Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Sikap Tuan Santosh


__ADS_3

Kedatangan Danish dan Sinar di rumah pak Ilham sore itu disambut bahagia oleh Ibu Yanti. Wanita itu memeluk Sinar dengan erat. Wanita itu sadar, jika Sinar sudah menikah. Putrinya itu bukan hanya miliknya saja. Tapi sudah menjadi milik suami dan keluarga suaminya.


Kedatangan Danish dan Sinar di desa itu tentu saja membawa kabar bahagia. Keluarga Danish sudah berencana melamar Sinar dan direncanakan besok.


"Apa kabar bu. Bapak sama kakek mana?" tanya Danish setelah ibu Yanti melepaskan pelukannya dari Sinar. Calon menantu Dan calon ibu mertua itu saling bersalaman.


"Baik, seperti yang kamu lihat Danish. Bapak sama kakek ada di belakang," jawab ibu Yanti. Sinar dan Danish bergegas ke belakang rumah.


"Ayah, kakek," panggil Sinar. Dua pria itu seketika menoleh ke belakang. Mereka sedang membakar ayam di atas bara api.


"Kalian sudah datang?" tanya kakek Joni. Pria tua itu mendekat ke Danish dan Sinar.


"Belum kek," jawab Danish. Sinar memukul lengan Danish karena jawabannya itu.


"Lah ini apa?" tanya kakek Joni sambil menunjuk Danish dan Sinar.


"Ini bayangan mereka pak. Aslinya masih di Kota. Kakek juga ada ada saja. Wujudnya sudah disini tapi masih bertanya kalian sudah datang. Harusnya pertanyaannya kalian sudah makan," kata Pak Ilham sambil menerima uluran tangan Danish dan Sinar.


"Benar itu Pak, lihat ayamnya jadi lapar," kata Danish. Pria itu mendekat ke bara api itu dan membalikkan ayam itu supaya matang.


"Danish, kamu tunggu di dalam saja. Bentar lagi ayamnya matang kita makan bersama," kata Pak Ilham.


Sinar tersenyum melihat interaksi tiga pria berbeda generasi itu. Apalagi melihat Danish bersikeras membantu kakek dan ayahnya. Sinar semakin yakin jika Danish adalah sosok pria yang pantas dijadikan suami. Sinar meninggalkan tiga pria itu yang sudah saling bercanda dan terdengar tertawa bersama.


Sinar menyerahkan oleh oleh yang khusus dibeli oleh Nyonya Amalia untuk ibu Yanti.


"Apa ini nak?" tanya ibu Yanti sambil memperhatikan sebuah tas yang lumayan besar dan terisi penuh.


"Lihat saja bu."


Ibu Yanti membuka tas itu. Ternyata yang diberikan oleh Nyonya Amalia adalah seragam untuk dikenakan oleh ibu Yanti, Pak Ilham dan kakek Joni. Ibu Yanti mengeluarkan pakaian itu. Meskipun dirinya orang tidak mampu. Dia mengetahui jika pakaian pakaian itu dari pakaian yang sangat mahal. Jika di survei. Di desa itu pasti tidak akan ada yang mempunyai pakaian dengan bahan sebagus itu.


"Apa ini tidak berlebihan nak?" tanya ibu Yanti. Wanita merasa tidak enak karena calon besannya yang menyediakan seragam untuk mereka.


"Aku juga sudah menolak bu. Tapi Nyonya Amalia beralasan supaya seragam dari pihak kita dan pihak mereka warnanya senada bu."


"Kalau begini. Makin gak enak kalau tidak dipakai kan nak?" kata ibu Yanti. Sinar menganggukkan kepalanya.


"Nyonya Amalia juga berpesan supaya ibu tidak perlu memikirkan pakaian yang hendak dipakai pada pernikahan nanti. Semua nya sudah dipersiapkan Nyonya Amalia."


"Makin gak enak aku nak. Calon mertua mu sangat baik pada kita keluarga miskin ini. Apa mereka nanti tidak malu mempunyai besan seperti kami nak?" tanya ibu Yanti. Diberikan pakaian mahal tidak langsung membuat wanita itu sangat senang yang ada ibu Yanti semakin rendah diri.

__ADS_1


Sinar menarik nafas panjang. Dia juga memikirkan hal itu. Tapi bukan Nyonya Amalia tapi tuan Santosh. Nyonya Amalia tidak pernah mempersalahkan perbedaaan status diantara mereka. Tapi tidak dengan Tuan Santosh. Sampai saat ini, meskipun lamaran direncanakan besok. Sinar belum bertemu dengan pria itu. Pertemuan pertama mereka besok setelah enam bulan tidak bertemu.


Sungguh Sinar sebenarnya merasakan hatinya tidak tenang. Tuan Santosh tidak memperlakukan dirinya dengan baik. Sinar khawatir, tuan Santosh tidak memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik esok hari. Tatapan tajam dan penghinaan tuan Santosh masih terbayang di kepalanya. Tapi dirinya juga tidak kuasa menolak pesona Danish untuk menjadikan dirinya menjadi seorang istri. Setelah Sinar memberikan keputusan untuk bersedia menikah dengan pria itu. Sinar dapat merasakan jika Danish benar benar mencintai dirinya.


"Bu, aku mandi dulu ya," kata Sinar. Dia tidak ingin menanggapi perkataan sang ibu. Karena kenyataannya salah satu orang tua Danish belum memberikan restu meskipun mengijinkan mereka untuk menikah. Sinar dan Danish sudah sepakat menyembunyikan hal itu dari kedua orang tua Sinar supaya mereka tidak terbebani pikiran.


Di kamar mandi Sinar memikirkan tuan Santosh. Bagaimana pertemuan mereka esok hari?. Apakah papanya Danish itu akan menatap dirinya tajam memperlihatkan rasa tidak sukanya?. Jika itu benar benar terjadi alangkah Sinar akan malu esok hari di hadapan para kerabat dan undangan. Atau kah tidak bersedia ikut dalam acara lamaran itu?. Jika itu terjadi. Itu artinya, tuan Santosh memperlihatkan tidak restunya akan Sinar menjadi menantunya. Tentu saja, hal itu juga akan menjadi tanda tanya pada diri kedua orangtuanya. Ada atau tidak ada tuan Santosh dalam acara lamaran itu besok tetap membuat Sinar di situasi yang tidak mengenakkan.


Sinar menggelengkan kepalanya. Ternyata menikah tanpa restu sangat menyiksa hatinya. Untuk mundur, rasanya tidak mungkin lagi. Dia dan Danish sudah pernah gagal menikah dan sejujurnya Sinar juga tidak ingin gagal menikah untuk yang kedua kalinya.


Cinta butuh perjuangan dan pengorbanan. Bukan hanya pengorbanan materi dan waktu. Sinar mengingat kata kata Danish dalam perjalanan tadi. Danish menyakinkan Sinar bahwa cepat atau lambat tuan Santosh pasti akan menerima dirinya sebagai menantu. Sinar pun berharap seperti itu karena bagaimana pun restu orang tua sangat penting bagi pernikahan anak anaknya.


Danish keluar dari kamarnya setalah merias wajahnya seadanya. Dia melihat Danish sudah sibuk di ruang makan dengan ayam ayam bakar di tangannya. Sepertinya pria itu berusaha menata ayam bakar itu supaya terlihat sangat menarik.


"Bisa?" tanya Sinar. Dia mendekati pria itu.


"Bisa. Apa yang tidak bisa aku lakukan. Menaklukkan hatimu saja bisa. Apalagi hanya menata ayam ayam ini," kata Danish sambil tersenyum dan tangannya sibuk menata ayam ayam itu. Benar saja apa yang dikatakan Danish. Sinar dapat melihat tampilan ayam yang ditata itu sangat indah padahal hanya ditata diatas piring biasa. Tomat, mentimun yang dipotong dengan dengan berbagai bentuk membuat Sinar sangat berselera untuk segera menyantapnya.


Sinar seketika merasa dirinya sangat tersanjung. Dirinya tidak ada apa apanya dibandingkan Danish. Tapi sepertinya pria itu sangat bangga karena bisa menjadi calon suaminya.


"Mama sudah memberikan kabar kalau mereka sudah tiba di desa ini."


"Lalu, dimana mereka?"


"Setelah makan, aku juga harus ke hotel," kata Danish lagi. Sinar menganggukkan kepalanya. Itu sudah mereka bicarakan sebelumnya jika Danish dan Sinar boleh berangkat bersama ke desa ini tapi tidak boleh menginap di bawah atap yang sama.


"Apa tuan Santosh juga ikut?" tanya Sinar setelah mengedarkan pandangannya. Dia takut pertanyaan itu akan menimbulkan tanda tanya pada orangtuanya dan akhirnya ketahuan jika Tuan Santosh belum memberikan restunya kepada mereka.


"Pertanyaan apa itu sayang. Aku putranya, tidak mungkin papa tidak ikut dalam acara penting itu. Sudah, jangan khawatir. Semuanya pasti baik baik saja. Ingat, cinta butuh perjuangan termasuk berjuang mendapatkan restu," bisik Danish di telinga Sinar. Sinar menjauhkan wajah Danish dari telinganya ketika suara derap langkah mendekati ruang tamu itu.


Acara lamaran itu akhirnya tiba juga. Halaman rumah Sinar yang lumayan luas dihias dan dipasang tenda untuk acara itu. Untuk membuat acara itu di dalam rumah. Rumah Sinar terlalu sempit. Ternyata, kedua orang tua Sinar mengundang para kerabat dan para tetangga untuk menyaksikan acara lamaran tersebut. Dan itu saran dari tuan Santosh. Mengingat acara pernikahan Danish dan Bintang akan diadakan di kota, Pak Ilham setuju dengan saran itu karena tidak mungkin para undangan dari pihak keluarganya akan ke Kota hanya untuk menghadari acara pernikahan itu.


Sinar merasakan jantungnya berdebar tidak beraturan ketika melihat iringan mobil berhenti di depan rumahnya. Sinar semakin merasa tidak bisa bernafas melihat Danish dan kedua orangtuanya turun dari dalam mobil. Sinar sengaja memfokuskan pandangan bergantian kepada Nyonya Amalia dan Danish. Dia takut menatap Tuan Santosh.


Pembawa acara terdengar mempersilahkan pihak laki laki untuk duduk di tempat yang disediakan. Saat hendak duduk, Danish dan Sinar saling berpandangan dan saling tersenyum. Bisik bisik dari tamu undangan terdengar mengagumi kemewahan yang melekat di pada diri Nyonya Amalia dan Tuan Santosh. Bukan hanya memuji keluarga Danish. Bisik bisik itu juga terdengar mengatakan Sinar sebagai wanita yang paling beruntung di dunia karena bisa menikah dengan pria kaya dari kota.


Dalam hati Sinar juga benar benar merasa beruntung. Merasa beruntung bukan karena kekayaan keluarga Danish tapi karena memiliki calon suami yang kepribadianya sesuai dengan pria yang dia mimpikan selama ini.


Acara lamaran itu dimulai dengan doa bersama. Meskipun acara itu untuk melamar Sinar untuk menjadi pendamping hidup Danish. Pihak laki laki tetap menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan mereka. Dari pihak keluarga Sinar menyambut baik maksud dan tujuan akan kedatangan pihak keluarga Danish.


Para tamu undangan berdecak kagum melihat seserahan yang diberikan oleh keluarga Danish kepada Sinar. Jelas bukan kaleng kaleng. Semua mata tertuju kepada utusan keluarga Danish yang membawa satu set perhiasan mewah yang akan diberikan kepada Sinar. Para tamu undangan mengabaikan yang ada dibelakang sang utusan itu yang juga akan menyerahkan barang barang lainnya yang tidak kalah mahal dari satu set perhiasan mewah tersebut.

__ADS_1


Acara itu berjalan lancar hingga pertukaran cincin antara Danish dan Sinar. Setelah berdiri berdampingan dan saling memperlihatkan cincin masing masing. Danish dan Sinar saling berpandangan dan tersenyum. Mereka terlihat sangat serasi dengan busana yang mereka kenakan. Sinar memakai kebaya warna Salem dipadukan dengan rok batik panjang sedangkan Danish memakai kemeja batik yang sama dengan corak dan bahan dengan rok yang dikenakan oleh Sinar dipadukan dengan celana panjang bahan warna hitam.


Sinar dapat melihat kebahagiaan itu di mata kedua orangtuanya dan kakek Joni. Terlebih di Mata Nyonya Amalia. Wanita itu tidak berhenti tersenyum jika mereka saling bertatapan.


Meskipun Sinar takut dengan Tuan Santosh. Ternyata sepanjang acara. Sinar curi curi pandang kepada calon papa mertuanya. Sinar merasa lega karena sampai acara hampir selesai. Pria itu tidak pernah memandang dirinya dengan tatapan tajam. Dan Sinar juga dapat melihat jika Tuan Santosh bersikap ramah kepada kedua orangtuanya. Apa yang ditakutkan Sinar di acara lamaran itu tidak terjadi sama sekali. Bisa dikatakan acara lamaran itu berjalan dengan baik tanpa ada hambatan sedikit pun.


"Calon besan tidak perlu khawatir dengan transportasi. Aku akan memerintahkan sopir untuk menjemput kalian," kata Tuan Santosh. Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu rumah Sinar. Acara lamaran itu sudah selesai setengah jam yang lalu dan para tamu undangan juga sudah pulang. Dan acara pernikahan akan diadakan dua minggu lagi dari hari ini.


Nyonya Amalia tersenyum mendengar perkataan suaminya. Wanita itu berpikir jika suaminya bisa menerima Sinar menjadi menantunya.


"Terima kasih Tuan. Bukan kami bermaksud menolak kebaikan tuan dan keluarga. Kami bertiga bisa naik kendaraan umum," tolak pak Ilham halus.


"Pak Ilham jangan menyebut saya dengan Tuan. Sebentar lagi kita akan resmi menjadi besan. Jangan menolak pak Ilham. Sopir saya akan tetap menjemput kalian," kata Tuan Santosh dengan tegas sehingga pak Ilham tidak bisa menolak jemputan itu.


Danish mengelus punggung tangan Sinar yang duduk di sebelahnya seakan mengatakan jika Tuan Santosh sudah merestui hubungan mereka. Danish merasa seperti itu karena melihat bagaimana tuan Santosh bersikap sopan kepada kedua calon mertuanya dan kakek Joni.


"Terima kasih pak Santosh," kata Pak Ilham akhirnya.


Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan perpisahan sementara. Pihak keluarga Danish pamit pulang ke kota begitu juga Danish dan Sinar. Pernikahan itu akan diadakan dua minggu lagi sehingga mereka tidak mempunyai waktu yang banyak untuk bersantai.


"Danish, bisa singgah di rest area?" tanya Sinar. Mereka sudah melakukan perjalanan sekitar tiga jam.


"Bisa, apa yang tidak bisa jika berkaitan dengan kamu Sinar," kata Danish. Sinar hanya dapat tersipu dengan gombalan calon suaminya.


"Apa tidak sebaiknya kamu tinggal di rumah saja sebelum pernikahan itu tiba Sinar?" tanya Danish. Sinar memang masih tinggal di rumah kontrakannya bersama Hana.


"Kita jalani saja yang sesuai dengan semestinya Danish," jawab Sinar.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Toh, setelah dua minggu ini kita sudah satu rumah kan?.


"Rest area nya jangan sampai kelewatan."


"Oo hampir saja," kata Danish. Pria itu membelokkan mobilnya ke area rest area. Sinar cepat keluar dari mobil karena panggilan alam itu memang sedari tadi sudah mendesak. Sinar cepat cepat menuntaskan panggilan alam itu karena tidak ingin Danish menunggu dirinya terlalu lama.


"Sinar."


Sinar menghentikan langkahnya ketika mendengar suara itu.


"Tuan."


Ternyata tuan Santosh dan Nyonya Amalia juga singgah di rest area itu.

__ADS_1


"Kamu boleh senang dengan lamaran dan pernikahanmu nanti. Tapi ingat. Kamu masih tetap Sinar Tak Kuinginkan menjadi menantu meskipun nanti kamu memberikan aku cucu," kata Tuan Santosh pelan. Pria itu berkata pelan supaya suaranya tidak terdengar ke Danish maupun Nyonya Amalia yang sedang berbicara di depan mobil Danish tidak jauh dari mereka.


"Dan aku akan berjuang mendapatkan restu mu tuan," kata Sinar dalam hati. Sinar tidak mengerti dengan sikap Tuan Santosh. Saat lamaran tadi. Dia terlihat seperti seorang papa yang merestui hubungan putranya.


__ADS_2