Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Menolak Menikah


__ADS_3

Nathan memandangi rumah besar yang menjulang tinggi di hadapannya. Nathan kini berada di depan rumah Bintang dan masih di dalam mobilnya. Nathan menoleh ke bangku belakang. Kantong plastik putih berlogo swalayan terkenal berisi buah buahan. Nathan meraih kantong plastik itu. Sebelum keberadaannya di tempat itu. Nathan menyempatkan waktunya untuk berbelanja buah untuk Bintang. Nathan melihat isi kantong itu sebentar kemudian kembali memandangi rumah Bintang.


Nathan terlihat ragu untuk turun. Dia mengingat bagaimana sikapnya yang menegaskan hanya bertanggung jawab secara materi akan calon janinnya. Nathan khawatir karena sikap itu. Bintang menolak kunjungan nya. Nathan merasa jika dirinya sangat dibenci oleh Bintang saat ini. Dan itu sangat wajar. Seharusnya apapun alasan mereka melakukan hubungan itu jika susah membuahkan hasil seperti ini. Dirinya harus bertanggung jawab. Nathan menyadari itu dan Nathan sudah merasakan perubahan sikap Bintang. Sudah dua kali dirinya mengirimkan uang untuk kebutuhan sang janin. Tapi Bintang tidak pernah merespon dirinya lagi.


Setelah meyakinkan hatinya dan siap menerima resiko apapun. Akhirnya Nathan turun dari mobilnya. Nathan mendorong pintu pagar yang tidak terkunci. Nathan terdiam sejenak memandangi pekarangan rumah Bintang. Tidak ada lagi penjaga keamanan yang bertugas di pos satpam. Dan pekarangan rumah itu juga terlihat tidak terurus. Daun daun kering yang berserakan menimbulkan kesan jika rumah itu rumah kosong. Biasanya seorang pembantu akan mengurus halaman rumah itu hingga terlihat seperti halaman istana. Tapi kini, gambaran halaman itu seakan menggambarkan kehidupan pahit yang sedang dialami oleh si empunya rumah.


"Bintang," panggil Nathan pelan. Pintu rumah utama itu juga tidak terkunci. Nathan mendorong pintu itu perlahan. Nathan terkejut. Rumah itu benar benar seperti rumah kosong dimana tidak ada lagi perabotan di ruang tamu itu. Sofa dan lemari hias yang biasanya menjadi perabot utama di ruang tamu sama sekali tidak ada terlihat. Lampu lampu hias di langit langit juga tidak lagi tergantung.


"Bintang," panggil Nathan lagi. Rumah itu seperti tidak berpenghuni. Nathan seketika mengingat jika Bintang pernah bercerita akan menjual rumah itu. Apakah rumah itu sudah terjual?. Nathan semakin mengayunkan langkahnya hingga masuk ke dalam rumah.


Nathan merasakan hatinya berdenyut nyeri melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Di ruang makan, Nathan melihat mamanya Bintang duduk di kursi roda dengan kepala yang miring. Nathan mendekati wanita itu dan meletakkan kantong buah di atas meja makan.


"Tante. Aku Nathan temannya Bintang. Mana Bintang tante?" tanya Nathan memperkenalkan dirinya. Nathan dan Bintang memang sudah lama berteman tapi baru kali ini dia bertemu dengan mama Bintang. Dan sayang nya pertemuan pertama itu. Mamanya Bintang dalam keadaan sakit.


Wanita itu tentu saja tidak menjawab. Jangankan untuk bersuara untuk menegakkkan kepalanya juga tidak mampu. Nathan mengikuti lirikan mata wanita itu yang mengarah ke sebuah kamar.


"Tante, Bintang ada di kamar itu. Boleh aku menemui nya tante?" kata Nathan lagi. Melihat tidak ada reaksi keberatan dari wanita itu. Nathan melangkahkan kakinya menuju kamar itu. Tapi setelah membuka pintu kamar. Nathan tidak melihat keberadaan Bintang di Sana.


"Tante mau ke kamar itu?" tanya Nathan lagi. Wanita itu berusaha untuk menganggukkan kepalanya. Nathan bisa melihat pergerakan kepala wanita itu dan kemudian mendorong kursi roda itu ke kamar tersebut. Tidak hanya mendorong masuk ke dalam kamar. Nathan juga membantu wanita itu untuk tidur berbaring di atas ranjang.


Nathan keluar dari kamar itu dengan segala pemikiran yang bermunculan di kepalanya. Bintang masih hamil muda dan tentunya kehamilan sangat berbahaya jika harus mengurus mamanya yang sedang sakit. Kondisi kesehatan mamanya Bintang yang harus dibantu untuk duduk di kursi roda maupun untuk berbaring di tempat tidur pasti sangat sulit bagi Bintang. Seketika, Nathan merasa khawatir akan kehamilan Bintang. Kehamilan itu masih muda dan sangat berbahaya jika harus mengangkat beban. Membantu mama Bintang untuk duduk ke kursi roda dan membaringkan nya di tempat tidur pasti harus menggunakan otot.


Nathan membuka pintu kamar lainnya untuk mengetahui keberadaan Bintang. Hasilnya nihil


"Kasihan sekali," guman Nathan pelan setelah menemukan Bintang di kamar paling belakang. Kamar itu diperkirakan oleh Nathan sebagai kamar pembantu.


Nathan memperhatikan wajah terlelap Bintang yang terlihat masih memucat. Rambutnya sedikit berantakan dan Bintang juga terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


Hampir satu jam, Nathan menunggu Bintang terbangun dari tidurnya. Melihat keadaan Bintang seperti itu. Tentu saja Nathan merasa kasihan. Kehamilan Bintang memang bukan hal yang mereka harapkan meskipun begitu tidak lantas membuat Nathan menginginkan calon anaknya celaka. Mendengar Bintang sakit, pikirannya langsung tertuju kepada sang janin. Nathan merasakan Kekhawatiran yang luar biasa.


"Na.. Nathan," kata Bintang lemah. Dia sangat terkejut ketika bangun pria itu berada di kamar itu.


"Jangan banyak bergerak Bintang. Berbaring lah dulu supaya kesehatan mu cepat pulih," kata Nathan. Bintang yang awalnya ingin duduk akhirnya kembali berbaring. Kondisi kesehatan memang sudah mulai membaik setelah makan obat dan beristirahat tapi Bintang masih merasakan badannya sangat lemah.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan bahwa aku akan bertanggung jawab kepada janin itu. Tapi mengapa dalam keadaan sakit seperti ini. Kamu tidak memberitahukan aku," kata Nathan lagi. Dia memandangi sekujur tubuh Bintang dan berhenti di area perut wanita itu. Di dalam Sana, ada calon anaknya yang berjuang untuk tumbuh dan saat ini. Keadaannya pasti tidak baik baik saja karena keadaan ibunya juga kurang baik.


"Kamu tahu keadaan ku dari Sinar?" tanya Bintang. Nathan menganggukkan kepalanya. Bintang menarik nafas panjang. Bukan tidak suka jika Sinar memberitahukan keadaannya kepada Nathan. Bintang bisa melihat sisi baik atas apa yang dilakukan oleh Sinar. Tapi jika boleh jujur, Bintang sangat malu atas kedatangan Nathan di rumahnya. Nathan memang mengetahui keadaan ekonominya yang sulit. Tapi dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Bintang tidak ingin dikunjungi oleh siapapun apalagi Nathan pernah menuduh dirinya sengaja mempertahankan kehamilan itu untuk mencari tumpangan hidup.


"Aku tahu posisiku Nathan. Kehadiran janin ini sudah pasti membebani kamu. Dan aku tidak ingin mengganggu hidup mu hanya karena keadaan ku," jawab Bintang. Bintang cukup tahu diri akan kehadiran janin itu yang tidak diharapkan. Lagi Pula untuk apa memberitahu karena Nathan sudah menegaskan jika dia hanya bertanggung jawab secara materi saja.


Nathan menarik nafas panjang. Dirinya memang laki laki yang tidak bertanggung jawab tapi dia juga tidak tega jika melihat Bintang dalam keadaan susah seperti ini. Keadaan Bintang sangat menyedihkan dalam hal keuangan dan juga kesehatan. Rumah besar itu sudah seperti rumah yang tidak dihuni. Selain sofa dan lemari hias. Ac juga tidak ada lagi. Mungkin, Bintang tidur di kamar pembantu itu karena disana ada kipas angin. Sebelum ke kamar itu. Nathan juga melewati dapur yang hanya ada kompor gas dan peralatan dapur seadanya saja. Kondisi rumah itu benar benar menyedihkan tidak sesuai dengan bangunannya yang berdiri kokoh dan luas.


Bintang terdiam dan tidak berusaha untuk mengajak Nathan berbicara karena menurut Bintang tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi. Nathan sudah pernah membuat keputusan sebelumnya dan Bintang tidak akan berusaha menuntut pertanggungjawaban lagi. Dia sudah ikhlas menerima takdirnya. Apalagi Bintang sudah mendapatkan pekerjaan dari Sinar. Pekerjaan yang akan mengeluarkan dia dari kesulitan ekonomi itu secara perlahan. Mungkin gajinya tidak akan besar tapi akan mengurangi beban pikiran Bintang untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.


Hal terberat yang dipikirkan oleh Bintang saat itu adalah pekerjaan. Dan setelah mendapatkan pekerjaan dari Sinar. Semangatnya muncul kembali. Setidaknya untuk masalah makan tidak terancam lagi. Bintang juga sudah berencana akan mendaftarkan dirinya dan sang mama ke jaminan kesehatan yang disediakan pemerintah.


Nathan juga terdiam. Dia menunggu Bintang untuk berbicara.


"Tidak ada hal yang ingin kamu katakan Bintang?" tanya Nathan. Sudah hampir sepuluh menit mereka saling terdiam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing masing.


"Tidak ada. Oya, terima kasih karena sudah datang," kata Bintang.


"Iya, emang apa lagi. Apa kamu mengharapkan aku mengatakan sesuatu?" tanya Bintang. Dalam hati, Bintang sudah menduga jika Nathan mengharapkan dirinya untuk meminta uang. Tapi Bintang tidak akan melakukan itu lagi. Beberapa bulan menyesuaikan hidup susah dan Bintang sudah mulai terbiasa makan seadanya saja. Uang makan untuk satu bulan ke depan masih aman. Bintang hanya berharap kesembuhan secepatnya supaya bisa bekerja menghasilkan uang. Bintang benar benar merasa bersyukur atas kebaikan Sinar yang sudah banyak membantu dirinya.


"Kamu tidak ingin membicarakan tentang Kita?" tanya Nathan.


"Kita?. Apa yang harus dibicarakan lagi. Semuanya sudah jelas kan. Kamu sudah bertanggung jawab kepada janin ini secara materi itu sudah cukup bagiku," kata Bintang. Terserah jika Nathan menilai dirinya hanya memikirkan materi saja. Bintang tidak perduli. Toh, alasan kehadiran janin itu juga karena materi lebih tepatnya demi pelunasan hutang.


Nathan menatap wajah pucat Bintang. Entah mengapa perkataan Bintang bisa membuat hatinya merasakan perasaan lain. Nathan juga merasa kecewa. Dia tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Dia lebih suka jika Bintang kembali mengungkit pertanggungjawaban lain selain materi itu.


"Bintang, bagaimana kalau kita menikah saja," kata Nathan pelan.


Bintang terlihat terkejut. Sungguh, dia tidak menyangka jika kata ajakan menikah keluar dari mulut pria yang yang sudah menolak dirinya dengan alasan tidak restu dari kedua orangtuanya. Bintang menatap wajah Nathan bersamaan dengan laki laki itu juga menatap dirinya. Bintang cepat cepat memalingkan wajahnya.


"Demi anak itu Bintang. Sebaiknya kita menikah saja."


"Apa yang membuat dirimu berubah pikiran?" tanya Bintang.

__ADS_1


"Aku ingin memberikan hal yang terbaik untuk anak anakku kelak. Aku ingin anakku terlahir dari pernikahan yang sah."


Ya, itulah yang dipikirkan oleh Nathan sepanjang perjalanan menuju ke rumah Bintang. Dia sadar, anak yang terlahir dari bukan pernikahan yang sah akan menghadapi permasalahan yang rumit nantinya. Selain akan menjadi bahan bullying, anak yang lahir di luar nikah akan sulit mendapatkan akte kelahiran.


"Tapi aku sudah nyaman seperti ini Nathan. Aku tidak lagi mengharapkan pernikahan dari kamu. Cukup kamu akui anak ini darah daging mu. Itu sudah cukup bagiku."


Nathan seakan tidak percaya dengan jawaban Bintang. Dimana mana wanita akan senang jika pria yang menghamili akan bertanggung jawab. Bintang terlihat serius dan tidak terlihat berpura pura menolak ajakannya. Sangat berbeda di terakhir mereka bertemu. Bintang sangat terlihat terluka saat itu.


"Kamu serius.. Kamu tidak menyesal nantinya?.


Dengan sangat yakin, Bintang menggelengkan kepalanya. Kehadiran suami bagi wanita yang mengandung memang sangat dibutuhkan. Tapi Bintang sudah sangat yakin dengan keputusannya. Bukan karena restu kedua orang tua Nathan. Banyak pasangan yang menikah tanpa restu. Bukan juga karena tidak ada cinta diantara mereka. Nyatanya banyak pasangan menikah tanpa cinta atau karena dijodohkan.


Bintang menolak bukan karena tidak ingin anaknya terlahir dari pernikahan yang sah. Dia menginginkan anaknya terlahir dari pernikahan yang sah. Bintang juga menyadari dampak dari anak yang terlahir di luar pernikahan. Tapi Sinar menolak menikah karena dia tidak ingin membawa beban hidupnya yang sangat berat dalam pernikahannya dengan Nathan. Bagaimanapun, sang mama adalah tanggung jawab saat ini Selain itu masih ada banyak utang yang belum dibayar. Bintang tidak ingin muncul masalah dalam pernikahannya karena masalah yang dia bawa sebelum pernikahan.


Bintang sadar jika masalah masalah yang dihadapi saat ini akan membuat dirinya semakin terpojok dalam keluarga Nathan nantinya. Bintang tidak ingin menambah masalah lagi dalam hidupnya. Apalagi Bintang bisa melihat jika Nathan ingin menikahi dirinya hanya karena kasihan akan anak yang dikandungnya. Bintang juga menyadari jika Nathan adalah laki laki yang terbiasa menikmati tubuh wanita tanpa cinta. Jika dirinya bisa hamil karena percintaan tanpa cinta bukan tidak mungkin ada wanita lain di luar sana yang bisa saja mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Tidak, Bintang tidak ingin menambah beban hidup lagi. Beban hidupnya sudah terlalu berat. Menikah dengan Nathan hanya akan menjerumuskan dirinya ke lembah penderitaan saja. Restu tidak ada. Cinta juga tidak ada. Akan lebih baik kehidupannya seperti ini. Jadi Bintang bisa fokus menghadapi masalah hutang dan masalah pribadinya sendiri.


"Jangan mengambil keputusan sekarang Bintang. Pikirkan dulu. Besok aku akan datang lagi."


Nathan merasa kecewa bercampur malu jika harus berlama di hadapan Bintang karena penolakan wanita itu.


"Tidak perlu datang lagi ke rumah ini Nathan. Jawaban ku untuk besok akan sama dengan jawaban hari ini."


Nathan yang sudah di depan pintu kamar seketika menghentikan langkahnya dan kini berbalik ke hadapan Bintang.


"Apa kamu menolak menikah dengan aku karena restu atau karena tidak ada cinta di antara kita Bintang. Jangan egois kamu. Kita kesampingkan itu semua demi janin itu."


"Tidak dua duanya Nathan. Aku tidak mau menikah karena belum ingin terikat pernikahan. Tentang janin ini. Aku yakin ada hal yang indah yang sudah menanti kedatangannya bernafas di dunia. Hal terbaik untuk dia adalah kita bisa bersama dan akur memberikan dia kasih sayang. Tentunya dengan mengubah hidup ke arah yang lebih baik lagi supaya dia tidak malu kelak mempunyai orang tua bejat seperti kita yang menghalalkan cara hina untuk memenuhi kepuasan dunia semata."


Bintang sengaja berkata seperti itu supaya Nathan mau sedikit mengubah gaya hidupnya. Bagaimana pun, pria yang ada di hadapannya ini adalah ayah dari anak yang dia kandung. Meskipun mereka tidak terikat pernikahan. Bintang ingin, Nathan bisa berubah demi memberikan contoh yang baik kepada anak mereka.


Nathan tertegun mendengar perkataan Bintang. Penolakan itu sudah jelas. Untuk memaksa rasanya, Nathan merasa malu.

__ADS_1


__ADS_2