
"Brengsek kamu Nathan," kata Danish. Nathan baru saja menceritakan apa yang sudah dia lakukan kepada Bintang secara mendetail.
"Kamu masih ada rasa untuk dia?. Kamu melepaskan dia karena tekanan dari papa kamu kan?" tanya Nathan. Umpatan yang baru keluar dari mulut Danish diartikan oleh Nathan sebagai bentuk rasa prihatin kepada Bintang. Nathan seakan tidak percaya jika Danish bisa melupakan Bintang secepat itu.
"Tidak. Aku tidak mempunyai rasa sedikit pun kepada Bintang. Hanya saja, cara kamu meminta bayaran dari uang yang dipinjam oleh wanita itu sangat keterlaluan. Masa depan tidak ada yang tahu. Bisa saja, dia tidak bisa membayar tahun ini tapi di tahun tahun berikutnya. Dia bisa membayar."
"Dia yang menawarkan," kata Nathan lagi membela diri.
Danish tidak memberikan komentar lagi setelah kalimat terakhir itu karena dia percaya Bintang menawarkan tubuhnya kepada Nathan. Kepada dirinya Bintang juga sudah pernah menawarkan tubuhnya dalam keadaan ekonomi yang stabil. Apalagi saat terpuruk seperti saat ini. Danish tersenyum sinis mengingat dirinya yang pernah salah mencintai wanita hingga rela melakukan apapun terhadap Bintang.
"Aku takut dia hamil. Aku tidak memakai pengaman di ronde kedua," kata Nathan lagi. Dia menatap wajah sahabatnya dengan seksama. Melihat raut wajah Danish yang biasa saja. Nathan menyimpulkan dalam hati jika Danish memang tidak ada rasa lagi kepada Bintang.
"Berani berbuat, berani bertanggung jawab Nathan."
"Tapi kami tidak saling mencintai."
"Itulah sebabnya perlu rasa cinta antara kedua belah pihak jika ingin celup celup. Kalau dia hamil, kasihan anak kamu kelak. Dia terlahir bukan karena alasan cinta melainkan karena alasan hutang piutang," kata Danish lagi.
Nathan memikirkan kata kata Danish. Sudah hal biasa jika kehadiran seorang anak itu disebutkan sebagai buah cinta. Nathan sangat berharap dalam hati apa yang dilakukannya dengan Bintang tidak menimbulkan jejak. Dia tidak ingin, anaknya terlahir bukan karena alasan cinta. Benar, dirinya pernah mencintai Bintang tapi itu dulu.
"Aku bingung Danish," kata Nathan gelisah. Danish mengerutkan keningnya. Kekhawatiran Nathan belum terjadi tapi pria itu sudah terlihat sangat kebingungan mencari jalan keluar.
"Aku rasa, perbuatan kalian membuahkan hasil Nathan."
"Mengapa kamu berkata seperti itu?" tanya Nathan.
"Wanita itu belum memberikan kabar tapi kamu sudah gelisah. Bisa saja apa yang kamu rasakan saat ini kontak batin dengan calon janin mu."
"Danish, jangan membuat aku semakin takut. Aku belum siap berumah tangga apalagi menjadi seorang ayah."
Danish terdiam. Dia membandingkan dirinya dan Nathan. Status mereka memang berbeda. Nathan seorang pria yang tidak terikat dengan pernikahan sedangkan dirinya berstatus seorang suami. Hal yang wajar jika Nathan belum ingin mempunyai anak dan hal wajar yang juga dirinya menginginkan seorang anak. Tapi keadaannya seakan terbalik sekarang. Dia yang menginginkan seorang anak tapi terkendala karena Sinar menggunakan pil kontrasepsi sedangkan Nathan menolak seorang janin yang belum tentu berkembang di rahim Bintang.
__ADS_1
Menemukan pil kontrasepsi di lipatan baju Sinar membuat Danish terkejut. Mengingat itu disaat bersama dengan Nathan dan pembahasan mereka juga tentang kehamilan membuat Danish penasaran apa yang menjadi alasan Sinar menunda kehamilan.
"Apa yang kamu pikirkan?" selidik Nathan. Meskipun, Nathan menduga sikap Danish yang termenung karena kejadian yang dialami Bintang. Nathan tetap ingin memastikan. Danish menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin membagi permasalahan rumah tangganya apalagi harus menceritakan apa yang dilakukan oleh Sinar. Dia tidak ingin orang lain memberikan tanggapan negative atas apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Apa ada masalah dengan istri mu?"
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan kebalikan dari yang kamu takutkan. Kamu takut partner ranjang mu hamil sedangkan aku menginginkan istriku hamil secepatnya. Tapi sayang aku harus bersabar. Kami belum dipercaya untuk menjadi orang tua. Semoga kami secepatnya mendapatkan kabar bahagia itu."
Nathan menarik nafas lega. Dia berpikir jika Danish dan Sinar saja yang sudah lebih kurang satu bulan berumah tangga belum membuahkan hasil apalagi dirinya dan Bintang yang hanya masih dua kali melakukan kegiatan terlarang itu. Itupun hanya satu kali lupa pakai pengamanan.
Baru saja Nathan merasa lega, sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya membuat jantungnya hampir tidak bisa berdetak.
"Nathan, bagaimana ini?. Sepertinya aku hamil."
Nathan membaca pesan dari Bintang dengan ketakutan yang luar biasa. Apa yang dia takutkan sejak menyadari jika dirinya tidak memakai pengaman di ronde kedua akhirnya terjadi juga.
"Danish, lihat ini!" kata Nathan lesu sambil mengulurkan tangannya memberikan ponsel miliknya kepada Danish. Nathan terlihat mengacak rambutnya berkali kali.
"Kalau memang benar dia hamil. Apa tidak sebaiknya janin itu dibuang saja ya. Selagi masih seonggok darah,"
Danish terkejut. Dia menatap wajah Nathan dengan tatapan yang sulit diartikan. Bintang memang bukan siapa siapa lagi bagi dirinya. Dan mendengar perkataan Nathan. Danish seakan tidak rela. Andaikan orang lain yang melakukan hal itu kepada Bintang. Mungkin Danish bisa diam. Tapi yang melakukannya adalah sahabatnya sendiri. Bukankah sesama sahabat harus memberikan nilai nilai positif bagi sahabatnya sendiri.
"Nathan, aku tidak perduli dengan apapun yang terjadi pada wanita itu. Tapi aku perduli kepadamu. Kamu telah melakukan kegiatan terlarang itu. Jika membuahkan hasil. Aku menyarankan sebaiknya kamu bertanggung jawab dengan menikahinya. Mungkin ini lah caranya supaya kamu tidak penikmat wanita malam lagi."
"Tidak yang semudah kami pikirkan bro," kata Nathan.
Ponsel Nathan kembali berdering. Bukan pesan yang masuk melainkan panggilan suara. Dan nama Bintang terlihat di layar ponsel itu sebagai pemanggil.
"Kita bisa membicarakan nya nanti di rumah ku. Aku menunggu kamu di rumah," kata Nathan. Dia berbicara dengan Bintang. Tanpa mendengar jawaban Bintang. Nathan mengakhiri panggilan itu. Dia merasa tidak enak hati membahas tentang kehamilan itu di telepon sementara Danish berada di sebelahnya.
"Aku tidak bisa jamin. Kamu tidak meminta jatah jika wanita itu ke rumah mu," kata Danish. Nathan terkekeh. Pria yang bisa bercinta tanpa cinta itu memang tidak akan pernah melepaskan apapun yang datang kepada nya apalagi wanita yang masih sempit seperti Bintang.
__ADS_1
"Entah apa yang kamu dapat dari kenakalan kamu itu Nathan," kata Danish. Kenakalan yang dia maksud adalah mencari kenikmatan pada wanita wanita penghibur.
"Banyak bro. Bisa merasakan lubang yang berbeda. Jika kamu tertarik seperti aku. Aku akan kenalkan kamu ke kamu.
"Tidak ah. Lebih baik bermain dengan satu istri tapi tidak dosa. Nikmat luar biasa tanpa dibayangi rasa takut. Seperti kamu saat ini nih. Takut kan partner hamil. Jika dengan istri sendiri. Berhasil membuat istri hamil adalah kebanggaan setiap suami bro."
"Sekarang aja kamu berkata seperti itu. Dan sudah bosan dengan istrimu. Kamu pasti akan menginginkan Suasana baru. Aku punya stok beberapa orang. Jika kamu mau, aku memberikan kamu satu."
"Tidak tertarik sama sekali."
"Atau bisa saja memelihara sugar baby loh. Yang masih muda dan fresh."
"Kamu lupa istriku masih muda?"
"Benar sih. Tapi kalau hanya itu itu saja. Percaya lah. Rasa bosan itu akan timbul suatu hari nanti. Jika itu terjadi. Kamu bisa tanya aku."
"Nathan, tolong jangan memberikan tawaran yang negative kepada ku," jawab Danish.
Meskipun dirinya tidak bisa melayani Dan dilayani oleh Sinar saat ini karena tamu bulanan sang istri. Danish tidak akan membiarkan dirinya jatuh dalam kegiatan terlarang itu.
Bagi Danish pernikahan itu sangat suci. Ujian rumah tangga bisa saja datang silih berganti tapi jangan sampai cobaan yang menguji kesetiaan terhadap pasangan. Danish paling anti pengkhiatan bagi pengkhiatan di dunia lingkungan kerja apalagi pengkhiatan di dalam rumah tangga.
Jika karena mengingat materi yang dia miliki saat ini. Danish sanggup membiayai lebih dari satu orang istri apalagi jika mempunyai simpanan. Danish sudah berjanji kepada Sinar tidak akan ada wanita lain di dalam rumah tangga mereka dan Danish akan berusaha menepati janji itu.
"Apa yang harus kamu takutkan. Aku bisa menjaga rahasia kamu," kata Nathan lagi.
Danish berdecak kesal kemudian menatap Nathan dengan tajam.
"Kita tidak sama Nathan. Kita memang bersahabat. Tapi kita tidak mempunyai pandangan yang sama tentang wanita dan pernikahan. Jadi, jangan pernah menawari aku lagi tentang wanita wanita stok kamu itu."
Nathan terkekeh. Danish tidak diragukan lagi tentang kesetiaan. Mengingat kisah cinta antara Danish dan Bintang. Siapa pun tidak menyangka jika mereka tidak berjodoh. Saat itu Danish sangat menjaga diri dari wanita wanita yang memujanya. Dan takdir berkata lain. Kecelakaan dan kasus pak Idrus memisahkan Danish dan Bintang. Saat ini Danish sudah memperistri Sinar. Nathan sangat percaya jika sahabatnya itu akan mencurahkan cintanya kepada Sinar dan menjada kesetiaan itu.
__ADS_1