
Roki semakin merasa dirinya sangat pintar. Dia bisa masuk ke dalam rumah Sinar karena dia bisa memanfaatkan sepupunya untuk membuat duplikat kunci. Diam diam sepupunya itu bisa mencuri dan mengembalikan kunci dari tas Hana setelah terlebih dahulu menyelidiki dimana Sinar tinggal.
Roki juga bisa membuat kebohongan kepada tetangga tetangga Sinar bahwa dirinya adalah saudara Sinar sehingga dirinya tidak dicurigai bisa masuk dengan seenaknya ke rumah Sinar. Roki sudah merencanakan apa yang akan dia lakukan matang matang sebelum berangkat dari desa.
Roki merasa mendapatkan semua kenudahan untuk menjalankan pembalasan dendam nya kepada Sinar. Mulai dari dana yang berasal dari uang perdamaian, transportasi dan bahkan kerja sama dengan sepupunya. Tidak kendala sedikit pun untuk menjalankan rencana itu termasuk dengan penjemputan paksa yang dilakukannya Roki pada Sinar pada malam ini.
Di dalam mobil itu, Roki tersenyum penuh kemenangan. Dia memegang tangan Sinar dengan erat. Dia tidak memperdulikan gerakan Sinar yang berusaha melepaskan tangannya dari Roki.
"Diam lah Sinar, awal penderitaan mu akan dimulai jadi jangan berontak. Ini lah takdirmu, jadi terima saja dengan pasrah."
"Kamu yang diam Roki. Manusia iblis seperti kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Semoga apa yang kamu lakukan padaku dan pada Hana hari ini adalah awal kehancuran mu."
Seperti biasa, Roki tertawa mendengar perkataan Sinar. Sinar tidak akan mengalah pada manusia seperti Roki.
"Kamu salah. Kamu yang hancur karena akan kehilangan apa yang kamu sombongkan selama ini," bisik Roki tapi dengan cepat Sinar menjauhkan kepala dari mulut Roki. Sinar tidak menjawab lagi karena dia takut Roki melakukan hal yang berbahaya kepada dirinya.
Roki sangat yakin jika kata kata Sinar tidak akan pernah terkabulkan. Dia tidak tahu jika mobil yang sedang dia naiki saat ini dalam pencarian karena laporan Danish sudah masuk ke pihak yang berwajib terkait dengan hal kehilangan mobil.
Roki merasa pintar hingga tidak menyadari kebodohannya. Dia terlalu berani membawa Mobil ke Kota tanpa ada Surat tanda kendaraan bermotor.
Seperti perkataan Sinar, seperti kehancuran Roki sudah di depan Mata. Di belakang mobil, ada dua orang laki laki yang berboncengan sedang mengikuti mereka. Dua orang laki laki itu adalah polisi yang tidak memakai seragam. Mereka awalnya mengikuti Mobil itu karena tangan Sinar yang sedang bergerak gerak di kaca mobil menimbulkan kecurigaan bagi mereka. Dan setelah mengikuti dan memperhatikan mobil itu ternyata mobil itu adalah salah satu mobil yang masuk dalam daftar pencarian mereka.
Mereka tidak langsung mencegat Mobil itu karena pertimbangan beberapa hal termasuk peluang besar untuk si supir kabur. Mereka sudah berpengalaman dalam hal seperti ini. Sebisa mungkin kejar mengejar harus dihindari.
Di dalam mobil, Roki tersenyum ketika melihat sebuah nama hotel sudah di depan Mata. Sedangkan Sinar sudah menemukan cara untuk bisa lepas dari Roki hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa lolos.
Roki menarik Sinar secara paksa setelah membisikkan ancaman pada wanita itu jika berani melawan atau berteriak. Sinar memperhatikan tempat Mobil itu berhenti. Peluangnya untuk lepas sangat besar karena tempat parkir hotel murahan itu bukan di basecamp melainkan di halaman hotel tersebut. Tidak banyak Mobil yang terparkir di sana hanya beberapa.
Baru saja mereka turun dari dalam Mobil. Dua polisi berseragam juga sedang memarkirkan motornya tidak jauh dari mobil itu. Dua polisi tersebut ada di tempat itu karena mendapatkan informasi dari dua polisi yang tidak berseragam tadi. Dengan cepat mereka bergerak menghampiri Roki.
__ADS_1
"Selamat malam pak?" sapa polisi itu. Dua polisi itu sudah berada di samping Mobil itu. Sinar menarik nafas lega melihat dua polisi itu. Dia sengaja menunjukkan ketakutannya supaya polisi itu curiga.
"Ada apa pak?" tanya Roki bersikap biasa tapi dalam hati, dirinya juga sudah ketakutan. Bukan karena mobil itu tapi dia takut Sinar meminta tolong kepada dua polisi tersebut. Dia memperlakukan Sinar sangat lembut seakan akan mereka adalah pasangan kekasih.
Roki mendadak gelisah ketika salah satu dari polisi meminta dirinya untuk menunjukkan surat tanda kendaraan bermotor. Tapi dasar orang licik, Roki bisa dengan cepat menemukan jawaban yang meloloskan dirinya dari pertanyaan itu.
"Ini bukan mobil ku pak. Dia yang punya mobil ini. Tanya pada dia saja," jawab Roki tenang menunjuk pria yang masih duduk di belakang setir. Untuk mengatakan bagaimana dirinya mendapatkan mobil itu rasanya tidak mungkin karena hal itu juga termasuk pemerasan. Dalam hati, dirinya hanya bisa berharap. Si supir bisa memberikan jawaban yang masuk akal tentang keberadaan surat tanda kendaraan bermotor itu.
Pria bermasker itu terlihat terkejut dan kemudian menatap Roki dengan tajam.
"Maaf Pak, ini bukan mobil Saya. Tapi Mobil dia," jawab pria itu. Salah satu dari Dua polisi yang tadi mengikuti mereka langsung membuka pintu mobil, menarik kemudian memegang supir itu dengan kuat. Hal yang sama dilakukan polisi yang lain kepada Roki. Roki tidak bisa melarikan diri karena posisinya sudah terjepit. Pria itu terlihat melemas dan tidak berdaya. Jawaban yang berbeda dari Roki dan supir itu sudah membuktikan jika Mobil itu adalah mobil curian.
"Pak, aku tidak mencuri Mobil ini Pak. Aku mendapatkan dari seseorang dan suratnya hilang dan saat ini masih dalam pengurusan."
Akhirnya Roki menjelaskan bagaimana dia mendapatkan mobil itu tapi polisi tidak percaya.
"Maaf pak. Saya bukan bagian dari mereka. Dia membawa saya ke tempat ini karena berniat jahat kepada saya," kata Sinar. Meskipun dia dan para polisi itu tidak saling mengenal. Sinar merasa perlu menjaga harga dirinya. Dia tidak mau dicap sebagai wanita murahan. Selain itu, Sinar juga tidak mau dituduh sebagai bagian dari pencuri.
Roki terlihat tidak menundukkan kepalanya dengan keadaan kedua tangannya yang sudah terikat. Wajahnya sudah memucat. Sikap sombong yang dia pertunjukkan tadi lenyap. Apalagi mereka sudah menjadi tontonan para orang orang yang kebetulan lewat dari depan hotel itu.
Sinar terkejut melihat si supir setelah salah satu polisi menarik masker yang dia kenakan secara paksa. Melihat pria itu ternyata salah satu temannya kerja di pabrik. Sekarang, Sinar paham jika pria itulah yang memberikan informasi tentang keberadaannya kepada Roki. Yang menjadi pertanyaan di benak Sinar. Bagaimana Roki mengenal pria itu.
"Gito, ternyata kamu," kata Sinar marah kepada pria yang terlihat baik kepada dirinya di pabrik ternyata kebaikan itu adalah kebaikan palsu. Pria itu hanya menundukkan kepalanya karena malu.
"Masuk," kata salah satu polisi kepada Sinar. Sinar dipersilahkan duduk di depan sedangkan Roki dan Gito didorong masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian belakang sedangkan dua polisi duduk di bagian tengah mobil itu.
Tidak ada yang terucap satu kata apapun dari mulut mereka sepanjang perjalanan. Sinar dengan diamnya mengucap syukur dalam hati sedangkan dua polisi mengawasi pergerakan Roki dan Gito. Mereka diperlakukan seperti penjahat kelas kakap sedangkan satu polisi lainnya fokus menyetir.
Dalam diamnya, Roki sebenarnya ketakutan. Berurusan dengan polisi adalah hal yang paling dia takutkan apalagi harus mendekam di dalam penjara. Niatnya untuk ke Kota dengan membawa Mobil itu sebenarnya sudah dilarang oleh ayahnya tapi supaya terlihat hebat di hadapan Sinar. Roki mengabaikan larangan ayahnya itu.
__ADS_1
Sedangkan Gito. Pria itu merasa menyesal karena telah membantu Roki. Dia tidak menyangka jika mobil itu tidak mempunyai surat resmi dan tidak lebih menyangka lagi. Roki tega menyeret namanya. Gito memendam rasa marah kepada Roki. Dia menoleh tajam kepada Roki tapi Roki pura pura tidak menyadarinya. Andaikan tangannya tidak terikat. Sudah bisa dipastikan jika tangannya itu akan menyakiti Roki. Kakinya sudah sedari tadi duduk di dalam mobil berkali kali menginjak kaki Roki karena sangat kesal.
"Mobil sudah ditemukan. Ada tiga pelaku. Silahkan langsung cek ke kantor pak."
Salah satu polisi terdengar menghubungi seseorang.
Mendengar polisi menghubungi seseorang. Roki merasa lega dalam hati. Jika Danish yang dihubungi itu. Dia sangat yakin masalah ini akan cepat terselesaikan. Sudah terlintas di pikirannya untuk meminta Sinar menghubungi Danish supaya mereka dilepaskan. Roki semakin terlihat tenang dan tidak pucat lagi.
Tiba di kantor polisi. Mereka ditempatkan di satu ruangan untuk dimintai keterangan.
"Saya tidak tahu apa apa pak. Saya hanya diminta tolong untuk menyetir saja," kata Gito. Dalam terdesak seperti ini. Dia masih menutupi kejahatan Roki padahal mulai dari awal dia sudah mengetahui apa yang dilakukan dan apa yang akan dilakukan Roki yang semuanya berkaitan dengan Sinar. Bahkan dirinya mendapatkan imbalan atas bantuannya itu.
"Si Pemilik mobil akan datang kan Pak. Jadi biarkan dia yang akan memberikan keterangan," kata Roki tenang. Sikap sombongnya kembali terlihat dari cara duduknya yang bersandar dengan kaki yang saling menimpa. Dia sangat yakin jika Danish yang datang sebagai pemilik Mobil akan menjelaskan bagaimana Mobil itu ada padanya. Jika bukan Danish yang datang sebagai pemilik Mobil. Dia akan menjelaskan jika dirinya mendapatkan mobil itu dari Danish. Masalahnya akan beres dan akan tuntas malam ini juga. Segampang itu Roki berpikir.
"Sebenarnya dia mantan pacar Saya pak. Dia datang ke Kota ini untuk menyakiti saya," kata Sinar. Dia pun menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya termasuk Roki yang koma karena perbuatannya sendiri. Sinar menjelaskan tanpa menutupi kesalahannya sendiri. Dia juga mengatakan jika pihaknya dan pihak Roki sudah berdamai. Sinar menceritakan hingga kejadian malam ini dimana Hana tidak sadarkan diri dan dia tinggalkan di rumah karena kejahatan Roki. Hana juga menceritakan jika Gito adalah teman satu kerjanya yang dia duga membantu Roki untuk menjalankan rencana jahatnya.
Sikap Roki kembali berubah. Dia mendadak gelisah mendengar keterangan Sinar. Dia sudah merasa aman karena sebentar lagi pemilik Mobil akan tiba kini dirinya merasa terjepit karena keterangan Sinar.
"Itu tidak benar pak. Dia masih pacarku. Dia yang mengajak aku untuk menginap di hotel itu."
Roki dengan cepat membela dirinya dan memfitnah Sinar tapi tangan polisi yang terangkat meminta Roki untuk diam membuat pria itu tidak dapat berkata apapun lagi. Polisi itu lebih percaya dengan apa yang diceritakan oleh Sinar daripada pembelaan Roki.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kejahatan dia kepada saya dan kepada teman saya bisa diproses pak. Jujur, Saya ingin dia dihukum atas apa yang sudah dia lakukan kepada Saya," kata Sinar lagi. Dia tidak main main dengan perkataannya karena Sinar ingin membuat Roki menerima imbalan atas kejahatannya. Roki harus dikasih pelajaran.
"Anda boleh membuat pengaduan," kata polisi itu. Sinar menganggukkan kepalanya.
"Sinar," kata Roki dengan Gigi yang rapat dan tatapan tajam. Dia berharap Sinar ketakutan dan mengurungkan niatnya membuat pengaduan itu. Dia tidak sadar dengan sikap yang seperti itu. Polisi semakin yakin jika dirinya adalah orang jahat.
Sinar beranjak dari duduknya karena ada seorang polisi yang akan menunjukkan dimana dirinya membuat pengaduan. Roki semakin melemas. Niatnya ingin bersenang senang dengan menyakiti Sinar gagal total. Bukan hanya gagal total dirinya kini terancam di penjara karena dia mengingat dengan jelas keadaan Hana tadi.
__ADS_1
Tidak Ada lagi pertanyaan dari polisi. Gito dan Roki hanya terdiam.