
"Bintang, apa Bintang yang dipanggil oleh ibu itu adalah Bintang yang kami kenal?" tanya Tuan Santosh. Sinar tidak bisa mengelak lagi. Tidak ada gunanya mencari alasan atau mengarang jawaban. Bintang dan kedua mertuanya sudah berada di atap yang sama. Jika berbohong akan menjadi fatal akibatnya. Sinar akhirnya menganggukkan kepalanya pelan dan menundukkan kepalanya.
"Apa yang dia lakukan di sini Sinar?" tanya Nyonya Amalia pelan.
"Dia bekerja disini ma."
Kedua mertua Sinar itu terlihat terkejut.
"Bekerja disini?" tanya Nyonya Amalia tidak percaya. Sinar kembali menganggukkan kepalanya.
"Kok bisa?" tanya Nyonya Amalia lagi. Suaranya sangat pelan seperti berbisik.
"Panjang ceritanya ma," jawab Sinar. Sinar mengangkat kursinya dan duduk di dekat Nyonya Amalia supaya apapun pembicaraan mereka tentang Bintang tidak terdengar kepada para anggotanya yang sedang serius bekerja.
"Apa Danish mengetahui ini?" tanya Nyonya Amalia. Sinar menganggukkan kepalanya. Sinar tidak asal bertindak sendiri. Meskipun usaha keripik ubi itu adalah usahanya sendiri. Sinar juga meminta pendapat Danish untuk itu. Dan Danish tidak keberatan.
Di dalam kamar Hana. Bintang menggigit bibirnya sendiri. Kemudahan hidup yang didapatkan beberapa bulan ini kini terusik dengan kehadiran tuan Santosh dan Nyonya Amalia di tempat itu. Bintang takut, tuan Santosh dan Nyonya Amalia tidak setuju jika dirinya bekerja untuk Sinar dan meminta Sinar untuk memecat dirinya.
Sungguh, Bintang tidak ingin kehilangan mata pencaharian ini. Pendapatannya memang tidak banyak tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan sang mama. Jika dirinya diberhentikan dari pekerjaan ini. Bintang akan kembali merasakan hidup yang untuk makan saja susah. Apalagi kehamilan sudah memasuki usia enam bulan. Masih Banyak kebutuhan untuk sang janin yang harus dilengkapi.
Bintang masih berpikir. Apakah dia keluar dari persembunyiannya atau masih tetap di kamar itu menunggu kedua mertua Sinar itu pergi. Ada hal yang ditakutkan oleh Bintang jika dirinya keluar dari kamar. Dia takut, tuan Santosh akan menunjukkan kebenciannya. Jika itu terjadi. Bintang akan menanggung malu di hadapan teman teman kerjanya. Selama beberapa bulan bekerja di tempat itu. Baik Sinar maupun Bintang tidak pernah menceritakan kisah Masa lalu mereka.
"Panggil Bintang kemari Sinar," kata Tuan Santosh dingin. Sinar menatap wajah papa mertuanya. Dia ingin protes dan tidak ingin mempertemukan Bintang dan kedua mertuanya tapi Sinar tidak mampu mengeluarkan kata kata protes.
"Untuk apa pa?"
Tuan Santosh menatap Sinar dengan tajam. Melihat tatapan itu akhirnya Sinar beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke kamar dimana Bintang bersembunyi.
"Sinar, bagaimana ini?" tanya Bintang khawatir. Sinar menarik nafas panjang. Dia kasihan melihat wajah Bintang yang terlihat ketakutan.
"Tuan Santosh meminta kamu menemui beliau Bintang," kata Sinar membuat wajah Bintang semakin memucat. Dia sudah menduga jika Tuan Santosh akan melampiaskan kemarahan kepada dirinya atas segala perbuatan yang dia lakukan di masa lalu kepada Danish dan kepada Tuan Santosh. Mengingat perbuatan jahatnya. Bintang sangat menyesal dan sepertinya penyesalannya sudah terlambat. Kesalahan demi kesalahan yang dia perbuat hanya memperburuk keadaannya saat ini. Bintang sudah menduga jika Tuan Santosh akan mengusir dirinya dari rumah itu sekarang juga.
"Sinar, bisakah aku disini saja sampai mereka pergi. Aku malu dan takut bertemu dengan kedua mertua mu. Apalagi di hadapan teman teman yang lain," jawab Bintang jujur.
"Tidak bisa Bintang. Sebaiknya kamu temui mereka. Setidaknya kamu minta maaf atas segala kesalahan mu di masa lalu. Tentang teman teman. Aku akan meminta mereka untuk beristirahat lebih awal."
Bintang menganggukkan kepalanya. Sinar keluar dari kamar itu dan memberikan waktu istirahat lebih awal kepada teman temannya. Ibu ibu yang bekerja di tempat Sinar itu adalah tetangga sekitar. Mendapatkan istirahat lebih awal tentu saja para ibu ibu itu memanfaatkan waktu istirahat itu untuk mengerjakan pekerjaan di rumah masing masing yang belum terselesaikan. Sedangkan Hana memilih pergi ke pasar untuk belanja bahan untuk besok.
Tuan Santosh dan Nyonya Amalia saling berpandangan setelah melihat Bintang di hadapan mereka. Mereka sangat terkejut melihat keadaan Bintang yang sedang hamil dengan banyak perubahan dalam diri Bintang. Bukan hanya perut buncit itu yang membuat tuan Santosh dan Nyonya Amalia terkejut tapi juga dengan wajah Bintang yang sepertinya tidak terurus sangat berbeda ketika wanita itu menjadi kekasih Danish.
__ADS_1
"Bintang, kamu hamil. Anak siapa?" tanya Nyonya Amalia. Bintang yang sudah duduk di kursi plastik di dekat Sinar hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Anak Nathan tante."
Nyonya Amalia dan Tuan Santosh terdengar menarik nafas bersamaan. Melihat Bintang hamil. Prasangka buruk sudah bersarang di otak mereka dan prasangka buruk itu hilang setelah mendengar jawaban Bintang.
"Tante, om. Aku minta maaf," kata Bintang pelan.
"Gampang kamu minta maaf setelah apa yang kamu lakukan kepada putraku dan melakukan pemerasan terhadapku," jawab tuan Santosh sinis. Bintang sudah terlihat gemetar. Perkataan tuan Santosh jelas menunjukkan tidak menerima permintaan maafnya.
Hal yang wajar jika Tuan Santosh belum bisa memaafkan Bintang mengingat kejahatan Bintang direncanakan untuk melindungi Pak Idrus. Bukan hanya kejahatan terencana itu. Pemerasan dan ancaman untuk menerima uang membuat tuan Santosh sangat muak melihat Bintang.
"Pasti Nathan juga tidak mau bertanggung jawab atas dirimu kan. Wanita murahan seperti kamu memang pantas mendapatkan penderitaan seperti ini. Beruntung, Danish tidak tergoda dengan tubuh murahan mu itu."
Tuan Santosh melampiaskan kebenciannya. Melihat Bintang menangis, sedikit pun tidak ada rasa kasihan di hatinya. Berbeda dengan Nyonya Amalia. Melihat keadaan Bintang seperti ini. Wanita itu seakan melupakan kejahatan yang diperbuat oleh Bintang. Nyonya Amalia benar benar kasihan kepada Bintang. Dalam hati, Nyonya Amalia sangat setuju dengan tindakan Sinar yang menolong Bintang. Nyonya Amalia semakin mengagumi kebaikan menantunya itu. Tidak hanya memaafkan Bintang atas sakit hati yang dibuat oleh wanita itu. Sinar bahkan memberikan mata pencaharian untuk Bintang.
Bintang hanya dapat menangis. Dia pun membenarkan kata kata Tuan Santosh itu di dalam hatinya. Dia pantas mendapatkan penderitaan ini. Pak Idrus sudah sangat terlalu jahat dan dia mendukungnya kejahatan itu dengan bersedia menuruti rencana yang dibuat oleh papanya itu.
Sedangkan Sinar juga ikut terdiam. Dia tidak bisa memberikan pembelaan karena kenyataannya seperti itu. Lagipula dirinya pun masih belum jelas apakah tuan Santosh sudah bisa menerima dirinya atau tidak.
"Sudah pa. Jangan terlalu lama menyimpan kebencian. Kasihan Bintang," kata Nyonya Amalia.
"Wanita jahat seperti ini tidak pantas untuk dikasihani. Papa tidak ingin dia bekerja di sini Sinar. Pecat dia sekarang juga."
Sinar dan Bintang sama sama mendongak menatap wajah Tuan Santosh.
"Aku mohon om. Biarkan aku bekerja di sini," kata Bintang. Dia tidak bisa melepaskan pekerjaan ini. Hidupnya tergantung dari penghasilan bekerja di usaha Sinar. Jika dirinya dipecat, entah kemana lagi dia mencari pekerjaan dalam keadaan hamil seperti ini. Bintang menatap Sinar dengan tatapan memohon.
"Maaf pa. Papa memang sudah membantu aku hari ini. Bukan berarti papa bisa seenaknya menyuruh aku memecat Bintang. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini dan aku tidak tega melihat dirinya dalam penderitaan," jawab Sinar berani. Sinar tidak perduli lagi jika Tuan Santosh masih menyimpan kebencian itu untuk dirinya. Bagi Sinar, siapa pun tidak bisa menghalangi dirinya untuk berbuat kebaikan.
Sinar tidak bisa membayangkan jika dirinya memecat Bintang. Wanita itu pasti menderita. Sinar juga tidak bisa membayangkan seorang anak terlahir dari wanita yang terbebani pikiran karena kesulitan ekonomi.
Tangisan Bintang akhirnya terdengar di rumah itu. Tangisan itu bukan karena penghinaan tuan Santosh tapi tangisan itu karena penyesalan. Sinar memilih menentang kemuaan tuan Santosh demi untuk membantu dirinya. Hal yang sangat berbeda yang dia lakukan di masa lalu. Saat itu, Bintang melakukan banyak cara supaya Tuan Santosh membenci Sinar.
"Kamu berani membantah perkataan ku Sinar?" tanya Tuan Santosh geram.
'Aku bukan membantah pa. Andaikan perintah papa adalah hal yang baik. Dengan senang hati, aku akan menuruti nya. Perintah papa menyangkut kelangsungan hidup Bintang. Maaf pa. Aku tidak bisa. Bintang akan tetap bekerja di tempat ini sampai dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik nantinya."
Bintang sangat terharu mendengar perkataan Sinar. Sinar tidak hanya sekedar memberikan pekerjaan kepada dirinya tapi juga menginginkan hal yang terbaik untuk dirinya. Bintang busa merasakan ketulusan hati Bintang.
__ADS_1
"Mama juga sependapat dengan Sinar pa. Jangan halangi Sinar untuk berbuat baik," kata Nyonya Amalia.
"Sinar, kamu pernah bertanya mengapa aku belum bisa menerima kamu sebagai menantu. Apakah kamu ingin tahu alasannya. Alasannya karena wanita ular ini sudah memfitnah kamu," kata Tuan Santosh sambil menunjuk Bintang.
Ya, bukan tanpa alasan tuan Santosh membenci Sinar. Lewat utusan tuan Santosh yang pernah dikirim ke kampung halaman Sinar untuk mengantarkan sejumlah uang dan bantuan pembangunan jembatan. Tuan Santosh mengetahui jika Sinar tidak sebaik yang dia lihat di rumah dan tidak sebaik yang diceritakan oleh Danish. Bahkan utusan itu mengatakan jika sebenarnya bukan Sinar yang menolong Danish melainkan orang lain. Dan yang menolong itu hanyut ke sungai karena menolong Danish. Sinar hanya terima beres saja dan mengaku yang menolong Danish karena mengetahui jika Danish adalah orang kaya. Dan tindakan Sinar itu didukung oleh kedua orang tua Sinar dan kakek Joni. Alasannya tentu saja karena untuk mendapatkan harta.
Rasa benci itu semakin menumpuk di hati tuan Santosh. Apalagi Sinar bersedia dipoligami membuat fitnah itu semakin meyakinkan. Fitnah itu juga semakin nyata setelah pernikahan. Sinar dan keluarganya mendapatkan harta yang banyak dari Danish dan Nyonya Amalia.
Rasa benci itu tidak hilang setelah mengetahui Sinar mengandung cucunya. Bahkan tuan Santosh sudah membuat rencana akan membalas Sinar dengan kehadiran janin itu. Tuan Santosh akan membuat Sinar sangat menyesal karena sudah masuk ke dalam keluarganya.
Rencana itu hanya sebatas rencana. Mungkin karena doa doa Sinar atau nasehat nasehat istrinya. Tuan Santosh berpikir ulang akan sikap Sinar selama ini. Jika diperhatikan. Sinar memang tidak pernah berbuat kesalahan. Hal itu membuat tuan Santosh kembali memanggil utusan yang pernah dia kirimkan ke kampung halaman Sinar.
Tuan Santosh sangat terkejut, marah dan merasa malu. Sang utusan itu jujur, jika mereka berkata seperti itu karena perintah dari Bintang. Mereka juga mendapatkan uang yang banyak hanya untuk mengatakan fitnah itu.
"Bintang yang memaksa para utusan itu untuk memfitnah kamu Sinar. Apa kamu masih mau menolong wanita ular seperti ini?" tanya Tuan Santosh lagi.
Bintang semakin menumpahkan air matanya. Dia tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan oleh tuan Santosh barusan. Demi mempertahankan hubungannya dengan Danish saat itu. Bintang melakukan segala banyak cara tapi hasilnya tetap tidak berjodoh.
"Maafkan aku Sinar. Benar yang dikatakan oleh om Santosh. Maafkan aku," kata Bintang. Demi hatinya yang benar benar menyesal. Bintang tidak menyangkal itu semua.
Sinar menarik nafas berkali kali. Kata kata Tuan Santosh yang menyakitkan karena fitnah itu masih tersimpan semua di memorynya. Benar dugaannya, ada yang tidak beres dari para utusan itu. Dan ternyata itu semua karena Bintang.
Bersamaan dengan itu, Sinar juga merasa lega. Tuan Santosh sudah mengetahui yang sebenarnya. Jadi tidak ada alasan lagi bagi papa mertuanya itu untuk membenci dirinya.
Jika Sinar merasa lega. Hal yang berbeda yang dirasakan oleh Bintang. Dalam tangisannya. Wanita itu sangat ketakutan. Dia takut Sinar tidak memaafkan dirinya akan fitnah itu karena fitnah itu lah yang membuat kebahagiaan Sinar terganggu selama ini.
"Kamu tidak pantas mendapatkan kata maaf Bintang. Kamu sudah sangat keterlaluan," kata Tuan Santosh lagi.
Sama seperti Sinar yang masih terdiam. Nyonya Amalia juga memilih diam. Apa yang dia dengar dari Tuan Santosh saat ini sangat membuat Nyonya Amalia marah tapi wanita itu pintar menyembunyikan amarah itu. Dia merasa tidak tega untuk melampiaskan amarahnya kepada Bintang. Cukup, hanya suami saja yang melampiaskan amarah itu.
"Baiklah Bintang, aku memaafkan kamu. Tapi kamu berjanji, mulai saat ini. Jadilah manusia yang lebih baik lagi," kata Sinar. Bintang langsung bergerak dari duduknya dan memeluk Sinar. Baru Kali ini, dia melihat manusia yang sangat baik seperti Sinar.
"Itu artinya. Dia masih bekerja di tempat ini?" tanya Tuan Santosh tidak terima.
"Iya pa. Bintang akan tetap bekerja di tempat ini. Aku sudah pernah memaafkan kesalahannya yang lain. Aku juga memaafkan Bintang atas kesalahan yang baru aku ketahui ini. Tidak ada salahnya memaafkan pa. Hati kita akan tenang jika kita mampu memaafkan kesalahan orang. Lagipula dengan fitnah itu tidak membuat kita langsung sakit kan."
"Tapi dia sangat jahat Sinar."
"Pa, kejahatan dibalas dengan kebaikan. Itulah kebaikan yang sesungguhnya. Jika kebaikan dibalas dengan kebaikan itu namanya impas. Tapi jika kejahatan dibalas dengan kebaikan itu lah namanya kebaikan. Jadi jangan larang Sinar berbuat kebaikan," kata Nyonya Amalia. Tuan Santosh terlihat memikirkan perkataan istrinya hingga beberapa menit kemudian tuan Santosh terlihat menganggukkan kepalanya pertanda sudah mengerti akan perkataan istrinya.
__ADS_1