
Sinar menyadari ada hal yang aneh dalam dirinya. Dengan melawan rasa asing di tubuhnya. Sinar menatap Danish dengan marah. Sinar mencurigai ada sesuatu yang dimasukkan Danish ke dalam makanannya sehingga dirinya merasakan rasa aneh itu.
"Kamu memasukkan sesuatu ke makanan ku Danish?" tanya Sinar marah.
"Maafkan aku Sinar. Hanya dengan cara seperti ini. Aku bisa menahan kamu."
"Brengsek kamu Danish. Aku bersumpah akan membenci kamu seumur hidupku jika kamu menyentuh aku," kata Sinar sambil memperhatikan sekeliling kamar itu. Dia sudah selamat dari Roki. Maka tidak akan dia biarkan Danish juga melakukan hal dosa itu kepada dirinya. Sinar tidak akan mengatasnamakan cinta memberikan hal berharga di dalam dirinya kepada pria yang belum menjadi suaminya.
"Jangan mendekat. Lebih baik aku mati daripada kamu menodai aku."
Sinar menyambar gelas jus dengan cepat. Sinar merasa lega karena di dalam gelas masih terlihat pil yang belum larut semuanya. Kemudian Sinar membenturkan gelas itu ke meja rias sehingga pecah.
"Aku tidak akan main main dengan perkataanku Danish. Pecahan kaca ini akan melukai pergelangan tanganku jika kamu berani mendekat. Aku akan lebih bangga mati dalam keadaan suci daripada hidup karena melakukan dosa itu."
Sinar berkata serius. Pecahan kaca itu sudah hampir mengenai kulitnya. Sinar tidak bermain main dengan perkataannya. Berbuat dosa itu hanya akan menjatuhkan harga dirinya di hadapan tuan Santosh. Dia akan dianggap murahan dan melakukan apa saja demi masuk menjadi anggota keluarga Danish.
"Jangan lakukan itu Sinar. Aku mohon."
Danish berkata frustasi. Tidak mungkin dirinya membiarkan Sinar melukai dirinya sendiri. Danish juga takut jika Sinar nekad. Danish memilih duduk di tepi ranjang. Ada penyelesalan di hatinya karena melakukan cara paksa itu. Dia juga kasihan melihat Sinar yang gelisah karena menahan rasa asing itu.
"Kalau kamu tidak mau aku melakukan hal ini. Keluar sekarang dari kamarku dan jangan kunci aku di dalam kamar," kata Sinar.
"Baik. Tapi kamu juga berjanji tidak akan kabur. Turunkan pecahan kaca itu," jawab Danish khawatir. Dia khawatir Sinar masih nekad melukai dirinya sendiri setelah dirinya keluar dari kamar Sinar. Jika Sinar sampai meninggal karena kejadian ini. Entah bagaimana dirinya memberikan pertanggungjawaban kepada kakek Joni dan kedua orang tua Sinar.
Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Rasa panas itu semakin menjadi jadi. Kipas angin yang berputar kencang tidak sanggup membuat rasa panas itu hilang dari tubuhnya.
Sinar mengunci pintu kamar dengan cepat setelah Danish keluar dari kamar itu. Dengan berlari, Sinar masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa membuka pakaiannya. Sinar menyiram tubuhnya dengan air yang sangat banyak.
Rasa asing dan rasa marah itu bercampur di dalam hatinya. Sinar masih boleh bersyukur karena dirinya masih bisa mempertahankan kesuciannya. Tapi tidak bisa dipungkiri jika Sinar bertambah sedih karena perbuatan Danish saat ini. Danish menjaga Bintang dan menjaga kesucian cintanya kepada wanita itu sedangkan kepada dirinya. Danish sengaja hendak menodainya. Apa yang dilakukan oleh Danish memang bukan pemerkosaan tapi tetap saja cara yang dilakukan oleh Danish adalah cara paksa. Sinar benar benar muak atas apa yang dilakukan oleh Danish kepada dirinya malam ini.
Rasa asing itu benar benar menyiksa Sinar. Sinar terus menyiram tubuhnya. Kulitnya memang sudah dingin. Tapi tidak dengan rasa asing yang sulit lepas dari tubuhnya. Sinar mati matian melawan rasa asing itu. Sinar tersiksa. Tapi itu lebih baik daripada dirinya meraih kenikmatan yang belum pada waktunya.
Sinar tidak bisa menahan kesedihannya. Dia merasa dirinya dipermainkan oleh takdir. Dua pria yang hampir merenggut makhkotanya dengan alasan yang berbeda. Dua pria yang pernah menjadi pria impiannya. Dan Dua pria itu yang membuat Sinar sakit hati karena perbuatan mereka. Meskipun alasan Danish melakukan hal itu kepada dirinya supaya pernikahan mereka tetap terjadi. Tetap saja Sinar merasa muak kepada Danish. Sinar merasa keputusannya untuk tidak menikah dengan Danish adalah keputusan yang sangat tepat.
Pagi hari ini. Sinar mengawali pagi dengan bersin bersin. Mungkin karena lama tubuhnya terkena air. Sinar masuk angin dan pilek. Meskipun begitu. Sinar menyambut pagi hari itu dengan rasa syukur karena Dirinya bisa mempertahankan kesuciannya tanpa ada masalah.
Kepergian Danish dan Bintang berlibur terdengar ke telinga Sinar dari dua orang pekerja yang sepertinya sengaja untuk membuat Sinar cemburu.
"Kasihan sekali, calon istri tapi makan di dapur. Apa bedanya seperti Kita. Begitu lah jika manusia tidak tahu diri. Tidak memandang siapa dirinya. Sok kepedean masuk ke keluarga kaya. Tuan Danish itu cocoknya sama non Bintang. Bukan wanita lusuh seperti dia."
Sinar memilih beranjak dari duduknya dan meninggalkan dua wanita itu. Jika mengikuti rasa marah dan tersinggung di hati Sinar. Seharusnya dia bisa menjawab perkataan dua pekerja itu. Tapi Sinar tidak melakukan itu karena dia tidak ingin membuat kesan buruk di rumah itu.
__ADS_1
"Tino, bantu aku keluar dari rumah ini," kata Sinar begitu dirinya tiba di hadapan Tino di taman belakang rumah.
"Tidak bisa Sinar. Ada yang mengawasi gerak gerik kita. Mengapa kamu sampai di kurung?"
Sinar menceritakan apa yang dialami oleh dirinya sehingga dikurung dua hari. Sinar juga menceritakan kejadian tadi malam. Sinar berharap dengan menceritakan apa yang dia alami. Tino bersedia membantu dirinya.
"Kamu dipanggil Sinar," kata Tino sambil menunjuk seorang pekerja yang berdiri dekat pintu dapur dan menunjuk Sinar.
"Kamu dipanggil ke ruang kerja tuan Santosh," kata pekerja itu setelah Sinar menghampiri.
"Ruang kerja?. Dimana ruang kerja tuan Santosh?"
"Cari saja sendiri," jawab pekerja itu ketus dan meninggalkan Sinar.
Sinar menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia kembali mendatangi Tino dan meminta bantuan sahabatnya itu untuk mengantarkan dirinya ke ruang kerja tuan Santosh. Mengingat sikap tuan Santosh kepada dirinya. Sinar sebenarnya malas berhadapan dengan pria kaya itu. Tapi Sinar sadar diri. Dirinya menumpang di rumah ini. Suka atau tidak suka dia harus menghargai si tuan rumah.
Kehadiran Sinar di ruang kerja tuan Santosh. Disambut dengan angkuh oleh pria kaya itu. Tuan Santosh duduk di kursi di belakang meja kerjanya dengan kaki yang dinaikkan ke atas meja. Pria kaya itu mempersilahkan Sinar duduk di hadapannya tanpa menurunkan kakinya sehingga wajah Sinar dan kaki Tuan Santosh saling berhadapan.
"Makan ini," kata Tuan Santosh sambil melemparkan sebuah bungkusan yang berisi beberapa pil ke hadapan Sinar. Bersamaan dengan itu. Tuan Santosh menurunkan kakinya.
Sinar mengerutkan keningnya karena bingung melihat bungkusan tersebut. Kejadian tadi malam membuat dirinya waspada. Keringat dingin bercucuran seketika dari dahinya karena ketakutan. Dia takut jika kejadian tadi malam terulang kembali dengan orang yang berbeda.
"Itu pil kontrasepsi. Aku tidak mau kamu mengandung benih putraku."
"Apa maksud tuan?" tanya Sinar semakin bingung. Perkataannya tuan Santosh adalah penghinaan bagi Sinar.
"Jangan sok polos kamu Sinar. Aku tahu putraku bersikeras untuk menikahi kamu pasti karena hubungan kalian sudah sangat dalam kan. Kamu pasti sudah memberikan tubuhmu kepada putraku. Aku dengar kamu mengalah dan mundur dari pernikahan poligami itu. Aku mendukung keputusan kamu itu. Tapi sebelum itu. Aku harus memastikan jika kamu makan pil itu. Supaya tidak ada alasan kamu nantinya untuk kembali kepada Danish."
Tuan Santosh berpikir jika Sinar hanya berpura pura mengalah untuk mendapatkan perhatian Danish dan membatalkan pertunangan Danish dengan Bintang. Tuan Santosh tidak percaya jika Sinar begitu mudah melepaskan Danish. Tuan Santosh sangat yakin jika sudah terjadi sesuatu antara Danish dan Sinar selama bersama sama di perkampungan terilosi.
Sinar terkejut mendengar perkataan tuan Santosh. Dirinya masih suci tapi tuan Santosh sudah menilai dirinya negative. Bagaimana kalau tadi malam, Sinar tidak dapat mempertahankan kesuciannya. Pasti dirinya akan semakin dihina dan dianggap wanita murahan.
"Maaf tuan. Aku tidak butuh pil ini. Karena aku bukan wanita murahan seperti dugaan anda."
"Benarkah. Tapi aku tidak percaya?" tanya tuan Santosh sinis. Sinar mengepalkan tangannya karena marah. Susah payah dirinya menjaga kesuciannya tapi masih saja dicap sebagai wanita murahan.
"Tuan boleh tidak percaya. Hanya aku sendiri yang tahu aku seperti apa."
Tuan Santosh tertawa terbahak bahak mendengar perkataan Sinar. Dia merasa jika Sinar adalah wanita yang sok suci.
"Baiklah. Terserah kamu saja Sinar. Aku hanya tidak ingin mempunyai cucu dari wanita yang tidak jelas bibit, bebet dan bobot ibunya. Seandainya pun kamu tetap maju dalam pernikahan poligami itu. Hanya Bintang yang boleh memberikan cucu kepadaku."
__ADS_1
Sinar merasa dirinya tidak diinginkan dan tidak berarti. Jika dirinya tetap menikah dengan Danish dan tidak diperbolehkan dirinya mengandung. Itu artinya, pernikahan itu hanya sekedar menepati janji dan menjadikan dirinya budak bagi Danish. Untung saja Sinar sudah bertekad dalam hati tidak akan menikah dengan pria itu.
"Tuan tenang saja. Aku pasti memilih mundur. Aku sadar siapa diriku. Aku juga ingin secepatnya pergi dari rumah ini. Jika tuan berkenan. Tolong bantu aku keluar dari rumah ini hari ini juga."
"Pasti. Aku pasti menolong kamu dari rumah ini. Kamu boleh pergi dari rumah ini setelah Danish kembali dari liburannya. Aku tidak mau berseteru dengan Danish hanya karena kamu. Carilah kesempatan untuk pergi dari rumah ini ketika Danish sedang di rumah. Jika kamu pergi ketika dia tidak berada di rumah. Dia pasti mencurigai aku sebagai orang yang mengusir kamu."
Tuan Santosh berkata angkuh. Jika karena tidak memikirkan Danish. Saat ini juga. Dia pasti mengusir Sinar dari rumah itu. Dia menganggap Sinar sebagai wanita yang memanfaatkan pertolongannya kepada Danish untuk masuk ke dalam keluarga mereka demi hidup enak dan terpandang. Tuan Santosh tidak berani mengambil resiko membantu Sinar pergi dari rumah itu karena tadi malam Danish sudah mengancam dirinya. Danish juga akan keluar dari rumah ini jika Sinar tidak ada di rumah itu setelah dirinya pulang liburan.
Sinar terlihat kecewa mendengar perkataan Tuan Santosh. Itu artinya. Dirinya akan berada di rumah ini satu minggu lagi dan melihat wajah Danish.
"Ambil ini sebagai ucapan terima kasihku kepada kamu karena bersedia mundur dan mengalah dari pernikahan itu," kata Tuan Santosh sambil melemparkan tumpukan uang pecahan ratusan ribu ke hadapan Sinar.
Sinar menahan marah. Sinar merasakan dadanya sesak karena penghinaan itu. Benar, dirinya tidak mempunyai uang sepeser pun dan dirinya butuh uang. Tapi cara tuan Santosh memberikan uang itu kepada dirinya persis seperti memberikan makanan kepada binatang.
"Ingat Sinar. Setelah pertunangan Danish dan Bintang terlaksana. Aku tidak ingin melihat kamu lagi di rumah ini."
Tuan Santosh menekankan hal itu kepada Sinar karena dirinya dan Bintang sudah merencanakan pernikahan antara Danish dan Bintang saat pernikahan itu. Orang orang suruhan tuan Santosh sudah bekerja untuk membuat pertunangan menjadi pernikahan tanpa sepengetahuan Danish dan Nyonya Amalia.
"Baiklah Tuan. Aku usahakan secepatnya pergi dari rumah ini."
"Kamu harus ingat. Kamu pergi setelah Danish berada di rumah ini. Berani kamu pergi sebelum Danish pulang. Aku akan memberikan perhitungan dengan kamu dan keluarga mu," ancam Tuan Santosh.
"Baik Tuan," kata Sinar menurut. Dia ingin keluar secepatnya dari ruangan itu supaya tidak mendengarkan penghinaan dari mulut pria kaya itu.
"Pergilah. Ambil uangnya!" perintah tuan Santosh sinis.
Sinar ragu untuk mengambil uang itu. Tapi jika tidak mengambil uang tersebut. Bagaimana dirinya bisa kembali ke desanya tanpa uang. Jika dirinya mengambil uang itu. Maka pemikiran Tuan Santosh kepada dirinya benar adanya.
Setelah berpikir sebentar, akhirnya Sinar mengambil uang itu. Tapi tidak semuanya. Sinar hanya mengambil satu ikat yang isinya hanya satu juta.
"Terima kasih tuan," kata Sinar sopan. Tuan Santosh tidak menjawab. Dia sibuk memandangi layar ponselnya.
Meskipun tuan Santosh tidak menjawab Sinar. Wanita itu keluar dari ruangan itu. Sinar terkejut ketika dirinya sudah di luar ruangan, dia bertemu Nyonya Amalia.
"Sinar, kamu dari ruangan suamiku?" tanya wanita itu terlihat cemas dan menarik tangan Sinar menjauh dari ruangan itu.
"Katakan dengan jujur. Apa yang dikatakan suamiku kepada kamu. Apa dia membuat kamu sakit hati?"
Sinar menggelengkan kepalanya. Sikap nyonya Amalia memang berbeda dengan sikap Tuan Santosh. Tapi Sinar sengaja tidak memberitahukan penghinaan yang sudah dia terima dari tuan Santosh.
"Sinar, aku mohon. Apapun yang sudah dikatakan suamiku yang mungkin sudah menyakiti hatimu. Tolong, jangan kamu masukkan ke dalam hati kamu. Tolong, ingat rahasia kita berdua Sinar. Aku sangat yakin. Kita pasti berhasil," kata Nyonya Amalia. Sinar hanya menganggukkan kepalanya kemudian pamit ke kamarnya.
__ADS_1