
Danish merasakan cintanya semakin bertambah kepada Sinar. Dirinya yang pertama untuk wanita itu begitu juga Sinar yang pertama untuk dirinya. Rasanya tidak sia sia menjaga kesucian tubuh dan dipersembahkan untuk orang yang dicintai.
Sinar juga merasa sangat lega karena keinginannya untuk mempersembahkan kesuciannya kepada sang suami akhirnya bisa terwujud malam ini. Tidak sia sia menjadi kesucian itu dari Roki dan dari Danish sebelum pria itu menjadi suaminya.
Malam itu, di kamar pengantin itu. Mereka seakan tidak lelah mereguk kebahagiaan. Danish seakan tidak bosan menikmati tubuh istrinya dan Sinar pun tidak menolak dengan keinginan suaminya. Bunga bunga penghias ranjang bertaburan di lantai dan sprei yang sudah tidak terbentuk lagi.
"Aku tidak menyangka rasanya sangat senikmat ini, Sayang," kata Danish setelah mengatur nafas seusai pertarungan mereka entah yang sudah ke berapa kali. Di sebelahnya, Sinar juga sedang mengatur nafas. Akhir dari permainan itu mereka merasa lelah dengan nafas yang tidak beraturan.
Sinar mempunyai pendapat yang sama tapi dia merasa malu untuk mengakuinya.
"Danish, kapanpun kamu menginginkan hal yang seperti ini. Sebagai istri, aku siap melayani kamu. Asalkan jangan mencari kebahagiaan di luar sana," kata Sinar. Dia sudah menghadap tubuh Danish yang masih tidur telentang. Setelah menyerahkan semuanya pada Danish. Sinar semakin takut kehilangan pria itu.
"Kebahagiaan ku pada dirimu dan di rumah ini sayang."
Danish menggerakkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Sinar. Kemudian pria itu menutupi tubuh polos mereka dengan selimut. Hawa dingin di dalam kamar itu sudah mulai terasa menusuk kulit. Tidak seperti saat mereka bermain hawa dingin dari pendingin ruangan itu sama sekali tidak terasa.
"Aku pegang kata katamu Danish. Aku berharap satupun penyakit laki laki tidak ada pada dirimu."
"Penyakit laki laki?. Apa itu? tanya Danish bingung.
"Sebagian dari laki laki itu mempunyai penyakit mabuk alkohol dan mabuk wanita"
Danish terkekeh sambil merapikan rambut Sinar yang menutupi sebagian wajah wanita itu. Apa yang dikatakan oleh Sinar ada benarnya juga. Banyak laki laki yang mempunyai penyakit mabuk mabukan sehingga lupa tanggung jawab pada keluarga. Dan mabuk wanita menjadikan istrinya janda demi wanita lain.
"Kalau mabuk Sinar, boleh?" tanya Danish. Danish tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sungguh Sinar sungguh bahagia malam ini. Dia melupakan sikap tuan Santosh sejenak dari hatinya. Kebahagiaan ini terlalu rugi jika tidak dinikmati.
"Tidak semua laki laki seperti itu. Buktinya pak Ilham. Tipe pria setia dan bertanggung jawab kan. Papaku juga. Jadi jangan buat kesalahan pria lain membuat kamu ragu pada suamimu ini."
Akhirnya Sinar bisa beristirahat malam itu dengan keyakinan hati pada suaminya. Meskipun pernikahan mereka sudah terlaksana. Sinar masih mempunyai secuil keraguan di hatinya. Dia sangat yakin jika tuan Santosh akan selalu mencari celah pada dirinya.
Esok harinya, Sinar merasa sedih karena harus melepas kedua orangtuanya dan kakek Joni pulang ke kampung. Sinar dan Danish sudah berusaha menahan tiga orang itu untuk lebih lama berada di kota. Danish juga sudah berencana dan meluangkan waktunya untuk membawa keluarga Sinar berlibur sekalian membawa Sinar berbulan madu tapi Pak Ilham menolak dengan tegas. Tentu saja alasan mereka menolak itu karena merasa canggung dan tidak ingin dianggap memanfaatkan harta Danish untuk bersenang senang. Tapi mereka tidak mengungkapkan itu. Mereka menolak dengan alasan pekerjaan yang sudah menumpuk menunggu harus selesaikan dengan segera.
"Apa ini Danish?" tanya pak Ilham menatap map yang sudah diletakkan Danish di tangannya.
"Diterima pak," kata Danish dengan tenang. Pak Ilham membuka map itu dan kedua matanya membesar membaca kata kata demi kata yang terdaftar di dalam lembar kertas itu.
"Maksud kamu. Ruko di persimpangan jalan itu sudah milikku?" tanya Pak Ilham tidak percaya. Kakek Joni dan Ibu Yanti juga terkejut. Terlebih Sinar. Wanita itu langsung berpindah duduk ke sebelah pak Ilham dan membaca isi kertas itu yang ternyata sertifikat kepemilikan tanah yang tidak jauh dari rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Benar pak. Bahkan sesampai bapak, ibu dan kakek tiba disana. Ruko itu sudah menjadi toko sembako."
Sinar dan keluarganya semakin terkejut mendengar perkataan Danish.
"Mengapa kamu melakukan itu nak?" tanya kakek Joni.
"Maaf kek. Aku melakukan ini tidak mempunyai maksud apapun. Sinar sudah sah menjadi Istriku. Itu artinya bapak, ibu dan kakek adalah keluarga ku juga. Aku tidak mau ada masyarakat kampung yang memandang keluarga ku remeh. Apalagi keluarga Roki," kata Danish. Mendengar keluarga Roki pernah menghina keluarga Sinar membuat Danish mempunyai ide memberikan usaha untuk mertuanya itu. Untuk memberikan uang bulanan pada mertuanya itu. Danish tidak yakin mereka akan bersedia menerimanya mengingat keluarga Sinar bukan tipe keluarga yang suka memanfaatkan orang lain.
"Tapi aku rasa pemberian mu dan pemberian ibu Amalia rasanya sangat berlebihan," kata Pak Ilham lagi.
"Tidak berlebihan pak. Jangan ditolak," kata Danish tegas.
Sinar hanya dapat terdiam dengan adanya perubahan dalam keluarganya setelah menikah dengan Sinar. Sinar memang pernah memimpikan akan membuka toko sembako di kampungnya untuk dikelola kedua orangtuanya. Mimpi itu jauh sebelum pernikahan itu dan bahkan dirinya tidak pernah menceritakan keinginan itu kepada Danish. Sinar tidak menyangka jika mimpinya itu sudah menjadi kenyataan karena Danish.
"Hati hatinya bawa mobilnya ya ayah. Tidak apa apa lambat yang penting selamat," kata Sinar. Sinar merasa was was melepaskan keluarga pulang apalagi pak Ilham yang menyetir. Mengetahui Nyonya Amalia memberikan mobil untuk keluarganya bukan membuat Sinar merasa sok hebat tapi dia merasa mempunyai kewajiban untuk menyenangkan hati mertuanya itu.
"Jangan khawatir nak. Ayah masih ingat kok mana rem dan setir," kata Pak Ilham. Di masa muda nya. Pak Ilham adalah seorang supir angkutan umum. Itulah sebabnya, Sinar yakin melepaskan kepulangan keluarga dengan pak Ilham sebagai supir. Danish dan yang lainnya terdengar tertawa mendengar perkataan pak Ilham sedangkan Sinar hanya tersenyum kemudian mencubit lengan ayahnya.
Kedua orangtua Sinar akhirnya pergi dari rumah itu. Sinar hanya dapat berdoa untuk perjalanan pulang tiga orang yang sangat disayanginya itu.
"Ini masih pagi Danish," kata Sinar sambil menahan tangan suaminya yang sudah mulai berpetualang. Laki laki itu terkekeh kemudian memeluk tubuhnya istrinya dengan erat.
"Hanya begini saja," kata Danish. Kemudian pria itu melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah meja dan membuka laci. Badannya masih terasa lelah karena permainan tadi malam. Dan Sinar harus berusaha menutupi rasa lelah itu dihadapan kedua orang tuanya dan kakek Joni supaya tidak ketahuan telah melakukan yang enak enak tadi malam.. Sinar juga mengerikan rambutnya dengan hair dryer supaya tidak ada drama keramas di pagi hari.
"Apa ini Danish?" tanya Sinar. Dia mengetahui dua kartu tipis yang diletakkan Danish di telapak tangannya tapi wanita itu merasa bingung mengapa Danish memberikan itu kepadanya.
"Tanggung jawab dari Suami mu ini," kata Danish tenang dan menuntun Sinar untuk duduk di tepi ranjang.
"Yang ini untuk kebutuhan Kita di rumah dan yang ini untuk kebutuhan kamu pribadi," kata Danish menjelaskan.
Sinar menatap suaminya. Dia tidak menyangka dirinya dan keluarganya akan diperlakukan seperti ini. Sinar sebenarnya semakin merasa minder.
"Mengapa aku justru lebih menyukai kamu seperti dulu Danish. Pertama kalinya mengetahui aku jatuh cinta kepada mu. Aku bermimpi kita berjuang bersama membangun ekonomi keluarga kita. Berjuang dari bawah. Ternyata kamu sultan," kata Sinar.
Danish menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat istrinya itu. Di saat wanita lain dengan sumringah menerima tanggung jawab suaminya seperti saat ini. Sinar justru menyukai dirinya yang dulu.
"Ada ada saja kamu sayang. Uang memang tidak segalanya. Tapi tanpa uang orang akan pusing tujuh keliling. Jadi nikmati saja hasil kerja suamimu selama ini," kata Danish. Dua kartu tipis itu sudah di telapak tangan Sinar.
__ADS_1
Sinar menatap kagum pada suaminya. Di usianya yang belum genap tiga puluh tahun. Danish sudah bisa dikatakan sebagai pemuda yang sukses. Bukan karena hanya karena kesuksesan pria itu membuat Sinar kagum tapi juga akan tanggung jawabnya. Danish benar benar memahami arti tanggung jawab seorang suami.
"Kamu mengagumi aku ya," tebak Danish. Sinar menganggukkan kepalanya dengan jujur.
"Kamu juga sudah mempunyai usaha keripik ubi. Aku berharap kamu bisa sukses nantinya tanpa mengabaikan tanggung jawab sebagai istriku. Kamu boleh melakukan hal hal positive di luar sana tapi kamu juga harus ingat. Rumah tangga kita nomor satu," kata Danish.
Sinar memeluk pria itu dengan sangat erat. Sungguh keputusan yang tepat bagi dirinya menerima lamaran Danish. Bukan karena hartanya tapi karena pengertian nya. Dia pun tidak ingin menjadi istri yang hanya tahu menadahkan tangan meminta nafkah kepada suaminya meskipun nafkah yang diberikan Danish jauh melebihi pendapatan nya. Ternyata tanpa dia meminta ijin, Danish memperbolehkan dirinya terus menjalankan usaha keripik ubi itu dan tetap menjalani perkuliahannya.
Danish membalas pelukan istrinya. Sebenarnya berat bagi Danish mengijinkan istrinya bekerja sambil kuliah karena itu sangat melelahkan. Tapi Danish ingin melihat Sinar sukses supaya penilaian papanya tuan Santosh kepada Sinar ternyata salah.
Pelukan itu terlepas ketika salah satu pelayan memanggil mereka dan mengatakan ada tamu di bawah.
"Selamat pagi pak Danish," sapa tamu itu dengan membungkukkan tubuhnya.
"Selamat pagi."
"Silahkan dilihat pak. Sesuai dengan yang bapak pesan," kata tamu itu sambil tangannya menunjuk sebuah mobil baru yang terparkir di halaman rumah itu. Sinar yang mengekor di belakangnya bersikap biasa melihat Mobil itu karena dia berpikir Danish membeli mobil baru untuk menambah koleksi.
"Oke terima kasih," kata Danish setelah masuk ke dalam mobil dan pria itu terlihat menjelaskan sesuatu kepada Danish. Danish dan pria itu saling bersalaman sebagai pertanda jika serah terima mobil itu sudah deal.
"Mulai hari ini. Kemana pun kamu pergi jika itu tanpa ku. Kamu harus Naik mobil ini dan supir pribadi kepercayaan ku akan menjadi supir pribadi mu," kata Danish. Sinar semakin terkejut dengan kemewahan yang dia terima dari suaminya itu. Sinar tidak bisa menolak karena Danish mengatakan itu sebagai tanggung jawab dirinya sebagai suami. Selain itu Sinar juga takut Danish tersinggung jika dia menolak karena Sinar melihat ketulusan suaminya itu.
"Mengapa harus supir pribadi mu. Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Kalau aku gampang. Bisa menyetir sendiri sebelum dapat pengganti pak Dika," jawab Danish. Padahal, Danish memberikan supir pribadinya untuk Sinar karena dia mengetahui jika pak Dika itu orang baik. Selain karena baik. Karena pak Dika juga sudah lumayan tua. Sejujurnya, Danish takut memberikan Sinar supir baru apalagi masih muda. Danish takut. Ada pria lain yang menggoda istrinya itu.
Sinar merasakan perubahan yang sangat besar dalam dirinya meskipun masih satu hari menjadi istri Danish. Sebagai istri dari pria yang terhormat. Dirinya juga mempunyai rumah dan kendaraan pribadi. Berbanding terbalik dengan apa yang dijalani nya sebelum menikah yang tinggal di rumah kontrakan dan mengandalkan Hana sebagai ojek pribadinya.
Bukan hanya Sinar yang merasakan perubahan itu. Tiba di kampung halaman. Pak Ilham, ibu Yanti dan kakek Joni sudah ditunggu para tetangga kepulangan mereka. Mereka disambut dengan pujian di depan Toko sembako milik keluarga pak Ilham. Toko sembako itu dinamai toko sembako Sinar.
Segala pujian terlontar dari mulut warga. Mereka memuji Sinar dengan segala kebaikannya sehingga mendapatkan suami yang baik dan kaya. Tidak ada lagi terdengar Sinar si gadis buronan. Tidak ada lagi terdengar pak Ilham dan ibu Yanti yang miskin.
Kebahagiaan Sinar dan keluarganya menimbulkan rasa benci yang semakin menumpuk di hati tuan Santosh. Pria itu hampir membanting ponsel ke lantai melihat informasi semua pemberian Danish kepada Sinar dan keluarga Pak Ilham.
"Masih hitungan hari. Keluarga itu sudah menjadi parasit bagi putraku. Dugaanku benar," kata Tuan Santosh dengan marah.
"Lihat saja Sinar. Apa yang kamu sudah terima dari putraku. Kamu akan membalasnya. Hanya seorang cucu yang pantas akan imbalannya. Dan kamu tidak akan aku biarkan lebih lama di sisi putraku," kata pria itu lagi. Dirinya mengijinkan Danish menikahi Sinar bukan untuk melihat kebahagiaan putranya Dan Sinar melainkan dengan pernikahan itu. Dia bisa menekan Bintang untuk tidak memeras dirinya lagi. Bagaimana pun masyarakat umum sudah mengetahui pernikahan Danish dengan wanita lain. Dengan pernikahan itu. Tuan Santosh sangat yakin, masyarakat umum tidak akan menghubungkan keluarganya lagi dengan keluarga Bintang.
__ADS_1