
Kebahagiaan Sinar dan Danish berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Bintang. Berusaha mengihklaskan pernikahan mantan tunangannya dengan Sinar tapi tetap saja Bintang merasakan sakit hati yang luar biasa. Impian bersanding dengan Danish sudah tidak ada harapan lagi.
Di kamarnya, Bintang menangis sepanjang malam. Berpura pura tegar menghadiri pernikahan Danish dan Sinar ternyata hatinya tidak sekuat itu. Bintang belum bisa berpaling dari Danish. Tapi Bintang juga sadar jika dirinya tidak mempunyai tempat khusus di hati pria yang pernah sangat mencintainya itu.
Bintang menangis sambil menampar pipinya sendiri.
"Untuk apa wajah cantik dan tubuh yang indah ini kalau tidak dimiliki oleh pria yang sangat aku cintai."
Berkali kali, Bintang menampar pipinya sendiri. Rasa sakit akibat tamparan itu seakan tidak ada apa apanya dibandingkan dengan hatinya yang sudah hancur lebur.
Bukan hanya kehilangan Danish. Kini, Bintang juga kehilangan rasa percaya dirinya. Di saat hancur seperti ini. Dia butuh sosok teman yang seharusnya menguatkan dirinya. Tapi karena kasus pak Idrus. Semua teman temannya menjauh dari Bintang.
"Nathan."
Bintang tiba tiba mengingat nama itu. Setelah mengusap wajahnya dengan kasar. Bintang keluar dari kamar. Dia tidak menghiraukan pertanyaan mamanya. Bintang berlari kecil keluar dari rumah.
"Untuk apa kamu datang ke rumah ku?.
Pertanyaan ketus menyambut Bintang di rumah Nathan. Nathan bahkan masih terlihat enggan membuka pintu lebar lebar untuk mantan tunangan sahabatnya itu.
"Nathan, boleh kah aku masuk terlebih dahulu. Aku ingin membiasakan sesuatu dengan kamu," kata Bintang.
Nathan terlihat berpikir sebentar kemudian melihat pergelangan tangannya.
"Aku sibuk. Sebentar lagi akan ke kantor."
"Hanya beberapa menit," kata Bintang dengan wajah yang memohon.
"Masuklah."
Nathan membuka pintunya lebar kemudian membalikkan badannya. Bintang mengikuti langkah pria itu. Bintang tersenyum sinis melihat penampilan Nathan. Pria itu mengaku sebentar lagi akan ke kantor sementara dia masih berpakaian biasa.
Bintang duduk tanpa dipersilahkan duduk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nathan. Pria itu tidak berbasa basi. Karena Nathan juga sudah mengetahui semua yang dilakukan oleh Bintang terhadap Danish termasuk tentang Bunga Edelweiss itu. Bukan hanya kecewa terhadap Bintang. Nathan juga marah pada wanita itu karena tindakan Bintang bukan hanya membahayakan Danish tapi juga komunitasnya.
Bintang menarik nafas panjang dan kedua tangannya saling meremas. Sikap Nathan tidak sesuai dengan harapannya. Dia berpikir, Nathan akan memperlakukan dirinya dengan lembut mengingat pria itu adalah buaya tapi kenyataannya. Nathan bersikap ketus kepada dirinya.
"Kalau tidak ada. Sebaiknya kamu pergi saja," usir Nathan membuat Bintang tergagap.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan kamu Nathan," kata Bintang akhirnya. Nathan mengerutkan keningnya.
"Bantuan apa. Merebut Danish kembali setelah apa yang kamu lakukan?.
Bintang menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku butuh pinjaman."
Nathan spontan tertawa terbahak bahak. Entah apa yang lucu dari perkataan Bintang itu.
"Apa om Santosh tidak bisa kamu peras lagi?" tanya Nathan sinis.
Sebenarnya sudah lama mulutnya gatal ingin mengejek Bintang seperti saat ini. Sebagai seorang sahabat Danish. Nathan juga membenci Bintang atas semua pemerasan yang dilakukan oleh Bintang terhadap keluarga Danish.
"Apa trik tentang Bunga Edelweiss itu tidak bisa lagi membuat Om Santosh ketakutan?" tanya Nathan membuat Bintang semakin menundukkan kepalanya.
"Aku terpaksa melakukan itu Nathan. Itu ide papaku."
Akhirnya Bintang tak ingin hanya dirinya disalahkan karena bunga Edelweiss itu.
"Papa dan putrinya sama saja jahatnya," umpat Danish membuat Bintang semakin menundukkan kepalanya.
Nathan menatap wanita yang duduk di hadapannya. Bintang berbicara dengan suara yang hampir menangis. Tapi sedikit pun, Nathan tidak merasa kasihan. Nathan justru lebih kasihan kepada Danish karena sahabatnya itu masih belum bisa tenang karena ancaman bunga Edelweis itu belum bisa diselesaikan dengan baik. Bintang masih menyimpan video bukti ketika Danish mengambil bunga tersebut.
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Nathan.
"Lima puluh juta." Nathan terkekeh.
"Aneh ya, sekelas pak Idrus. Putrinya harus meminjam lima puluh juta," ejek Nathan.
"Tolong aku Nathan."
"Apa setelah aku memberikan pinjaman. Kamu yakin bisa mengembalikan nya. Jika tidak bisa. Dengan apa kamu membayar utangmu?" tanya Nathan lagi. Kata kata yang terkesan merendahkan harga diri Bintang.
"Aku akan berusaha membayarnya. Aku minta tolong Nathan," kata Bintang.
"Bagaimana jika kamu membayar dengan tubuhmu?"
Bintang menatap Nathan. Dia tidak percaya Nathan bisa berbicara seperti itu mengingat dirinya dan Nathan juga berteman baik selama ini.
__ADS_1
"Aku tidak serendah itu. Aku pasti bisa membayar dalam tempo dua bulan. Nathan, tolong!.
"Aku tidak bisa mempercayai perkataan mu. Uang Lima puluh juta tidak sedikit. Jadi, pergilah!.
Di tempat yang berbeda. Sinar dan Danish terlihat turun dari mobil. Mereka mengunjungi rumah kedua orang tua Danish karena undangan Nyonya Amalia.
"Sinar, Danish," sapa Nyonya Amalia melihat kedatangan putra dan menantunya di ruang tamu itu. Nyonya Amalia tidak sendiri di ruang tamu. Banyak ibu ibu berpenampilan mewah di bersama Nyonya Amalia.
"Aku langsung ke ruang kerja papa ya ma," kata Danish setelah menyapa dan bersalaman dengan teman temannya Nyonya Amalia.
"Iya pergilah. Ini memang arisan para wanita. Tidak seharusnya kamu disini. Sinar, sini duduk dekat mama," kata Nyonya Amalia. Para ibu ibu yang lainnya terdengar tertawa. Sinar menurut dengan perkataan mama mertuanya.
Duduk bersama dengan teman arisan mama mertuanya. Sebenarnya, Sinar merasa kurang nyaman. Tapi demi menghargai Nyonya Amalia. Sinar tidak bisa menolak permintaan mama mertuanya. Diam diam Sinar memperhatikan wanita wanita berpenampilan mewah itu. Tidak semua seusia Nyonya Amalia. Ada juga yang muda. Anggota arisan itu bisa dikatakan dari berbagai kalangan usia. Sinar berusaha melawan rasa kurang percaya dirinya dengan duduk tenang.
"Sinar, mama sudah mendaftarkan kamu jadi anggota arisan ini. Nama arisan kita. Arisan Wacana atau arisan Wanita Cantik Mempesona."
Sinar mendongakkan kepalanya. Menatap sang mertua. Nyonya Amalia menganggukkan kepalanya dan mengelus tangan Sinar dengan lembut untuk menyakinkan jika keputusannya mendaftarkan Sinar dalam arisan itu adalah yang tepat.
Di arisan Wacana bukan sekedar arisan yang mempunyai jadwal berkumpul setiap bulan. Tapi arisan itu bisa menjadi wadah bagi Sinar untuk mendapatkan ilmu dari wanita wanita sukses yang menjadi anggota di dalamnya. Sebagai salah satu orang yang membentuk arisan itu. Nyonya Amalia sangat selektif memilih calon anggota yang bergabung. Nyonya Amalia ingin Sinar mendapatkan pengalaman pengalaman baru nantinya sehingga Sinar bisa semakin berkembang menjadi wanita yang tidak hanya mandiri tapi juga menjadi wanita yang mempunyai pergaulan yang sehat seperti dirinya.
"Selamat bergabung Sinar."
Sinar hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan gugup mendapatkan sambutan dari para anggota arisan Wacana itu.
"Dia menantu ku.Aku sangat berharap kepada kita semua disini untuk bisa saling berbagi ilmu demi kualitas diri kita masing masing. Terutama berbagi ilmu kepada anggota baru kita yaitu Sinar," kata Nyonya Amalia.
"Pasti bu Amalia," jawab salah satu dari anggota arisan itu. Sinar tersenyum melihat penyambutan hangat dari para anggota arisan itu.
Di ruang kerja tuan Santosh. Pria itu terlihat memberikan nasehat panjang lebar kepada Danish.
"Jangan terlalu royal kepada mertua mu," kata Tuan Santosh..
"Jangan buat aku tidak nyaman dengan orang orang suruhan mu, pa. Aku sudah dewasa."
"Kamu yang membuat papa tidak tenang. Seenaknya saja kamu memanjakan mertuamu itu dengan membuat usaha toko sembako untuk mereka."
Danish menatap papanya dengan kecewa. Harta yang dimiliki oleh tuan Santosh sangat banyak. Dan modal membuka usaha toko sembako itu tidak seberapa dibandingkan dengan harta mereka.
"Harta tidak dibawa mati Pa. Jika dengan harta yang kita punya bisa membuat orang lain merasa terbantu. Mengapa Kita tidak melakukannya. Ingat uang yang papa keluarkan untuk Bintang. Mana yang lebih berguna. Yang aku keluarkan untuk membuka toko sembako untuk mertuaku atau uang yang papa keluarkan untuk Bintang?"
__ADS_1