Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Pura pura Tidak Kenal


__ADS_3

Menjalani hidup tanpa bermasalah dengan orang lain adalah impian setiap manusia normal begitu juga dengan Sinar. Dirinya tidak bersedia berdamai dengan Roki bukan karena ingin mempunyai masalah dengan pria itu. Sinar. Sinar tetap melanjutkan pengaduan itu karena Roki sudah sangat keterlaluan kepada keluarganya. Ternyata bukan hanya memaksa uang perdamaian yang jumlah lumayan banyak. Roki juga sering menghina dan memaki kedua orang tuanya. Sinar mengetahui hal itu ketika dirinya pulang kampung.


Sinar bukan manusia pendendam atau manusia yang sulit memberikan maaf. Sinar bukan manusia yang senang diatas penderitaan Roki. Andaikan kesalahan Roki tidak fatal dan tidak berulang ulang. Sinar akan bersedia menempuh jalan damai. Tapi sepertinya, Roki belum menyadari kesalahannya sehingga pria itu harus menjalani proses hukum dan terkena hukuman penjara.


Dibalik semua penderitaan dan penghinaan yang Diterima Sinar. Wanita itu tidak bisa memungkiri justru perjalanan hidup yang pahit itulah yang membuat dirinya bersemangat untuk mengubah hidup. Andaikan Roki tidak melakukan kejahatan kepada dirinya. Dia tidak akan bertemu dengan Danish dan tidak akan pernah menginjakkan Kota. Dia pasti hanya mendengar bagaimana kehidupan di Kota tanpa mengalaminya. Dan hidupnya akan berputar putar di sekitar desanya saja.


Tapi kini, Sinar susah menjadi warga kota dan bahkan mempunyai mata pencaharian di Kota. Bukan hanya itu. Sinar kini melanjutkan pendidikan di Kota.


Hidup tanpa diusik oleh pria yang bernama Roki tidak lantas membuat hidup Sinar tenang dan bahagia. Sinar juga terkadang ketakutan jika suatu hari nanti Roki bebas akan menganggu dirinya lagi. Tapi Sinar berharap, semoga Roki bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik setelah menjalani hukuman itu.


Enam bulan berlalu dan tidak terasa Sinar kini sudah menyelesaikan semester pertama di perkuliahan. Wanita itu mampu mencari uang sambil menempuh pendidikan walau hidup pas pasan. Sinar memang tidak bekerja lagi di pabrik karena terlalu lelah. Wanita itu kini fokus dengan pendidikannya dan usahanya membuat dan menjual keripik ubi.


Usaha keripik ubi yang dijalankan Sinar sudah lumayan berkembang. Meskipun tidak memberikan untung puluhan juta setiap bulannya tapi dari usaha keripik ubi itu. Sinar bisa hidup di kota dan melanjutkan kuliahnya.


Pangsa pasar Sinar bukan lagi hanya sekitar pabrik dan lingkungan sekolah di sekitar tempat tinggalnya. Hampir setiap warung di lingkungan rumahnya ada keripik ubi buatannya Sinar. Bukan hanya di sekitar rumahan. Pangsa pasar Sinar sudah melebar ke beberapa kecamatan di kota itu. Terkadang, Sinar mendapatkan pesanan. Usaha keripik ubi memang terkadang kampungan di jaman sekarang yang mana kebanyakan orang lebih menyukai cookies. Tapi keripik ubi Sinar mempunyai rasa yang unik sehingga orang orang kota yang sudah terbiasa makan makanan modern juga menyukai keripik ubi buatan Sinar.


"Sinar, ada pesanan seratus bungkus ukuran sedang untuk minggu depan," kata Hana kepada Sinar. Saat ini mereka sedang mengemas keripik ubi. Hana kini sudah bekerja kepada Sinar. Wanita itu memilih bekerja dengan Sinar karena waktunya tidak terikat seperti di pabrik. Selain gajinya yang lebih banyak dari gaji di pabrik. Hana juga jadi mempunyai waktu yang banyak untuk belajar. Bukan hanya Hana yang menjadi anggota Sinar saat ini tapi ada dua ibu ibu tetangga mereka.


"Apa pesanannya lewat ibu Siti?" tanya Sinar. Ibu Siti adalah pemilik swalayan di beda kecamatan dengan tempat tinggal Sinar. Bisa dikatakan, ibu Siti adalah mitra kerja terbesar yang dimiliki oleh Sinar. Hampir setiap minggu Sinar menitipkan keripik ubi di sana dan selalu habis tidak bersisa. Bisa dikatakan, jika dari swalayan ibu Siti lah Sinar mendapatkan keuntungan yang paling banyak dibandingkan keuntungan dari pabrik dan warung warung kecil.


"Iya. Semuanya yang pedas."


"Tolong ditulis ke buku pesanan Hana supaya jangan lupa," kata Sinar. Hana melakukan apa yang diperintahkan oleh Sinar.


Sinar memandangi keripik ubi yang sudah di bungkus itu menggunung di keranjang. Dia membagi keripik ubi itu ke dalam kantong plastik besar sesuai dengan jadwal penitipan hari ini.


"Sudah beres. Saatnya di antar ke tuan masing masing," kata Sinar kepada ketiga rekan kerjanya itu. Hana dan dua ibu lainnya juga terlihat lega karena setelah ini mereka bisa istirahat. Untuk bagian mengantar, Sinar juga sudah memperkerjakan orang untuk itu.


"Hari libur telah tiba. Mari Kita bersantai," kata Hana. Sambil meluruskan kedua kakinya dan bersandar ke dinding. Sedangkan Sinar masih sibuk dengan buku pesanan. Besok adalah hari minggu maka seperti pekerja lainnya. Mereka juga akan libur.


Besoknya hari libur itu telah tiba. Seperti anak muda lainnya. Sinar dan Hana juga memanfaatkan hari libur itu untuk menyegarkan otak. Hari ini, tujuan mereka adalah berenang ke kolam renang terdekat.


"Kamu yakin, kita berenang di kolam renang ini?" tanya Hana kepada Sinar. Hana yang membonceng tapi Sinar yang mengarahkan Hana ke alamat kolam renang tersebut.


"Iya. Sekali Kali tidak apa apa kan?.


"Tapi kan Sinar. Uang sekali bayar untuk berenang disini. Bisa sampai sepuluh kali berenang di kolam renang yang lain. Ayo naik, kita ke kolam renang yang murah saja," kata Hana. Hana berpikir jika berenang di tempat mahal seperti kolam renang ini hanya untuk buang buang uang saja untuk orang seperti mereka.


"Sudah. Ayo turun!. Aku yang bayar. Sesekali berenang di kolam renang mahal supaya kita tidak hanya mendengar cerita orang bagaimana seru nya berenang di kolam renang yang permainannya banyak," kata Sinar sambil menarik kunci motor.


Hana tidak bisa menolak lagi. Sinar tersenyum melihat wajah cemberut sahabatnya. Sinar mengetahui apa yang dipikirkan sahabatnya. Meskipun dirinya yang membayar uang masuk ke kolam itu tetap saja Hana tidak rela. Tapi entah mengapa, Sinar sangat penasaran berenang di kolam renang ini setelah mendengar teman temannya di kampus bercerita tentang kolam renang ini dan segala arena permainannya.


"Lihat saja nanti. Kamu pasti menyesal karena berenang disini," kata Hana. Sinar sudah membayar uang masuk untuk mereka berdua tapi Hana masih terlihat tidak rela uang ratusan ribu yang dibayarkan Sinar hanya untuk berenang.


"Tidak akan. Ayo!.


"Kamu tahu. Bukan hanya uang masuk saja yang mahal disini. Jajanan, makanan dan minuman juga sangat mahal," kata Hana mengingat.


"Sudah tahu. Dan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar kan?.

__ADS_1


Hana menganggukkan kepalanya. Pantas saja, Sinar tidak membawa minuman seperti biasanya jika mereka berenang karena ternyata rencana wanita itu memang sudah berenang di tempat ini.


"Jangan menunggu kaya baru menikmati hidup. Selagi bisa. Ayo kita nikmati. Hidup hanya sekali. Jadi jangan pelit untuk kebahagiaan diri sendiri," bisik Sinar ke telinga Hana kemudian menarik wanita itu ke ruang ganti.


Dua wanita itu sudah siap berenang. Mereka sudah memakai baju renang yang tergolong sopan dibandingkan dengan pakaian renang yang dipakai wanita lainnya yang sudah lebih dulu berenang. Tidak seperti wanita lainnya yang memakai baju renang model one piece swimsuit. Sinar dan Hana memakai baju renang model skirtini. Baju renang yang dilengkapi dengan rok pendek.


Sinar memandangi kolam renang yang sangat luas itu sebelum memasukkan kakinya ke dalam kolam. Tidak salah tarif masuk ke kolam ini sangat mahal karena selain kolamnya yang luas wahana permainannya juga sangat bagus. Selain itu, pengunjung juga dibatasi. Hanya orang dewasa yang bisa masuk ke dalam kolam itu.


Sinar tersenyum melihat Hana yang langsung bermain di perosotan. Wanita itu tadi sangat keberatan berenang di tempat ini tapi sekarang dirinya yang terlihat sangat antusias untuk bermain. Sinar mengacungkan jari jempolnya kepada Hana ketika memanggil namanya dan siap meluncur di perosotan itu.


"Sinar, sini?" teriak Hana. Wanita itu kini sudah meluncur. Sinar memandangi tubuh Hana yang masih terlihat di perosotan yang berliku liku tadi.


Hiruk pikuk dari orang orang yang berenang dan bermain di wahana permainan itu tidak membuat seseorang tidak mendengar teriakan Hana yang memanggil nama Sinar.


Jantungnya berdetak kencang hanya mendengar nama itu. Dia mengedarkan matanya ke penjuru kolam dan benar saja. Dia dapat melihat Sinar duduk di tepi kolam dengan kakinya yang dimasukkan ke dalam air dan mengacungkan jari jempolnya ke arah sumber suara. Jarak mereka tidak berjauhan hanya sekitar lima meter.


Pria itu adalah Danish. Untuk ukuran orang kaya dan orang hebat. Seharusnya dia tidak berenang di tempat ini meskipun kolam renang ini adalah kolam renang yang mahal. Dia ada disini karena ajakan Nathan yang sangat memaksa dirinya untuk berenang hari ini. Danish sudah menolak karena tidak suka berenang di tempat ramai seperti ini tapi Nathan tidak bisa ditolak. Ada ada saja rayuaan pria itu membuat Danish tidak bisa menolak.


Danish menoleh dan memperhatikan Sinar dengan pakaian renang yang dikenakan wanita itu. Melihat pakaian renang itu, Danish merasa lega. Setidaknya Sinar tidak seperti wanita wanita yang sedang berenang dengan pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh.


"Danish, mengapa kamu diam saja. Ayo berenang!"


Seperti Danish yang merasakan jantungnya berdetak kencang hanya karena mendengar nama Sinar. Begitu juga dengan Sinar, wanita itu juga merasakan detak jantungnya berdebar. Wanita juga spontan mengedarkan pandangannya. Dan ketika dirinya menoleh ke kiri. Sinar dapat melihat Danish disana dan juga sedang menatap dirinya.


"Deg."


Sinar mengalihkan pandangannya dari Danish. Dia menatap lurus ke depan. Dorongan hati untuk berenang di tempat ini ternyata untuk bertemu dengan pria yang ingin dia lupakan.


Tidak ingin berdekatan lebih lama dengan Danish. Akhirnya Sinar menjauh dari tempat itu. Berpura pura tidak mengenal Danish lebih baik daripada berdekatan dengan Danish yang hanya akan membuat dirinya semakin sulit melupakan pria itu. Sinar berenang ke arah perosotan dan mengajak Hana untuk bermain di sana.


"Sinar, sini!" panggil Hana. Wanita itu sudah puas bermain di perosotan dan kini dia ingin berenang bebas di kolam renang itu. Sinar masih betah di tempat itu karena jarak Sinar dan Danish saat ini berjauhan. Mereka sama sama di ujung.


Sinar menolak. Di ujung sana. Dia melihat Danish masih posisi seperti tadi. Dan banyak wanita wanita tak jauh dari Danish sedang berenang dan seperti mencari perhatian Danish dan Nathan.


"Kenapa kamu diam saja. Ayo kita coba apa yang sudah pernah kita pelajari," kata Nathan.


Tanpa mendengar jawaban dari Danish. Nathan Naik ke tepi kolam. Pria itu melompat dan melakukan salto di udara. Apa yang dilakukan oleh Nathan itu mendapatkan sorakan dari para wanita wanita yang ada di kolam renang itu. Para wanita itu histeris melihat tubuh atletis yang dimiliki oleh Nathan.


"Mau melihat pertunjukan yang lebih hebat lagi?" tanya Nathan. Pria itu kini sudah berdiri di tepi kolam. Para pengunjung bersorak dan menjawab iya secara serentak.


"Ayo Danish. Naik. Tunjukkan padaku jika kamu masih lebih unggul dariku," kata Nathan. Danish terlihat berdecak kesal dan menatap Nathan dengan tajam. Dia tidak suka disuruh apalagi harus bersalto di tempat umum seperti itu. Nathan kembali melompat dan melakukan salto di udara.


"Danish, Danish."


Para pengunjung menyebut nama Danish supaya pria itu melakukan salto seperti Nathan.


"Baiklah, tapi hanya sekali ya," kata Danish. Para pengunjung terlihat bertepuk tangan ketika Danish sudah naik ke tepi kolam.


Danish melompat dan melakukan apa yang dilakukan oleh Nathan. Gerakan Danish di udara terlihat lebih indah dibandingkan dengan gerakan Danish tadi. Bukan hanya teriakan histeris yang menyambut Danish di dalam kolam tapi para wanita itu terlihat mendekati Danish dan mengerumuninya.

__ADS_1


"Sinar, lihat pria itu. Badannya bagus dan tidak kalah dengan badan atlet renang," kata Hana menunjuk ke arah Danish dan Hana. Sama seperti wanita lainnya. Hana juga memperhatikan Nathan dan Danish sejak melakukan salto tadi.


Sinar terlihat enggan melihat ke arah Danish. Tapi Hana memutar kepala Sinar sehingga wanita itu bisa melihat Danish yang dikelilingi para wanita wanita cantik yang berbalut busana kolam renang.


"Gantengan Mana. Yang merah atau biru?' tanya Hana lagi. Danish memakai baju renang warna merah sedangkan Nathan memakai baju renang warna biru.


Sinar tidak menjawab. Dia hanya melihat bagaimana Danish dan Nathan sudah terlihat akrab dengan beberapa wanita itu. Bahkan kini, Nathan sepertinya mengajari wanita wanita cantik itu gaya gaya berenang.


"Kalau aku sih warna merah," kata Hana.


"Mata kamu rusak ya. Yang lebih ganteng itu yang warna biru. Yang warna merah itu tidak ada apa apanya dibandingkan dengan so warna biru," kata Sinar terdenu sewot.


Hana mengerutkan keningnya. Dirinya hanya memberikan penilaian pada dua pria ganteng dan idola di kolam renang itu tapi mengapa Sinar terlihat sewot.


"Ya ampun Sinar. Tampan dan ganteng itu relatif loh. Kalau kamu merasa si biru yang lebih ganteng juga tidak apa apa. Tidak perlu sewot gitu."


"Yang sewot siapa?. Aku tidak sewot sama sekali."


Hana menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia memilih diam. Dia tidak mengerti mengapa sahabatnya itu tiba tiba seperti itu. Hana tidak mau menjawab lagi karena dia takut Sinar semakin jengkel yang akhirnya bisa merusak persahabatan mereka. Ketika Sinar keluar dari kolam renang itu dan memilih duduk di kursi berpayung. Hana memilih untuk berenang. Membiarkan Sinar untuk sendiri saat ini lebih bagus daripada mengajak wanita itu berbicara.


"Hana, pulang yuk!" kata Sinar ketika Hana mendekat ke tepi kolam renang. Hana semakin tidak mengerti dengan sahabatnya itu. Sinar yang bersikeras untuk berenang di tempat ini tapi belum ada mereka setengah jam disini. Sinar sudah meminta pulang. Jujur, Hana belum puas berenang apalagi bermain di wahana permainan itu.


"Sebentar lagi. Masih setengah jam. Kamu sudah minta pulang. Biasanya juga sampai tiga jam," jawab Hana. Setelah mengatakan itu. Hana berenang ke tengah kolam supaya Sinar tidak mendesak dirinya untuk segera pulang.


Sinar menatap punggung Hana yang sedang berenang itu. Sebenarnya, dia juga tidak tega mengajak sahabatnya itu pulang secepatnya ini tapi dirinya juga tidak nyaman berada berdekatan dengan Danish seperti ini. Bukan karena Danish tidak menyapa dirinya. Tapi Sinar merasa tidak nyaman berpakaian seperti itu di hadapan Danish.


Sinar memejamkan matanya. Sinar berpikir antara dirinya dan Danish tidak ada hubungan apa apa lagi. Kabur dari rumah Danish adalah akhir dari hubungan mereka. Danish juga berpura pura tidak mengenalnya itu artinya Danish tidak mengharapkan pertemuan antara dirinya dan Danish. Melihat keadaan Danish di awal melihat pria itu di kolam ini.. Sinar sangat yakin jika Danish yang terlebih dahulu tiba di kolam itu. Sinar mengajak Hana untuk pulang karena Sinar tidak mau, Danish berpikir jika dirinya yang mengikuti Danish ke kolam ini.


"Hana, bagaimana kalau aku pulang duluan saja?" tanya Sinar. Dia menyusul Hana ke tengah kolam hanya untuk meminta ijin pulang terlebih dahulu.


"Ada apa dengan kamu Sinar?" tanya Hana bingung.


"Aku tiba merasa lelah dan ingin istirahat saja."


"Aku tidak percaya," jawab Hana terlihat kecewa dengan sikap Sinar.


"Kita akan pulang sekarang jika kamu memberikan jawaban yang masuk akal dan tepat."


Sinar terdiam. Kisahnya dengan Danish biarlah hanya urusan hatinya. Sinar terlalu malu menceritakan kisah itu karena perbedaaan status diantara mereka. Sinar takut, Hana tidak percaya dan berpikir dirinya terlalu tinggi berhalusinasi.


"Ya sudah. Berenang lah sepuasnya. Aku menunggu kamu di luar saja ya," kata Sinar melunak. Hana menganggukkan kepalanya dan kembali berenang. Bukan niat Hana untuk egois menahan Sinar tetap di kolam itu. Tapi karena Hana mengetahui jika Sinar dalam keadaan tubuh sehat hanya suasana hati saja yang kurang baik.


Sinar kembali duduk di kursi berpayung itu dengan handuk di pundaknya. Dia sebenarnya ingin memesan makanan dan minuman tapi karena untuk memesan makanan. Dirinya harus melewati Danish, Sinar akhirnya harus menahan rasa lapar itu. Sepertinya, benar kata Hana tadi jika dirinya akan menyesal berenang di kolam ini dan itu menjadi kenyataan. Sinar menyesal bukan karena biaya mahalnya tapi menyesal karena harus bertemu dengan pria masa lalunya.


"Hai, boleh duduk disini?"


Sinar menggerakkan kepalanya ke arah sumber suara.


"Ka..kamu?" tanya Sinar tergagap.

__ADS_1


__ADS_2