Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Kebahagiaan Danish


__ADS_3

"Tidak Sinar, kamu masuk saja. Aku pilih rumah sakit yang lebih murah saja," tolak Bintang. Pernah menyakiti hati Sinar membuat Bintang tidak enak hati menerima kebaikan Sinar untuk memeriksa kandungan di dokter yang sama dan Sinar yang menanggung biayanya.


Sinar akhirnya tidak memaksa Bintang. Sebagai gantinya. Dia menyelipkan beberapa lembar uang merah ke telapak tangan Bintang yang jumlah tidak seberapa tapi bisa membantu meringankan beban Bintang.


"Tidak Sinar. Terima kasih. Tidak perlu seperti ini," kata Bintang lagi.


"Terima saja Bintang. Ini hanya sekedar membeli buah dan susu. Anggap saja aku tidak memberikan kepada mu tapi kepada calon anakmu," kata Sinar. Bintang akhirnya tidak kuasa menolak. Dia menatap Sinar dengan mata berkaca kaca. Wanita yang pernah dihina dan diejek oleh Bintang. Justru wanita itu yang memberikan kebaikan kepada dirinya.


"Terima kasih ya Sinar," kata wanita itu tulus.


"Sama sama Bintang. Oya, kita bertukar nomor ponsel sekarang ya," kata Sinar sambil mengeluarkan ponselnya. Bintang menuliskan nomor ponselnya di ponsel milik Sinar. Bintang sengaja tidak mengeluarkan ponselnya dari tas karena ponselnya sudah berganti dengan ponsel harga dua jutaan sedangkan ponsel milik Sinar harga dua puluh jutaan. Sungguh, Bintang merasa malu dengan keadaan saat ini.


"Kamu bisa menghubungi aku jika butuh teman curhat," kata Sinar lagi. Bintang menganggukkan kepalanya.


"Mengapa kamu masih bersikap baik setelah apa yang aku lakukan kepada mu?" tanya Bintang pelan.


"Tidak ada manusia yang tidak bersalah termasuk aku dan kamu. Bintang, semua orang bisa berubah menjadi orang baik jika ada niat untuk mengubah sikap. Aku percaya kepada kamu, setelah mengalami perjalanan hidup mu. Aku yakin kamu akan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi."


"Aku akan mencoba. Terima kasih atas pertemuan hari ini dan semua kebaikan mu Sinar."


Sinar menganggukkan kepalanya. Dia melepas kepergian Bintang dari hadapan dengan memandangi tubuh wanita itu. Sungguh, Sinar sangat prihatin dengan keadaan Bintang saat ini. Sinar bukan orang yang tega melihat orang yang terpuruk seperti Bintang meskipun wanita itu pernah menyakiti dirinya.


Sinar mengelus perutnya. Dia berharap, seperti Bintang yang sedang mengandung. Dirinya juga secepatnya mengandung. Sinar membalikkan tubuhnya menuju lobby rumah sakit setelah memastikan Bintang sudah masuk ke dalam angkutan umum.


Di dalam angkutan umum, Bintang menghitung lembaran uang yang diberikan oleh Sinar. Wanita itu sangat bersyukur karena uang satu juta yang diberikan Sinar itu cukup untuk biaya memeriksa kehamilan, beli susu hamil dan juga membeli buah buahan. Seperti perkataan Sinar. Dia akan memanfaatkan uang itu untuk kebutuhan janinnya saja.


"Kita antri?" tanya Sinar pada Danish yang sudah duduk di bangku antri di depan ruangan yang bertuliskan dokter specialist kandungan.


"Iya. Duduk," kata Danish.


"Maaf. Aku lama."


"Kamu mengabaikan aku demi wanita itu."


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi aku melihat Bintang butuh dukungan seorang teman."


"Emang kamu temannya?"


Sinar menarik nafas panjang. Bintang memang pernah menabuh genderang permusuhan dengan dirinya. Tapi bagi Sinar tidak ada salahnya jika bisa memaafkan.


"Memaafkan itu lebih bagus daripada minta maaf Danish. Tidak ada gunanya menyimpan dendam di hati. Untuk apa kita berkata kasihan kepada Bintang tapi tidak memberikan perhatian. Perbuatan itu lebih nyata dibandingkan dengan perkataan."


"Kamu memang benar. Tapi kita harus mengingat jika Bintang sama seperti papanya serakah. Dia tega memeras papa demi kejahatan papanya," kata Danish.


"Dan lihat dampak dari perbuatannya. Apakah dia berbahagia. Tapi dia semakin terpuruk. Kita tidak bisa menjerumuskan orang yang terpuruk supaya semakin terpuruk. Kalau bisa memotivasi buat apa menertawakan keterpurukan nya. Sudahlah, Danish. Kita dukung Bintang menjadi orang yang lebih baik."


"Terserah kamu saja sayang. Aku tidak mau ikut campur urusan dia."


"Bagaimana kalau aku ajak saja dia bergabung di usaha keripik aku. Sepertinya dia tidak mempunyai pekerjaan," kata Sinar.


"Kalau dia yang meminta tolong. Tidak apa apa juga. Jangan sampai kamu yang menawarkan. Orang seperti Bintang perlu diajari untuk menadahkan tangan meminta bantuan. Mereka sudah terlalu enak menikmati uang haram selama ini. Jadi biarkan Bintang memulai pertobatanya dengan berusaha mencari pekerjaan."


Danish semakin merasa bersyukur dengan perpisahannya dengan Bintang. Danish menilai jika Bintang bukan wanita tangguh. Di saat dia butuh uang sampai menghalalkan cara untuk mendapatkan uang tersebut. Setelah tidak berhasil lagi memeras tuan Santosh. Bintang bahkan rela memberikan tubuhnya kepada Nathan sebagai pelunas hutang. Sikap wanita yang tidak menjunjung harga dirinya menurut Danish.


Pembicaraan sepasang suami istri tentang Bintang berakhir ketika seorang perawat memanggil nama Sinar untuk memasuki ruangan dokter.

__ADS_1


Danish berdiri dan menggenggam tangan istrinya menuju ruangan dokter. Danish dan Sinar hampir bersamaan menyapa sang dokter yang disambut ramah dokter tersebut.


Sinar dan Danish menceritakan keluhan mereka.


"Kita periksa dulu ya ibu. Silahkan Naik ke tempat tidur."


Sinar sudah dipersiapkan oleh seorang perawat untuk menjalani pemeriksaan. Danish yang berdiri di samping Sinar merasakan jantungnya dag dig dug. Dia takut hasilnya mengecewakan. Danish sudah berpikir jika Sinar tidak hamil bisa dipastikan jika benihnya lah yang bermasalah.


Danish memperhatikan gerak gerik tangan dokter di perut Sinar dan sesekali matanya menatap ke arah layar computer.


"Bagaimana dokter?" tanya Danish tidak sabaran. Dokter itu hanya tersenyum menjawab pertanyaan Danish.


"Istriku hamil kan dokter?" tanya Danish lagi. Seakan dia bisa membaca apa yang ditampilkan di layar computer itu.


"Tidak salah lagi pak. Istri anda positive hamil."


"Yes," sambut Danish senang dan langsung mencium kening Sinar. Sinar terharu dan hampir menitikkan air matanya mendengar kabar bahagia itu. Andaikan perutnya sudah dibersihkan oleh perawat. Bisa dipastikan Sinar akan mengelus perutnya menyalurkan kasih sayang kepada janin yang sedang berjuang untuk tumbuh.


"Mana, Mana anakku dokter. Tolong tunjukkan," kata Danish semakin tidak sabar melihat bentuk anaknya. Dokter itu terkekeh. Dia sudah terbiasa menghadapi kebahagiaan sepasang pengantin baru mendapatkan kabar bahagia seperti ini.


"Usia kandungan istri anda masih berjalan tiga minggu. Bentuk janinnya juga masih berbentuk gumpalan darah. Seiring bertambahnya usia kandungan. Maka organ organ tubuhnya juga akan terbentuk," kata dokter itu menjelaskan. Danish terlihat menganggukkan kepalanya tapi matanya masih tertuju ke layar computer. Berharap dia bisa melihat bentuk calon anaknya meskipun masih berbentuk gumpalan darah.


"Masih ada yang ingin ditanyakan lagi pak, bu?" tanya dokter itu. Danish dan Sinar bersamaan menggelengkan kepalanya. Perawat dengan sigap membersihkan perut Sinar dari gel setelah dokter berjalan ke arah meja kerjanya.


"Pelan pelan sayang," kata Danish ketika Sinar hendak menurunkan kakinya dari tempat tidur. Sinar tersenyum sambil menatap suaminya. Danish masih memegang tangan Sinar ketika hendak duduk di hadapan sang dokter.


"Saya akan meresepkan obat dan vitamin ya bu, Pak," kata dokter itu. Sang dokter sudah sibuk menuliskan resep di secarik kertas. Setelah surat resep itu di tangan Danish. Dokter juga menjelaskan pola makan yang sehat untuk ibu yang hamil di trisemester pertama.


Danish berjalan tegap dengan menggandeng tangan Sinar keluar dari ruangan sang dokter. Laki laki itu merasa bangga dan merasa hebat karena benihnya berhasil berkembang di rahim sang istri. Ketakutan dan kekhawatiran nya tentang kesuburan benihnya terbantahkan dengan kehamilan Sinar hari ini.


"Aku juga. Sebentar lagi akan ada yang memanggil Kita mama dan papa. Akhirnya Kita akan menjadi orang tua Danish," jawab Sinar senang. Danish merentangkan tangannya memeluk tubuh istrinya dan melabuhkan kecupan di kening istrinya.


"Kenapa mobilnya berjalan pelan Danish?" tanya Sinar heran. Rasanya orang berjalan kaki lebih cepat dari laju Mobil itu.


"Sengaja, aku takut rahim mu terkena goncangan yang membahayakan calon anakku."


"Ya ampun Danish. Kita sekarang di Kota di jalanan yang mulus. Kencang dikit juga tidak apa apa akan kandungan ku. Kecuali kita berada di jalan bebatuan yang tidak rata."


Danish menambah laju mobilnya tapi masih bisa tergolong pelan.


"Kamu lihat tadi angkutan umum yang membawa Bintang?" kencang kan seperti balap mobil. Kandungan nya tidak apa apa. Berapa jam kita di jalanan jika laju mobilnya lambat seperti ini," kata Sinar menggerutu.


"Yakin tidak apa apa nih. Kalau aku kencangin sedikit lagi?" tanya Danish tidak yakin.


"Yakin Danish. Rahim seorang wanita itu sudah dibentuk oleh sang Pencipta sangat sempurna. Kalau goncangan, benturan nya masih di tahap yang wajar tidak akan mempengaruhi keselamatan janin," kata Sinar menjelaskan.


"Kamu baca dimana pengetahuan seperti itu. Aku juga mau baca."


Sinar berdecak kesal. Ternyata karena bahagia akan kehadiran si buah hati bisa membuat otak Danish yang tergolong pintar mendadak bodoh.


"Tau ah. Suka suka kamu saja."


"Jangan kesal gitu donk sayang. Kita harus happy sekarang dan selamanya. Ada calon anak kita yang harus selalu menyaksikan kebahagiaan kedua orangtuanya."


Danish mengulurkan tangannya mengelus perut Sinar.

__ADS_1


"Iya. Iya. Aku akan menambah kecepatan," kata Danish setelah melihat tatapan tajam dari istrinya.


Akhirnya mobil berjalan dengan kecepatan normal. Danish bersiul menggambarkan kebahagiaannya. Sesekali dia menoleh ke arah istrinya yang juga terlihat sangat bahagia.


"Apa kita tidak perlu menghubungi mama sebelum ke Sana?" tanya Sinar.


"Iya kamu betul. Tunggu!. Aku akan menghubungi papa supaya tidak keluar dari rumah. Hari ini kita libur tidak terkecuali papa dan mama," kata Danish senang. Dia memutuskan untuk tidak ke kantor satu hari ini dan Sinar juga tidak ke kontrakan Hana.


"Papa dan mama, tunggu kami di rumah. Sebentar lagi kami akan tiba," kata Danish begitu panggilan tersambung.


"Kamu tidak ke kantor. Ini belum akhir pekan," jawab tuan Santosh dari seberang.


"Untuk hari ini tidak pa. Tunggu kami ya. Jangan kemana mana. Bye," kata Danish dan langsung menutup panggilan.


Danish kembali terlihat mencari kontak di layar ponselnya.


"Halo pak. Sinar hamil pak," kata Danish setelah panggilan tersambung. Dia menghubungi pak Ilham ayahnya Sinar.


"Hah, Sinar hamil. Syukurlah. Bu, bu. Sinar hamil."


"Hah, Sinar hamil."


Danish tertawa mendengar kehebohan di seberang setelah mengetahui Sinar sedang hamil. Danish memberikan ponselnya kepada Sinar. Dia ingin fokus menyetir dan Danish juga memberikan kesempatan kepada Sinar dan keluarganya untuk meluapkan kebahagiaan itu.


Sinar mengganti panggilan suara itu menjadi panggilan video. Sinar melihat ayahnya yang sedang mengusap air Mata bahagia sedangkan ibu Yanti memeluk pak Ilham.


"Kakek pasti senang mendengar berita ini Sinar," kata pak Ilham setelah mengusap air matanya sampai kering. Kakek Joni tidak ada di rumah itu karena sedang di rumahnya sendiri di kampung yang tidak terilosi lagi berkat bantuan Danish membangun jembatan penghubung.


"Selamat ya nak," kata ibu Yanti.


"Terima kasih ya bu. Sebentar lagi, kalian menjadi kakek dan nenek," jawab Sinar.


"Iya kami sangat bahagia sekali."


"Bu, kami lagi di jalan hendak ke rumah mertuku. Lain kali kita sambung lagi ya!" kata Sinar. Kedua orangtuanya menganggukkan kepalanya senang. Dan Sinar pun mengakhiri panggilan itu.


"Janin ini bukan hanya sumber kebahagiaan Kita berdua tapi juga sumber kebahagiaan kakek dan nenek nya," kata Danish.


Sinar tiba tiba merenung. Dia tidak membantah jika kehadiran janinnya akan menjadi kebahagiaan di kedua belah pihak baik dari keluarga Danish dan keluarga Sinar. Tapi jika Tuan Santosh masih mempertahankan keegoisan dan kepentingannya sendiri. Apakah kebahagiaan itu juga akan menjadi milik keluarga dari pihaknya.


Sinar memeluk perutnya sendiri. Tidak ada kata kata mencurigakan dari Danish jika kehadiran janin itu untuk kepentingan tertentu berkaitan dengan pencalonan Danish sebagai Direksi di Global Anugerah group. Tapi tuan Santosh sudah mengatakan itu secera jelas kepada dirinya.


"Ada apa. Ada masalah?" tanya Danish. Dia memperhatikan tingkah istrinya. Sinar menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin menceritakan apapun yang dia dengar dari tuan Santosh. Sinar sengaja masih menyimpannya sendiri karena dia berpikir jika kebahagiaan mereka hari ini tidak boleh terganggu meskipun itu dengan sikap Tuan Santosh nantinya.


Sinar kembali tersenyum. Matanya berbinar bahagia ketika Danish mematikan mobilnya di swalayan yang khusus menjual produk susu hamil dan bayi. Sinar merasa bahagia dengan perhatian suaminya. Tanpa dia mengucapkan apa yang dia mau. Danish seakan sudah mengetahuinya.


"Ayo turun," kata Danish. Sinar membuka pintunya. Ketika Sinar sudah menurunkan kakinya dia melihat Danish berlari dari depan mobil untuk menyambut dirinya.


"Calon mama harus mendapatkan perhatian ekstra." Sinar terkekeh dan memukul lengan Danish dengan pelan. Danish juga tertawa. Siapa pun yang melihat mereka pasti menilai jika Danish dan Sinar adalah pasangan suami istri yang saling mencintai dan berbahagia.


Danish sangat menjaga istrinya. Laki laki itu tidak melepaskan tangannya dari tangan sang istri.


"Semuanya?" tanya Sinar heran melihat Danish meletakkan susu hamil dari berbagai rasa yang paling mahal dan bisa dipastikan susu yang kandungannya juga paling lengkap.


"Iya. Supaya kamu tidak bosan dengan hanya satu rasa saja," jawab laki laki itu santai.

__ADS_1


"Semoga kebahagiaan ini selamanya sampai maut memisahkan kita Danish. Semoga kamu bisa bertindak bijaksana jika suatu saat nanti tuan Santosh kembali mengungkit status keluargaku," batin Sinar.


__ADS_2