Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Permintaan Kakek Joni


__ADS_3

"Terima kasih Nathan," kata Danish. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil.


"Kata terima kasih saja tidak cukup. Aku mau traktiran mewah," jawab Nathan sambil menaikkan turunkan alisnya.


"Dasar teman tidak tulus," jawab Danish. Nathan tertawa.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini bro. Uang berjumlah jutaan receh bagimu. Mengapa harus perhitungan pada sahabat mu yang baik ini."


"Iya, iya. Traktiran mewah seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Nathan.


"Berikan kami dana untuk melakukan pendakian bulan depan dan di luar kota?.


Sebagai anggota pecinta alam. Diberikan dana untuk mendaki adalah hal yang menyenangkan melebihi makan di restoran mewah.


"Tega kalian mendaki tanpa aku?"


"Fokuslah dulu untuk sembuh. Untuk kali ini biarkan kami pergi tanpa kamu," kata Nathan. Danish menganggukkan kepalanya menerima pendapat dari Nathan karena saat ini tidak memungkinkan baginya untuk mendaki. Danish juga tidak mungkin melarang para teman teman untuk mendaki karena dia sadar bagi para pecinta alam mendaki adalah kebahagiaan dan waktu yang selalu ditunggu.


"Baiklah, aku akan mendanai kalian."


"Nah, gitu donk," kata Nathan senang kemudian menghidupkan mesin mobilnya.


"Hitung biaya yang kalian butuhkan. Dua minggir sebelum keberangkatan akan aku transfer ke rekening mu."


"Siap bos."


Danish tidak merasa rugi untuk mendanai teman temannya itu karena bagi Danish apa yang dilakukan Nathan malam ini sangat membantu dirinya. Nathan sudah bersedia membantu dirinya karena mengaku sebagai pemilik mobil yang diberikan Danish kepada Roki saat itu. Di dalam surat surat kendaraan. Nama Nathan memang benar sebagai pemilik mobil karena Mobil itu, mobil yang dibeli oleh Danish dari Nathan satu tahun yang lalu. Danish belum melakukan balik nama atas Mobil tersebut karena pajak masih berlaku sampai dua tahun ke depan.


Danish tidak menyangka. Awalnya niat Danish membeli mobil mewah itu dari Nathan untuk membantu Nathan. Saat itu, Nathan butuh uang untuk menambah modal bagi usaha yang baru dirintis. Dan kini berkat Mobil itu. Danish berhasil membuat Roki tidak berkutik.


"Ternyata Roki hanya manusia yang berotak kosong," kata Danish. Nathan terdengar terkekeh. Benar kata Danish. Jika Nathan memang manusia bodoh yang terlalu percaya diri merasa pintar dan hebat. Jaman sekarang, Mana ada orang mempunyai keberanian membawa mobil ke pusat Kota tanpa surat kendaraan. Hanya Roki yang berani melakukan itu tanpa adanya paksaan.


"Bagaimana aktingku tadi. Bagus dan meyakinkan kan? tanya Nathan. Danish menganggukkan kepalanya.


"Ternyata kamu berbakat jadi aktor," jawab Danish. Nathan tertawa.


"Itu bukan akting tapi memang seperti itu yang harus diucapkan kepada pencuri mobil seperti Roki. Danish tertawa.


Danish sangat puas melihat wajah kusur Roki yang terlihat putus harapan selama berbicara dengan Nathan. Danish membuat pengaduan atas nama Nathan bukan karena takut berhadapan dengan Roki tapi karena memang Mobil itu masih atas nama Nathan.


Danish tidak menunjukkan dirinya di hadapan Roki karena Danish ingin memberi pelajaran kepada Roki. Meskipun Danish dan Roki tidak berhadapan. Danish melihat semua gerak gerik Roki dari ruangan yang dibatas dengan kaca tembus pandang. Tapi hanya Danish yang bisa melihat Roki. Sedangkan Roki tidak dapat melihat Danish.

__ADS_1


Danish tersenyum sinis mengingat wajah sombong Roki yang lenyap tak terlihat di wajahnya selama berhadapan dengan Nathan. Wajah yang sangat berbeda ketika memeras dirinya untuk memberikan mobil itu.


"Ada apa dengan kaki kamu," tanya Nathan. Danish baru saja meringis kesakitan ketika dirinya menggerakkan kaki kanannya.


"Efeknya terasa sampai sekarang," jawab Danish.


"Entah dapat dari mana kamu ide seperti itu," kata Nathan lagi.


Danish tidak menjawab. Dia sibuk mengelus kakinya yang terkadang ngilu tiba tiba. Demi rencana yang akan dia jalankan. Danish harus menahan kesakitan karena berjalan normal di hadapan Sinar tadi supaya dirinya tidak terlihat seperti Danish di Mata Sinar.


"Jadi wanita tadi yang bernama Sinar?" tanya Nathan lagi. Danish menganggukkan kepalanya. Entah mengapa, Nathan juga ikut menganggukkan kepalanya. Sebelum turun dari mobil, Danish dan Nathan sudah memperhatikan gerak gerik Sinar di dalam kantor. Danish juga sudah mengetahui ketika polisi menginformasikan jika pencuri mobil yang sudah ditangkap berjumlah tiga orang dan salah satunya ada perempuan. Danish sangat yakin jika perempuan itu adalah Sinar karena dia berpikir Roki sedang menjalankan rencananya.


"Kenapa kamu ikut menganggukkan kepala?" tanya Danish tidak mengerti.


"Sepertinya, dia adalah wanita Yang sangat polos," jawab Nathan.


"Benar Sinar memang masih wanita yang polos," kata Danish. Matanya menerawang mengingat tingkah Sinar ketika masih mereka di rumah kakek Joni dan pertama Kali tiba di rumah ini.


"Harusnya tadi disapa bukan dicuekin seperti tadi," kata Nathan lagi. Ketika Danish menceritakan jika wanita yang mereka lihat dari mobil adalah wanita yang menolongnya. Nathan sangat senang karena dirinya merasa mendapatkan kesempatan untuk berterima kasih kepada Sinar. Tapi sayang, Danish mempunyai rencana aneh menurut Nathan yang berpura pura tidak mengenal Sinar.


"Atau kamu ingin melepaskan dia selamanya?. Kalau niat kamu seperti itu. Biarkan aku mendekatinya."


Nathan meringis mendapatkan pukulan dari Danish di lengannya karena berkata seperti itu. Bukan hanya pukulan, Danish juga menatap dirinya dengan tajam.


Hanya wanita yang polos dan tidak gila harta yang berani menolak menikah dengan orang kaya seperti Danish. Bagi wanita lain, pasti tidak perduli apa alasan Danish menikahi dirinya yang terpenting uang bulanan tetap mengalir deras.


Ya, sejak mendengar cerita tentang Sinar dari Danish. Nathan merasa sosok Sinar adalah wanita yang unik Dan langka. Dan apa yang dilihatnya tadi. Apa yang di pikiran Nathan tentang Sinar terbukti. Wanita itu tidak langsung kabur atau mencari perhatian. Tapi Sinar berdiri tegak seakan siap menghadapi apapun yang terjadi pada dirinya. Dan sepertinya tidak menyesal dengan keputusan yang diambil. Dan ketika Danish terlihat mengabaikan Sinar. Wanita itu juga tidak berusaha untuk mengejar atau kesal. Nathan bisa melihat itu karena melihat Sinar langsung pergi dari tempat itu.


"Dasar sahabat tak tahu terima kasih," umpat Danish semakin kesal. Nathan semakin tertawa terbahak bahak. Dia semakin yakin jika sahabatnya itu mempunyai rasa kepada wanita yang menolongnya.


"Kita berdua sama sama pria tidak tahu berterima kasih bro. Kamu tidak terima kasih pada wanita tulus itu sedangkan aku tidak tahu terima kasih kepadamu."


Danish terdiam. Benar kata Nathan. Dirinya adalah pria tidak tahu berterima kasih. Dirinya selamat dari arus sungai deras itu karena pertolongannya Sinar. Dia memang tidak melihat perjuangan Sinar menyelamatkan dirinya dari sungai itu tapi dia sangat yakin bukan hal yang mudah menyelamatkan dirinya dari sungai tersebut.


Kata kata sentilan Nathan membuat Danish mengingat bagaimana perawatan Sinar kepada dirinya. Di awal awal dirinya menjalani pengobatan, Sinar lah yang membantu dirinya dalam hal apapun. Membantu dirinya ke kamar Mandi, mencari ramuan ke dalam hutan dan mengurus keperluan lainnya. Sinar melakukan itu bukan karena ikatan apapun. Tapi perbuatan baik Sinar sudah perbuatan melebihi saudara kandung.


Ya, seharusnya mengingat kebaikan Sinar dan pengorbanan Sinar tidak seharusnya Danish menyetujui pernikahan poligami itu apalagi melaksanakan pertunangan dengan Bintang disaksikan oleh Sinar. Mungkin benar, dirinya berjanji menikahi Sinar karena balas budi tapi tak seharusnya dia menceritakan itu kepada wanita yang akan menjadi madu Sinar. Bukankah, pernikahan poligami itu harus adil dan jika seorang pria melakukan poligami maka dia juga harus mencintai, menyayangi dan berlaku adil bagi istri istrinya. Bukan hanya adil materi dan jatah waktu. Tapi harus adil juga dalam hal kasih sayang.


Semakin Danish memikirkan kebaikan dan kaburnya Sinar dari rumahnya. Danish semakin mengerti jika Sinar mempunyai prinsip yang sangat kuat dan menjaga prinsip itu. Danish juga sudah mengetahui dari Nyonya Amalia, jika Sinar bersedia setuju di awal tentang pernikahan poligami itu karena sang mama menjanjikan bahwa tidak akan ada pernikahan antara Danish dan Bintang nantinya.


"Bagaimana, kamu setuju kan dengan apa yang aku katakan," kata Nathan membuyarkan lamunan Danish.

__ADS_1


"Iya. Aku merasa jika dirinya adalah manusia yang paling tidak tahu diri," jawab Danish.


"Bagus kalau sudah menyadari."


Danish menggerakkan tangannya kepada Nathan supaya berhenti berbicara karena ponselnya berdering.


"Kirimkan alamatnya kepada ku sekarang juga," kata Danish pada seseorang yang ada di seberang telepon.


"Satu lagi, awasi dia selalu dan pastikan dia aman," kata Danish lagi.


"Kamu menyuruh seseorang mengawasi wanita penolong itu?" tanya Nathan setelah Danish mengakhiri panggilan. Danish menganggukkan kepalanya.


"Kenapa tidak langsung dijumpai saja?" tanya Nathan lagi.


Danish menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mengetahui Sinar dalam keadaan baik dan bahkan alamat dimana wanita itu tinggal sudah masuk ke ponsel miliknya. Danish merasa lega akan hal itu. Tapi untuk bertemu. Entah mengapa, Danish belum siap karena malu kepada Sinar.


"Belum untuk saat ini Nathan," kata Danish pelan.


"Jadi kapan?"


Danish menggelengkan kepalanya. Jika mengingat kekhawatiran akan keamanan Sinar sudah seharusnya pria itu menjumpai Sinar.


"Tidak tahu."


Danish kembali membuka layar ponselnya.


"Kakek, aku sudah menemukan Sinar. Jadi jangan khawatir ya," kata Danish setelah wajah kakek Joni muncul di hadapannya.


"Benarkah. Mana dia sekarang. Aku ingin melihatnya," kata Kakek Joni dari seberang. Danish pun menceritakan kejadian hari ini tentang Roki kepada kakek Joni.


"Tadi aku tidak ada waktu berbicara dengan Sinar. Tapi kakek tenang saja, aku sudah menyuruh seseorang untuk menjaga Sinar. Nanti kalau kami sudah bertemu. Aku akan menghubungi kakek."


"Baiklah, usahakan secepatnya ya. Yanti pasti akan cepat sembuh mendengar kabar baik ini," kata Kakek Joni. Danish menarik nafas lega. Setidaknya dengan memberitahukan bahwa dirinya sudah menemukan Sinar. Akan berdamai baik bagi kesehatan ibu Yanti.


"Danish, kalau bisa tolong antarkan saja dia pulang ke desa ini," kata Kakek Joni lagi membuat Danish menelan ludahnya dengan kasar.


"Aku mohon Danish. Aku dan kedua orang tuanya akan lebih tenang jika Sinar berada di dekat kami. Ini adalah permintaan ku kepada mu. Permintaan pertama dan terakhir. Kamu yang membawa Sinar dalam keadaan baik dari rumah ku maka aku mohon. Antarkan Sinar juga dalam keadaan baik ke rumah orang tuanya."


"Akan aku usahakan Kakek," kata Danish pelan. Danish menyimpan ponsel itu ke dalam sakunya seperti tidak bersemangat. Saat ini, memang dia belum siap berhadapan dengan Sinar tapi jika wanita itu harus kembali ke desanya dan menetap di Sana. Danish merasakan hatinya seperti kosong hanya membayangkan seperti itu.


Danish merenungkan kata kata Kakek Joni tentang permintaan pertama dan terakhir. Benar, baru kali ini. Kakek Joni meminta sesuatu kepada dirinya. Meskipun kakek Joni sudah mengobati dan menampung dirinya di rumahnya. Kakek Joni tidak pernah meminta apapun. Dirinya menjanjikan dana untuk membantu membangun jembatan bukan permintaan Kakek Joni tapi dirinya lah yang menawarkan Dana itu kepada masyarakat. Saat itu kakek hanya terdiam. Meskipun pada akhirnya tuan Santosh mengirimkan sejumlah uang kepada kakek itu. Itu juga bukan permintaan Kakek Joni.

__ADS_1


Danish merasa jika permintaan Kakek Joni itu bukan permintaan biasa tapi tuntutan pertanggungjawaban dari dirinya.


"Saat seperti ini. Kakek Joni masih memilih kata kata untuk membuat aku bertanggung jawab," kata Danish dalam hati. Danish semakin mengagumi kebaikan pria tua itu.


__ADS_2