Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Kemarahan Danish


__ADS_3

"Danish, Mana Sinar?" tanya kakek Joni setelah Danish keluar dari mobil dan sudah menunggu beberapa menit. Sinar tidak kunjung juga keluar dari mobil. Kakek Joni tidak tahan untuk bertanya setelah melihat ke dalam mobil hanya ada supir yang tertinggal di dalam mobil itu. Pria tua itu sudah sangat merindukan cucu kesayangannya.


Senyum yang tadi menghiasi wajah kakek Joni ketika melihat kedatangan mobil Danish menghilang dari wajahnya. Kakek Joni bertanya tanya dalam hati, mengapa Sinar tidak ikut pulang bersama Danish.


Danish tidak tahu harus berkata apa. Pertanyaan kakek Joni cukup untuk mengetahui bahwa Sinar ternyata tidak pulang ke rumah orang tuanya. Danish memperhatikan sekeliling halaman rumah yang sudah dipasang tenda warna putih tempat pesta pernikahan dirinya dan Sinar yang direncanakan akan diadakan besok. Danish merasa hatinya sedih karena pernikahan itu tidak terjadi karena keberadaan Sinar saat ini tidak diketahui.


"Kita masuk dulu ke rumah kakek," ajak Danish.


Kakek Joni pun menganggukkan kepalanya. Meskipun hatinya diliputi banyak tanda tanya. Kakek tua itu masih berpikiran positif.


Kedatangan Danish di rumah sederhana milik orang tua Sinar disambut baik oleh pak Ilham dan istrinya. Senyum suami istri itu merekah menyambut calon menantu yang ternyata orang besar di kota. Sudah dua Kali, utusan orang tuan Danish datang ke rumah itu menyerahkan sejumlah uang kepada mereka. Pertama ketika menyerahkan uang untuk pembangunan jembatan di kampung kakek Joni, utusan tuan Santosh juga menyerahkan sejumlah uang kepada pak Ilham dan istrinya. Dan untuk kedua kalinya, utusan tuan Santosh menyerahkan sejumlah uang untuk persiapan pernikahan Danish dan Sinar dengan nominal yang sangat banyak.


Siapa yang tidak menginginkan menantu kaya dan baik. Semua menginginkan karena menyangkut kebahagiaan putrinya termasuk pak Ilham.


Pak Ilham dan istrinya bukan manusia yang mendewakan uang. Mereka bersyukur karena Sinar akan mempunyai suami yang mapan bukan berarti mereka juga berencana menggantung hidup mereka pada suami dari putrinya kelak. Pak Ilham dan ibu Yanti juga tidak menyangka jika Sinar akan mendapatkan jodoh orang kota dan pernikahan mereka akan digelar di desa ini. Suatu kehormatan bagi suami istri itu karena calon besannya bersedia mengadakan pesta di desa ini. Karena bagi masyarakat di desa ini. Mengadakan pesta pernikahan bagi putra putrinya adalah kebanggaan setiap orang tua.


Sama seperti kakek Joni, senyum merekah itu hilang dari wajah kedua orang tua Sinar setelah mereka bersalaman dengan Danish dan bahkan mereka sudah duduk di bangku, Sinar tidak kunjung muncul dari pintu. Mereka sudah berharap banyak akan melepaskan kerinduan dengan putri tercinta tapi sudah menunggu beberapa saat. Yang dirindukan tidak kunjung muncul dari pintu.


"Apa Sinar tidak ikut?" tanya ibu Yanti gelisah. Dia sangat merindukan putrinya karena sudah hampir empat bulan tidak bertemu. Ketika Sinar di kampung kakek Joni, ibu Yanti tidak pernah berkurang ke Sana karena tidak kuat berjalan kaki. Dan ketika Sinar berangkat ke kota juga tidak singgah ke rumah ini karena menghindari keluarga Roki.


Danish mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ada gunanya dia menutupi kejadian yang sebenarnya lebih baik berterus terang. Sangat berat hatinya untuk berterus terang tapi itu harus.


"Sinar melarikan diri dari rumah," kata Danish pelan dan terlihat sedih. Perkataan Danish membuat kedua orang tua Sinar Dan kakek Joni terkejut. Ibu Yanti mendadak pusing memikirkan nasib putrinya. Dia sudah banyak mendengar informasi tentang kejahatan kejahatan di kota terhadap anak gadis. Dan wanita itu tidak sanggup membayangkan hal itu terjadi pada Sinar. Putri semata wayang nya.


Brukk


Perhatian kakek Joni, Pak Ilham dan Danish teralihkan kepada ibu yanti yang terjatuh dari bangku dan tidak sadarkan diri.


Semua panik termasuk Danish. Tapi dia tidak bisa membantu pak Ilham untuk memindahkan wanita itu ke kamar karena kakinya masih sakit. Dia hanya memandangi dua pria itu mengangkat tubuh ibu Yanti ke kamar dengan tatapan sedih. Dia sadar, ibu yanti seperti itu karena dirinya yang tidak bisa menjaga Sinar dengan baik.


"Sebaiknya, Kita bawa ke rumah sakit Pak," kata Danish sangat khawatir. Dia takut, keberadaan Sinar yang belum diketahui akan membuat pengaruh buruk pada kesehatan ibu Yanti.

__ADS_1


"Tidak perlu, dia hanya menginginkan putrinya kembali. Kabar yang kamu bawa sungguh membuat kami sangat sedih dan terkejut," kata Kakek Joni. Pak Ilham sibuk di kamar mengoleskan minyak kayu putih ke hidung ibu Yanti supaya wanita itu cepat sadarkan diri.


"Maaf kek. Aku sudah berusaha mencari kebedaan Sinar dari sejak kemarin hingga tadi malam," kata Danish. Kelopak mata danish memang terlihat berkantong menandakan pria itu kurang tidur. Sebelum ke desa ini. Danish sudah berkeliling mencari keberadaan Sinar hingga malam. Mencari Sinar di setiap halte dan juga terminal. Subuh, baru mereka bertolak ke desa ini.


"Sinar melarikan diri. Pasti karena ada alasannya. Jujur saja Danish," kata Kakek Joni kecewa. Pernikahan Sinar dan Danish sudah didepan mata tapi yang didapatkan bukan kebahagiaan melainkan kesedihan. Danish pun akhirnya menceritakan kisah cintanya dengan Bintang dan juga rencana pernikahan poligami itu.


"Keterlaluan kalian Danish. Jika Sinar sudah menolak dan papa kamu tidak menyukai Sinar. Tidak seharusnya kamu memaksakan kehendak. Cukup antarkan saja dia pulang ke desa ini," kata Kakek Joni kesal. Kakek tua itu juga merasa cemas memikirkan Sinar.


Danish hanya bisa menundukkan kepalanya karena apa yang dikatakan oleh kakek Joni ada benarnya. Tapi hatinya tentu saja tidak bisa melepaskan Sinar apalagi mengantarkan wanita itu kepada kedua orangtuanya yang berarti tidak akan ada pernikahan diantara mereka. Danish menginginkan pernikahan itu.


"Benar sekali. Cukup antarkan saja dia ke desa ini. Karena aku akan senang hati menikahi Sinar," kata seorang pemuda dari pintu dengan wajah yang terlihat meremehkan keadaan rumah yang sangat sederhana. Sikapnya sangat sombong dan menunjukkan dirinya seperti orang hebat.


Danish menoleh ke arah pintu dan bingung dengan perkataan pria itu sedangkan kakek Joni terlihat tidak senang dengan kedatangan pemuda itu. Pak Ilham juga langsung keluar dari kamar. Dia meninggalkan ibu Yanti yang masih pingsan dan ingin memastikan siapa orang ketiga lawan Danish dan Kakek Joni berbicara.


"Apa maksud kedatangan kamu?" tanya pak Ilham tajam kepada pemuda yang bernama Roki itu. Pak Ilham merasa jika urusannya dengan Roki dan keluarganya sudah selesai. Pak Ilham sudah memberikan uang perdamaian sesuai dengan nominal yang mereka minta supaya Sinar tidak masuk penjara. Jelas jelas Sinar melukai Danish karena perbuatannya tapi mereka yang menjadi rugi.


"Aku berubah pikiran pak Ilham. Uang perdamaian yang kalian berikan terlalu sedikit jika dibandingkan dengan kekayaan calon suami Sinar. Aku minta dua Kali lipat dari yang aku terima sebelumnya. Jika tidak, Sinar harus menikah denganku," kata pria itu tenang dan membuat Danish semakin bingung. Sedangkan pak Ilham dan kakek Joni sangat terkejut melihat Roki yang semakin berani ke keluarga mereka.


Kedatangan Roki ke rumah orang tua Sinar saat ini memang sengaja untuk mengacaukan pernikahan yang direncanakan besok. Dia tidak terima Sinar dipersunting orang lain sementara dirinya pernah hampir mati karena perbuatan wanita itu. Menduga Sinar sudah datang, Roki ingin memberikan pelajaran kepada Sinar. Roki berencana mempermalukan Sinar di hadapan calon suami dan keluarganya jika Sinar adalah wanita jahat yang membuat dirinya terluka. Roki akan senang jika pernikahan itu batal dan keluarga calon suaminya mencampakkan Sinar.


"Kurang ajar," umpat Danish marah. Dia tidak mengetahui apa permasalahan antara Sinar dengan pria itu. Tapi kalimat terakhir yang keluar dari mulut Roki mampu membuat amarahnya tersulut. Danish tidak terima jika ada pria lain yang ingin menikahi Sinar selain dirinya. Sampai sekarang, Danish merasa jika Sinar masih calon istrinya meskipun wanita saat ini telah melarikan diri dari dirinya.


"Ya, aku memang kurang ajar. Aku juga tidak sabar untuk menemukan Sinar dan menikahinya. Aku juga tidak sabar untuk membuat dia menderita," kata Roki lagi membuat Danish, kakek Joni dan pak Ilham semakin murka. Pak Ilham sudah bersiap menerjang Roki tapi para anggota Roki yang terlihat dari dalam rumah membuat pak Ilham mengurungkan niatnya. Pak Ilham tidak ingin menambah masalah lagi dengan Roki karena dia tahu itu hanya untuk menguras tenaga dan uang. Roki sangat licik.


"Keluar dari rumahku," usir pak Ilham. Roki tertawa terbahak bahak kemudian menatap tiga pria itu dengan sinis.


"Ingat, aku tidak main main dengan perkataanku. Jika pria ini ingin menikahi Sinar. Maka dia harus mendapatkan bekasanku," kata Roki sambil menunjuk wajah Danish. Diperlakukan seperti itu, sebenarnya Danish tidak terima. Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena keadaan kakinya. Danish hanya menatap tajam pria itu. Danish masih berpikir panjang untuk melayan Roki karena keadaan kakinya.


"Jangan terlalu gampang mengeluarkan kata kata bro. Sinar tidak akan pernah menikah dengan mu. Itu janjiku," kata Danish tajam dan yakin.


"Kita lihat saja nanti. Aku pasti bisa menemukan Sinar terlebih dahulu dan menikahinya terlebih dahulu. Setelah manisnya hilang. Aku akan mencampakkan kepada kamu," kata Roki sombong kemudian keluar dari rumah itu. Roki sengaja berjalan sok jago untuk menunjukkan pada Danish bahwa dia adalah pria yang harus ditakuti.

__ADS_1


"Siapa dia kakek?" tanya Danish.


"Dia pria yang membuat Sinar berada di sungai saat itu hingga menolong kamu," jawab Pak Ilham. Pak Ilham pun menceritakan apa yang dialami oleh Sinar saat itu sebelum menolong Danish.


Danish mengepalkan tangannya karena marah mendengar Roki hampir merenggut kesucian Sinar. Dia tidak terima hingga dalam hati berniat membalas perlakuan Roki itu suatu saat nanti. Danish pun mendukung dalam hati apa yang diperbuat Sinar melawan Sinar hingga Roki harus masuk rumah sakit. Danish bangga mendengar jika Sinar melukai Roki hanya karena untuk mempertahankan kesuciannya..


"Pulang lah Danish. Tidak ada gunanya kamu di sini," kata Kakek Joni pelan. Danish hanya menundukkan kepalanya. Benar keberadaan dirinya tidak berguna di rumah itu yang ada hanya membuat kesedihan bagi kedua orang tua Sinar dan kakek Joni.


"Maafkan aku kek," kata Danish pelan. Sungguh dirinya merasa manusia tidak tahu membalas budi. Setelah kebaikan yang dia terima dari Sinar dan kakek Joni. Dirinya hanya memberikan kesedihan bagi keluarga itu. Danish benar benar merasa pria yang tidak bertanggung jawab.


"Kalau memaafkan kamu bisa menghadirkan Sinar saat ini. Aku pasti memaafkan kamu," kata Kakek Joni. Dia manusia biasa bukan malaikat yang bisa memaafkan Danish begitu saja sementara keberadaan Sinar belum diketahui.


"Bawa Sinar ke hadapanku. Baru kamu meminta maaf," kata Kakek Joni lagi. Danish semakin menundukkan kepalanya. Danish juga merasa malu di hadapan kakek Joni. Pria tua itu memperlakukan dirinya sangat baik sementara Sinar diperlakukan tidak baik oleh papanya.


Danish akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia berjanji dalam hati akan melakukan upaya apapun untuk mencari keberadaan Sinar.


"Bagaimana keadaan Yanti?" tanya kakek Joni kepada pak Ilham yang baru saja keluar dari kamar.


"Masih pingsan pak," jawab Pak Ilham. Danish menegakkan kepalanya dan melihat ke dalam kamar yang pintu terbuka lebar.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang pak," kata Danish cepat. Dia takut kejadian buruk menimpa ibu Yanti. Dulu, Nyonya Amalia juga merasakan hal yang sama dengan yang dialami ibu Yanti saat ini. Danish berharap, ada keajaiban tentang informasi keberadaan Sinar saat ini seperti dulu kakek Joni yang menghubungi nomor tuan Santosh. Sungguh, Danish sangat berharap ibu Yanti bisa sembuh secepatnya.


Danish memandangi tenda pernikahan itu sebelum masuk ke dalam mobil. Seharusnya besok, dirinya bersanding di tempat itu tapi karena keserakahannya. Bukannya bersanding, dirinya pusing tujuh keliling memikirkan keberadaan Sinar. Dia sadar bukan hanya kesedihan yang menimpa keluarga Sinar saat ini tapi juga rasa malu. Melihat tenda yang sudah terpasang. Itu artinya undangan juga sudah disebar. Entah bagaimana besok mereka menghadapi tamu undangan.


Baru saja Danish masuk ke dalam mobil dan bersiap membawa ibu Yanti ke rumah sakit. Ponselnya miliknya berdering. Danish cepat cepat menjawab karena berharap kabar dari Nyonya Amalia berkaitan dengan informasi tentang Sinar.


Danish tidak dapat menyembunyikan informasi yang baru saja dia dapatkan dari Nyonya Amalia. Dia tidak menyangka permintaan Bintang meminta dirinya mengambil Bunga edelweiss mempunyai tujuan tertentu.


Danish merapatkan giginya karena marah. Dalam hati juga dirinya merasa bersalah kepada Sinar karena tidak bisa menepati janji. Danish sadar, jika dirinya kurang peka menghadapi kecelakaan hingga bertemu dengan Sinar. Danish menyimpulkan jika itu sinyal bahwa seharusnya dirinya tidak meneruskan hubungan dengan Bintang setelah berjanji akan menikahi Sinar. Cinta buta dan keserakahan mengantarkan Danish pada penyesalan.


"Tolong buat info orang yang hilang dengan imbalan yang besar bagi siapa saja yang mengetahui keberadaan Sinar," kata Danish. Dia menghubungi seseorang di telepon untuk mencari keberadaan Sinar. Hanya ini cara satu satunya yang bisa mempertemukan dirinya dengan Sinar secepat mungkin.

__ADS_1


"Bintang, kamu akan menyesal karena sudah mempermainkan perasaanku," kata Danish dalam hati. Dia merapatkan giginya dengan tangan yang terkepal. Jika karena tidak mementingkan kesehatan ibu Yanti. Danish sudah bertolak pulang ke kota Hari ini. Tapi Danish sudah berjanji jika dirinya akan memastikan kesehatan ibu Yanti terlebih dahulu dan sama sama menanggung malu karena pernikahan gagal itu.


__ADS_2