Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Menjual Kalung


__ADS_3

Tempat yang tadinya menjadi saksi bisu pertunangan Danish dan Bintang. Kini tempat itu juga menjadi saksi kesedihan keluarga Bintang. Di tempat itu juga, Pak Idrus tidak bisa melawan atau menjelaskan jika dirinya adalah orang yang tidak seharusnya ditangkap pihak berwajib. Bintang tidak bisa menahan kesedihannya. Dia memeluk sang mama yang juga tidak dapat berbuat sesuatu untuk melarang pihak yang berwajib membawa pak Idrus.


Mereka hanya bisa menatap punggung pak Idrus dengan kedua tangan yang terikat meninggalkan ruangan itu dengan dikawal pihak berwajib di sebelah kanan dan kiri.


"Keluarga yang sangat kamu harapkan menjadi besan mu pa. Kini sudah ditangkap oleh pihak berwajib. Jika dia terbukti bersalah dan menjadi narapidana. Maka, Sinar jauh lebih terhormat dari besan kamu itu," kata Nyonya Amalia dalam hati sambil melihat suaminya yang masih terlihat terkejut dengan penangkapan itu.


Entah mengapa tidak ada niat hati Nyonya Amalia untuk menghibur mamanya Bintang yang sedang menangis. Otak pintar yang dimiliki nyonya Amalia berpikir cepat menghubungkan desakan pernikahan dengan penangkapan pak Idrus. Sebagai istri dari orang yang berpengaruh di kalangan para pejabat negeri ini. Nyonya Amalia menduga jika desakan pernikahan itu untuk melindungi pak Idrus di dunia hukum. Nyonya Amalia sangat yakin jika pak Idrus mengetahui kesalahannya sendiri sehingga dirinya ditangkap hari ini.


Nyonya Amalia mendadak merasa gelisah. Pikirannya yang berusaha menghubungkan rangkaian yang terjadi saat ini membuat wanita itu mengingat perkataan mamanya Bintang tentang Bunga edelweiss. Apakah permintaan Bintang akan bunga edelweiss itu ada hubungannya dengan kejadian saat ini?. Pertanyaan itu berputar putar di kepala Nyonya Amalia.


Kejadian yang menimpa pak Idrus saat ini tidak membuat perhatian akan kepergian Sinar dari rumah itu teralihkan dari pikiran Danish. Dia tidak begitu perduli dengan penangkapan pak Idrus. Danish hanya mengelus lengan Bintang untuk menguatkan wanita itu. Kemudian Danish mengajak nyonya Amalia untuk berlalu dari ruangan itu. Tujuannya untuk membicarakan langkah apa yang harus mereka lakukan untuk mencari keberadaan Sinar.


"Danish, mana bunga edelweiss yang kamu curi dari pegunungan itu?" tanya Nyonya Amalia tajam. Danish terlihat terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tidak menyangka Nyonya Amalia mengetahui tentang Bunga edelweiss itu sebab dirinya hanya menceritakan bunga edelweiss itu kepada Sinar. Itu artinya hanya Sinar dan Bintang yang mengetahui tentang Bunga edelweiss itu.


"Darimana mama tahu tentang Bunga edelweiss itu?"


"Dari mamanya Bintang."


Danish terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah meminta Bintang untuk tidak menceritakan hal apapun tentang Bunga edelweiss itu. Tapi kini, Nyonya Amalia juga sudah mengetahuinya. Jika mamanya Bintang mengetahui tentang Bunga edelweiss itu artinya tidak tertutup kemungkinan jika pak Idrus juga mengetahuinya sebelum pembicaraan tentang desakan pernikahan tadi.


"Kamu sudah memberikan kepada Bintang?" tanya Nyonya Amalia. Danish hanya mampu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah dibutakan oleh cinta Danish. Banyak banyak lah berdoa supaya bunga edelweiss itu tidak menjadi bumerang bagi kamu," kata Nyonya Amalia terlihat sangat kecewa.


"Apa maksud mama."


"Pakai otakmu untuk berpikir keras. Jika kamu bisa menghubungkan bunga Edelweis itu dengan kejadian hari ini. Temui mama untuk bertukar pikiran."


"Mama, aku tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Saat ini yang terpenting bagiku mencari keberadaan Sinar."


Danish berkata yang sejujurnya. Saat ini otaknya buntu untuk memikirkan hal apapun selain Sinar. Meskipun dirinya berusaha untuk tenang tapi hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Dia mengetahui bagaimana kerasnya hidup di Kota yang lebih mengutamakan diri sendiri daripada menolong orang yang kesusahan.


"Apa yang harus kamu pikirkan. Temui Sinar ke kampung halamannya. Mana tahu dia kembali ke Sana. Mama disini saja. Mama juga akan berusaha mencari informasi tentang Sinar," kata Nyonya Amalia. Danish menganggukkan kepalanya. Lewat ponselnya, Danish menghubungi seseorang yang bisa membawa dirinya ke desa Sinar.


Kekhawatiran Danish dan Kesedihan Bintang saat ini berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Sinar. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam dengan motor matic Hana. Kini Sinar, sudah berada di sebuah rumah sederhana padat penduduk.

__ADS_1


"Silahkan duduk Sinar."


"Terima kasih Hana," jawab Sinar sambil memperhatikan rumah sederhana itu yang hanya terdiri dari dua kamar dan ruang tamu sangat kecil. Meskipun berada di rumah yang jauh lebih sederhana dibandingkan rumah Danish. Sinar merasakan kedamaian hati. Jika dibandingkan. Kamar pekerja di rumah Danish jauh lebih baik dibandingkan dengan rumah itu. Keinginannya untuk kembali ke kampung halaman teralihkan dengan kebaikan Hana dan suasana lingkungan itu. Dia menyukai lingkungan seperti ini. Meskipun dirinya di dalam rumah. Pembicaraan hangat antara tetangga di luar terdengar ke telinganya. Lingkungan itu seperti lingkungan rumahnya di desa.


"Kalau kamu mau mandi. Ini pakaian ganti ya Sinar. Tapi untuk pengamannya. Maaf aku tidak mempunyai yang baru. Tidak mungkin kamu memakai yang bekasanku kan?" tanya Hana. Sinar tertawa.


"Tenang saja Hana. Tentang pengaman aku susah memakainya berlapis lapis di dalam sini," jawab Sinar sambil tertawa. Hana pun ikut tertawa dan meneliti tubuh Sinar. Sinar mengangkat gaunnya sedikit sehingga terlihat celana jeans yang dia pakai dari kampung.


Pelarian itu sudah direncanakan Sinar harus berhasil hari ini dan dia juga mempersiapkannya dengan baik. Dibalik gaun indahnya. Sinar memakai celana jeans dan juga kaos badan. Setelah keluar dari ruangan nyonya Amalia. Dia juga masuk ke kamarnya untuk memakai kaos dan celana jeansnya. Tadi pagi dia merasa beruntung karena harus membantah Bintang untuk memakai gaunnya yang bisa juga dimanfaatkan Sinar untuk mempersiapkan pelariannya. Hanya satu barang miliknya sendiri yang tidak bisa dibawa Sinar dari rumah Danish yaitu sepasang sepatu kets miliknya. Andaikan, sepatu bisa dipakai berlapis di kakinya. Sinar tidak akan membiarkan hal kecil apapun miliknya sendiri tertinggal di rumah Danish.


"Mandilah dahulu Sinar. Tidak mungkin kamu memakai gaun itu sekarang."


"Baik Hana. Terima kasih ya!.


"Jangan kebanyakan berterima kasih Sinar. Sesama anak rantau harus saling tolong menolong," jawab Hana. Di awal perkenalan mereka tadi. Hana sudah mengatakan dirinya dan Tino adalah perantau di kota ini.


Sinar menatap Hana. Entah bagaimana dirinya berterima kasih kepada perempuan itu. Jika tidak Ada Hana, mungkin saat ini dirinya masih berkeliling di jalan mencari tempat berlindung. Dalam hati, Sinar juga berterima kasih kepada Tino karena meminta Hana untuk membantu dirinya.


"Sana Mandi. Kamu terlihat kurang segar dengan riasan bercampur keringat itu," suruh Hana lagi. Sinar tersenyum dan menurut. Dia menyukai Hana di awal pertemuan mereka tadi yang tidak terlihat kaku berbicara dengan dirinya meskipun mereka baru bertemu. Sinar merasakan seperti mempunyai teman yang sudah lama kenal seperti Tino.


"Hana, boleh aku berbicara sebentar," kata Sinar setelah Hana juga sudah selesai membersihkan tubuhnya. Mereka bergantian mandi karena di rumah itu hanya ada satu kamar mandi.


"Lama juga boleh. Mau membicarakan apa?' tanya Hana Sambil mendaratkan tubuhnya di kursi plastik berhadapan dengan Sinar.


"Kalau aku misalnya menumpang di rumah ini. Kira kira boleh ga ya Hana. Aku berencana mencari pekerjaan," kata Sinar dengan suara yang dipilih sedemikan rupa supaya Hana tidak merasa memanfaatkan dirinya.


"Kalau menumpang untuk beberapa hari, bisa saja Sinar sebelum kamu mendapatkan pekerjaan atau penghasilan. Tapi untuk jangka lama. Sepertinya tidak bisa karena sebenarnya aku pun sedang mencari teman di rumah ini supaya uang kontrakan tidak terlalu berat," kata Hana jujur. Sudah dua bulan dirinya sendirian di rumah itu sejak Tino mendapatkan pekerjaan sebagai tukang kebun dan tinggal di rumah majikannnya. Dan selama dua bulan itu, Hana merasakan kesulitan keuangan karena dirinya sendiri yang membayar full uang kontrakan. Gajinya di sebuah pabrik tidak jauh di rumah itu hanya cukup untuk biaya makan sehari hari dan juga biaya uang kuliahnya. Hana adalah perantau yang bekerja di siang hari dan bekerja di kuliah di malam hari.


"Beberapa hari juga tidak apa apa Hana. Aku akan mencari pekerjaan beberapa hari ini. Jika tidak ada. Aku akan kembali ke desaku. Setidaknya aku berusaha mencari pekerjaan," kata Sinar sedih.


"Baiklah Sinar. Aku beri kamu waktu satu menumpang di rumah ini. Dan jika kamu mendapatkan pekerjaan. Kamu boleh tetap di rumah ini tapi kita bayar kontrakan dibagi dua ya!" kata Hana membuat Sinar merasa senang tapi wanita itu kembali terlihat sedih karena dirinya harus membebani Hana yang keungannya pas pasan.


"Jangan bersedih begitu. Tentang biaya makan. Nanti aku bisa minta tolong ke Tino."


"Jangan," kata Sinar cepat. Dia tidak mau karena meminta bantuan ke Tino tentang biaya makannya. Dirinya ketahuan dibantu oleh Tino ke Danish ataupun ke Nyonya Amalia.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalau begitu. Semoga saja, tempatku bekerja ada lowongan. Kalau ada, aku akan meminta tolong kepada mandor untuk memasukkan kamu bekerja di sana. Tapi untuk kerja di tempatku harus ada pelicin untuk mandornya. Saat ini uangku sangat paspasan," kata Hana. Dia baru ingat jika salah satu temannya ada yang mengundurkan diri dari pabrik karena akan menikah. Hana sengaja tidak langsung memastikan ada lowongan di pabrik karena dirinya ingin memastikan terlebih dahulu supaya dia tidak menjanjikan harapan palsu kepada Sinar.


Mendengar perkataan Hana. Sinar langsung berdoa dalam hati semoga ada lowongan untuk dirinya.


"Hana, saat ini aku memang tidak mempunyai uang. Tapi aku mempunyai ini. Aku bisa menjualnya sekarang. Bantu aku menjualnya," kata Sinar sambil mengeluarkan kalung dari balik bajunya. Dia baru mengingat kalung itu.


"Kalung yang sangat indah. Apa kamu yakin?" tanya Hana. Meskipun dirinya tidak mempunyai perhiasan tapi dia tahu bahwa kalung itu sangat indah.


Sinar menganggukkan kepalanya. Dia sanggup yakin menjual kalung itu karena tidak ada gunanya untuk menyimpannya. Danish bukan lagi pria impiannya. Dan kalung itu adalah balas budi atas pertolongannya kepada Danish. Jadi, Sinar merasa berhak untuk menjual kalung itu.


Dua perempuan itu bergegas keluar dari rumah. Hana langsung membantu Sinar menjual kalung itu karena Hana berpikir lebih bagus uang tersedia jika seandainya lowongan itu masih ada. Hana langsung memberikan uang pelicin kepada sang mandor untuk menunjukkan jika orang yang dibawa benar benar serius untuk bekerja. Hana mengetahui watak mandornya. Jika uang sudah di tangannya. Sang mandor tidak akan mau memberikan pekerjaan itu kepada siapapun termasuk kepada orang yang mau membayar lebih tinggi dari yang sudah dia terima sebelumnya.


Hana membawa Sinar ke pasar tradisional yang paling dekat dari lingkungan rumahnya.


"Kita coba disini saja," kata Hana Sambil memarkirkan motornya di salah satu toko emas yang terlihat ramai dibandingkan toko emas yang lainnya. Sinar menganggukkan kepalanya setuju.


"Mbak harga emas berapa sekarang?" tanya Hana kepada salah satu pekerja yang terlihat santai. Pekerja lainnya sedang melayani pelangggan yang sedang membeli perhiasan.


Pekerja itu menerangkan harga emas berdasarkan karatnya. Sinar sama sekali tidak mengerti karena dirinya tidak pernah membeli emas. Sedangkan Hana terlihat sangat mengerti, hal itu terlihat dari tanya jawab perempuan itu dengan pekerja toko.


"Berarti harga segitu sudah dipotong upah per gram ya mbak." Pekerja itu menganggukkan kepalanya.


"Tidak bisa ditambah sedikit lagi mbak?" tanya Hana. Pekerja itu menggelengkan kepalanya.


"Buka kalungnya Sinar," bisik Hana. Sinar membuka kalungnya dan memberikan kepada Hana.


"Suratnya ada mbak?" tanya pekerja itu sambil mengamati kalung itu kemudian memasukkan ke dalam lemari kaca yang sepertinya untuk ditimbang. Sinar menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak menerima perhiasan yang tidak ada suratnya karena resikonya sangat berat. Jika perhiasan ini curian kami bisa dituduh sebagai penadah. Apalagi mutiara ini adalah mutiara asli. Sangat jarang masyarakat dari golongan menengah ke bawah bisa memilki mutiara seindah ini. Mutiara seperti ini biasanya dimiliki orang kaya," kata pekerja itu sambil memperhatikan penampilan Sinar dan Hana dari balik kaca pembatas itu.


"Ini bukan barang curian mbak. Ini pemberian seseorang kepadaku. Aku berani bersumpah jika ini bukan barang curian," kata Sinar untuk menyakinkan pekerja itu. Tapi pekerja itu sepertinya tidak percaya. Dia mengulurkan tangannya dari celah kaca pembatas mengembalikan perhiasan itu ke tangan Sinar.


"Coba saja ke toko sebelah ya. Kami tidak bisa menerima ini. Tapi semua toko emas semuanya sama. Tidak akan menerima perhiasan tanpa surat," kata pekerja itu membuat harapan Sinar kembali hancur. Hanya kalung itu yang dia harapkan untuk membayar biaya makannya kepada Hana dan juga uang pelicin untuk sang mandor.


Hana menatap Sinar dengan sedih. Dia sudah ihklas berbagi makanannya sebelum Sinar mendapatkan pekerjaan hanya saja Hana sedih melihat Sinar jika kehilangan kesempatan untuk bekerja hanya karena tidak mempunyai uang pelicin.

__ADS_1


"Ayo Sinar. Kita coba ke toko emas sebelah," ajak Hana. Sinar menurut. Dia berdoa dalam hati semoga diberikan kenudahan untuk menjual kalung pemberian Danish itu.


__ADS_2