemanan dengan wanita itu. Berhadapan dengan Bintang dengan jarak yang sangat dekat seperti ini. Sinar dapat melihat kecantikan Bintang yang mendekati sempurna. Tidak salah, jika Danish mencintai wanita itu sejak mereka remaja. Wajah lembutnya dengan bola mata yang teduh. Hidungnya mancung seperti hidung orang Arab. Kulit putih dan mulus. Cara duduk dan cara berbicaranya yang anggun menunjukkan jika Bintang adalah orang yang berkelas.


"Kamu tidak mau berteman dengan aku?"


Sinar mengerjabkan matanya. Dia terhanyut mengagumi kecantikan Bintang.


"Baiklah, Kita berteman," jawab Sinar. Bintang tersenyum. Dia kembali mengulurkan tangannya kepada Sinar. Dua wanita itu saling berjabat sebagai pertanda jika mereka sudah resmi berteman.


"Kenapa kamu mau berteman denganku?" tanya Sinar. Harusnya dia menanyakan itu sebelum dirinya menyetujui pertemanan itu.


"Aku mau berteman dengan kamu karena tidak ada alasan bagiku membenci kamu. Kamu penyelamat laki laki yang aku cintai. Dan seharusnya aku berterima kasih akan hal itu. Karena kamu. Aku masih bisa melihatnya sekarang meskipun dengan kenyataan yang berbeda."


Sedalam itukah cinta Bintang kepada Danish? Hingga dia tidak bisa membenci wanita ketiga di dalam hubungannya dengan Danish.


Sinar menatap wajah Bintang. Sinar menemukan ketulusan di setiap kata kata yang keluar dari mulut wanita itu. Pantas saja. Danish sangat mencintai wanita itu ternyata Bintang bukan hanya cantik wajah tapi hatinya juga cantik.


Berhadapan dengan Bintang saat ini. Sinar mengingat sesuatu. Sinar baru sadar mengapa Danish suka memandangi bintang bintang di langit ternyata hanya dengan seperti itu Danish tetap mengingat dan membunuh kerinduannya kepada Bintang selama di kampung terilosi itu.


"Kamu sangat baik Bintang," puji Sinar tulus. Bintang hanya tersenyum.


"Mari kita sarapan bersama Sinar," ajak Bintang.


"Aku disuruh kemari oleh Tuan dan nyonya Bintang. Aku belum bertemu dengan mereka. Sebaiknya aku menunggu mereka disini dulu," kata Sinar. Bukan tidak ingin menerima ajakan Bintang untuk sarapan bersama. Tapi Sinar merasa perlu untuk bertemu dengan kedua orang tua Danish.


"Mereka masih berolahraga pagi. Mungkin sekitar satu jam lagi baru kembali. Sebelum mereka kembali kita juga pasti sudah selesai sarapan."


Sinar merasa ragu menerima ajakan Bintang.


"Ayo!" desak Bintang. Baru saja Sinar beranjak dari duduknya. Sinar melihat Danish sedang menuruni tangga. Tanpa berpikir panjang. Sinar berlari menaiki tangga hendak membantu Danish berjalan menuruni tangga itu.

__ADS_1


"Aku mencari kamu ke kamar. Ternyata kamu sudah keluyuran," kata Danish sambil memberikan tangannya dipegang oleh Sinar.


"Sejak tadi malam aku menunggu kamu. Tapi baru pagi ini kamu mencari ku," jawab Sinar tidak mau kalah.


"Aku ketiduran."


Danish menghentikan langkahnya ketika menyadari jika Bintang sedang memperhatikan mereka berdua. Mereka saling bertatapan beberapa detik. Sinar mengetahui kedua insan itu saling bertatapan dan tidak berniat mengganggu. Sinar ikut berhenti melangkah tapi memalingkan wajahnya.


"Ayo!" ajak Danish Setelah memutuskan pandangan mata dengan Bintang.


Dengan posisi tangan Sinar yang masih memegang tangan Danish, mereka berdua kembali menuruni tangga itu. Setelah kaki mereka berada di lantai satu. Sinar dapat mendengar langkah Bintang mengikuti langkah mereka berdua. Sinar tidak melepaskan tangannya dari tangan Danish bukan bermaksud untuk menunjukkan kepada Bintang bahwa dirinya lah pemenang saat ini.


"Bibi, antar sarapan kami berdua ke kamarku," kata Danish Setelah mereka di ruang makan. Sinar mengerutkan keningnya. Dia tadi berpikir, Danish membawa dirinya ke ruang makan ini untuk sarapan bersama dengan anggota keluarga lainnya.


"Danish. Tidak bisakah kita sarapan bersama pagi ini?" tanya Bintang pelan. Wanita itu terlihat sangat kecewa mendengar perintah Danish kepada sang pelayan.


"Maaf Bintang. Untuk pagi ini. Aku menemani Sinar sarapan. Kamu bisa sarapan dengan kedua orang tuaku nanti," jawab Danish tanpa memandang wanita itu.


"Apa kita tidak bisa sarapan bertiga?" tanya Bintang lagi. Danish hanya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah," kata Bintang pelan. Sinar merasa kasihan melihat wajah sedih wanita itu. Tapi untuk meminta Danish supaya mereka sarapan bersama, Sinar tidak berani.


"Tunggu Danish," kata Bintang lagi. Danish dan Sinar yang sudah berjalan meninggalkan ruang makan itu menghentikan langkah.


"Bisakah kita bicara setelah sarapan?" tanya Bintang lagi. Danish terdiam. Lagi lagi pria itu menatap Bintang.


"Jika ada waktu aku akan menjumpai kamu."


"Pasti ada waktu Danish. Sejak dua bulan yang lalu aku sudah tinggal di rumah ini karena permintaan tante Amalia. Tidak ada alasan tidak ada waktu untuk kita berbicara," kata Bintang. Perkataan Bintang menjawab membuka Sinar merasa lega. Itu artinya kecurigaannya yang berpikir jika Danish dan Bintang menghabiskan malam bersama tadi malam tidak benar. Sinar menjadi merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk kepada Danish dan Bintang.

__ADS_1


"Bawa aku ke atas," kata Danish tanpa memperdulikan perkataan Bintang. Sinar menurut. Dia menoleh ke belakang dan melihat Bintang sedang mengusap air matanya. Sungguh Sinar merasa kasihan kepada wanita itu. Sinar paham bagaimana perasaan wanita ketika diabaikan oleh kekasihnya .


"Mengapa kamu bersikap dingin kepada Bintang?" tanya Sinar setelah mereka sudah menginjakkan tangga paling teratas.


"Aku sudah mengingatkan kamu Sinar. Jangan urusi yang bukan urusan mu."


"Maaf."


"Jangan ulangi lagi."


"Baik, aku akan mengingatnya."


"Kamu tahu mengapa aku sarapan berdua dengan kamu pagi ini?" tanya Danish. Di hadapan mereka kini sudah tersedia berbagai menu sarapan. Sinar sebenarnya bingung melihat banyaknya sarapan itu tapi tidak berani bertanya.


"Tidak."


"Ini adalah berbagai menu sarapan yang setiap pagi tersedia di meja makan. Sekarang aku akan memperkenalkan nama makanannya satu persatu kepada kamu. Jika sewaktu waktu kita sarapan bersama dengan kedua orang tuaku. Kamu tidak bingung di suruh mengambil salah satu dari makanan itu," kata Danish. Kemudian pria itu menyebut nama makanan itu satu persatu sambil menunjuk makanannya.


"Kamu sudah hapal," tanya Danish. Sinar menganggukkan kepalanya.


"Coba sebutkan nama dengan menunjuk makanannya."


Sinar menyebutkan nama makanan itu sesuai perintah dari Danish.


"Pintar," puji Danish. Ternyata Sinar cepat menangkap nama makanan itu meskipun ini yang pertama kalinya menyebut dan melihatnya.


"Nanti siang. Kita makan siang di kamar ini," kata Danish lagi. Sinar menganggukkan kepalanya. Dia mengerti mengapa Danish melakukan hal ini. Danish tidak ingin dirinya terlihat kampungan di hadapan kedua orang tuanya. Melihat bagaimana sikap Danish setelah di rumah ini. Sinar semakin merasakan cintanya bertambah kepada pria itu. Danish benar benar calon suami impiannya.


"Maaf Bintang. Maafkan aku jika egois. Aku hanya ingin bahagia. Aku tidak merebut Danish dari kamu. Tapi takdir lah yang membawa dia kepadaku."

__ADS_1


__ADS_2