
"Siapa yang kamu sebut sebagai calon istri?"
Danish disambut pertanyaan tajam di rumah itu dari Tuan Santosh. Danish menatap papanya sebentar kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Papanya mendengarnya?" tanya Danish. Tuan Santosh tidak menjawab hanya menatap Danish dengan tajam. Benar, dia mendengar tidak sengaja semua pembicaraan Danish di telepon itu.
"Kenapa harus berkata seperti itu pada putra mu. Bukankah lebih bagus jika dia mampu calon istri?" tanya Nyonya Amalia.
"Yang penting, calon istrinya itu bukan Bintang," kata Nyonya Amalia lagi menambahkan.
"Siapa pula yang menginginkan wanita itu jadi menantu ku," jawab tuan Santosh sinis. Sejak mengetahui keburukan keluarga Pak Idrus. Tuan Santosh tidak merestui hubungan itu lagi. Dia bahkan menasehati Danish supaya tidak buta akan cinta.
"Aku ingin mengenal calon istri kamu. Apakah bibit, bebet dan bobotnya sudah sesuai dengan keluarga Kita?" tanya tuan Santosh. Danish masih duduk tenang sambil bersanding di sofa itu sedangkan nyonya Amalia menatap suaminya dengan tidak suka.
"Pa. Jodoh manusia itu adalah misteri. Kita tidak bisa menentukan siapa yang menjadi jodoh Danish. Siapapun wanita yang dia bawa ke rumah ini untuk dijadikan menantu. Kita harus menerima dan merestuinya. Asalkan wanita yang dia bawa itu adalah wanita normal pada umumnya. Kita harus melihat kecantikan hatinya. Bukan apa yang ada pada dirinya," kata Nyonya Amalia berusaha untuk menasehati Suaminya.
"Tahu apa kamu tentang jodoh. Jika Danish tidak menemukan wanita yang sesuai dengan keluarga kita. Biarkan papa yang mencari jodoh untuknya. Masih ada putri dari rekan rekan kerja papa yang pasti mau sama Danish."
Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya melihat betapa keras kepala suaminya itu dalam memilih jodoh untuk Danish. Sedangkan Danish tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh tuan Santosh. Pria itu dengan santai menatap layar ponselnya bahkan bisa jadi, dia tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya itu.
"Jadi, kapan kamu membawa wanita calon istrimu itu ke rumah ini Danish?" tanya tuan Santosh.
"Secepatnya," jawab Danish singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Ingat apa yang papa bilang. Jangan berani membawa wanita yang tidak sesuai dengan keluarga kita ke rumah ini," kata Tuan Santosh tegas.
"Aku yang mau menikah, mengapa harus papa yang menentukan kriteria. Restu atau tidak restu papa. Aku akan menikahi wanita pilihan aku," jawab Danish tidak kalah tegas. Tuan Santosh terlihat terkejut dan mendengar perkataan putranya itu.
"Apa maksud kamu," tanya nya dengan tajam.
"Aku memang tidak akan menikahi Bintang. Tapi aku akan menikah Sinar."
"Sinar lagi. Sinar lagi. Apa yang kamu lihat dari wanita kampung itu?" tanya tuan Santosh tajam. Pria itu tidak menyukai Sinar bahkan hanya mendengar namanya. Selama beberapa bulan tidak ada pembahasan tentang Sinar di rumah itu. Tuan Santosh berpikir jika Danish sudah lupa akan wanita itu dan tidak berhasil menemukannya. Tuan Santosh berpikir jika Danish sudah bisa berpaling dari dua nama itu yaitu Sinar dan Bintang.
Sungguh, tuan Santosh merasakan hatinya panas mendengar perkataan Danish. Dia merasa sudah berhasil mengusir Sinar dari rumah ini ternyata nama wanita kampung itu masih terdengar di rumah ini. Membayangkan Danish menikahi Sinar. Tuan Santosh mendadak gelisah dan marah dalam hati. Dia sudah membayangkan cibiran dan tanggapan negative dari rekan kerja dan para teman temannya. Selama ini, dia menghadari pernikahan anak teman temannya. Menantu dari teman dan relasi kerjanya adalah orang orang yang sesuai dengan status keluarga mereka. Tuan Santosh juga menginginkan seperti itu bagi Danish. Danish menikahi wanita dari keluarga yang selevel atau yang lebih tinggi dari status keluarga mereka.
"Pa, Sinar memang berasal dari keluarga sederhana. Jika kamu menginginkan menantu yang berkelas. Kita bisa mendidik Sinar menjadi wanita yang mandiri dan berwawasan luas. Seharusnya kebahagiaan Danish yang terpenting bukan dengan siapa dirinya menikah. Buat apa menantu yang selevel tapi Danish tidak bahagia dalam pernikahannya," kata Nyonya Amalia. Meskipun suaminya sudah terlihat marah. Nyonya Amalia masih berusaha berkata lembut. Tidak bagus baginya melawan tuan Santosh dengan kemarahan juga.
"Kamu yang membuat dia jadi seperti ini," kata Tuan Santosh sambil menunjuk Danish.
Nyonya Amalia memutar matanya malas. Hal seperti ini lah yang tidak disukai Nyonya Amalia jika berbicara dengan Tuan Santosh. Semua kesalahan Danish ditujukan karena dirinya tapi jika Danish membuat keluarganya bangga. Tuan Santosh akan bangga menunjukkan dirinya pula. Seakan akan itu semua karena dirinya tanpa ada campur tangan Nyonya Amalia.
"Lalu yang merestui Bintang jadi menantu dan bangga menggelar pertunangan dengan wanita itu. Kemudian memaksa untuk menikahkan mereka berdua di hari pertunangan itu juga. Siapa?. Aku?. Tapi lihat lah apa yang terjadi. Lihat apa yang kamu ketahui tentang keluarga calon besan impian kamu itu?" kata Nyonya Amalia. Akhirnya wanita itu terpancing amarah juga setelah kesalahan dilimpahkan kepada dirinya.
"Berapa uang yang kamu keluarkan untuk membungkam mulut Bintang dan keluarganya supaya tidak membongkar tentang Bunga Edelweiss itu?" kata Nyonya Amalia lagi.
Pada akhirnya, keluarga Danish tidak bisa berkutik karena bunga Edelweiss itu. Tuan Santosh adalah seorang pejabat di negara ini di bidang Lingkungan hidup dan Kehutanan. Jika tentang pengambilan Bunga Edelweiss tanpa ijin itu terbongkar ke umum. Bisa dipastikan jika reputasi tuan Santosh yang seharusnya bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan Kehutanan akan buruk di Mata masyarakat. Bisa diasumsikan jika anak pejabat bertindak sesuka hati memanfaatkan jabatan orang tuanya.
Keluarga Bintang sangat pintar merencanakan tentang Bunga Edelweiss itu dan memanfaatkan di saat kasus pak Idrus terbongkar. Pak Idrus sudah ditetapkan menjadi tersangka. Mamanya Bintang selalu meminta uang kepada keluarga Danish dengan alasan membungkam mulut media supaya hubungan diantara mereka tidak dibocorkan ke umum. Keluarga Bintang mengetahui kelemahan Tuan Santosh yang sangat menjaga nama baiknya diatas segalanya. Sebenarnya, Nyonya Amalia tidak keberatan jika hubungan antar keluarga mereka dibocorkan ke media karena mereka bersih tidak terlibat dengan bisnis haram pak Idrus. Tapi karena bunga Edelweiss itu. Nyonya Amalia dan Danish pun ikut ikutan tidak bisa berkutik.
"Jangan sebut nama itu lagi di rumah ini."
Ternyata bukan hanya nama Sinar yang membuat tuan Santosh marah. Hanya mendengar nama Bintang dan keluarganya saja. Pria itu bahkan merapatkan giginya.
__ADS_1
"Aku menyebut namanya biar kamu sadar pa. Jangan terlalu memaksakan kehendak mu pada Danish. Bisa saja, ada putri putri dari teman teman kamu yang bersedia menjadi istri Danish. Tapi apa kita mengetahui keluarga mereka secara detail. Jangan kejadian tentang Bintang terulang untuk yang kedua kalinya," kata Nyonya Amalia lagi. Tuan Santosh terlihat berpikir mendengar perkataan istrinya itu.
"Tapi mengapa harus Sinar. Tidak Ada lagi kah wanita yang lebih baik dari dia?" tanya Tuan Santosh sudah mulai melunak. Nyonya Amalia mengelus punggung suaminya dengan lembut.
"Apa yang membuat kamu tidak menyukai Sinar. Hanya karena dia dari keluarga sederhana?" tanya Nyonya Amalia lembut.
"Jika kamu tidak menyukai dia karena bibit, bebet dan bobot. Itu artinya pemikiran kamu karena kuno. Jaman sekarang ini. Kemuaan, kerja keras dan semangat yang terutama. Harta bisa dicari dan akan mengubah status seseorang. Jika kamu berpikiran jika keluarga Sinar tidak selevel dengan keluarga kita. Kamu salah. Karena bagiku, hanya sikap manusia yang membedakan dirinya dengan manusia lain. Jika keluarga kita sekarang berada diatas. Anggap saja ini hanya kebetulan dan keberuntugan. Yang bisa lenyap seketika. Apa kamu tidak mengingat ketika kecelakaan menimpa Danish. Jika Danish benar benar tidak terselematkan. Jadi untuk apa semua yang kamu kumpulkan. Bukankah anak adalah harta yang paling berharga di dunia ini. Sinar sudah menolong harta kita yang paling berharga. Bukah hanya menolong, merawat dan menjaganya. Kakeknya mengobati Danish tanpa meminta imbalan. Pantaskah kamu membencinya?"
Nyonya Amalia berkata panjang lebar berharap suaminya itu bisa paham. Dan mengubah pemikirannya terhadap Sinar. Selama ini, Nyonya Amalia mengetahui bagaimana pemikiran Suaminya itu akan pertolongan Sinar. Bisa dibalas dengan materi yang banyak tapi bagi nyonya Amalia tidak seperti itu. Materi yang diberikan hanyalah ucapan terima kasih tapi bukan balasan. Sebab wanita itu sadar. Sampai kapanpun dia tidak bisa membalas kebaikan Sinar dan keluarganya.
"Jadi, apakah kamu sudah menemukan wanita itu?" tanya tuan Santosh kepada Danish. Danish menggelengkan kepalanya. Dia sengaja tidak memberitahukan apapun kepada kedua orang tuanya tentang Sinar karena Danish tidak percaya kepada Tuan Santosh. Danish juga sudah mengetahui jika Tuan Santosh juga mengancam orang orang suruhannya ketika meminta mencari Sinar di awal wanita itu kabur dari rumah. Danish tidak mengulang kesalahan yang sama. Saat ini yang mengawasi gerak gerik Sinar adalah suruhan dari sahabatnya Nathan.
"Jangan bohong kamu Danish. Kamu sudah menghubungi wanita itu. Tidak mungkin, tidak mengetahui dimana dia berada," kata Tuan Santosh.
"Dia sudah merantau ke Kota lain yang jauh dari Kota ini pa," jawab Danish berbohong. Danish bisa melihat wajah lega yang diperlihatkan oleh papanya ketika mendengar perkataannya. Itu artinya. Tuan Santosh belum bersedia menerima Sinar sebagai menantunya.
"Bisa mama berbicara dengan dia Danish?" tanya Nyonya Amalia.
"Jangan dulu ma. Aku harus memastikan jika Sinar bersedia menerima aku kembali. Dia merasa sudah memutuskan hubungan dengan aku," kata Danish lagi. Diam diam ekor matanya melihat wajah Tuan Santosh dan pria itu semakin terlihat lega.
Hal inilah yang membuat Danish tidak langsung menemui Sinar ketika pertama Kali mengetahui keberadaan wanita itu. Danish mengetahui jika orang orang suruhan tuan Santosh masih sering berkunjung ke kampung halaman Sinar untuk memastikan bahwa wanita itu tidak berada di kampungnya. Melihat sikap papanya seperti ini. Danish semakin cemas. Sampai kapan dirinya bisa menyembunyikan Sinar mengingat pergerakan wanita itu juga semakin mengetahui seluk beluk Kota.
Danish takut, tuan Santosh dan Sinar bertemu secara kebetulan dan tuan Santosh akan berusaha menekan wanita itu.
"Ya sudah. Kalau Sinar tidak mau menikah dengan kamu. Untuk apa dipaksakan. Kamu juga tidak mencintai dia kan?" kata Tuan Santosh dengan enteng. Pria itu menunjukkan apa yang ada di hatinya. Nyonya Amalia menatap suaminya itu dengan kesal. Percuma dirinya mengeluarkan kata kata pilihan untuk membuka pikiran pria itu tapi sepertinya tuan Santosh hanya mendengar tanpa memahaminya.
"Kamu salah pa. Danish pasti mencintai Sinar. Ketulusan dan kebaikan Sinar sudah meluluhkan hati putramu. Dia menyadarinya setelah terlepas dari cinta buta akan Bintang," kata Nyonya Amalia. Jika alasan cinta yang dijadikan suaminya untuk menolak Sinar menjadi menantunya. Nyonya Amalia sangat yakin jika putranya itu sudah jatuh hati kepada Sinar.
"Benarkah begitu Danish?" tanya tuan Santosh seperti mengejek. Tuan Santosh yakin jika Danish menikahi wanita itu masih dengan alasan yang dulu karena sudah terikat janji. Sinar adalah wanita polos dan sederhana sangat jauh berbeda dengan Bintang yang menyukai kemewahan. Tuan Santosh pun berpikir jika wanita kriteria Danish Sebenarnya tidak jauh seperti Bintang.
"Iya, aku baru sadar jika aku sepertinya sudah jatuh hati pada Sinar sejak melihatnya di rumah kakek Joni," jawab Danish membuat Nyonya Amalia senang sedangkan Tuan Santosh terlihat tidak menyukai jawaban Danish itu dengan membuang pandangannya.
"Pastikan hatimu. Jangan terjebak hanya karena kebaikan karena pernikahan itu bukan untuk main main. Pernikahan itu adalah seumur hidup seperti papa dan mama kamu ini."
Tuan Santosh masih berusaha mempengaruhi Danish. Sebagian dari kata kata Tuan Santosh memang benar. Pernikahan adalah seumur hidup dan tidak untuk coba coba. Danish pun ingin pernikahannya kelak seperti pernikahan kedua orang tuanya yang langgeng dan tidak ada pernah pertengkaran yang serius. Tuan Santosh dan Nyonya Amalia adalah pasangan yang saling melengkapi dan Nyonya Amalia bisa mengimbangi keras kepala suaminya itu.
Danish menarik nafas panjang. Jika karena terikat janji. Danish juga pasti menikahi Sinar ketika pertama kalinya menemukan wanita itu. Tapi Danish memastikan perasaannya terlebih dahulu dan membiarkan Sinar untuk berjuang mandiri terlebih dahulu. Sebenarnya, gampang baginya melepaskan Sinar karena Sinar sendiri sudah mundur dan mengalah. Tapi Danish merasakan hal lain. Semakin dirinya ingin melepaskan Sinar semakin kuat hatinya mengingat wanita itu.
Danish juga sudah yakin jika apa yang dia rasakan kepada Sinar adalah perasaan untuk memiliki karena cinta. Danish tida dapat menahan diri untuk tidak menemui Sinar di kolam renang itu karena sebelumnya. Dia mendapatkan laporan jika ada seorang pria yang berusaha mendekati Sinar di kampusnya. Danish pun berusaha untuk bertemu dengan Sinar tapi waktunya tidak Ada. Dia merasa berterima kasih kepada Nathan karena sudah memaksa dirinya untuk berenang di kolam renang itu yang akhirnya kesempatan bagi Danish untuk menemui Sinar. Tidak ingin pertemuan itu hanya sebatas di kolam renang. Danish pun menjumpai Sinar di rumahnya.
"Aku sudah sangat yakin dengan hatiku pa. Jadi tolong restui kami," kata Danish. Dia meletakkan ponselnya di atas meja karena pria itu merasa hal ini adalah pembicaraan yang serius.
Raut wajah Tuan Santosh mendadak berubah. Restu yang diinginkan Danish dari dirinya seperti taruhan nyawa bagi pria itu. Sangat sulit untuk memberikannya.
"Iya pa. Jangan berkeras hati lagi. Bukankah kamu ingin menggendong cucu secepatnya?" tanya Nyonya Amalia dengan lembut. Tidak lupa, Nyonya Amalia juga mengusap punggung pria itu dengan lembut supaya hatinya juga lembut. Dia sengaja berbicara menyinggung cucu karena Nyonya Amalia mengetahui kerinduan suaminya itu akan kehadiran cucu di dalam keluarganya..
Danish mendongak menatap wajah papanya menunggu restu. Tapi bukan kata restu yang keluar dari mulut pria itu hanya terdengar helaan nafas panjang.
Tuan Santosh masih sangat sulit menerima Sinar menjadi menantunya. Tapi mendengar kata cucu. Pria itu juga menginginkannya. Tuan Santosh sudah ingin dipanggil dengan sebutan kakek. Lagi pula bayang bayang kecelakaan yang menimpa Danish juga masih menghantui dirinya. Sama seperti Nyonya Amalia. Dia juga takut kehilangan Danish saat itu. Danish adalah putra tunggal nya. Dan tuan Santosh juga mengharapkan seorang penerus bagi putranya.
"Akan aku pikirkan. Untuk saat ini papa belum bisa mengatakanya," kata pria itu.
Danish dan Nyonya Amalia terlihat kecewa dengan jawaban tuan Santosh tapi itu lebih baik daripada mendengar penolakan hari ini. Setidaknya masih ada harapan akan restu dari tuan Santosh.
__ADS_1
"Restu atau tidak restu dari papa. Aku akan menikahi Sinar dengan pernikahan yang mewah di kota ini pa. Aku akan mengundang semua relasi bisnis kita," kata Danish tenang tapi yakin dengan perkataannya. Nyonya Amalia kembali mengelus punggung tuan Santosh supaya tidak terpancing amarah dengan perlawanan yang diperlihatkan Danish. Tuan Santosh terlihat biasa saja hanya menatap Danish sebentar.
Nyonya Amalia menyunggingkan senyumnya. Dia suka sikap tegas putranya. Dia tidak pernah mengajari Danish untuk melawan papanya tapi bagi Nyonya Amalia. Apa yang diperlihatkan Danish saat ini adalah bentuk perjuangan untuk kebahagiaan dirinya.
"Bagaimana dengan mama. Apa mama merestui aku menikah dengan Sinar?" tanya Danish kepada Nyonya Amalia.
"Oo tentu. Mama sangat merestui kalian berdua. Mata dan pikiran mama masih baik dan waras untuk melihat calon mantu yang cocok untuk kamu," jawab Nyonya Amalia dengan mengacungkan jempolnya kepada Danish. Kata kata itu sedikit menyindir suaminya. Semoga saja tuan Santosh merasa tersindir.
"Terima kasih mama," kata Danish.
"Jangan kelamaan berpikir pa. Secepatnya kamu harus memberi jawaban atas restu yang diinginkan oleh Danish," kata Nyonya Amalia.
"Tidak kah kamu tidak mendengar sendiri tadi ma. Dia akan tetap menikahi wanita itu adanya restu atau tidak ada restu dariku. Itu artinya jawabanku tidak ada artinya bagi Danish. Jadi biarkan dia menentukan hidup dan Masa depannya sendiri," kata Tuan Santosh terlihat kesal.
"Berbesar hati lah menerima keputusan putra mu pa. Danish sudah dewasa. Dia pasti sudah bisa memilih Mana yang terbaik untuk dirinya. Dia yang akan menjalani pernikahan itu. Kita hanya berdoa untuk kebahagiaannya," kata Nyonya Amalia dengan lembut.
"Papa, aku tidak tahu apa yang di pikiran papa saat ini. Tapi satu hal yang papa tahu. Aku mengetahui apa yang papa lakukan dengan orang orang suruhanku. Terjadi apa apa dengan Sinar maka dugaanku, papa adalah pelakunya. Jadi, stop mencari tahu dimana keberadaan Sinar saat ini," kata Danish. Dia harus mengatakan itu untuk megantipasi rencana tuan Santosh yang mungkin diam diam akan menggagalkan pernikahannya nanti.
"Papa, berjanji lah padaku. Jangan lakukan apapun yang menghalangi pernikahan mereka. Kita sudah tua. Aku ingin menggendong cucu sebelum ajal menjemputku. Aku mohon pa," kata Nyonya Amalia sambil memegang tangan tuan Santosh.
"Iya. Tenang saja. Aku tidak akan mencari tahu keberadaan wanita itu lagi. Aku akan menghentikan orang orangku," kata Tuan Santosh dengan malas.
"Berjanjilah pa.. Hanya dengan kamu berjanji maka aku akan tenang," desak Nyonya Amalia lagi. Tuan Santosh menatap wajah istrinya sebentar.
"Aku berjanji tidak akan mencari tahu keberadaan Sinar dan tidak menekannya lagi. Sudah. Kalian berdua puas?" tanya tuan Santosh.
"Puas pa. Terima kasih ya pa," kata Nyonya Amalia dengan tersenyum. Tidak lupa wanita itu mencium punggung tangan suaminya dan menarik kepala tuan Santosh untuk mendekat ke bibirnya. Nyonya Amalia mencium pipi suaminya itu secara bergantian sebagai ucapan terima kasihnya.
Nyonya Amalia merasa lega. Tuan Santosh adalah pria yang selalu menepati janjinya. Sifat itu menurun kepada Danish. Sedangkan Danish tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh mamanya itu.
"Kalau pun kamu tidak merestui Sinar dan Danish. Cukup diperlihatkan di rumah ini saja. Kamu harus menghadiri pernikahan mereka ya. Aku tidak mau seperti janda yang menghadiri pernikahan mereka nantinya," kata Nyonya Amalia lagi.
"Tidak mungkin aku mempermalukan diri sendiri dengan tidak menghadiri pernikahan putraku. Tidak kah kamu mendengar sendiri tadi. Dia akan melaksanakan pernikahan mewah?" kata Tuan Santosh sinis. Danish menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Janji tuan Santosh untuk tidak menekan Sinar dan perkataannya akan menghadiri pernikahannya nanti sudah cukup bagi Danish untuk mantap menetapkan hari pernikahan mereka.
"Terima kasih papa. Mama. Aku ke atas dulu," kata Danish. Tuan Santosh tidak menjawabnya sedangkan nyonya Amalia menganggukkan kepalanya. Wanita itu merasa lega dengan pembicaraan mereka saat ini. Tuan Santosh memang belum memberikan restunya kepada Danish. Tapi lewat kata katanya. Tuan Santosh sudah mengijinkan Danish untuk menikahi Sinar.
"Papa kamu masih disini?. Aku ke kamar dulu ya!.
Nyonya Amalia pamit masuk terlebih dahulu ke kamar mereka.
"Silahkan ma. Aku masih mau menonton," jawab pria itu. Nyonya Amalia bangkit dari duduknya setelah menepuk paha tuan Santosh terlebih dahulu. Nyonya Amalia bukannya masuk ke dalam kamarnya melainkan berjalan ke arah tangga dan Naik ke lantai dua.
"Danish , Danish buka pintunya?" kata Nyonya Amalia sambil mengetuk pintu kamar Danish tidak sabaran.
"Apa sih ma?" tanya Danish dengan malas. Dia hendak bergegas mau mandi tapi Nyonya Amalia mengganggu dirinya.
"Biarkan mama masuk dulu."
Nyonya Amalia menyingkirkan tubuh Danish dari pintu itu dan masuk ke dalam kamar Danish.
"Apa ma?" tanya Danish dengan malas.
"Bawa aku bertemu dengan Sinar," kata wanita itu.
__ADS_1
"Malam ini?" tanya Danish. Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Aku mau mandi. Nanti aku akan membawa mama ke rumahnya," kata Danish. Nyonya Amalia menganggukkan kepalanya dengan senang dan keluar dari kamar itu. Danish tersenyum. Dia sangat yakin jika mamanya Dan Sinar akan menjadi mertua dan menantu yang akur nantinya.