
Satu minggu berlalu sejak penemuan pil kontrasepsi itu. Hubungan Sinar dan Danish memang tidak sehangat minggu minggu sebelumnya. Mereka memang tidur di ranjang yang sama, sarapan di atas meja yang sama. Tapi Sinar masih bisa melihat kekecewaan di wajah suaminya. Danish memang tidak mendiamkan dirinya. Mereka tetap berkomunikasi tapi komunikasi seadanya saja. Danish menjawab jika Sinar bertanya begitu juga sebaliknya.
Sinar sadar, hal itu terjadi karena sikapnya dan Sinar berusaha untuk memperbaiki diri.
Hari ini, Sinar pulang cepat. Dia ingin menyambut kepulangan suaminya di rumah.
Satu jam, dua jam hingga tiga jam menunggu. Danish tidak muncul di rumah itu padahal jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan. Sinar tetap menjaga matanya supaya tidak tertidur. Hingga jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Danish juga tidak kunjung muncul.
Sinar berniat hendak menghubungi suaminya. Tapi Sinar menahan diri. Selama satu minggu ini tidak ada pesan atau panggilan masuk dari suami. Sebelumnya, dia sudah berusaha memberikan perhatian lewat pesan. Tapi Danish tidak membalas dan hanya membaca.
Sinar meletakkan ponselnya di atas meja. Sinar berkali kali menarik nafas panjang. Mencintai membuat Sinar takut kehilangan Danish. Sungguh, Sinar takut hanya karena pil kontrasepsi itu. Danish menjauh dari dirinya.
Tidak ingin melewatkan kedatangan suaminya. Sinar akhirnya membuat kopi untuk menahan matanya supaya tidak mengantuk. Di jam sepuluh seperti ini. Biasanya mereka sudah berada di kamar. Sepanjang pernikahan mereka. Danish paling lama tiba di rumah jam sembilan. Bahkan selama satu minggu ini juga begitu. Sinar bertanya dalam hati apa yang dilakukan oleh laki laki itu di luar sana sehingga masih saja tidak kunjung muncul di rumah itu.
Sinar sudah selesai membuat kopi untuk dirinya sendiri. Wanita itu semakin penasaran dan khawatir akan suaminya. Akhirnya Sinar tidak dapat menahan diri. Sinar melakukan panggilan ke nomor suaminya.
Memanggil berubah menjadi berdering itu artinya nomor suaminya sedang online. Sinar kecewa. Panggilan tidak dijawab.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya Sinar dalam hati. Menduga suaminya sedang menyetir akhirnya Sinar mengirimkan pesan kepada suaminya.
Berkali kali dia melihat pesan yang sudah centang dua tapi masih abu abu. Hingga setengah jam kemudian. Sinar belum juga mendapatkan balasan dan ini sudah tengah malam. Bahkan kopi yang sudah dia buat sudah berpindah ke dalam perut.
"Apa yang terjadi dengan kamu Danish?" tanya Sinar dalam hati. Dia berniat menghubungi Nyonya Amalia. Tapi sayang niat itu hanya bersarang di otaknya dan tidak dilakukan. Sinar khawatir, Nyonya Amalia cemas jika ternyata Danish tidak disana dan juga belum pulang ke rumah.
__ADS_1
"Mbak Sinar belum tidur?" tanya salah satu pelayan di rumah itu. Pelayan itu memanggil dirinya dengan mbak karena Sinar tidak bersedia dipanggil dengan sebutan Nyonya. Biarlah dirinya dipanggil dengan sebutan mbak padahal dua pelayan yang ada di rumah itu lebih tua dari Sinar. Sinar merasa risih jika dirinya dipanggil dengan sebutan mbak.
"Belum bi. Aku menunggu suamiku."
"Apa perlu saya temani mbak?" tanya pelayan itu lagi.
"Bibi tidur saja. Terima kasih Bibi," jawab Sinar. Bukan berniat menolak kebaikan sang pelayan tapi Sinar merasa kasihan kepada pelayan itu. Satu harian bekerja pasti kelelahan dan secepatnya butuh istirahat.
Baru saja, pelayan itu berlalu dari hadapan Sinar. Suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Sinar beranjak dari duduknya dan cepat membuka pintu.
"Danish."
Sinar merasa lega melihat suaminya pulang dalam keadaan baik dan juga merasa kesal karena suaminya itu tidak mengabari jika dirinya pulang terlambat.
"Aku menunggu mu," jawab Sinar sambil mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah. Sinar berharap suaminya itu peka dan meminta maaf karena sudah membuat dirinya harus menunggu lama. Tapi apa yang diinginkan Sinar tidak terdengar dari mulut suaminya itu. Bahkan Danish juga melihat gelas bekas kopi yang terletak di ata meja ruang tamu itu. Dan pria itu sepertinya tidak mau tahu dengan gelas sisa kopi tersebut.
"Aku akan mempersiapkan makan malam."
"Tidak perlu Sinar. Aku sudah makan malam di luar," kata Danish.
Sinar berdiri membeku dan semakin kecewa. Bahkan Danish tidak bertanya apakah dirinya sudah makan atau belum. Sinar ingin bertanya dengan siapa suaminya itu makan malam tapi mulutnya seperti terkunci.
Sebagai seorang istri dan baru melakukan kesalahan. Sinar merasakan ketakutan yang luar biasa melihat perubahan suaminya itu yang tidak perhatian seperti sebelumnya. Otaknya berpikir cepat dan sudah menduga yang tidak tidak.
__ADS_1
"Jangan jangan, dia mencari hiburan di luar sana," kata Sinar dalam hati. Satu bulan menikah dengan Danish. Dia mengetahui bagaimana pria itu tidak tahan untuk tidak menyentuh dirinya. Asal ada kesempatan pasti hajar terus. Sinar tidak bisa melayani suaminya selama beberapa hari ini karena tamu bulanan. Bukankah laki laki yang sudah merasakan nikmatnya permainan ranjang akan sulit meredam keinginan itu.
Sinar mendekati suaminya yang masih duduk di ruang tamu itu. Sinar sengaja duduk sangat dekat dengan Danish yang masih bermain ponsel. Melihat suaminya lebih mementingkan ponsel daripada dirinya. Sinar semakin yakin jika suaminya itu mencari hiburan di luar. Bagi Sinar tidak apa apa jika mencari sekedar hiburan asalkan jangan sampai hiburan itu melibatkan wanita penghibur.
Tanpa sepengetahuan Danish. Sinar mengendus tubuh suaminya. Mencari sesuatu yang membuktikan kecurigaannya. Untuk aroma parfum tidak ada yang mencurigakan. Kedua matanya juga mengintai ke layar ponsel Danish. Jari jari Danish yang lincah bergerak di layar ponsel tersebut. Sinar sangat yakin jika Danish sedang membalas pesan. Sinar merasa kecewa karena tidak berhasil melihat nama kontak yang menjadi lawan Danish bertukar pesan. Danish tiba tiba berdiri dan melangkah menjauhi Sinar menuju tangga tanpa mengajak dirinya Naik ke lantai dua.
Sinar memegang dadanya yang terasa sesak. Perlakuan Danish malam ini benar benar membuat dirinya sakit hati. Bukan karena merasa tidak dihargai karena sudah meninggalkan tapi sakit hati karena sikap Danish yang lebih mementingkan ponsel daripada dirinya. Tidak mengapa Danish mencari hiburan halal di luar sana tapi jika berada di dekatnya. Sinar ingin perhatian suaminya itu.
Kesal dan kecewa bercampur menjadi satu. Sinar tidak langsung menyusul suaminya itu ke lantai atas. Sinar ingin Danish mengetahui jika dirinya saat ini kesal karena pria itu.
Satu jam menunggu, tapi Danish tidak kunjung turun mengajak dirinya. Sinar menyimpulkan jika Danish memang sengaja meninggalkan dirinya di ruang tamu itu. Sinar melihat jarum jam yang sudah hampir mendekati angka satu. Matanya tidak mengantuk sama sekali karena pengaruh kopi itu.
Jika mengingat rasa kesal di hati. Sinar sebenarnya ingin tidur di kamar tamu. Tapi Sinar tidak melakukan itu. Dia sadar, dirinya yang memulai ini semua dan Sinar tidak ingin menambah masalah.
Tiba di kamar mereka. Sinar menggelengkan kepalanya melihat Danish yang sudah berbaring di ranjang itu. Dari pakaian Danish yang sudah berganti. Itu artinya pria itu membersihkan diri sebelum tidur. Dengkuran halus yang terdengar pertanda jika suaminya itu sudah tertidur.
Sebelum naik ke atas ranjang. Sinar memperhatikan penampilannya sendiri. Sinar sengaja memakai pakaian yang super mini tapi sepertinya Danish tidak berminat untuk menjelahi tubuhnya.
Sinar berbaring telentang di sisi suaminya. Dia menghirup aroma shampoo dari rambut suaminya. Sinar ingin memeluk suaminya itu tapi Sinar kembali menahan diri. Mengingat sikap suaminya, Sinar takut apa yang dilakukannya tidak berkenan di hati suaminya.
"Padahal aku siap menampung benih mu malam ini. Tapi kamu mengabaikan aku," kata Sinar pelan. Dia tidak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan oleh suaminya malam ini. Setelah mengetahui tentang pil kontrasepsi itu. Danish pulang dan makan malam di rumah seperti biasanya. Hanya komunikasi mereka yang kaku. Dan malam ini, Danish menunjukkan sikap yang sangat berbeda.
Sinar berpikir jika suaminya sedang tidur ternyata tidak. Pria itu menyadari kedatangan Sinar di kamar itu dan bahkan mendengar apa yang dikatakan oleh Sinar.
__ADS_1