
Danish dan Sinar bersamaan turun dari Mobil. Mereka bergandengan tangan melangkah ke dalam rumah. Seperti permintaan Danish. Tuan Santosh dan Nyonya Amalia sudah menunggu mereka duduk di ruang tamu dengan santai. Kedatangan Danish dan Sinar yang akan bertepatan dengan makan siang membuat Nyonya Amalia juga meminta para pelayan untuk mempersiapkan makan siang bagi keluarganya.
"Ada hal penting apa yang membuat kalian datang di waktu yang tidak biasanya?" tanya Tuan Santosh. Danish tidak langsung menjawab pertanyaan papanya. Dia menatap Sinar sebentar kemudian beralih menatap wajah kedua orangtuanya.
"Kamu saja yang memberitahukan sayang," kata Danish. Dia meraih tangan Sinar dan menggenggam tangan istrinya itu. Sinar menyentuh tubuh Danish dengan siku tangannya supaya pria itu saja yang menyampaikan kabar baik itu.
"Kalian bawa kabar apa sih. Kok, buat mama penasaran. Jangan jangan kedatangan kalian membawa Kabar bahagia kan. Sinar sudah hamil kan," kata mama Amalia. Sinar tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Tebakan mama benar," kata Danish. Seketika terdengar tawa kebahagiaan dari tuan Santosh. Sedangkan Nyonya Amalia langsung berdiri dan menghampiri Sinar. Sinar juga berdiri menyambut pelukan mama mertuanya.
"Mama senang. Sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Sehat sehat di dalam sini ya cu," kata Nyonya Amalia. Dia mengelus perut Sinar dengan lembut.
"Selamat Danish. Keberuntugan akan menghampiri kamu dengan kehamilan istrimu," kata Tuan Santosh sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Danish. Kemudian kembali menarik tangannya dan tidak berniat untuk bersalaman dengan Sinar. My t
"Amin pa."
Sinar juga berkata amin di dalam hati atas perkataan sang papa mertua. Dia sudah bisa menebak jika maksud dari tuan Santosh. Danish sudah memenuhi kriteria menjadi calon Direksi Global Anugerah Group.
"Jaga fisik dan psikis istrimu selama hamil Danish. Jangan sampai dia merasa tertekan. Kamu harus lebih banyak memberikan perhatian kepada istrimu dibandingkan waktu yang sebelumnya. Mama tidak ingin terjadi apapun terhadap cucu mama."
"Siap ma. Seperti papa yang selalu siap siaga untuk mama. Aku juga akan seperti itu kepada istriku," jawab Danish.
Sinar tersenyum mendengar nasehat Nyonya Amalia terhadap suaminya. Perhatian tulus mama mertua membuat Sinar merasa sangat dihargai dan diterima. Dia dapat merasakan jika kedua mertuanya benar benar bahagia akan kehadiran calon penerus keluarga Santosh. Dan hampir setengah jam mereka di ruang tamu itu. Tuan Santosh belum memberikan kata selamat kepada dirinya. Kata selamat itu hanya ditujukan kepada Danish. Seakan akan hanya Danish yang akan mempunyai anak.
Sebenarnya Sinar tidak memperdulikan sikap papa mertua asalkan tuan Santosh tidak hanya mementingkan dirinya akan kehadiran calon penerus itu. Tidak apa apa jika kehadiran di keluarga itu tidak dianggap asalkan jangan sampai tuan Santosh memisahkan dirinya dengan suami dan anaknya kelak.
Tapi sikap tuan Santosh yang selalu membedakan dirinya dan Danish sedikit membuat Sinar tersinggung. Danish dan Nyonya Amalia mungkin tidak menyadari hal itu. Tapi Sinar yang merasakan bisa melihat jika Tuan Santosh ingin membuat dirinya menyerah dan pergi dari sisi Danish.
Sinar mengeratkan genggaman tangan mereka. Nyonya Amalia menasehati Danish untuk menjaga fisik dan psikis nya tapi sadar atau tidak sadar sikap Tuan Santosh melemahkan mentalnya.
Entah apa yang direncanakan tuan Santosh dengan kehamilan dan sesudah kelahiran anak itu nantinya. Yang pasti Sinar sudah menebak jika Tuan Santosh akan berusaha memisahkan dirinya dari suami dan anaknya atau hanya memisahkan dirinya dari Danish saja. Karena bagaimana pun. Ketika kelahiran itu sudah tiba. Pemilihan Direksi Global Anugerah Group sudah berlalu dan bisa saja Danish sudah terpilih nantinya.
Sinar menggelengkan kepalanya membayangkan perpisahan itu. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan Danish sosok suami yang dia mimpikan selama ini.
"Makan buah nya Sinar," kata Nyonya Amalia membuyarkan lamunan Sinar. Buah buahan itu baru saja disajikan oleh pelayan atas perintah Nyonya Amalia setelah mengetahui menantuku sudah hamil.
"Iya ma. Terima kasih."
Sinar meraih Wadah berisi potongan buah itu. Jam makan siang lebih kurang dari satu jam lagi dan saat ini waktu yang tepat makan buah.
"Kamu tidak merasakan mual?" tanya Nyonya Amalia melihat Sinar dengan lahap makan buah itu.
"Sampai saat ini, tidak ada ma. Semoga saja selama kehamilan jangan sampai ada drama mual mual," jawab Sinar. Nyonya Amalia dan Danish tertawa mendengar perkataan Sinar sedangkan Tuan Santosh bersikap biasa saja.
"Mama lebih suka mana. Calon cucu mama perempuan atau laki laki," tanya Danish.
"Karena mama sudah punya anak laki laki. Anak pertama kalian, mama lebih suka saja anak perempuan. Kedua, ketiga dan seterusnya baru laki laki."
Uhuk. uhuk
__ADS_1
Terdengar suara batuk Tuan Santosh sedangkan Danish dan Sinar tertawa mendengar perkataan Nyonya Amalia. Sinar seketika terdiam. Dia mengartikan suara batuk yang terdengar dari tuan Santosh pertanda tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya Amalia.
"Dan seterusnya?. Berarti mama ingin kami punya anak lebih dari tiga orang?" tanya Danish.
Nyonya Amalia menganggukkan kepalanya. Tidak mempunyai anak perempuan dia ingin mempunyai cucu pertama perempuan.
"Kamu anak tunggal Danish. Mama berharap kalian mempunyai anak yang banyak supaya tidak seperti kami yang kesepian setelah kamu pisah rumah dari kami," jawab Nyonya Amalia.
Tidak bisa dipungkiri jika sebenarnya Nyonya Amalia kesepian di rumah yang besar itu. Jauh di lubuk hatinya. Dia ingin Danish dan Sinar tinggal di rumah itu tapi Nyonya Amalia tidak ingin memaksakan kehendak karena ingin melihat rumah tangga putranya dan Sinar bahagia. Nyonya Amalia jelas mengetahui jika suaminya masih saja tidak menyukai menantu mereka. Berkali kali Nyonya Amalia menasehati suaminya supaya bisa menerima Sinar dan hampir setiap malam dia membawa tuan Santosh dalam doanya supaya hati suaminya itu bisa terbuka. Tapi mungkin masih seperti inilah adanya. Tuan Santosh masih betah akan mode keras kepalanya.
Sinar menatap wajah nyonya Amalia yang berubah sendu. Sinar merasa bersalah dalam hati karena pernikahannya dengan Danish membuat Nyonya Amalia terpisah rumah dari Danish. Dia pun sebenarnya ingin tinggal bersama dengan mertuanya tapi Sinar tidak yakin akan tahan dengan sikap Tuan Santosh.
"Aku juga berharap seperti itu ma. Aku ingin punya anak banyak. Aku berharap harapan mama jadi kenyataan tapi jika anak pertama kami laki laki aku harap tidak mengurangi kebahagiaan mama."
"Itu pasti Danish. Mama pasti akan bahagia apapun jenis kelamin cucu kelak. Sebagai manusia biasa tidak apa apa kan mempunyai harapan?"
"Benar mama."
"Kamu bersedia kan Sinar memberikan cucu yang banyak untuk mama?" tanya Nyonya Amalia.
"Mama, semua Kita serahkan pada sang Pencipta. Aku juga anak tunggal. Kedua orang tuaku juga pasti kesepian tanpa aku di sisi mereka. Jika sang Pencipta memberikan kepercayaan kepada kami untuk mempunyai anak yang banyak. Aku Dan Danish pasti tidak bisa menolak ma," jawab Sinar.
Jawaban yang terdengar sangat bijak di telinga nyonya Amalia. Di balik kata kata itu, Sinar menyiratkan jika tidak ada yang bisa menolak kehendak Pencipta. Sinar ingin Tuan Santosh bisa sadar jika apa yang mereka alami saat ini bukan hanya kehendak manusia semata. Tapi ada campur tangan sang Pencipta di dalam kehidupan mereka. Sinar juga ingin menegaskan jika bukan hanya Nyonya Amalia yang merasakan kesepian karena pisah rumah dengan putranya.
Hal yang sama dirasakan oleh kedua orangtuanya di kampung sana. Bahkan orang tua Sinar yang lebih kesepian karena tidak pernah mendapatkan kunjungan dari mereka sedangkan ke rumah ini hampir setiap akhir pekan mereka berkunjung dan terkadang menginap.
Ternyata perkataan Sinar membuka peluang bagi tuan Santosh untuk mencari kekurangan Sinar. Ya, seharusnya memang seperti itu. Tapi tuan Santosh tidak sadar jika putranya sendiri yang ingin pisah rumah karena sikapnya yang belum bisa menerima Sinar.
"Mengapa pembicaraan ini melebar ke hal lain. Bukankah seharusnya kita berbahagia?" kata Danish. Dia bisa menangkap ada maksud tertentu dari perkataan papanya dan Danish tidak ingin berdebat hanya karena permasalahan tempat tinggal mereka.
"Benar, sebaiknya kita fokus merasakan kehamilan Sinar. Jangan kita pikirkan hal lain. Oya, Sinar. Mama merekomendasikan keripik buatan kamu kepada salah satu teman mama. Mereka ada usaha swalayan. Apa mereka sudah menghubungi kamu?" tanya Nyonya Amalia mengalihkan pembicaraan.
"Sudah ma. Mereka sudah pernah order sampai dua kali dalam jumlah yang lumayan besar," jawab Sinar. Satu bulan ini, memang permintaan akan keripik ubi Sinar sangat meningkat tajam karena ada campur tangan Danish dan Nyonya Amalia.
"Itu artinya kamu juga harus membutuhkan anggota lagi," kata Nyonya Amalia.
"Sudah ma. Sudah ada penambahan dua orang."
"Mama yakin usaha mu pasti akan berkembang Sinar."
"Terima kasih ma."
"Kuliah mu bagaimana?" tanya Nyonya Amalia lagi.
"Masih lanjut ma. Tapi untuk semester depan. Mau tidak mau. Sinar harus cuti. Dia harus fokus untuk kehamilannya. Atau jika Sinar mau. Aku juga menyarankan Sinar sebaiknya cuti saja mulai semester ini," kata Danish.
"Bagaimana menurut kamu Sinar?" tanya Nyonya Amalia.
"Aku rasa untuk semester ini masih bisa dilanjutkan ma. Tapi semester depan wajib harus cuti," jawab Sinar. Dia pun tidak ingin pamer perut buncit ke teman teman kuliah karena bisa dipastikan semester depan yang tinggal tiga bulan lagi. Perutnya sudah pasti membesar.
__ADS_1
"Saran Danish sudah sangat tepat. Kehamilan di trisemester pertama itu sangat rawan. Tapi kamu masih mengandalkan pemikiran kamu sendiri. Aku tidak mau terjadi apa apa dengan calon cucuku. Kamu harus cuti mulai semester ini," kata Tuan Santosh.
Lagi lagi tuan Santosh ingin melemahkan mental Sinar. Bukan menyarankan tapi terkesan memaksa.
"Kalau begitu kemauan papa. Aku akan mengambil cuti mulai semester ini."
Sinar akhirnya mengalah harus cuti. Supaya tidak ada lagi perdebatan panjang. Dan menyebut laki laki itu dengan sebutan papa di hadapan Danish dan Nyonya Amalia. Sampai saat ini, Sinar masih memendam sendiri bagaimana Tuan Santosh menolak dirinya ketika memanggil laki laki itu dengan sebutan papa. Dan demi kebaikan bersama. Jika bersama seperti ini. Sinar akan menyebut laki laki itu dengan sebutan papa sedang kan jika berbicara berdua dia tetap memanggil dengan kata Tuan.
"Papa mertua kamu mengatakan itu karena perhatiannya terhadap kamu dan calon cucunya. Demi kebaikan kalian berdua," kata Nyonya Amalia supaya perkataan suaminya tidak dimasukkan Sinar ke dalam hatinya.
"Iya ma. Aku mengerti."
Danish mengusap bahu Sinar dengan lembut. Dia mengetahui bagaimana Sinar ingin secepatnya menyelesaikan pendidikannya sehingga tidak ingin mengambil cuti semester ini karena merasa masih sanggup. Jika Sinar mengambil cuti semester ini itu artinya dia harus cuti dua semeter. Danish bisa menangkap jika keputusan Sinar ini adalah sikap mengalah akan perkataan papanya.
Danish pun sebenarnya tidak terima papanya bersikap seperti itu kepada istrinya. Tapi Danish memilih diam karena dia berencana akan memprotes sikap papanya itu di saat mereka berdua saja. Melihat Sinar mengalah saat ini sudah cukup bagi Danish untuk tidak memperpanjang pembicaraan itu untuk sementara.
"Apa sudah bisa makan siang ma. Perutku sudah sangat lapar," kata Danish.
"Sebentar, biar mama lihat ke ruang makan," kata Nyonya Amalia.
"Aku ikut ma," kata Sinar. Nyonya Amalia berhenti dan mengulurkan tangannya menarik tangan Sinar.
"Pa, aku tidak setuju dengan sikap papa kepada istriku. Kami yang menjalani rumah tangga kami pa. Tolong jangan ikut campur termasuk tentang perkuliahan Sinar," kata Danish pelan setelah mama dan istrinya tidak terlihat lagi.
"Apa papa terlihat ikut campur?. Papa hanya mengatakan yang seharusnya demi kesehatan istri dan calon anakmu. Apa papa salah?" kata Tuan Santosh merasa tidak bersalah.
"Jelas sangat salah pa. Kata kata dan intonasi papa bukan menyarankan tapi memaksa. Sinar yang lebih tahu tentang tubuhnya sendiri pa."
"Sudahlah Danish. Jangan terlalu memanjakan istri kampungan kamu itu. Meskipun dia mempunyai usaha keripik itu tidak langsung membuat status keluarganya dengan keluarga kita langsung setara. Masih jauh Danish."
"Papa. Sinar adalah istriku. Apa yang aku miliki adalah miliknya. Jangan lagi berbicara status keluarga. Aku muak kalau terus terusan papa mempersalahkan tentang status keluarga. Apa susah nya sih papa menerima Sinar?"
"Sangat susah. Karena dia tidak sebaik yang kamu kira. Aku mengetahui sepak terjangnya. Termasuk menggunakan pil kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Jika dia memutuskan tidak menggunakan pil kontrasepsi itu. Kita tidak tahu apa yang dia rencanakan selanjutnya."
Danish terkejut. Dia sungguh tidak menyangka jika papanya mengetahui tentang pil kontrasepsi itu.
"Itu artinya papa menyuruh seseorang mengikuti Sinar selama ini," tebak Danish.
"Itu pasti. Tapi lihatlah. Papa masih menyembunyikan hal itu dari mama kamu supaya dia tidak kecewa dengan sikap menantu kesayangannya."
"Tidak ada yang perlu dikecewakan pa. Karena saat ini, Sinar sudah hamil. Jangan memperpanjang tentang pil kontrasepsi itu karena Sinar menggunakan itu atas persetujuan ku. Jadi jangan pernah berprasangka buruk jika akhirnya Sinar tidak menggunakan pil kontrasepsi itu. Itu kesepakatan kami bersama."
"Ternyata setelah menikah dengan Sinar. Kamu jadi pintar mengarang ternyata," kata tuan Santosh sinis. Tuan Santosh tidak bodoh dan tidak pelupa. Dia masih mengingat bagaimana Danish meragukan kesuburan benihnya sendiri ketika Sinar belum hamil satu bulan yang lalu.
Dibalik dinding Sinar merasa terkejut dan terharu. Dia terkejut karena ternyata tuan Santosh mengetahui tentang pil kontrasepsi itu. Dan terharu karena pembelaan Danish terhadap dirinya. Sinar mengalihkan pandangannya ke arah meja makan dimana Nyonya Amalia membantu para pelayan untuk menata makanan di atas meja. Sinar masih bisa merasa lega karena dirinya yang mendengar pembicaraan antara suami dan papa mertuanya. Andaikan Nyonya Amalia yang mendengar tentang pil kontrasepsi itu. Entah dirinya masih menantu kesayangan atau tidak di hati wanita itu.
"Danish, papa. Kita sudah bisa ke ruang makan sekarang juga."
Sinar sengaja muncul di hadapan dua laki laki itu. Karena Sinar tidak ingin ada pembicaraan selanjutnya tentang dirinya atau tentang apapun yang bisa semakin membuatnya sakit hati.
__ADS_1