Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Cara Paksa


__ADS_3

Danish tetap berpegang pada janjinya untuk menikahi Sinar. Pantang baginya untuk melanggar janji. Setelah dua hari, Sinar selalu memohon untuk pulang ke rumah orang tuanya. Danish masih saja mengurung wanita itu di dalam kamarnya. Dia takut, Sinar kabur dari rumah itu menjelang pernikahan mereka.


"Kalau Sinar tidak mau menikah dengan kamu. Mengapa kamu harus memaksa, Danish?" tanya Bintang. Mereka saat ini sedang berada di taman belakang rumah Danish. Mereka baru saja membicarakan konsep tentang pertunangan mereka yang tinggal beberapa minggu lagi. Dan sebelum pertunangan itu terjadi. Danish dan Bintang sepakat untuk berlibur bersama ke luar Kota.


Danish menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jangan membahas yang bukan urusan kamu Bintang," jawab Danish kesal. Suasana hatinya berubah ketika membahas tentang Sinar yang tidak mau menikah dirinya. Pria itu berdiri dan meninggalkan Bintang sendirian di taman itu.


"Mengapa aku semakin tidak mengenalmu Danish?" tanya Bintang dalam hati. Danish memang menuruti apa yang menjadi kemauanya termasuk berlibur bersama. Tapi jika pembicaraan tentang Sinar. Suasana hati pria itu gampang berubah.


Danish masuk ke dalam kamarnya. Dia pun bingung akan sikap Sinar. Sudah dua hari, dia mengurung wanita itu. Dan setiap dirinya mengantarkan makanan ke kamar Sinar. Wanita itu tidak berhenti memohon untuk dibiarkan pulang ke desanya.


Danish pun terkadang tidak mengerti dengan hatinya. Dia sadar hanya mencintai Bintang. Tapi untuk melepaskan Sinar. Hatinya juga tak mampu.


Danish berkali kali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Entah bagaimana dirinya membujuk Sinar supaya tidak bersikeras untuk pulang. Danish sudah membujuk. Tapi sepertinya keinginan wanita itu untuk melanjutkan pernikahan itu sudah benar benar kandas.


"Sinar, jangan biarkan aku menjadi pria brengsek yang mengingkari janji," kata Danish pelan sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


Hanya ada satu cara untuk menahan Sinar tetap bersedia menikahi dengan dirinya. Tapi Danish ragu untuk melakukan cara itu.


Danish memperhatikan benda kecil itu di tangannya. Dia berpikir sejenak dampak buruk jika dirinya menggunakan benda itu untuk menahan Sinar. Mungkin saja, Sinar akan membencinya dirinya. Tapi itu lebih baik daripada dirinya mengingkari janji.


"Maafkan aku Sinar," kata Danish dalam hati.


Malam harinya, Danish kembali melakukan rutinitasnya selama dua hari ini. Mengantarkan makan malam ke kamar Sinar.


"Maaf, aku terlambat. Kamu sudah lapar?" tanya Danish setelah pintu kamar terbuka. Dia kembali mengunci kamar itu dan memasukkan kuncinya ke kantong celana.


"Sudah."


Danish tersenyum. Sinar selalu membalas pertanyaannya. Saat seperti ini. Danish merasa jika Sinar adalah wanita yang berpikir dewasa. Meskipun saat ini. Wanita itu tersakiti. Sinar selalu bersikap sopan dan tidak mendiamkan dirinya.


"Makan lah dulu, Sinar. Aku membawakan jus untuk kamu."

__ADS_1


Sinar mengulurkan tangannya menerima baki dari tangan Danish. Saat seperti ini. Sinar selalu berpikir positive untuk menjaga kesehatannya dengan makan teratur. Sinar sadar, jika wanita yang tersakiti dan dihina seperti dirinya tidak spontan menjadi wanita hebat tanpa proses. Dia sudah mengetahui yang sebenarnya jika ternyata tuan Santosh tidak menyukai dirinya karena latar belakang keluarganya yang sangat jauh di bawah keluarga tuan Santosh.


"Kapan aku bisa pulang. Percuma kamu mengurung aku seperti ini. Aku tidak akan mau menikah dengan mu."


"Habiskan dulu makanan kamu. Baru Kita bicara."


"Kita bisa berbicara sambil aku makan. Jawab pertanyaanku. Kapan aku bisa pulang."


"Tiga minggu lagi."


"Apa?" tanya Sinar kaget. Tiga minggu lagi bukan waktu yang singkat untuk menjalani hari hari di dalam kamar seperti dua hari ini.


"Oke. Baiklah. Tidak apa apa tiga minggu lagi. Tapi jangan kurung aku seperti ini. Aku bosan di kamar terus."


Sinar akhirnya menurut. Dia berpikir jika dirinya terus memaksa untuk dibiarkan pulang secepatnya. Danish akan tetap mengurung dirinya.


"Kamu meminta supaya tidak dikurung. Karena kamu berniat melarikan diri kan?" tanya Danish. Sinar menghentikan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya.


Sinar tidak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Kertas itu berisi pesan kepada tulisan yang meminta pertolongan Tino si wanita tomboi itu untuk membantu dirinya melarikan diri dari rumah ini.


"Kalau seperti itu. Ijinkan aku pergi secepatnya. Untuk apa menunggu tiga minggu lagi kalau bisa malam ini atau besok."


"Kita pulang sama sama tiga minggu lagi. Bukankah pesta pernikahan kita di desa kamu. Aku dengar dari utusan papa yang membantu kedua orang tuamu mempersiapkan pesta pernikahannya Kita. Persiapannya sudah mencapai enam puluh persen," kata Danish tenang.


"Danish, jangan mengagungkan janji kamu itu kalau hanya untuk menyakiti dua wanita. Asal kamu tahu. Bintang menyetujui pernikahan poligami itu pasti karena terpaksa. Sedangkan aku, tidak tertarik lagi sama sekali. Lepaskan aku."


Danish menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sinar menatap Danish dengan marah. Rasa kagumnya kepada Danish musnah karena keegoisan pria itu. Selera makannya juga mendadak hilang melihat keegoisan Danish.


"Egois kamu Danish. Asal kamu tahu. Aku akan pastikan tidak ada pernikahan antara kamu dan aku. Dan aku juga pastikan. Ketika kamu pulang liburan. Kamu tidak akan melihat aku lagi di rumah ini," kata Sinar dengan sangat yakin. Dia akan memanfaatkan rasa tidak suka tuan Santosh kepada dirinya untuk lepas dari rumah ini ketika Danish pergi berlibur bersama wanita yang sangat dia cintai.


Apa yang ada di pikiran Sinar. Ternyata itu juga yang ada di pikiran Danish. Dia takut, ketika dirinya tidak ada di rumah mulai besok dan satu minggu ke depannya. Sinar akan melarikan diri karena bantuan tuan Santosh.


Danish mengetahui seperti apa papanya itu. Ketika keinginan Sinar untuk kembali ke desanya dan tidak ingin lagi menikah dengan Danish terdengar oleh tuan Santosh. Hal itu sangat membahagiakan tuan Santosh. Pria itu sangat menerima keputusan Sinar dan bahkan meminta Danish untuk membiarkan Sinar pulang ke desanya. Tuan Santosh juga akan memberikan uang tambahan kepada Sinar dan keluarganya jika pernikahan antara Danish dan Sinar tidak terjadi.

__ADS_1


"Baiklah aku akan melepaskan kamu," kata Danish pelan. Sinar mengangkat kepalanya melihat Danish dengan senyum manis di bibirnya.


"Terima kasih Danish. Besok pagi aku pulang ya," kata Sinar dengan mata yang berbinar. Danish hanya menatap Sinar tanpa menjawab. Sinar kembali bersemangat memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Sinar, bisa kamu ambilkan tissue itu untukku?" kata Danish sambil menunjuk tissue di atas meja rias yang tidak jauh dari tempat Sinar duduk.


"Bisa. Tunggu sebentar."


Sinar meletakkan sendoknya dan beranjak dari duduknya untuk mengambil tissue yang diminta oleh Danish. Ketika Sinar berbalik dan menarik beberapa lembar tissue tersebut. Tangan Danish juga bekerja. Mengambil benda dari dalam kantong celananya dan memasukkannya ke dalam jus milik Sinar.


Danish akhirnya memantapkan hatinya melakukan cara itu untuk membuat Sinar tidak bisa mengelak dari pernikahan mereka.


"Terima kasih Sinar. Habiskan makanan kamu," kata Danish. Tissue itu sudah berada di tangannya. Sinar kembali memasukkan makanannya itu ke dalam mulutnya.


"Maafkan aku Sinar. Hanya cara paksa seperti ini yang bisa aku lakukan supaya kita tetap menikah. Aku tahu, cara ini salah. Dan aku berjanji. Di pernikahan kita nanti. Kamu tidak akan kekurangan. Aku akan menyayangi kamu meskipun aku belum mencintai kamu," kata Danish dalam hati sambil memperhatikan Sinar yang sedang mendekatkan jus ke mulutnya. Danish tidak sabar melihat jus itu habis dan melihat reaksi dari benda yang dia masukkan ke dalam jus tersebut.


"Aku sudah selesai makan. Keluarlah Danish!. Minta kunci kamarnya," kata Sinar sambil mengulurkan tangannya. Danish merogoh sakunya dan memberikan kunci kamar ke tangan Sinar.


"Sinar, sebelum kamu pergi. Aku ingin kita mengobrol seperti di kampung kakek Joni untuk yang terakhir kalinya."


"Boleh," jawab Sinar singkat. Dia semakin yakin jika malam ini adalah malam terakhir dirinya di rumah Danish.


Danish sengaja mengungkit kenangan mereka selama dua bulan bersama di kampung kakek Joni.


"Mengapa kamu tidak memperkenalkan pria yang sudah mencari tumbuhan langka itu kepadaku, Sinar?" tanya Danish. Sinar memang tidak memperkenalkan orang yang mencari tumbuhan langka kepada Danish.


"Untuk apa?"


"Aku ingin berterima kasih kepadanya dan memberikan imbalan yang layak."


"Aku kira kamu hendak berjanji untuk menikahi dia juga," kata Sinar kemudian terkekeh. Danish menatap Sinar. Dia tahu, wanita itu sedang menyindir dirinya.


"Danish, keluarlah dulu. Aku mau Mandi. Badanku tiba tiba sangat gerah," kata Sinar beranjak dari duduknya dan mendekatkan dirinya ke kipas angin yang ada di sudut ruangan.

__ADS_1


__ADS_2