
Rasa bersalah atas perbuatan Danish kepada Sinar membuat pria itu meminta maaf kepada Sinar setelah kepulangannya dari liburan. Sinar pun memaafkan Danish. Danish terlihat sangat menyesal. Satu minggu liburan bersama Bintang. Danish merasa tersiksa. Pada akhirnya, Bintang memang berhasil membuat liburan itu satu minggu sesuai rencana tapi Bintang tidak berhasil menjalankan rencana tersembunyi dibalik alasan liburan itu.
Danish terlihat sangat lega. Sinar dengan mudah memaafkan dirinya. Meskipun Sinar tidak menginginkan oleh oleh apapun. Ternyata Danish bersikeras membawa oleh oleh untuk Sinar. Lagi lagi Sinar tidak bisa menolak karena Danish meninggalkan oleh oleh itu begitu saja di kamar Sinar ketika Sinar berusaha menolak.
Seperti keinginan Tuan Santosh supaya Sinar meninggalkan rumah itu di saat Danish berada di rumah. Sinar juga selalu mencari kesempatan untuk kabur. Tapi ternyata penjagaan di rumah itu diperketat atas perintah dari Danish. Bahkan pertunangan yang akan di gelar beberapa hari lagi yang seharusnya diadakan di hotel berbintang diubah menjadi di rumah Danish. Bintang sudah berusaha memprotes karena dia menginginkan pertunangan itu diadakan di gedung yang mewah. Bukan hanya tempat yang diubah Danish. Tapi tamu undangan pun dibatasi.
Sinar semakin merasa tertekan. Keberadaannya di rumah itu sangat tidak diinginkan oleh tuan Santosh. Dan pria kaya itu menunjukkan rasa tidak suka itu dengan menatap Sinar dengan tajam. Terkadang jika kebetulan berpapasan. Tuan Santosh tidak segan segan menabrakkan bahunya ke tubuh Sinar.
"Kapan kamu keluar dari rumah ini. Pertunangan Danish tinggal beberapa hari lagi. Kami harus ingat, apa yang aku katakan pada waktu itu," kata Tuan Santosh dengan tajam saat Sinar bertemu pria itu di ruang makan. Tidak ada orang lain selain mereka berdua di ruang makan itu karena Danish dan Nyonya Amalia sudah berangkat ke kantor. Sinar berani melewati ruang makan itu karena berpikir jika Tuan Santosh sudah keluar dari rumah. Sepertinya tuan Santosh sengaja menunggu moment itu untuk mengingatkan Sinar.
"Iya tuan. Aku tidak lupa. Aku tidak bisa keluar dari rumah ini karena ternyata Danish sudah memberikan perintah kepada petugas keamanan tidak memperbolehkan aku keluar hingga melewati pagar."
Sinar mengatakan yang sejujurnya. Berkali Kali dirinya mencoba kabur tapi satpam yang di depan pasti menyuruh dirinya masuk kembali ke rumah.
"Batas waktumu di rumah ini hingga hari pertunangan Danish. Aku ingin melihat kamu menyaksikan pria yang kamu kejar bersanding dengan wanita yang sangat dicintai oleh Danish."
Tuan Santosh tersenyum sinis melihat Sinar menganggukkan kepalanya. Dia ingin melihat Sinar hancur menyaksikan pernikahan yang sudah diatur di hari pertunangan itu. Dia pun mengetahui apa yang dilakukan Danish memperketat penjagaan di rumah itu. Tuan Santosh juga sangat yakin jika perubahan tempat pertunangan yang akhirnya diadakan di rumah itu supaya Danish bisa mengawasi Sinar secara langsung. Tuan Santosh juga pesimis jika Sinar bisa kabur dari rumah itu. Tapi dia sengaja menekan Sinar supaya wanita itu mencari segala cara supaya bisa kabur.
Bukan hanya sikap Tuan Santosh yang membuat Sinar semakin tertekan. Bintang pun sudah mulai menunjukkan sifat aslinya. Hampir setiap bertemu dengan Sinar. Wanita selalu pamer pemberian Danish dan apa saja yang dilakukan Danish kepada dirinya.
"Sinar, lihat ini. Cantik tidak?" tanya Bintang sambil menunjukkan jari manisnya dihiasi cincin Berlian yang sangat cantik.
"Cantik," jawab Sinar singkat. Sinar merasa risih akan kedatangan Bintang di kamarnya yang sudah dia duga akan menceritakan perjalanan liburan selama satu minggu.
"Aku merasa wanita yang paling berbahagia di dunia. Dicintai oleh pria yang aku cintai dengan segenap jiwanya. Cincin ini adalah pemberian Danish."
Sinar hanya tersenyum. Dia mengetahui maksud Bintang hanya untuk pamer dan membuat dirinya cemburu.
"Aku juga meminta Danish untuk memberikan cincin yang sama cantiknya seperti ini untuk kamu. Tapi Danish mengatakan dia hanya akan memberikan cincin dan barang berharga hanya kepada wanita yang paling dicintainya. Aku jadi berpikir, jika kamu masih tetap bersikeras menikah dengan Danish. Aku takut, dia tidak bisa berlaku adil kepada mu."
"Danish mengatakan seperti itu?" tanya Sinar pura pura kesal. Bintang menganggukkan kepalanya. Dia senang melihat Sinar yang memperlihatkan wajah kesal.
"Maaf Sinar, tidak seharusnya aku mengatakan ini."
"Tidak apa apa Bintang. Aku justru berterima kasih atas apa yang kamu ceritakan ini."
"Sinar, ini gaunnya sudah dikecilkan. Di hari pertunangan ku nanti. Kamu memakai ini ya!. Kamu yang mengantarkan aku ke hadapan Danish nantinya."
__ADS_1
Bintang meletakkan paper bag berisi gaun abu abu itu di ranjang.
"Aku tidak mau memakai gaun ini Bintang. Aku tahu tujuan kamu memberikan gaun berwarna abu abu ini kepadaku. Gaun abu abu akan membuat aku terlihat gelap. Itu yang kamu inginkan kan?. Kamu ingin membuat aku tidak tampil menarik kan?" tanya Sinar berani.
Bintang terkejut. Dia tidak menyangka Sinar bisa mengetahui apa tujuannya memberikan gaun abu abu itu. Tujuannya memang supaya Sinar tidak tampil menarik di acara pertunangan itu. Bintang hanya ingin, Danish menatap dan mengagumi dirinya. Dia tidak ingin pandangan Danish kepada Sinar. Kalau boleh, Danish muak melihat penampilan Sinar.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Sinar. Aku memberikan ini murni karena..."
"Stop Bintang. Tidak perlu banyak berbicara kalau hanya untuk memperlihatkan sifat asli mu. Aku bisa memahami perasaan mu atas kehadiranku di rumah ini. Tapi tidak seharusnya kamu menyakiti perasaanku dengan berpura pura baik. Jalani apa yang ada di pikiran kamu. Kalau kamu berjodoh dengan Danish. Apapun tidak akan bisa memisahkan kalian termasuk aku."
Sinar sudah bosan dengan kata kata Bintang yang terkesan baik tapi mempunyai maksud tersembunyi.
"Kamu benar Sinar. Aku harus menjalani apa yang ada di pikiranku. Aku juga sangat yakin jika Danish adalah jodohku. Kami pasangan restu. Kami pasangan saling mencintai yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun termasuk kamu."
"Apa yang kamu yakini berbeda dengan apa yang kamu perlihatkan di hadapan ku Sinar. Kamu yang selalu pamer dengan pemberian dan apa yang dilakukan oleh Danish kepada mu. Aku kira itu mempunyai maksud tersembunyi."
"Tidak, aku tidak mempunyai maskud tersembunyi. Aku hanya berbagi kebahagiaan dengan kamu. Bukankah kita nanti berbagi suami. Jadi kita awali berbagi kebahagiaan dulu. Kamu juga boleh menceritakan apa yang diberikan atau yang sudah dilakukan Danish kepadamu."
"Kamu ingin tahu apa yang sudah diberikan dan dilakukan oleh Danish kepadaku?" tanya Sinar.
"Dia memberikan obat p*rangsang kepadaku supaya aku tidak pergi dari dirinya."
Bintang tidak hanya terkejut. Bintang merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak. Rasa cemburu di hatinya tidak hanya membuat Bintang marah tapi juga shock.
"Jadi kalian?" tanya Bintang pelan hampir tidak terdengar.
"Tidak. Aku tidak akan memberikan kesucianku kepada pria yang bukan suamiku. Kamu tahu kan. Aku adalah gadis miskin dan bodoh. Tidak ada hal yang berharga dalam diriku selain kesucianku. Aku tidak seperti kamu Bintang. Memaksa kondisi Danish berlibur hanya untuk menyerahkan dirimu kepada dia. Wanita terhormat, kaya, pintar tapi buta karena cinta.
Bintang merasakan dirinya tertampar mendengar perkataan Sinar. Niatnya untuk membuat Sinar cemburu dengan menceritakan apa yang dia dan Danish lakukan bahwa mereka sudah layaknya sebagai suami istri. Padahal Bintang tidak berhasil merayu Danish untuk melakukan hal itu.
"Bintang, kamu memang wanita yang sangat dicintainya oleh Danish. Dan kalian menikah karena saling mencintai. Jika seandainya, aku tidak jadi menikah dengan Danish. Kamu perlu mengingat. Dia melakukan berbagai cara supaya aku menikah dengan dirinya," kata Sinar lagi. Dia sengaja membalas Bintang saat ini bukan karena merasa cemburu tapi karena Sinar muak dengan sikap Bintang. Katanya siap dipoligami, katanya wanita yang berwawasan luas tapi kelakuanya seperti anak anak.
"Jadi kamu masih ingin menikah dengan Danish?" tanya Bintang pelan.
"Kita lihat saja nanti," kata Sinar. Dia sengaja tidak memberikan jawaban yang pasti kepada Bintang untuk memberikan pelajaran bagi wanita itu. Bintang mendadak gelisah, dia beranjak dari duduknya dan tanpa permisi keluar dari kamar Sinar.
Beberapa hari kemudian. Hari pertunangan yang ditunggu oleh Danish dan Bintang akhirnya tiba juga.
__ADS_1
Bintang terlihat sangat bahagia. Di ruang salon pribadi Nyonya Amalia. Tiga wanita sedang dirias untuk tampil dalam acara pertunangan itu. Tiga wanita itu adalah Sinar, Bintang dan Nyonya Amalia. Sebenarnya, Bintang tidak dirias di ruangan itu karena seharusnya tadi malam dia harus menginap di rumah orang tuanya. Tapi rasa takut yang berlebihan di hati Bintang. Akhirnya wanita itu menginap di rumah itu. Bintang takut, Sinar melakukannya sesuatu untuk menghancurkan pertunangannya hari ini.
Bintang sering terlihat tersenyum melihat tampilan wajahnya di cermin yang terlihat semakin cantik. Hari ini, sesuai dengan rencana tersembunyi yang dia lakukan dengan tuan Santosh. Bintang akan menjadi seorang istri. Lewat ponsel miliknya, dia berkomunikasi dengan tuan Santosh jika semuanya sudah beres.
"Sinar, bisakah kamu membantu aku memakai gaun pertunanganku?" tanya Bintang. Mereka bertiga sudah selesai dirias tinggal memakai gaun.
"Boleh. Mana gaunnya," jawab Sinar.
"Masih di kamarku."
"Aku akan menyusul kamu," kata Sinar. Bintang keluar dari ruangan salon itu sedangkan Sinar masuk ke ruangan pribadi Nyonya Amalia karena gaun yang akan dia kenakan ada di ruangan itu.
"Ini gaunnya Sinar. Sini aku bantu," kata Nyonya Amalia. Wanita itu tampil sangat cantik dengan kebaya yang membalut tubuhnya.
Sinar mendekat. Ketika nyonya amalia mengambil sebuah gaun dari lemari kaca. Sinar terkejut melihat warna dan bahan gaun itu sama dengan kebaya yang dikenakan oleh Nyonya Amalia. Nyonya Amalia membantu Sinar memakai gaun itu. Gaun yang cantik yang membalut tubuh Sinar dan membuat wanita itu juga tampil berbeda.
Nyonya Amalia sangat puas melihat penampilan Sinar. Perpaduan gaun berwarna pink muda dan riasan yang tidak mencolok membuat Sinar tampil lebih segar dan cerah.
Jika Nyonya Amalia merasa puas melihat penampilan Sinar. Bintang justru sangat tidak menyukai penampilan rivalnya itu. Bintang merasa tersaingi. Bintang takut, penampilan Sinar yang berbeda akan mencuri perhatian Danish.
Bintang diam diam memperhatikan Sinar ketika wanita itu membantu dirinya memakai gaun ala Cinderella itu.
"Sinar, apa tante Amalia menghadiahi kamu kalung itu?" tanya Bintang. Mata bisa menangkap kemewahan dalam kalung yang dikenakan oleh Sinar. Kalung berliontin mutiara asli itu sangat cantik dan unik.
"Tidak."
"Jadi darimana kamu mendapatkan itu."
"Aku mendapatkan kalung ini dari seorang pria yang mengaku sangat mencintai kekasihnya. Kekasih dari wanita yang mengaku jika pria itu hanya memberikan barang berharga kepada wanita yang sangat dicintainya."
"Maksud kamu dari Danish?" tanya Bintang tidak percaya.
"Tanya Danish kalau tidak percaya. Ayo, acaranya sudah hampir mulai. Seperti keinginanmu aku akan mengantarkan kamu hingga ke hadapan Danish," kata Sinar tenang. Di awal menyetujui pernikahan poligami. Bintang meminta Sinar untuk mengantarkan dirinya ke hadapan Danish di saat pertunangan. Dan saat ini. Sinar akan menepatinya.
"Tidak Sinar, tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri ke hadapan Danish. Kamu bantu bantu pihak catering saja ya!. Pastikan tamu kita semuanya mendapatkan makanan."
Bintang menolak dengan cepat. Dia sengaja menyuruh Sinar untuk membantu pihak catering supaya Sinar tidak terlihat di acara pertunangannya itu.
__ADS_1