Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Jangan sampai Kamu Yang tersingkirkan


__ADS_3

Danish dan Nyonya Amalia saling berpandangan. Kemudian menatap wajah Tuan Santosh. Tuan Santosh masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Sinar karena dia juga terkejut. Tuan Santosh tidak menyangka jika Sinar berani menanyakan itu di hadapan istri dan putranya.


"Papa."


Hanya itu yang terdengar dari mulut Nyonya Amalia. Perkataan Sinar sangat jelas jika Tuan Santosh ingin memisahkan Sinar dari anaknya kelak. Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya. Dia tidak terima suaminya bersikap seperti itu kepada menantunya. Kekecewaan itu terlihat di wajahnya tapi tidak bisa berbuat banyak. Tuan Santosh seakan buta akan ketulusan hati Sinar.


"Aku tidak menyangka papa sejahat itu pa," kata Danish marah. Danish menatap papanya dengan sendu. Danish sangat sedih. Laki laki yang seharusnya mendukung kebahagiaannya justru menodai kebahagiaannya hari ini. Suasana bahagia itu harus terganggu dengan sikap benci yang ditunjukkan oleh tuan Santosh kepada Sinar.


"Ayo sayang. Kita pulang. Mama kalau rindu kami berdua. Pintu rumah kami terbuka untuk mama," kata Danish lagi. Danish menarik tangan Sinar untuk berdiri. Sedangkan Nyonya Amalia sudah menangis.


"Sebentar Danish. Aku butuh jawaban dari tuan Santosh," jawab Sinar. Untuk apa dia bertanya kalau tidak untuk mengetahui alasan papa mertuanya membenci dirinya. Pergi dari rumah itu tanpa mendapatkan jawaban sama saja dengan membuat masalah semakin rumit.


"Ya pa. Seharusnya papa terus terang sekarang. Sinar bertanya pasti karena siap memperbaiki diri jika ada sesuatu sikapnya yang tidak berkenan di hati papa."


Danish tidak bisa memaksa Sinar. Akhirnya dia juga duduk kembali. Danish tidak boleh menunjukkan kemarahannya karena bagaimana pun. Sinar dan tuan Santosh adalah orang yang penting dalam kehidupannya. Danish ingin mencari jalan tengah.


"Apa aku pernah berkata seperti yang kamu tuduhkan itu, Sinar?" tanya Tuan Santosh. Sinar merasa terjebak dengan perkataan papa mertuanya. Masih hitungan jam, Tuan Santosh sudah membantah perkataannya sendiri. Sinar semakin muak. Ternyata papa mertuanya tidak hanya jahat tapi juga licik. Sinar seketika melihat Danish. Sinar menggelengkan kepalanya. Perkataan tuan Santosh seakan dirinya yang mengarang cerita.


"Baiklah, kalau Tuan Santosh tidak pernah mengatakan seperti itu. Berarti yang berbicara dengan aku tadi bukan tuan Santosh," kata Sinar. Tidak ada gunanya dia bersikeras meminta jawaban dari tuan Santosh jika pria itu juga membantah perkataannya sendiri. Sinar dapat melihat jika Tuan Santosh tidak ingin terlihat salah di hadapan istri dan putranya. Lagi pula, Sinar sadar. Dirinya hanyalah orang lain yang masuk ke dalam keluarga itu dengan menjadi istri Danish. Sinar yakin jika Danish dan Nyonya Amalia bisa saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh tuan Santosh. Lebih baik mengalah daripada membuat masalah semakin rumit. Sinar berpikiran seperti itu.


"Jangan mengadu domba keluarga ini, Sinar. Jangan membuat aku dan putraku berselisih paham hanya karena pendengaran mu yang kurang tajam," kata Tuan Santosh lagi. Sinar ingin menangis. Bukan hanya membantah perkataannya. Sinar juga dianggap tuli oleh tuan Santosh. Padahal tuan Santosh sangat jelas mengatakan hal itu membuat Sinar merasa gelisah dan ketakutan. Tidak cukup bagi Tuan Santosh menyakiti dirinya di belakang Danish dan Nyonya Amalia. Kini sesuatu yang tidak pernah dia lakukan dituduhkan kepada dirinya.


Sinar tidak pernah bermaksud untuk mengadu domba. Dia hanya butuh jawaban supaya bisa memperbaiki diri atau menjelaskan apa yang perlu di jelaskan. Sinar hanya ingin hidup damai bukan hanya dengan suaminya sendiri tapi juga dengan kedua mertuanya. Kebahagiaan itu tidak lengkap jika Tuan Santosh akan tetap membenci dirinya. Lagipula Sinar juga tidak yakin. Dirinya bisa berdiam diri terus jika Tuan Santosh tetap menyakiti dirinya. Akan ada saatnya dirinya meledak. Dan Sinar tidak ingin itu terjadi. Sinar sengaja memberanikan diri untuk bertanya supaya bisa memperbaiki diri.

__ADS_1


"Sinar tidak mungkin salah mendengar pa. Sinar bertanya pasti karena tidak tahan dengan sikap papa. Apa yang papa katakan pada Sinar ketika aku tinggal ke kamar Mandi tadi?" tanya Danish. Danish seketika mengingat perkataan perkataan tuan Santosh ketika mereka tadi berdua di ruang tamu itu. Mengetahui tentang pil kontrasepsi dan bahkan masih mempermasahkan status sosial keluarga Sinar. Mengingat itu. Danish percaya jika papanya mengatakan sesuatu yang menyakiti Sinar ketika ditinggal ke kamar mandi tadi. Danish percaya akan istrinya itu.


"Kamu mengenal Sinar masih hitungan bulan tapi kamu lebih percaya kepada dia daripada papa yang membesarkan kamu," jawab tuan Santosh sinis. Setelah mengatakan itu. Tuan Santosh melayangkan tatapan tajam kepada Sinar.


"Bukan masalah itu pa. Aku tahu papa kurang menyukai Sinar. Tapi jangan sampai keterlaluan menyakiti istriku apalagi sampai berniat memisahkan kami."


"Aku tidak mengatakan seperti itu," bentak tuan Santosh marah. Dia merasa terdesak karena Danish sepertinya percaya dengan perkataan Sinar.


Nyonya Amalia memijit kepalanya. Kepalanya sakit melihat situasi itu. Kabar bahagia karena kehamilan Sinar tidak membuat keluarga itu ceria sepanjang hari ini. Kini perdebatan yang terdengar di ruang tamu itu. Entah pada siapa dirinya percaya saat ini. Yang pasti Nyonya Amalia tidak menginginkan Sinar sakit hati dan merasa tertekan menjalani kehamilan itu karena perkataan suaminya.


"Danish, Sinar. Kembali lah ke rumah kalian," kata Nyonya Amalia pelan. Nyonya Amalia tidak ingin ada adu mulut antara Danish dan suaminya. Biarlah dirinya nanti yang bertanya kepada suaminya akan kebenaran dari apa yang ditanyakan oleh Sinar. Saat ini, Danish dan tuan Santosh sudah terlihat memendam amarah. Nyonya Amalia takut amarah suami dan putranya itu akan meledak.


"Tidak ma. Aku dan Sinar tidak akan pulang. Jika papa tidak akan menjelaskan apa maksudnya ingin memisahkan Sinar dari janin itu. Dari anak kami."


"Tolong Sinar, ajak Danish pulang," kata Nyonya Amalia. Sinar yang sudah menangis sejak tadi akhirnya bangkit dari duduknya dan menarik tangan Danish.


"Ayo pulang Danish," ajak Sinar. Danish masih bertahan di tempat duduknya sedangkan Tuan Santosh menatap Sinar semakin tidak suka.


"Pulang lah Danish. Aku mohon. Masalah tidak akan selesai jika hati kalian masih panas seperti ini. Dia papamu. Dan Sinar adalah istrimu. Tugas kamu bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar diantara mereka berdua. Tapi tugas mu adalah untuk mendamaikan mereka. Sinar adalah wanita yang baik dan aku juga yakin papa tidak akan sejahat itu. Kalau pun keluar kata kata itu dari mulut papamu. Yakin kan hati kalian berdua. Jika itu tidak akan pernah terjadi. Sinar sudah hamil. Dan mama yakin kalian akan menjadi keluarga bahagia nantinya," kata Nyonya Amalia untuk menenangkan hati Danish dan Sinar.


Danish beranjak dari duduknya. Dia mengikuti langkah Sinar melangkah keluar dari rumah. Kebahagiaannya hari ini ternodai dengan sikap papanya. Memisahkan diri dari Tuan Santosh sepertinya hanya itu yang bisa dilakukan untuk tidak memperpanjang masalah. Danish pun sebenarnya tidak ingin bertengkar dengan papanya itu. Tapi hari ini, Danish terpaksa melawan karena bagi Danish sikap papanya sudah sangat keterlaluan.


Bukan tidak mengetahui jika Tuan Santosh masih membenci istrinya. Danish mengetahui itu jauh sebelum mereka menikah. Danish berpikir jika waktu akan membuat hati tuan Santosh akan melunak apalagi kehadiran sang penerus di rahim istrinya. Ternyata Danish salah. Tuan Santosh terlalu keras kepala dan mempertahankan rasa benci itu untuk Sinar. Entah apa alasannya membenci Sinar.

__ADS_1


"Lihatlah menantu kesayangan mu itu ma. Berani beraninya dia menantang papa seperti itu," kata Tuan Santosh setelah terdengar suara mobil bergerak menjauh dari rumah itu. Pertanyaan Sinar diartikan oleh tuan Santosh untuk menantang dirinya. Dia tidak bisa melihat sisi baik dari Sinar sampai menanyakan hal itu.


"Pa, entah mengapa melihat sikap papa seperti ini. Aku lebih percaya kepada Sinar daripada kepada papa," kata Nyonya Amalia kecewa.


"Bukan kah kamu dan Danish mengetahui jika aku tidak menginginkan wanita itu menjadi menantu di rumah ini. Jadi kenapa kamu protes dengan apa yang aku katakan kepada dia. Memang benar aku mengatakan itu. Kalian mau apa?" tanya Tuan Santosh. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.


Nyonya Amalia menggelengkan kepalanya. Rasanya dia tidak mengenal pria yang Ada di hadapannya saat ini. Ketika di hadapan Danish. Tuan Santosh membantah perkataannya sendiri. Setelah Danish tidak ada. Dia mengakui perkataannya. Itu artinya, tuan Santosh ingin seolah olah Sinar yang berbohong.


"Kita sudah tua pa. Seharusnya kebahagiaan Kita adalah melihat rumah tangga Danish dan istrinya berbahagia. Jika kamu memisahkan Sinar dari anaknya kelak. Apa kamu tega seorang anak tidak mendapatkan kasih sayang dari mama kandungnya?" tanya Nyonya Amalia. Tuan Santosh tidak menjawab. Entah apa yang ada di pikiran pria itu saat ini.


Nyonya Amalia sengaja berkata lembut. Akan percuma jika dirinya juga terbawa amarah seperti Danish yang nantinya akan menimbulkan pertengkaran. Nyonya Amalia hanya berharap. Dengan perkataannya, tuan Santosh bisa tersentuh dan jika belum bisa menghilangkan rasa benci itu kepada Sinar setidaknya jangan menyakiti hati menantunya dengan kata kata yang menakutkan.


"Hati hati dengan pemikiran kamu pa. Kamu berusaha menyingkirkan Sinar dari keluarga ini. Jangan sampai kamu yang tersingkirkan,".kata Nyonya Amalia lagi. Kali ini, dia sengaja memberikan ancaman kepada suaminya itu.


"Apa maksud kamu ma?" tanya Tuan Santosh tidak mengerti.


"Dengan kuasa mu. Kamu ingin menyingkirkan Sinar setelah melahirkan kan. Tapi bisa saja kamu yang tersingkirkan. Tersingkirkan karena penyakit misalnya dan yang paling menyedihkan bisa tersingkirkan karena kematian," kata Nyonya Amalia kemudian meninggalkan tuan Santosh di ruang tamu itu.


Nyonya Amalia merasa puas melihat wajah suaminya yang terlihat shock. Nyonya amaliy tidak perduli. Dia sangat yakin tuan Santosh tidak akan mengalami hal yang mengkhawatirkan setelah mendengar perkataannya karena tuan Santosh tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


Di sofa ruang tamu itu. Tuan Santosh masih dengan wajah terkejutnya sambil memandangi punggung istrinya yang semakin menjauh.


"Hanya karena wanita munafik dan kampungan itu. Kamu mendoakan aku tersingkirkan karena kematian ma?" gumam Tuan Santosh pelan

__ADS_1


__ADS_2