
"Ini kamarku. Beristirahat lah dulu. Sebentar lagi Kita akan makan malam bersama dengan kedua orang tuaku," kata Danish setelah Sinar masuk ke dalam kamar. Sinar memperhatikan kamar itu sekilas. Kamar yang luas dengan penataan perabot yang sangat rapi.
"Mengapa kamu membawa aku ke kamar mu. Kalau aku beristirahat disini. Lalu kamu beristirahat dimana?" tanya Sinar heran. Mereka berdua sama sama lelah karena perjalanan panjang itu atau bisa dikatakan Danish yang lebih lelah dari dirinya. Sepanjang perjalanan tadi. Danish harus menjaga kaki kanannya dari supaya tidak bersentuhan dengan kaki Sinar atau apapun yang bisa membuatnya sakit.
"Kita beristirahat sama sama di kamar ini," kata Danish tenang dan melangkah ke arah ranjang.
"Beristirahat bersama sama?" tanya Sinar. Gadis itu membulatkan matanya.
"Ini Kota, bukan perkampungan. Kita tidak akan dipaksa menikah jika hanya beristirahat di kamar yang sama."
"Tapi aku tidak bisa Danish."
"Mengapa tidak bisa Sinar?. Kita selalu bersama sama selama dua bulan. Apa bedanya di sini dan di rumah kakek Joni."
"Jelas beda Danish. Kita memang tinggal satu atap tapi tidak satu kamar."
Danish tertawa. Ternyata tujuan pria itu berjalan ke arah ranjang bukan untuk berbaring melainkan menyimpan pigura foto dirinya dengan Bintang ke dalam laci. Sinar sudah melihat foto itu tadi sekilas.
"Istirahatlah. Aku akan beristirahat di kamar tamu," kata Danish lagi. Sinar mengerutkan keningnya. Mengapa dirinya yang beristirahat di kamar Danish sedangkan sang pemilik kamar akan beristirahat di kamar tamu.
Sinar hendak memprotes tapi pintu yang dibuka seseorang dari luar membuat Sinar terdiam. Wanita yang melahirkan Danish sudah berdiri di depan pintu itu. Lagi lagi Sinar merasa cemas. Dia khawatir, mamanya Danish berburuk sangka kepada dirinya karena berada di kamar Danish.
Ternyata bukan hanya mamanya Danish yang datang ke kamar itu. Di belakang wanita itu sudah ada dua pelayan yang membantu makanan dan minuman.
"Mama tahu kalian berdua sangat lelah. Mama sudah menyuruh para pelayan untuk membawakan makanan untuk kalian," kata mama Danish sambil menggerakkan kepalanya menyuruh dua pelayan itu masuk ke dalam kamar.
"Mama memang mama terbaik," puji Danish kepada sang mama.
__ADS_1
Sinar hanya tersenyum. Dia bertanya dalam hati. Apakah sikap yang ditunjukkan oleh wanita itu adalah sinyal jika dirinya diterima sebagai calon istri Danish. Jika iya. Lalu bagaimana dengan Bintang?.
"Selamat menikmati makanannya Danish. Sinar."
Sinar gugup. Sikap yang ditunjukkan mamanya Danish tidak menunjukkan jika dirinya marah atau tidak senang karena Sinar berada di kamar Danish. Bukankah, seharusnya itu tidak boleh. Mengapa di sini. Hal seperti ini seperti hal biasa. Sinar bermain dengan pemikirannya sendiri. Jika dirinya yang baru saja mengenal Danish bisa berada di kamar Danish. Lalu bagaimana dengan Bintang. Apakah mereka terbiasa di kamar yang sama?"
Sinar menggelengkan kepalanya. Lewat televisi. Dia pernah mendapatkan informasi tentang kehidupan di kota yang sangat berbeda dengan di desa. Norma norma kehidupan yang sudah bergeser dari yang semestinya. Sinar tidak bisa membayangkan jika Danish salah satu dari orang orang kota yang menganut hidup bebas.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Danish sambil menyentil kening Sinar dengan pelan.
"Sinar adalah calon Istriku. Kalian harus melayaninya dengan baik," kata Danish kepada kedua pelayan yang sedang menata makanan di atas meja soda di kamar itu. Kedua pelayan itu kompak menghentikan tangan.
"Iya tuan."
Sinar semakin bertanya tanya dalam hati mendengar panggilan dari kedua pelayan itu untuk Danish. Tuan. Bukankah itu adalah kata yang paling terhormat. Di desanya, Orang terkaya sekalipun tidak pernah di panggil dengan sebutan tuan. Jadi, siapakah sebenarnya Danish ini?"
"Nikmati makanan kalian Danish, Sinar," kata mama Danish.
"Iya mama. Terima kasih."
Sinar hanya menganggukkan kepalanya. Karena sejujurnya, dia tidak tahu harus memanggil mama Danish dengan sebutan apa ketika dirinya berterima kasih.
Sinar menarik nafas lega ketika mama Danish berlalu dari kamar itu. Berdekatan dengan mama Danish, Sinar merasa mulutnya terkunci dan tidak berani bersuara di hadapan wanita itu.
"Tinggalkan kami berdua," kata Danish kepada kedua pelayan itu. Danish menarik tangan Sinar dengan lembut menuju sofa. Sama seperti di rumah kakek Joni. Di rumah Danish sendiri. Sinar tetap mendapatkan perhatian dari pria itu. Danish yang mengambilkan makanan untuk Sinar dan bahkan Kali ini. Ada hal yang berbeda yang dilakukan Danish untuk Sinar.
"Buka mulut mu Sinar," kata Danish. Sendok berisi makanan sudah berada tepat di depan mulut Sinar. Sinar tersipu mendapatkan perlakuan manis itu. Dengan malu malu, dia membuka mulutnya. Sinar mengerjabkan matanya menikmati rasa makanan yang Ada di dalam mulutnya. Sepanjang hidupnya. Baru kali ini dirinya menikmati makanan seenak itu.
__ADS_1
"Enak?" tanya Danish. Sinar menganggukkan kepalanya. Mulutnya tidak bisa menjawab iya. Karena Danish kembali menyodorkan makanan ke mulutnya.
"Makanan ini adalah makanan kesukaan ku," kata Danish kemudian memasukkan makanan ke mulutnya dengan sendok yang sama yang dia pakai menyuapi Sinar.
"Kamu tidak jijik satu sendok dengan aku?" tanya Sinar. Sinar sengaja bertanya seperti itu karena Sinar menduga Danish tidak sengaja memakai sendok yang sama dengan dirinya.
"Mengapa harus jijik. Kamu calon istriku. Setelah menikah. Kita tidak hanya satu sendok. Tapi juga satu tubuh."
Sinar merasakan hatinya melayang mendengar perkataan Danish. Sinar semakin yakin. Jika Danish bersedia menikahi dirinya karena ada rasa cinta seperti dirinya mencintai Danish.
"Kamu serius menikahi aku?"
"Apa yang aku lakukan hari ini tidak cukup untuk membuktikan jika aku akan menepati janji untuk menikahi kamu?" tanya Danish balik.
"Lalu bagaimana dengan Bintang?" tanya Sinar.
"Jangan pikirkan yang bukan urusan kamu. Satu yang harus kamu tahu. Posisi calon istri lebih kuat dari calon tunangan."
"Itu artinya kamu akan memilih aku daripada dia," tebak Sinar. Sebenarnya Sinar sangat senang mendengar perkataan Danish tapi dirinya juga perlu memastikan. Danish menatap Sinar sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Sinar ingin mendesak jawaban dari Danish tapi ketukan dari pintu kamar mengalihkan perhatian Sinar dan Danish. Danish menyuruh orang yang di luar kamar itu untuk masuk.
"Maaf mengganggu tuan. Nyonya Amalia menyuruh aku mengantarkan kotak ini kemari," kata pelayan itu sopan. Danish menggerakkan tangannya menyuruh pelayan itu mendekat.
"Buka kotaknya," perintah Danish.
"Ini pakaian ganti untuk kamu," kata Danish kepada Sinar setelah melihat isi kotak itu.
__ADS_1
"Danish, apakah ini pertanda jika aku diterima sebagai calon istri kamu?"