
Waktu terus berputar dan tidak terasa usia kehamilan Sinar sudah memasuki bulan kedua. Wanita itu bisa merasa lega dan merasa beruntung. Di tengah permasalahan antara dirinya dan Tuan Santosh. Perkembangan kehamilannya tidak terganggu dan Sinar juga tidak mengalami yang namanya morning sickness yang parah. Sinar memang mengalami mual di pagi hari tapi tidak sampai mengganggu kehamilannya. Sinar juga tidak mengalami gangguan makan. Apa saja masuk sehingga berat badan wanita itu sudah terlihat bertambah.
Karena dukungan Danish dan Nyonya Amalia. Sinar tetap menjalani perkuliahannya. Baginya belajar, bukan aktivitas yang berat. Bukan bermaksud melawan tuan Santosh tapi Sinar tetap menjalani perkuliahan itu karena dirinya merasa mampu. Sinar tidak menjadikan kehamilan itu untuk bermalas malasan atau bermanja ria kepada Danish. Yang ada Sinar semakin terlihat aktif. Kehamilan itu sama sekali bukan beban. Hal itu membuat Sinar semakin disayang oleh mama mertuanya. Nyonya Amalia menyukai wanita yang mandiri dan itu ada pada diri Sinar.
Hubungan Sinar dan Nyonya Amalia tetap baik baik saja meskipun selama beberapa minggu terakhir ini. Sinar tidak ikut berkunjung ke rumah mertuanya. Menjaga hati itu perlu. Dan Sinar tidak ingin hanya untuk berusaha mendapatkan restu dari tuan Santosh. Dirinya semakin tersakiti dengan sikap sang papa mertua. Nyonya Amalia memaklumi itu. Dia tidak memaksakan Sinar untuk berkunjung ke rumahnya. Untuk melepaskan rindu kepada menantu kesayangannya. Nyonya Amalia yang terkadang berkunjung ke rumah Danish. Tidak seperti Sinar dan Danish yang berkunjung ke rumah Nyonya Amalia di akhir pekan. Nyonya Amalia berkunjung sesuka hatinya. Kapan dia rindu. Dia akan berkunjung ke rumah putra dan menantunya.
Bagi Sinar dan Danish. Biarlah dulu tuan Santosh bertahan dengan keras kepalanya. Karena sampai saat ini. Pria tua itu tidak pernah menceritakan apa yang membuat dia membenci Sinar. Nyonya Amalia sudah berusaha mengorek informasi itu. Tapi tuan Santosh tetap bungkam.
"Aku pernah berpikir dengan kehadiran calon cucu, hati mu melunak pada Sinar Pa. Yang aku lihat. Sinar adalah wanita yang baik. Dia tulus mencintai dan berbakti kepada Danish. Dia juga pekerja keras," kata Nyonya Amalia. Danish baru saja pulang dari rumah itu.
"Aku tidak pernah menolak kehadiran cucuku."
"Kamu tidak menolak kehadiran cucu mu. Tapi kamu menyakiti ibunya. Apa kamu kira seorang wanita yang terbebani pikiran bisa akan mudah menjalani kehamilan. Beruntung, Sinar wanita yang kuat. Jika tidak, sikap mu itu bisa membahayakan cucu mu."
Sejak perdebatan satu bulan yang lalu. Nyonya Amalia tidak bosan bosannya menyadarkan suaminya itu supaya bisa bersikap baik kepada Sinar. Tapi laki laki keras kepala. Tuan Santosh masih bertahan dengan keras kepalanya.
"Satu lagi pa. Sinar menjadi istri Danish bukan karena Sinar yang mengejar Danish. Tapi Danish yang mengejar Sinar. Dan lihat, meskipun kamu membenci Sinar. Kasih sayang Danish tidak berubah kepada kamu. Itu artinya Sinar memberikan pengaruh yang positive bagi Danish. Jika istri Danish adalah wanita lain. Bisa saja, akan mempengaruhi danish supaya membenci kamu."
Tuan Santosh terdiam. Apa yang dikatakan oleh istrinya benar adanya. Danish masih rutin mengunjungi mereka setiap akhir pekan meskipun tanpa Sinar. Tidak ada kemarahan apalagi kebencian di mata putranya itu. Semuanya masih seperti biasa seperti tidak ada masalah. Danish masih sangat perhatian dan sayang kepada dirinya. Bahkan setiap berkunjung. Danish membawa keripik ubi yang sudah menjadi makanan kesukaannya.
"Tahu gak sih pa. Kalau di hitung hitung. Mungkin waktu kita tidak lama lagi bersama mereka. Sebentar lagi mungkin kita akan tereleminasi dari kehidupan mereka. Jika tereleminasi karena kematian itu adalah hal yang wajar dan tidak bisa dielakkan. Tapi kalau tereleminasi karena sikap. Dimana wibawa papa yang seorang pemimpin. Tidak tertutup kemungkinan. Danish akan muak jika papa tidak mau mengubah sikap."
Melihat suaminya terdiam dan terlihat berpikir. Nyonya Amalia terus berbicara. Sungguh, wanita itu berharap keluarganya hidup dengan damai tanpa ada permasalahan. Nyonya Amalia menatap Tuan Santosh sinis ketika laki laki itu membuat bungkusan keripik ubi. Tuan Santosh menyukai keripik ubi itu tapi tidak menyukai orang yang sudah membuat keripik ubi tersebut. Nyonya Amalia terkadang tidak habis pikir melihat sikap suaminya itu.
"Kalau aku jadi kamu. Malu aku makan keripik itu. Menyukai keripik ubi itu tapi membenci pembuatnya setengah mati," kata Nyonya Amalia sinis. Tuan Santosh tidak lantas meletakkan keripik ubi itu. Dengan santai, dia mengunyah.
Sambil mengunyah, Tuan Santosh merenung. Dia memikirkan kata kata Nyonya Amalia. Benarkah dia akan tereleminasi secepatnya dari kehidupan Danish karena sikapnya terhadap Sinar. Akhir akhir ini. Dia merasakan kepalanya terasa berat padahal tensi darah sangat bagus. Akankah dia tereleminasi dari kehidupan Danish sebelum melihat cucunya. Tidak bisa dipungkiri, Tuan Santosh sangat mengharapkan kehadiran penerusnya. Dia ingin melihat calon penerusnya itu.
Tuan Santosh ingin merasakan kebahagiaan mempunyai cucu. Sama seperti mempunyai Danish dahulu. Tuan Santosh juga ingin melihat tumbuh kembang cucunya kelak. Dan jika diberikan umur yang panjang. Tuan Santosh juga ingin mengajari cucunya kelak tentang bisnis. Tuan Santosh tidak ingin sakit apalagi langsung mati dalam waktu dekat ini.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda. Di waktu yang bersamaan. Dua orang wanita sedang duduk mengantri di depan ruangan dokter. Wanita itu adalah Sinar dan Bintang. Sejak pertemuan mereka di rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Sinar dan Bintang sering berkomunikasi. Sinar benar benar prihatin akan kehidupan Bintang apalagi setelah mengetahui jika mamanya Bintang sedang sakit.
Keberadaan mereka di rumah sakit itu karena keadaan Bintang yang kurang sehat. Wanita itu demam. Atas desakan Sinar. Bintang bersedia berobat dan mereka berjanji bertemu di rumah sakit ini.
"Terima kasih Sinar," kata Bintang pelan. Rasanya dia sangat menyesal pernah menyakiti Sinar. Dalam keadaan susah seperti ini hanya Sinar yang terlihat tulus membantu dirinya. Teman temannya dulu yang sering berbagi kebahagiaan entah kemana kini. Mereka lenyap seperti ditelan bumu setelah mengetahui dirinya dalam kesusahan. Jangankan ajakan untuk hang out bersama. Membalas pesan Bintang saja tidak bersedia.
"Sama sama Bintang. Jangan sungkan jika kamu butuh bantuan," kata Sinar. Bintang hanya tersenyum. Sinar mengulurkan tangannya memberikan air minum minerel kepada Bintang. Bintang meraih botol minum itu dan menatap wajah Sinar yang penuh ketulusan. Kecantikan Sinar semakin terpancar setelah hamil sangat berbeda dengan kecantikannya yang redup setelah hamil.
"Minum Bintang. Wanita hamil seperti kita sangat bagus minum air putih yang banyak," kata Sinar. Sebelum mereka duduk mengantri di tempat itu. Bintang sudah melakukan pengecekan tensi dan hasilnya Bintang mengalami tensi rendah. Pantas saja, Bintang merasakan sakit kepala dan tidak kuat berdiri. Dan terkadang pandangannya kabur.
Bintang menurut. Dia membuka tutup botol itu dan meneguk isinya.
Sinar menatap wanita yang dulunya terlihat sangat cantik itu. Sinar merasa kasihan. Dia tahu bahwa Bintang pasti banyak pikiran. Lingkungan tinggal hidup Bintang memang bukan lingkungan yang suka bergosip atau kepo dengan kehidupan orang lain. Tapi tetap saja. Kehamilan di luar nikah itu akan menjadi beban pikiran apalagi keadaan sang mama yang butuh pengobatan.
"Rasanya aku lebih baik mati saja Sinar," kata Bintang frustasi. Sinar menatap Bintang dan menggenggam tangan wanita itu.
Bintang hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar nasehat Sinar. Beban hidup itu memang sangat berat. Dan seperti namanya. Sinar hadir memberikan terang di kehidupan Bintang yang sudah kehilangan arah. Dia pernah berpikir jika dirinya lebih baik mati saja tapi perhatian Sinar membuat Bintang merasa jika masih ada yang perduli dengan dirinya. Seperti nasehat Sinar. Sepertinya dia tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri. Selama ini. Dia sudah melakukan itu dan hasilnya dia semakin terpuruk.
Sinar menuntun Bintang ketika nama wanita itu dipanggil.
"Jangan terlalu banyak memikirkan hal hal yang berat bu," kata dokter itu. Bintang hanya menganggukkan kepalanya. Bagaimana dia tidak berpikir jika masalah hidupnya sangat banyak saat ini. Beban ada di pundaknya. Bukan hanya masalah hutang, kehamilan di luar nikah tapi juga kesehatan sang mama. Sangat tidak bisa dipercaya jika Bintang tidak memikirkan itu semua.
Bintang dan Sinar sama sama terdiam mendengar penjelasan Dokter akan bahaya tensi rendah karena kondisi animea bagi ibu hamil. Masalahnya akan serius dimana janin bisa tidak berkembang hingga lahir prematur.
"Jadi, tolong dijaga pola makan demi kebaikan janin ibu," kata dokter itu lagi. Bintang kembali menganggukkan kepalanya. Dalam hati, dia tidak akan mengulang kesalahan lagi. Selama ini, Bintang terlalu larut dalam masalah itu sehingga dia tidak menjaga pola makanannya. Bintang mengabaikan keberadaan janin itu di rahimnya.
Sinar sudah menyelesaikan pembayaran atas jasa dokter yang diterima Bintang. Sinar yang mendesak Bintang untuk berobat. Maka Sinar bertanggung jawab menanggung pengobatannya. Mendengar penjelasan Dokter tadi. Sinar sudah menyimpulkan dalam hati jika Bintang tidak terlalu memperhatikan kehamilannya.
"Kamu tidak selera makan Bintang?" tanya Sinar memancing Bintang untuk bercerita. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
__ADS_1
"Kamu harus lebih memperhatikan janinmu Bintang. Bertanggung jawab bukan hanya sekedar melahirkan. Tapi harus memenuhi kebutuhan janin sejak di kandungan dengan memperhatikan vitamin. Perkembangan otak dan organ tubuh dibentuk sejak di dalam kandungan. Jangan karena kamu tidak memperhatikan kebutuhan janin mu. Nanti dia terlahir tidak sesuai dengan harapanmu. Jangan sampai dia terlahir cacat karena kelalaian mu."
Mata sayu Bintang menatap Sinar. Dia berniat melahirkan janin itu ke dunia tapi dia sibuk dengan masalah yang dia hadapi hingga lupa memperhatikan kebutuhan janinnya. Perkataan Sinar membuat Bintang tersadar. Bintang memegang perutnya. Kehamilan itu memang tidak diharapkan tapi dia juga tidak ingin janinnya lahir cacat kelak.
"Tidak. Janinku harus lahir sempurna," gumam Bintang pelan. Sinar tersenyum. Perkataannya berhasil membuat Bintang tersadar dari kesalahannya.
"Semangat lah untuk sehat Bintang. Kalau kamu sehat. Kamu bisa melakukan hal apapun. Kamu harus bangkit dari keterpurukan ini. Tanggung jawab mu bukan hanya dirimu sendiri tapi juga janin dan kedua orang tua kamu terutama mama kamu saat ini."
Bintang menganggukkan kepalanya lemah tapi kepalanya semakin pusing. Mungkin karena tensi rendah itu atau karena memikirkan tanggung jawab yang ada di pundaknya kini.
"Ada apa Bintang?" tanya Sinar. Bintang memejamkan matanya cukup lama.
"Aku bingung bagaimana bisa supaya bisa menghasilkan uang. Penghasilan ku benar benar lenyap sejak kasus papa."
Masalah ekonomi adalah masalah terberat yang kini dihadapi oleh Bintang. Bukan hanya kebutuhan perut yang harus dia pikirkan tapi juga pengobatan sang mama. Bintang juga sudah berusaha berbisnis baik online maupun offline. Tapi kasus pak Idrus benar benar menutup rejekinya. Teman teman tidak ada yang membantu dirinya. Kasus pak Idrus memang benar benar membuat keluarga mereka terpuruk.
"Kamu mau bekerja?. Tapi bukan kerja kantoran," tanya Sinar. Sinar langsung jujur jika pekerjaan yang dia tawarkan bukan pekerjaan kantoran. Bintang pernah menjadi wanita karir. Sinar tidak ingin Bintang kecewa jika pekerjaan yang dia tawarkan bukan pekerjaan kantoran.
Mata Bintang berbinar. Dengan lemah wanita itu menganggukkan kepalanya. Tidak masalah pekerjaan itu seperti apa yang penting halal. Bintang merasa tidak saatnya untuk memilih pekerjaan.
"Aku mempunyai usaha membuat keripik. Jika kamu mau. Kamu bisa bekerja di sana," kata Sinar. Bintang meraih tangan Sinar dan mengucapkan terima kasih.
"Aku mau Sinar. Terima kasih."
Sinar tersenyum senang. Dia bisa melihat semangat itu muncul dalam diri Bintang. Melihat Mata Bintang yang berbinar membuat Sinar merasa senang.
"Kamu memang yang pantas untuk laki laki sebaik Danish Sinar. Wanita jahat seperti itu. Jangan kan untuk Danish. Untuk Nathan saja tidak pantas. Semoga om Santosh bisa melihat ketulusan mu," kata Bintang dalam hati. Untuk berkata langsung, Bintang merasa malu mengingat bagaimana dula dia terlalu percaya diri bisa menyingkirkan Sinar.
Menerima kebaikan Sinar pada hari ini tidak langsung membuat hati Bintang merasa baik baik saja. Bintang boleh merasa lega karena mendapatkan pekerjaan. Tapi hatinya sangat diliputi perasaan bersalah kepada Bintang. Bintang termasuk orang yang memantik api kebencian Tuan Santosh kepada Sinar dengan hasutan hasutan dari mulutnya.
__ADS_1