Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Hukuman Untuk Roki


__ADS_3

Kepintaran dan kelicikan Roki tidak berguna di hadapan polisi itu. Sinar sudah membuat pengaduan dan dirinya tidak bisa mencegah Sinar. Biasanya, dia akan menggunakan ancaman untuk membuat lawannya ketakutan. Tapi saat ini, Roki benar benar tidak bisa berbuat apa apa.


Pria itu tidak hanya duduk gelisah karena ketakutan. Terkadang, kakinya gemetaran mengingat perbuatannya kepada Hana bisa membuat dirinya mendekam di penjara. Dia sangat yakin jika dirinya bisa terbebas dari tuduhan pencurian mobil tapi penganiayaan kepada Hana pasti akan membuat dirinya lebih lama lagi hadapan polisi itu.


Meskipun dirinya saat merasa kesulitan. Roki tidak merasa menyesal sama sekali. Kebenciannya kepada Sinar masih tertanam di hati apalagi karena Sinar melaporkan dirinya saat ini. Makin bertambah kebencian dan dendamnya kepada wanita itu.


Setelah membuat pengaduan, Sinar dipersilahkan untuk pulang ke rumah dan dijadwalkan besok untuk datang ke kantor guna dimintai keterangan. Wanita itu sangat berterima kasih kepada polisi karena dirinya tidak ikut ditahan seperti Roki dan Gito.


Ketika Sinar menginjakkan kakinya di halaman kantor polisi. Sinar merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Seseorang yang dia hindari saat ini sedang menutup pintu mobil. Sinar merasa panik dan berniat untuk bersembunyi tapi pria itu sudah melihat dirinya. Gugup dan panik menjadi satu.


Akhirnya Sinar hanya bisa berdiri. Jika pria itu masuk ke dalam kantor otomatis akan melewati dirinya. Sinar akan menghadapi pria itu sekarang tanpa perlu berusaha kabur lagi. Sepertinya menyelesaikan masalah itu akan lebih baik daripada lari dari masalah. Begitulah yang ada dalam pemikiran Sinar.


Pria itu mulai berjalan diikuti oleh seorang pria yang tidak dikenal oleh Sinar. Karena tidak pernah melihat pria itu. Mereka berjalan dengan tetap tanpa berbicara. Semakin mereka mendekat semakin kencang pula detak jantung Sinar. Sinar berusaha bersikap biasa.


Tapi apa yang terjadi setelah pria itu hampir mendekati dirinya. Tidak ada senyum di wajah pria itu. Wajahnya terlihat dingin dan angkuh. Jangankan menyapa Sinar. Pria itu sepertinya tidak mengenal Sinar. Dia melewati tubuh Sinar begitu saja tanpa melirik ataupun menyapa.


Sinar menjadi bingung. Matanya tidak salah melihat jika pria itu adalah Danish. Tapi melihat sikap pria barusan. Mereka seperti dua orang yang tidak pernah bertemu. Merasa penasaran. Sinar membalikkan tubuhnya menatap dua pria itu yang kini sudah membelakangi tubuhnya. Sinar menjadi ragu jika pria itu bukan Danish karena cara berjalan nya menunjukkan seperti orang yang tidak pernah mengalami kecelakaan selama ini. Sementara Danish masih terlihat sedikit pincang karena kakinya belum sembuh sempurna.


"Apakah Danish mempunyai saudara kembar atau memang dia adalah Danish tapi tidak mengenali aku lagi?" tanya Sinar dalam hati. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Mobil pria itu tadi. Seingatnya tidak ada mobil warna kuning di garasi rumah Nyonya Amalia.


"Mungkin saja hanya mirip. Danish adalah pria rapi dan tidak mempunyai cambang," kata Sinar lagi. Pria tadi memang mempunyai cambang tipis, itupun terlihat dari jarak yang dekat.


Tidak ambil pusing dengan pria yang mirip Danish itu akhirnya Sinar bergegas untuk pulang. Mengingat keadaan Hana membuat wanita itu kembali diliputi kekhawatiran.


Sinar kembali merasakan jantungnya berdebar kencang melihat suasana rumahnya yang ramai. Ketakutannya akan keadaan Hana membuat Sinar berjalan cepat menuju rumah Kontrakannya.


"Hana," panggil Sinar dari depan pintu. Hana sedang dikelilingi para ibu ibu tetangga. Mendengar suara Sinar. Para ibu ibu itu juga menoleh dan memberikan ruang bagi Sinar untuk melihat keadaan Hana yang sebenarnya.


"Sinar, syukurlah kamu pulang," kata Hana terlihat lega. Tapi Sinar yang lebih merasa lega karena Hana sudah sadarkan diri. Bukan hanya Hana yang terlihat merasa lega. Para ibu ibu itu juga terlihat merasa lega. Mereka berdiri mengelilingi Hana karena mereka serius mendengar cerita Hana akan apa yang mereka alami sepulang dari pasar beberapa jam yang lalu.


"Ayo, kita ke dokter. Kamu harus berobat secepatnya."


"Tidak perlu Sinar. Aku tidak apa apa."


"Jangan anggap remeh Hana. Aku takut kamu mempunyai Luka dalam. Pukulan Roki pasti sangat kuat hingga kamu bisa pingsan seperti tadi."


Sinar sangat khawatir. Bagaimana pun Hana sudah banyak membantu dirinya. Sinar juga akan berusaha membalas semampunya. Apalagi kejadian itu karena keberadaan dirinya di rumah itu.


"Benar Hana. Sebaiknya periksa saja ke dokter. Jangan dianggap remeh."


Seorang ibu juga membenarkan saran Sinar. Ibu itu juga bercerita memberikan contoh bahwa ada dulu tetangga mereka yang terjatuh dari motor dan tidak mengalami luka luka tapi tiga hari kemudian meninggal dunia. Di duga karena mengalami luka dalam. Cerita ibu itu dibenarkan oleh ibu ibu yang lain.


"Baiklah, tapi besok pagi saja ya. Ini sudah malam."


"Tidak sekarang saja. Untuk kesehatan tidak boleh ditunda," jawab Sinar. Hana tidak bisa menolak lagi karena salah satu dari ibu tersebut mendukung Sinar dan langsung memesan taksi online dari ponselnya.


"Apa yang kamu takutkan Hana?" tanya Sinar setelah mereka sudah di dalam taksi. Hana terlihat gelisah. Hana menggelengkan kepalanya.


"Mana yang sakit?" tanya Sinar lagi.


"Tidak Ada," jawab Hana. Tapi ketika siku tangan Sinar tidak sengaja menyentuh perut sebelah kanan Hana. Wanita itu meringis. Sebenarnya, sejak tadi dia merasakan sakit di area itu tapi berusaha menyembunyikannya karena dia berpikir nanti akan sembuh dengan sendirinya. Selain itu, saat ini dirinya juga tidak mempunyai uang yang cukup untuk berobat karena Hana belum gajian. Meskipun menerima gaji nantinya. Uang itu hanya singgah di tangannya karena sudah ada pengeluaran yang tidak bisa dihindari.


"Ternyata memang benar sakit kan Hana?" tanya Sinar. Hana hanya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Uang berobat yang kamu pikirkan?" tebak Sinar. Dengan berat hati, Hana menganggukkan kepalanya karena memang itu yang sebenarnya.


"Kamu tenang saja. Aku masih mempunyai uang sisa dari hasil penjualan kalung itu. Biaya berobat kamu nanti, aku yang tanggung," kata Sinar.


"Aku malu karena sudah merepotkan kamu."


"Jangan katakan seperti itu. Aku yang terlebih dahulu merepotkan kamu. Lagi pula kamu seperti ini karena aku," kata Sinar sendu. Dia merasa bersalah kepada Hana karena wanita itu kesusahan dan kesakitan seperti sekarang ini.


Hana menatap Sinar. Dia mengulurkan tangan kirinya memeluk wanita itu. Tidak salah dirinya bersedia merepotkan diri sendiri membantu Sinar saat itu. Sinar wanita tulus dan baik dan juga tahu membalas kebaikannya. Bukan bermaksud mengharapkan balasan dari bantuannya dulu. Tapi di saat seperti ini. Hana benar benar butuh bantuan.


"Jangan tunjukkan wajah seperti itu Sinar. Kalau kamu ingin membantu aku. Tunjukkan lah wajah yang ceria," kata Hana bercanda.


"Bagaimana aku menunjukkan wajah yang ceria kalau kamu kesakitan seperti ini," kata Sinar.


"Sudah, aku pasti baik baik saja. Jangan sedih seperti itu," kata Hana. Hana sangat yakin jika Sinar bisa sahabat di kala susah dan sahabat di kala senang.


"Harus itu. Kalau tidak aku marah." Sinar sengaja memasang wajah yang cemberut.


"Iya, iya adik ku sayang," kata Hana.


"Senang nya hatiku," kata Sinar. Sungguh Sinar merasa bahagia disebut adik oleh Hana.


Apa yang ditakutkan Sinar benar adanya. Di perut Hana bagian kanan terdapat memar akibat pukulan Roki. Pukulan Roki membuat pembuluh darah pecah. Dokter sudah meresepkan obat. Dan meminta Hana kembali berkunjung jika sakitnya tidak berkurang dalam tiga hari ini.


Sinar merasa lega karena sudah membawa Hana berobat. Tapi ketika menjelang tidur, Sinar tidak dapat memejamkan matanya mengingat pertemuannya dengan pria yang mirip Danish tadi.


"Mengapa aku tidak bisa melupakan mu?" tanya Sinar pelan ke dinding kamarnya. Seakan dinding kamar itu adalah Danish. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sampai saat ini. Sinar tidak bisa melupakan Danish. Kenangan di rumah kakek Joni selalu singgah di pikirannya setiap menjelang tidur seperti ini. Sinar juga sadar jika hatinya sangat berbeda memperlakukan Danish dan Roki. Keduanya hampir pernah mempunyai rencana yang sama untuk merenggut kesuciannya dengan alasan yang berbeda.


Seharusnya, Sinar juga harus membenci Danish seperti dirinya yang membenci Roki. Tapi entah mengapa, Sinar hanya muak di awal dan kini rasa muak itu lenyap entah kemana yang ada kenangan manis yang pernah terjadi diantara mereka menghiasi malamnya menjelang tidur.


"Jangan jangan. Pria tadi memang Danish. Dia seperti itu karena tidak ingin menyakiti tunangannya."


Mengingat pertunangan Danish dengan Bintang. Sinar merasakan hatinya terasa sesak. Sebagai wanita biasa, dirinya ber pura pura tegar kala mengantarkan Bintang ke hadapan Danish kala itu. Kabur dari Danish memang hal yang terbaik untuk hubungan mereka bertiga karena bagaimana pun Sinar tidak mau hidup dalam pernikahan poligami.


"Mengenal kamu bukan rencana ku tapi melupakan mu adalah keinginan ku. Pertemuan kita bukan lah takdir melainkan hanya perjalanan hidup biasa," kata Sinar lagi. Dia meraba dinding itu.


"Pergilah dari hatiku. Aku mohon," kata Sinar sambil memejamkan matanya.


Di kantor polisi, Roki meminta tolong kepada polisi supaya dirinya dipertemukan dengan pemilik mobil.


"Tolong pak, pertemukan aku dengan pemilik mobil itu. Aku tidak mencuri mobil itu," kata Roki kepada polisi yang sudah terlihat sangat lelah.


"Apa kamu mencari mati dengan bertemu dengan pemilik mobil itu. Kamu dengan beliau tidak mempunyai urusan. Surat surat yang beliau tunjukkan sudah membuktikan jika mobil itu adalah miliknya," kata polisi itu.


Roki bersikeras untuk bertemu dengan pemilik mobil sehingga dengan berjalan malas sang polisi menyampaikan niat Roki itu kepada Pemilik Mobil yang berada di ruangan terpisah.


Roki diperintahkan untuk menemui si pemilik mobil di ruangan lain. Roki memejamkan matanya melihat pria yang duduk di hadapannya. Pria itu bukan Danish melainkan orang lain. Melihat pria yang berbeda, Roki semakin merasa takut di hatinya. Awalnya dia berpikir jika dirinya bertemu dengan pemilik mobil yang bukan Danish dia akan mengatakan jika dirinya mendapatkan mobil itu dari Danish. Tapi kini melihat tatapan tajam pria itu. Roki merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Berani sekali kamu ingin bertemu denganku setelah kamu mencuri Mobil ku," kata pria itu dengan sinis. Tatapannya sangat tajam seperti ingin menerima Roki.


"A..a.ku ti..tidak pernah mencuri mobil itu pak. Aku mendapatkannya dari Danish."


"Aku tidak perduli darimana kamu mendapatkan mobil itu. Yang pasti itu mobilku dan kamu yang tertangkap basah menggunakan. Jadi jalani hukuman mu karena aku tidak akan mau berdamai berapa pun yang kamu tawarkan."

__ADS_1


Roki menggigit bibirnya. Saat ini baru dia merasakan penyesalan karena memeras Danish dengan meminta mobil itu yang berujung dirinya mendapatkan masalah saat ini. Dalam hati, Roki semakin yakin jika Danish merental mobil itu dari Pria yang ada di hadapannya ini.


"Aku sudah pernah berpikir jika mobil itu adalah mobil rental tapi mengapa aku masih memintanya dulu," batin Roki.


"Aku mohon pak, tolong jangan diperpanjang lagi. Aku bersumpah, aku tidak pernah mencuri mobil itu. Tolong pak. Aku bukan warga kota ini. Orang tuaku pasti sangat khawatir mendengar tidak Ada kabar dari aku Karena di tahan di tempat ini."


Sadar jika dirinya tidak bisa berdebat lagi, akhirnya Roki berinisiatif untuk memohon kepada Pemilik mobil itu.


"Lalu aku harus percaya?" tanya pria itu sinis.


Roki melemas, sepertinya pria yang ada dihadapannya ini adalah pria yang super tega dan minim empati membuat Roki hilang harapan keluar dari kantor polisi itu secepatnya.


"Aku mendapatkan dari Danish. Aku membeli mobil ini dari Danish."


Akhirnya Roki membuat kebohongan supaya pria Pemilik Mobil itu percaya kepada dirinya. Selain sombong dan sok hebat, ternyata Roki memang orang yang bodoh. Dia tidak tahu jika dirinya bisa mendapatkan hukuman lebih berat karena mengaku membeli mobil itu. Bagaimana pun prosesnya mobil itu ada pada dirinya. Di kantor polisi sudah tercatat jika mobil itu adalah mobil hilang. Itu artinya secara tidak sengaja, Roki menyebut dirinya sebagai penadah.


Pria Pemilik mobil itu tertawa dalam hati menyadari kebodohan lawan bicaranya.


"Artinya kamu seorang penadah. Hukuman seorang penadah lebih berat dari seorang pencuri."


Roki menegakkan kepalanya. Menatap pria itu dengan tidak percaya atas apa yang dia dengar. Itu artinya, bahwa dirinya sendiri yang menjerumuskan dirinya mendapatkan hukuman lebih lama lagi.


Memikirkan apa yang terjadi pada dirinya karena masalah mobil itu dan pengaduan Sinar. Roki menurunkan tubuhnya yang awalnya berdiri kemudian berlutut di hadapan pria itu. Hanya seperti ini dia berharap lolos dari hukuman. Dan tentang pengaduan Sinar. Roki juga akan memohon jalan damai. Jika polisi mengijinkan dirinya menggunakan ponsel maka orang yang pertama kali dia hubungi adalah kedua orang tuanya supaya menyusul dirinya ke kota dan memohon jalan damai kepada Sinar.


"Berlutut bukan penyelesain masalah. Berdirilah," kata pemilik mobil itu tegas dan terdengar menyeramkan di telinga Roki.


"Aku mohon pak. Kasihan lah aku," kata Roki dengan suara yang hampir tercekat.


"Pak," kata Roki lagi. Pria itu sudah berdiri.


"Maaf. Proses hukum harus terus berlanjut," kata pria Pemilik mobil itu kemudian pergi meninggalkan Roki.


Roki masih tetap berlutut. Dia hampir menangis. Hanya satu harapannya lolos dari masalah mobil itu yaitu kakek Joni. Tapi mana mungkin kakek Joni bersedia membantu dirinya mengingat apa yang sudah dia lakukan kepada keluarga Pak Ilham dan kepada kakek Joni.


Benar lah apa yang dikatakan oleh orang orang bijak. Orang yang sok hebat itu adalah orang yang minim ilmu pengetahuan. Jika orang yang benar benar hebat, orang tersebut tidak bersikap sombong supaya disebut hebat.


"Roki, bebaskan aku dari masalah ini. Kalau tidak aku akan membongkar semua rencana jahat kamu terhadap Sinar," kata Gito setelah Roki kembali ke ruangan semula.


Roki semakin merasakan kepalanya sangat pusing. Tentang masalah mobil itu saja belum tuntas kini Gito menambah beban pikirannya.


"Bagaimana aku membebaskan kamu. Aku saja masih belum jelas," jawab Roki sambil mengusap wajahnya. Meskipun tangannya terikat, kalau hanya mengusap wajah. Roki bisa melakukannya.


"Kamu hanya mengatakan jika aku tidak mengetahui hal apapun tentang mobil itu. Apa itu susah?" tanya Gito dengan suara yang meninggi.


"Ingat ya Roki. Aku tidak main main dengan perkataanku," ancam Gito lagi.


"Iya, tunggu polisinya datang. Aku akan mencoba mengatakan seperti yang kamu katakan tadi. Aku janji," jawab Roki menenangkan Gito.


Beberapa menit kemudian, Gito menagih apa yang sudah dijanjikan Roki dengan menyenggol lengan Roki ketika polisi sudah kembali ke ruangan itu.


"Maaf Pak, aku ingin mengatakan jika teman saya ini tidak mengetahui apa apa tentang mobil itu. Aku yang meminta tolong kepada dirinya untuk membantu menyetir," kata Roki. Gito yang duduk di sebelah harap harap cemas menunggu tanggapan pak polisi.


"Perkataan mu tidak cukup membuktikan jika dia tidak terlibat." kata Pak polisi itu membuat Gito melemas.

__ADS_1


Bukan hanya Gito yang melemas. Roki juga seperti itu. Jika Gito tidak bisa keluar dari kantor polisi itu sekarang. Maka, Gito bisa saja membongkar rencana jahatnya itu.


__ADS_2