Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Pria Impian Sinar


__ADS_3

Sinar matahari yang menyusup masuk ke kamar lewat ventilasi udara membuat Sinar merasa silau dan terbangun dari tidurnya. Dia terbangun kesiangan karena tidur juga sudah larut malam. Untung saja hari ini hari minggu sehingga dirinya tidak perlu terburu buru untuk mandi. Sinar merasakan ada sesuatu yang menimpa perutnya. Melihat Danish masih tidur di sebelahnya. Sudah pasti jika sesuatu yang menimpa perutnya adalah tangan suaminya.


Sinar menatap wajah suaminya. Mengingat sikapnya tadi malam. Sinar sangat yakin jika Danish yang memeluk tubuhnya pagi ini pasti bukan unsur sengaja. Perlahan, Sinar menyingkirkan tangan suaminya itu. Dia tidak ingin mengganggu tidur suaminya.


Baru saja, Sinar hendak duduk. Tangan Danish kembali memeluk perutnya dengan mata yang terpejam.


"Jangan kemana mana. Biarkan seperti ini," kata Danish tanpa membuka matanya.


"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Sinar. Seperti keinginan suaminya itu. Sinar masih dengan posisi semula.


"Belum lama. Setengah jam yang lalu."


Sinar berpikir jika tangan Danish yang menimpa perutnya ketika terbangun adalah unsur sengaja. Sinar berharap, mulai pagi ini. Hubungan mereka kembali seperti semula.


"Mengapa tidak membangunkan aku?" tanya Sinar.


"Kalau aku membangunkan kamu sejak setengah jam yang lalu. Apa yang ingin lakukan kepadaku?"


"Aku akan memasak sarapan kita."


"Bibi bisa mengerjakan itu. Selain itu?" tanya Danish lagi. Matanya masih terpejam tapi tidak dengan tangannya yang sudah bergerak tidak beraturan di tubuh istrinya.


"Aku rasa hanya itu."


"Dan aku butuh selain itu," kata Danish dengan suara yang serak.


"Kamu menginginkan aku pagi ini?" bisik Sinar di telinga suaminya. Danish tidak menjawab dengan suara tapi menjawab dengan bibirnya. Tangannya berpindah dari area perut ke dada dengan bibir yang sudah bergerak liar di mulut Sinar.


"Tunggu Danish," kata Sinar setelah berhasil melepaskan bibirnya dari Danish.


"Tamu bulanannya sudah bersih kan?" tanya Danish. Sinar menganggukkan kepalanya. Tapi ada hal yang mengganjal di hatinya pagi ini sehingga kurang bersemangat melayani keinginan suaminya.


"Kamu dari mana tadi malam?" tanya Sinar. Sinar perlu bertanya supaya Danish tidak seenaknya saja bersikap seperti itu di hari hari mendatang. Danish tersenyum. Dia merapikan rambut Sinar kemudian mengelus rambut istrinya itu.


"Kenapa?" tanyanya.


"Kamu tidak menghargai apa yang aku lakukan. Aku menunggu mu tapi kamu lebih mementingkan ponsel mu."


"Lalu?"


"Seharusnya kalau pulang lama seperti itu. Kamu harus memberitahu aku terlebih dahulu. Aku sakit hati kamu perlakukan seperti itu."


Sinar menumpahkan apa yang menjadi kekecewaan nya tadi malam. Sinar memang berharap hubungan mereka akan kembali seperti semula. Tapi Sinar tidak akan menutup mata atas apa yang dilakukan oleh Danish tadi malam.


"Aku bersama Nathan tadi malam. Nathan galau karena Bintang hamil."

__ADS_1


"Bintang hamil. Bukankah dia belum menikah?" tanya Sinar terkejut dan tidak percaya. Danish menceritakan apa yang dia dengar dari Nathan tentang semua yang terjadi antara sahabatnya itu dan Bintang..


Jika tidak karena Nathan tadi malam. Danish juga tidak akan pulang lama ke rumah. Nathan menghubungi Danish tepat saat pria itu keluar dari kantor dan meminta Danish untuk menemui dirinya di sebuah club terkenal di kota itu.


Tiba di club, Danish terkejut melihat Nathan yang sudah memesan minuman beralkohol dan bahkan Nathan sudah menghabiskan satu gelas minuman beralkohol itu.


Perlahan tapi pasti. Nathan akhirnya mabuk. Dia mengabaikan larangan Danish. Melihat Nathan seperti itu. Danish tidak tega meninggalkan sahabatnya itu. Untuk megantipasi hal hal buruk lainnya. Danish tidak ikut minum minuman beralkohol itu. Danish memilih minuman soda. Danish akhirnya meminta salah satu supir dari kantor nya untuk datang ke club itu.


Meskipun supir yang diperintahkan oleh Danish mengantarkan Nathan. Danish memastikan jika Nathan pulang ke rumahnya dengan selamat meskipun dalam keadaan mabuk berat. Danish mengikuti mobil Nathan yang dikendarai supir itu dari belakang.


"Seharusnya kamu memberikan kabar supaya aku tidak khawatir," kata Sinar setelah mendengar cerita dari Danish mengapa pria itu pulang larut malam. Danish tersenyum.


"Ternyata kamu bisa juga khawatir," kata Danish bercanda.


"Siapa pun pasti khawatir jika suaminya pulang larut malam tanpa kabar terlebih dahulu."


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu khawatir. Tadi malam, perhatianku memang pada Nathan. Pria itu mabuk rusuh," kata danish. Tadi malam. Nathan memang hampir membuat keributan dengan pengunjung club lainnya.


"Dan kejadian ini membuat kita impas. Kamu sakit hati karena merasa tidak aku hargai. Aku juga sebenarnya sakit hati karena kamu tidak meminta pendapatku ketika memutuskan menggunakan pil kontrasepsi itu."


"Maaf," kata Sinar pelan. Jika mengingat tentang pil kontrasepsi itu. Sinar sangat merasa bersalah. Apa yang dilakukan oleh Danish tadi malam tidak ada apa apanya dengan apa yang dia lakukan yang sangat jelas berkaitan dengan Masa depan pernikahan mereka. Sinar membenamkan kepalanya di dada suaminya itu karena selain merasa bersalah. Sinar juga merasa malu.


"Mari kita saling terbuka Sinar. Jika hal besar saja kamu sembunyikan dari aku. Bagaimana dengan hal hal kecil. Aku memaafkan tapi dengan syarat," kata Danish.


"Syarat apa?"


Sinar menganggukkan kepalanya. Hubungan yang kurang hangat selama satu minggu ini memberikan pelajaran kepada dirinya untuk tidak bertindak sendiri.


"Aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama."


"Bagus."


"Dan kamu juga harus berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama," kata Sinar.


"Aku juga berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama."


Sepasang suami istri saling berjanji demi Masa depan hubungan rumah tangga mereka.


"Apa kamu tidak ingin mendengarkan alasan mengapa aku menggunakan pil kontrasepsi itu?" tanya Sinar. Sinar merasa perlu mengatakan alasannya supaya Danish bisa mengerti mengapa dirinya bertindak sendiri.


"Aku tidak ingin mendengarkan alasan apapun. Karena apa yang kamu lakukan itu tidak benar bagiku. Dan kamu merasa benar melakukan itu. Aku sudah memaafkan kamu. Itu yang terpenting," kata Danish.


Danish memilih menutup mata dan telinga akan alasan Sinar melakukan itu. Danish khawatir, jika mendengar alasan Sinar. Justru masalah baru yang muncul.


"Jadi kita sudah damai kan?" tanya Sinar dengan wajah yang tersenyum.

__ADS_1


"Damai?. Apa kita pernah perang?" tanya pria itu seakan dirinya memperlakukan Sinar seperti biasanya selama satu minggu ini.


"Iya perang. Perang dingin."


"Bagaimana rasanya?"


"Tersiksa."


"Sama," kata Danish. Sepasang suami istri itu spontan tertawa karena sama sama mengingat bagaimana mereka satu minggu ini.


"Apalagi yang ini," kata Danish lagi sambil menunjuk sesuatu yang sudah mulai mengeras di bawah sana. Selama satu minggu tidak menyentuh Sinar. Tentu saja, Danish sangat menginginkan dimanjakan oleh istri pagi ini. Danish mengetahui jika tamu bulanan Sinar sudah bersih. Tadi malam, Danish mendengar dengan jelas perkataan istrinya yang sudah siap menampung benihnya. Danish menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya itu karena dia terlalu lelah bekerja sepanjang hari dan juga karena memikirkan Nathan.


"Kamu adalah pria impian ku. Aku akan melayani kamu pagi ini dengan segenap jiwa dan ragaku."


Sinar tersenyum. Sungguh, dia semakin mengagumi sikap suaminya. Sinar menyukai laki laki yang menunjukkan kemarahan nya tidak dengan bersikap kasar. Dan itu pada diri Danish.


"Mau kemana?" tanya Danish sambil menahan tangan Sinar yang hendak turun dari ranjang.


"Aku mau ke kamar mandi."


Panggilan alam itu membuat Sinar tidak bisa langsung melayani suaminya. Tapi itu ada bagusnya karena Sinar ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya itu pagi hari ini. Setelah menuntaskan panggilan alam itu. Sinar membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Sinar bahkan sengaja menyemprotkan wewangian ke tubuhnya dengan wewangian yang sangat disukai Danish.


Sinar perlahan mendekati ranjang dimana Danish menunggu dirinya tidak sadar.


"Kamu sungguh mengairahkan sayang. Aku suka," kata Danish. Sinar memang tidak memakai lingerie tapi pakaian minim yang melekat di tubuhnya membuat Danish tidak ingin mengulur waktu untuk meraih kenikmatan bersama dengan istrinya.


"Aku milikmu. Lakukan apapun yang membuat kamu senang," jawab Sinar pasrah.


Danish dan Sinar sama sama menikmati permainan indah itu. Mereka saling memberi dan menerima sentuhan. Dalam hati mereka berdua berharap. Kerja keras mereka di ranjang itu secepatnya membuahkan hasil.


Danish dan Sinar memulai pagi ini dengan kegiatan yang sangat membuat keduanya saling menikmati sedangkan di rumah lain. Ada sepasang anak manusia yang sama sama sedang sedih menghadapi kenyataan hidup yang tidak pernah mereka harapkan akan terjadi. Mereka adalah Bintang dan Nathan. Pagi pagi sekali, Bintang berkunjung ke rumah pria itu untuk meminta kejelasan akan tanggung jawab Nathan akan janin yang dia kandung.


"Papa dan mama tidak menyetujui jika aku menikahi kamu Bintang. Meskipun dengan alasan janin itu. Lagi pula, kita juga tidak saling mencintai," kata Nathan kemudian memijit pelipisnya. Efek dari mabuk tadi malam masih terasa sampai pagi ini apalagi dirinya terbangun karena sengaja dibangunkan oleh Bintang. Nathan merasa kepalanya hampir pecah.


Bintang menundukkan kepalanya. Perkataan Nathan mengingatkan dirinya akan Sinar. Dia pernah mengagungkan restu tuan Santosh akan hubungannya dengan Danish. Bintang bahkan saat itu mengejek dan meremehkan Sinar yang tidak diinginkan jadi menantu. Kini apa yang dialami oleh Sinar, Bintang mengalaminya saat ini.


"Lalu bagaimana?" tanya Bintang pelan.


"Aku juga tidak tahu," jawab Nathan. Dia sudah menceritakan kehamilan Bintang kepada kedua orangtuanya. Tapi kedua orangtuanya tidak memberikan restu.


"Jadi bagaimana pertanggungjawaban kamu dengan janin ini Nathan?"


"Jangan tuntut aku jawabannya sekarang Bintang. Kita tidak saling mencintai. Bagaimana aku memperjuangkan kamu jika tidak ada cinta diantara kita."


"Aku butuh kepastiaan Nathan," kata Bintang pelan. Dia juga sadar kehadiran janin itu di rahimnya bukan karena dasar cinta. Tapi meskipun begitu. Janinnya berhak mendapatkan pertanggungjawaban dari ayahnya.

__ADS_1


"Kepastiaan apa yang kamu inginkan. Seharusnya jika kamu mengingat alasan kita melakukan hubungan itu. Kamu tidak seharusnya menuntut pertanggungjawaban dari ku. Atau jangan jangan kamu sengaja ingin hamil supaya ada yang menopang hidup mu."


__ADS_2