
Tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Seperti itu lah yang dirasakan Sinar saat. Sinar boleh berbahagia atas cinta Danish dan juga restu kedua orangtuanya dan juga Nyonya Amalia. Tapi jauh di lubuk hatinya, Sinar sangat merasa gelisah karena sikap Tuan Santosh. Sejujurnya, Sinar takut jika Sikap calon papa mertuanya itu suatu saat menjadi bumerang dalam hubungannya dengan Danish.
Berkaca pada pengalaman para pasangan pejuang restu lainnya. Sinar akhirnya mantap melanjutkan pernikahan itu. Bukan satu atau dua pasangan seperti dirinya dan Danish tapi akhirnya bisa juga bahagia dan pernikahan awet dan langgeng. Sinar tidak bermaksud egois karena terus maju dalam pernikahan itu. Tapi Danish dan Nyonya Amalia juga yang juga menginginkan pernikahan itu dilaksanakan secepatnya.
Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba juga. Pernikahan Danish dan Sinar akan dilaksanakan hari ini di sebuah gedung mewah yang biasa dipakai orang orang hebat menggelar acara di kota itu. Danish dan Sinar bisa bernafas dengan lega setelah mereka resmi menjadi suami istri.
"Percaya padaku. Pernikahan ini bukan sekedar menepati janji atau pun pernikahan karena balas budi. Aku menikahi mu karena menginginkan kamu menjadi pendamping hidupku hingga ajal menjemput. Aku menikahi mu karena aku mencintai mu," kata Danish setelah mereka sudah menerima ceramah tentang pernikahan. Mereka kini sudah duduk di pelaminan.
"Aku percaya Danish."
Hanya itu yang keluar dari mulut Sinar. Bukan tidak ingin membalas kata kata suaminya itu lebih panjang tapi mata Sinar terusik dengan kehadiran para tamu yang sudah mulai memenuhi ruangan itu.
Sinar terpana. Para tamu undangan itu bukan orang orang biasa melainkan orang orang yang sering muncul di televisi. Sinar bisa mengenali para tamu itu karena kebanyakan dari mereka adalah pejabat aktif di negeri ini.
"Danish, siapa yang mengundang mereka?" tanya Sinar dengan mata yang tidak berkedip melihat orang yang sedang berjabat tangan dengan Tuan Santosh. Orang itu adalah orang yang berpengaruh nomor satu di negeri ini.
"Papa, siapa lagi," kata Danish.
Sinar menundukkan kepalanya. Sejak menginjakkan kakinya di rumah Danish pertama kalinya. Sinar mengetahui jika keluarga Danish adalah orang kaya tapi dia tidak menyangka jika ternyata papa mertuanya tidak hanya sebagai pengusaha tapi juga seorang pejabat. Sinar tidak terlalu ingin tahu selama ini tentang keluarga Danish karena Sinar mencintai Danish bukan karena keadaannya yang berada.
Sinar semakin grogi ketika satu persatu para tamu terhormat itu naik ke pelaminan dan mengucapkan selamat berbahagia kepada mereka. Berbeda dengan Danish yang santai menghadapi para tamu undangan itu. Sinar sampai berkeringat dingin. Sinar bahkan hanya bisa tersenyum kaku ketika fotografer memotret mereka dengan para tamu undangan terhormat itu.
Sinar dapat melihat kebahagiaan di dalam diri Danish. Pria itu terlihat ceria dan terkadang tertawa menanggapi ucapan selamat dari para tamu undangan. Sinar juga dapat melihat tuan Santosh dan Nyonya Amalia terlihat menikmati pesta pernikahan itu Senyum selalu terukir di bibirnya menyambut para tamu. Sedangkan pak Ilham dan ibu Yanti. Mungkin sama seperti dirinya yang terkejut dan terpana melihat para tamu undangan tersebut.
Dihadiri para tamu undangan yang hebat hebat tidak membuat Sinar besar kepala atau sombong. Yang ada wanita semakin merasa insecure. Melihat bagaimana hebatnya keluarga Danish Sinar semakin merasa tidak pantas untuk mendampingi Danish.
Acara resepsi pernikahan itu juga dimeriahkan oleh artis artis yang sedang hits. Tapi Sinar tidak terlihat menikmati suara suara merdu milik artis tersebut. Sinar sibuk mengatasi rasa insecure sehingga wanita itu lebih terlihat sedang menundukkan kepalanya.
"Tegak kan kepala mu Sinar. Nyonya Danish tidak boleh menundukkan kepalanya di hadapan siapapun. Termasuk pada mereka," kata Danish. Sepertinya pria itu dapat melihat apa yang dirasakan oleh Sinar.
"Aku malu Danish."
"Mengapa harus malu."
"Aku rakyat jelata sedangkan kamu rakyat terpandang. Aku orang miskin sedangkan kamu orang yang memiliki segalanya."
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak memandang orang dari apa yang dia punya. Tapi aku memandang orang dari hatinya. Kamu memiliki yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan yang dimiliki oleh orang lain. Kini kamu sudah memilikinya. Apa yang aku miliki otomatis milik mu juga. Tegak kan kepala mu," kata Danish lagi. Sinar menurut dan berusaha untuk tersenyum manis kepada tamu undangan yang kini sudah ada di hadapannya.
Para tamu undangan terlihat menikmati jamuan pesta mewah itu. Tapi tidak dengan Sinar. Wanita itu semakin gelisah ketika dua wanita sosialita sedang membicarakan dirinya.
"Nyonya Amalia beruntung ya. Dapat menantu cantik dan sepertinya masih muda. Untung juga putranya tidak jadi menikah dengan Bintang putri dari pak Idrus yang tersandung kasus itu."
"Iya benar. Padahal Danish dan Bintang sudah melaksanakan pertunangan. Ya, itu tadi namanya jodoh. Tidak ada yang tahu. Mungkin itulah sebabnya. Pak Santosh menjodohkan Danish dengan istrinya yang sekarang."
"Ooo, jadi pernikahan ini adalah pernikahan perjodohan. Langkah yang tepat yang dilakukan oleh pak Santosh. Bagaimana pun dia ingin yang terbaik untuk putranya. Apa besannya juga pengusaha?"
"Menurut yang aku dengar dari suamiku. Katanya besannya itu pengusaha tapi di luar kota."
"Pintar juga pak Santosh memilih besan."
"Ya wajar lah. Dia hanya mempunyai satu putra tidak mungkin dia mau besannya dari kelas kaleng kaleng."
"Lalu istri Danish sendiri?"
"Ya pewaris perusahaan orangtuanya donk. Masa itu juga ditanya."
Sinar menoleh ke arah kedua orang tuanya. Di lihat dari tampilan mereka memang tidak terlihat seperti orang susah karena pakaian yang mereka kenakan sama bagusnya dengan pakaian yang dikenakan oleh keluarga danish. Sinar sekarang paham, mengapa tuan Santosh memberikan hadiah kepada ibu Yanti satu set perhiasan mahal dan mewah dan harus dipakai di acara pernikahan ini ternyata supaya kebohongannya tertutupi dengan penampilan ibu Yanti.
Kebahagiaan di awal acara yang dirasakan oleh Sinar kini berubah menjadi beban. Sinar semakin gelisah ketika melihat tuan Santosh tersenyum kepada dirinya. Sinar dapat merasakan senyum itu tidak tulus.
"Hai, selamat berbahagia."
Sinar tersentak dari rasa gelisah itu. Sosok wanita cantik berdiri di hadapannya. Wanita itu adalah Bintang. Ternyata wanita itu mempunyai nyali juga untuk menghadari pernikahan mantan tunangannya. Di sebelah Sinar. Danish menatap Bintang dengan tajam. Pria itu tidak menyukai kedatangan Bintang.
"Terima kasih Bintang," jawab Sinar.
"Maaf ya. Aku tidak membawa kado," kata Bintang tenang.
"Tidak apa apa Bintang. Doa mu adalah yang terutama," jawab Sinar. Melihat sikap tenang yang diperlihatkan Bintang. Sinar merasa jika Bintang berkata tulus.
"Tapi sayangnya. Aku ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk sementara. Tenang saja, aku tidak akan merebut suami mu ini. Tapi aku akan berusaha bangkit dari keterpurukan keluargaku. Dan aku buktikan jika bisnis papa ku bersih. Dan jika saat itu tiba. Aku pastikan suami mu akan menyesal telah mencampakkan aku. Aku pintar bukan seperti kamu bodoh. Ingat, mertua mu menginginkan menantu yang hebat. Dan mereka tidak akan menemukan itu dalam dirimu."
__ADS_1
Tanpa menjabat tangan Danish dan Sinar. Bintang berlalu dari hadapan pengantin itu.
Danish merapatkan giginya dengan tangan yang terkepal mendengar perkataan Bintang. Karena marah, pria itu hendak mengejar Bintang tapi dengan cepat Sinar menahan Danish. Dia tidak ingin acara pernikahan itu menjadi berantakan karena Sinar dapat menangkap itu yang diinginkan Bintang.
"Sinar, selamat berbahagia."
Sinar sedikit terhibur dengan kedatangan Hana dan dua ibu yang menjadi anggotanya.
"Semuanya sangat mewah Sinar. Para tamunya hebat hebat semuanya. Dan asal kamu tahu. Kami hampir tidak bisa masuk ke gedung ini."
"Kok bisa?"
Hana menceritakan pengalaman mereka yang dicegat petugas keamanan. Mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung karena tidak ada di daftar undangan. Untuk bisa masuk ke ruangan itu mereka harus menyerahkan kartu identitas dan ponsel sebagai jaminan.
"Maaf ya Hana. Ibu. Sebenarnya aku sudah mendaftarkan nama kalian sebagai tamu undangan di pesta ini. Tapi entah mengapa sampai bisa tidak terdaftar seperti itu," kata Danish. Danish tidak berkata bohong karena memang seperti itu kenyataannya.
Sinar sangat sedih mendengar apa yang diceritakan oleh Hana. Hana adalah sahabat yang banyak membantu dirinya selamanya ini tapi untuk ikut berbahagia di hari pernikahannya harus mengalami hal yang tidak enak. Melihat tatapan tuan Santosh yang terlihat jijik kepada sahabat dan anggotanya. Sinar sangat yakin jika apa yang dialami oleh Hana adalah perbuatan tuan Santosh. Tapi Sinar hanya memendamnya dalam hati dan tidak berniat menceritakan kecurigaannya kepada Danish.
Acara resepsi pernikahannya itu akhirnya selesai juga. Sesuai dengan perkataan Danish sebelumnya. Sinar tidak akan dibiarkan tinggal satu atap dengan Tuan Santosh. Nyonya Amalia sudah menyiapkan rumah untuk ditempati Sinar dan Danish setelah menikah.
"Jadi yakin pulang ke rumah?. Tidak menginap di hotel?" tanya Nyonya Amalia. Para tamu undangan sudah tidak terlihat lagi hanya ada kerabat dekat dari pihak Danish di ruangan itu.
"Tidak mama. Ke rumah saja. Ke hotel bisa lain kali," jawab Danish. Pulang ke rumah adalah kesepakatan Sinar dan Danish sejak dua hari yang lalu karena mengetahui jika pak Ilham, ibu Yanti dan kakek Joni langsung pulang ke kampung setelah acara pernikahan itu selesai. Tapi karena bujukan Danish, kedua orang tua Sinar dan kakek Joni bersedia menginap satu malam dan besoknya harus kembali ke kampung. Danish berencana membawa kedua orang tua Sinar dan kakek Joni untuk menginap di rumah barunya.
"Benar begitu Sinar?" tanya Nyonya Amalia.
"Benar mama," jawab Sinar. Nyonya Amalia tersenyum. Dia sudah mengingatkan Sinar tadi pagi harus memanggil dirinya dengan sebutan mama setelah mereka resmi menjadi suami istri. Melihat Sinar tidak diingatkan sampai dua kali. Nyonya Amalia sangat senang.
"Orang kampung Mana nyaman menginap di hotel ma. Biarkan saja mereka menginap entah dimana. Yang penting Danish selalu dalam keadaan baik dan sehat," kata Tuan Santosh sinis.
Sinar spontan memegang dadanya dan menoleh ke arah kedua orangtuanya yang duduk tidak jauh dari mereka. Sinar takut orangtuanya mendengar perkataan tuan Santosh dan mengetahui tidak restu tuan Santosh akan hubungan mereka. Sinar menarik nafas lega karena sepertinya pak Ilham dan ibu Yanti tidak mendengar perkataan tuan Santosh itu.
Nyonya Amalia dan Danish menatap Tuan Santosh dengan tajam. Untuk berdebat rasanya tidak mungkin karena masih ada kerabat dan kedua orang tua Sinar di tempat itu.
"Jangan dibawa ke hati ya Sinar," bisik Nyonya Amalia. Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Hatinya sakit tapi harus berusaha menutupinya.
__ADS_1
"Sinar, Pernikahan kamu dengan Danish otomatis menaikkan derajat mu dan keluarga mu. Jadi jangan sampai turun kembali karena kamu tidak bisa memberikan kami cucu," kata Tuan Santosh lagi membuat hati Sinar semakin sakit. Kali ini, suara tuan Santosh terdengar pelan tapi kata kata itu sangat menyakitkan. Sinar masih mengingat bagaimana tuan Santosh berkata jika hanya Bintang yang akan memberikan cucu kepadanya tapi saat ini. Perkataan tuan Santosh terdengar bagaikan ancaman di telinganya.