Sinar Tak Diinginkan

Sinar Tak Diinginkan
Jalan Yang Salah


__ADS_3

"Kamu lagi, kamu lagi," kata Nathan kesal melihat Bintang yang kembali datang ke rumah nya. Baru saja dia membuka pintu. wajah Bintang sudah terpampang jelas di hadapannya.


Tidak seperti dulu, Bintang yang selalu percaya diri menghadapi siapa pun. Kini, wanita itu terlihat malu karena sudah terlalu sering merepotkan Nathan selama dua minggu ini.


"Maaf Nathan."


"Aku bukan rentenir. Jadi pergilah," usir Nathan kesal. Nathan hendak menutup pintu rumahnya dan dengan cepat Bintang menahan pintu itu.


"Aku mohon Nathan. Kali ini saja, tolong bantu aku," kata Bintang. Wajahnya terlihat sangat memohon.


Nathan menatap Bintang dengan sinis. Pria itu sudah menduga tujuan Bintang datang ke rumahnya pasti untuk meminjam uang.


"Uang yang Lima puluh juta saja belum dikembalikan. Kini kamu sudah kembali hendak menambah utang. Kami kira aku mempunyai pohon duit di belakang?"


Bintang hanya menundukkan kepalanya mendengar perkataan Nathan. Sungguh, situasi ini sangat tidak mengenakkan bagi dirinya. Tapi tidak ada cara lain selain meminta tolong kepada Nathan


Nathan melepaskan tangannya dari pintu itu. Meskipun dirinya tidak menyukai Bintang tapi dia juga tidak berniat bersikap kasar kepada wanita itu. Pengalaman hidup Bintang yang berubah seratus delapan derajat, mengajarkan Nathan untuk berusaha bisa memperlakukan Bintang sebagai mana mestinya. Harta hanya titipan dan kesombongan adalah awal kehancuran. Nathan tidak mau seperti Bintang yang jatuh ke titik terendah karena kejahatan orang tuanya.


"Jika tujuan mu untuk meminjam uang lagi. Aku tidak bisa membantu kamu. Kamu tahu kan. Aku bukan seperti Danish yang kaya raya."


Bintang meremas ujung bajunya. Tujuannya jelas meminjam uang. Bisnis yang dikelola Bintang berantakan dan tidak menghasilkan pemasukan. Satu satunya orang yang bisa diharapkan untuk membantu dirinya hanya Nathan. Bintang sudah mencoba minta bantuan kepada teman temannya yang lain Jangankan membantu. Menemui Bintang saja tidak berkenan. Meskipun Nathan bersikap sinis kepada dirinya. Tapi dua minggu yang lalu. Dia berhasil mendapatkan pinjaman dari pria itu. Dan hari ini, Bintang berharap mendapatkan bantuan lagi dari pria itu.


"Nathan, sekali ini saja. Tolong aku Nathan," kata Bintang frustasi. Jika Nathan tidak membantu hari ini. Entah pada siapa lagi, dia meminta pertolongan. Memeras tuan Santosh tidak mungkin lagi karena ternyata tuan Santosh menemukan bukti jika pak Idrus memang terlihat dalam bisnis haram itu. Dan tuan Santosh juga mengancam Bintang akan memberikan bukti itu kepada pihak yang berwajib jika Bintang masih saja memeras dirinya dan mengancam Danish tentang bunga Edelweiss itu.


Pada akhirnya, Bintang mengaku kalah kepada Tuan Santosh dengan tidak menunjukkan wajahnya lagi di hadapan pria itu. Bintang tidak mempunyai alasan lagi untuk memeras Tuan Santosh.


"Bintang. Kamu mengerti tidak bahasa Indonesia. Aku tidak bisa membantu kamu lagi Bintang," bentak Nathan.


Nathan tidak kalah frustasi karena Bintang. Meskipun dirinya bisa menolak dengan tegas permintaan Bintang Tapi jika didatangi seperti ini dengan wajah yang menyedihkan tenta saja membuat Nathan merasa terbebani. Andaikan bisa menghindar saat ini juga. Nathan sudah menghindar.


"Kalau kamu butuh uang. Seharusnya kamu menjual aset yang ada bukan menyusahkan aku seperti ini."


Tapi sayangnya, aset yang dimiliki keluarga Bintang saat ini hanya rumah yang mereka tempati saat ini. Mobil tuan Santosh dan aset lainnya sudah terjual. Uang haram yang selama ini dikumpulkan habis tidak tersisa.


"Aku sudah berencana menjual rumah dan Mobil ku Nathan, Kalau sudah terjual nanti. Aku berjanji akan mengembalikan uang kamu. Saat ini aku hanya butuh dua puluh juta."


Nathan menatap Bintang. Membayangkan Bintang jatuh miskin hingga menjual rumah dan Mobil menimbulkan rasa kasihan di hatinya tapi di sisi lain. Dirinya sangat kesal dan tidak ingin melihat wajah Bintang di hadapan seperti saat ini.


"Apa kamu melakukan itu untuk membebaskan pak Idrus dari penjara?".


Bintang menganggukkan kepalanya. Benar z dia meminjam uang itu untuk menyewa jasa pengacara. Jika pak Idrus tidak bisa bebas bersyarat setidaknya pak Idrus bisa mendapatkan hukuman ringan. Begitu yang selalu dikatakan pak Idrus setiap dia mengunjungi papa nya itu. Bintang pun berharap seperti itu. Mempunyai papa yang terkurung di jeruji besi merupakan aib bagi Bintang itulah sebabnya dia ingin papa nya cepat keluar dari penjara.


"Dengar Bintang. Aku tahu kamu sangat menyayangi papa kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Orang yang bersalah harus dihukum. Sebagai seorang anak. Kamu harus menyadarkan pak Idrus akan kesalahannya. Biarkan pak Idrus menjalani hukuman karena bagaimana pun itu harus terjadi. Pak Idrus mendapatkan hukuman karena bersalah. Meskipun posisi kamu seorang anak jangan membela yang salah. Kalau bukan kamu yang menyadarkan pak Idrus. Siapa lagi?" kata Nathan.

__ADS_1


Nathan berharap, dengan perkataannya itu. Bintang juga sadar akan kesalahan pak Idrus.


"Tapi papaku tidak bersalah. Dia menjadi tersangka karena difitnah."


Bintang masih berusaha membela Pak Idrus. Bintang ingin Nathan percaya bahwa papanya tidak bersalah. Lagipula, Bintang berkata seperti itu untuk membersihkan nama baik Pak Idrus yang terlanjur sudah tercemar.


"Siapa bilang papa kamu difitnah. Aku dan Danish mempunyai bukti keterlibatan papa kamu dan kami sudah menyerahkan bukti itu ke pak Santosh."


Bintang terdiam dan tidak bisa membantah perkataan Nathan karena dirinya juga sudah melihat bukti itu.


"Aku menyarankan jika kamu sudah berhasil menjual rumah itu. Sebaiknya kamu membeli rumah yang lebih kecil. Itu lebih bagus daripada tinggal di rumah kontrakan,"kata Nathan lagi. Dia menyarankan itu karena tidak bisa membayangkan jika uang hasil penjualan rumah Bintang habis tidak tersisa hanya karena membebaskan pak Idrus dari penjara.


Bintang menatap Nathan. Dulu, sebelum Danish menyatakan cinta kepada dirinya. Nathan sudah terlebih dahulu mengatakan cintanya. Tapi Bintang menolak karena dirinya mencintai Danish. Nathan tidak langsung dendam karena itu. Nathan perlahan bisa membunuh rasa cinta itu hingga tidak bersisa meskipun Bintang saat ini tidak lagi bersama Danish. Dan Nathan bersyukur, jika dirinya menjadi kekasih Bintang saat ini. Bisa dipastikan jika kedua orang tuanya pasti tidak merestui hubungan itu. Karena kedua orangtuanya paling anti dengan penjahat masyarakat.


"Apa dia mengatakan itu karena masih ada rasa untukku?" batin Bintang. Dia menatap Nathan. Kata kata Nathan terdengar bijak Sana.


"Terima kasih atas sarannya Nathan. Tapi untuk kali ini, tolong bantu aku," kata Bintang. Dia kembali memohon akan alasan kedatangannya ke rumah ini.


Nathan tidak bersuara dan menggelengkan kepalanya.


"Jika kamu ragu aku tidak bisa membayar utang utangku. Aku bersedia memberikan tubuhku kepada kamu. Aku rasa tujuh puluh juta tidak terlalu Mahal untuk membuka segel ku. Bukankah kamu juga membayar para wanita wanita murahan itu untuk memuaskan mu."


Tidak ada jalan lain lagi bagi Bintang untuk mendapatkan uang. Ini adalah jalan terakhir. Uang dua puluh juta yang hendak dia pinjam Hari ini bukan untuk kepentingan pak Idrus melainkan untuk membawa mamanya terapi. Tanpa sepengetahuan Nathan. Minggu lalu, mamanya Bintang terkena stroke.


Nathan tersenyum sinis. Dua minggu lalu, Bintang masih bersikap jual mahal akan tawaran nya. Kini wanita itu yang menyodorkan dirinya sendiri demi pelunasan utang dan mendapatkan utang kembali. Lagipula Nathan menawarkan pelunasan hutang itu dengan tubuh Bintang supaya wanita itu kapok meminjam uang kepadanya.


"Kamu yakin?" tanya Nathan dengan seringai licik di wajahnya. Sebagai buaya wanita. Dia tentu saja tidak akan menolak mangsa. Apalagi mendengar sendiri jika Bintang masih bersegel membuat Nathan penasaran bermain dengan wanita yang masih bersegel.


Bintang menganggukkan kepalanya. Dia siap melepaskan hal berharga itu untuk kesembuhan mamanya. Dia berpikir lebih baik dirinya menjual tubuhnya kepada Nathan daripada ke pria yang tidak dia kenal.


"Kamu yang menawarkan ya Bintang. Dan kamu harus tahu. Berbisnis dengan ku. Ada barang ada uang. Kalau aku memintanya sekarang. Apa kamu siap?" tanya Nathan menantang Bintang.


"Berapa lama kira kira melakukan itu?" tanya Bintang polos. Hari ini, mamanya direncanakan akan terapi pertama setelah empat hari terbaring di tempat tidur rumah sakit.


"Dua sampai tiga jam."


"Bisakah nanti malam saja. Aku janji akan datang."


"Kalau begitu. Uangnya nanti malam saja."


Bintang tidak bisa menahan air matanya lagi. Bintang menangis menghadapi kehidupannya saat ini. Dulu, baginya uang seratus juta hal kecil bagi dirinya. Kini, demi mendapatkan uang dua puluh juta dan melunasi utang Lima puluh juta. Dirinya harus menjual tubuhnya.


Bintang seketika menyesal tidak menggunakan uangnya dulu dengan baik. Puluhan juta hanya untuk membeli tas atau sepatu demi gaya hidup. Sebelum kasus pak Idrus terbongkar. Bintang memang mampu membeli yang dia mau tanpa menyusahkan kedua orangtuanya ataupun meminjam seperti saat ini. Kini di saat dia membutuhkan yang yang sangat mendesak. Bintang harus memohon dan bahkan menawarkan dirinya. Bintang merasa frustasi tapi tidak bisa larut dalam frustasi itu karena ada sang mama yang membutuhkan pertolongan secepatnya.

__ADS_1


Melihat Bintang menangis, Nathan kembali merasa kasihan pada Bintang yang sangat terlihat hancur. Wanita itu tidak seperti wanita berkelas yang dia kenal dulu. Bintang tak ubahnya seperti pengemis yang memakai pakaian bermerek.


"Mama ku terkena stroke. Hari ini jadwal pertama terapi nya."


Akhirnya Bintang jujur akan penggunaan uang dua puluh juta itu. Awalnya dia ingin memendam penderitaan itu seorang diri tapi sepertinya dia harus menceritakan keadaan sang mama supaya Nathan tersentuh dan bersedia memberikan pinjaman.


Nathan terdiam dan semakin kasihan akan perjalanan hidup Bintang.


"Aku sudah mengirimkan uang itu ke rekening mu. Pergilah. Bawa mama kamu terapi," kata Nathan setalah melakukan transaksi pengiriman uang lewat ponselnya. Dia tidak tega menolak permintaan Bintang karena hal itu menyangkut keselamatan mamanya Bintang.


"Terima kasih, terima kasih Nathan. Aku janji akan datang nanti malam," kata Bintang. Nathan tidak menjawab. Bintang bahkan membungkukkan tubuhnya di hadapan Nathan sebagai bentuk terima kasihnya.


"Aku tahu ini jalan yang salah. Tapi aku tidak mempunyai jalan lain," batin Bintang.


Di tempat lain. Sinar terlihat tidak bersemangat. Dia lebih banyak melamun daripada bekerja. Hana sudah banyak mengemas keripik ubi itu sedangkan Sinar masih beberapa.


"Ada apa Sinar. Mengapa kamu melamun saja?" tanya Hana.


Sinar tersentak dan langsung memasukkan keripik ubi itu ke dalam kemasan yang sedari tadi dia pegang.


"Ah, tidak apa apa Hana. Aku hanya mengantuk," jawab Sinar. Sinar berbohong. Dia tidak ingin menceritakan keraguan hatinya akan Danish meskipun itu kepada Hana sebagai sahabatnya.


Sinar mmasih terganggu dengan pembicaraannya dengan Danish tadi pagi. Bukan masalah tentang hamil yang menjadi kriteria dari pencalonan Danish sebagai Direksi. Sinar hanya khawatir jika dirinya nanti hamil dan Danish terpilih menjadi Direksi, tuan Santosh akan memisahkan dirinya dari Danish.


Membayangkan itu. Sinar jadi takut hamil. Dia tidak siap jika dipisahkan nanti dari anaknya mengingat tuan Santosh pernah berkata jika mengijinkan mereka menikah hanya karena kepentingan pria itu.


"Cukup hanya aku yang mendapatkan penghinaan dari tuan Santosh," batin Sinar.


"Hana, aku tinggal sebentar ya," kata Sinar. Hana menganggukkan kepalanya.


Sinar kini berada di depan sebuah apotik. Dia ragu untuk melangkah mendekati apotik itu. Pikirannya berkecamuk. Membiarkan benih Danish tumbuh di rahimnya atau menghambat benih itu tumbuh di dalam rahimnya.


"Apakah aku salah jika tidak ingin hamil dulu sebelum memastikan jika keinginan Danish mendapatkan anak secepatnya hanya karena pencalonan Direksi itu?" tanya Sinar dalam hatinya.


Sinar semakin bingung mengingat keinginan Danish sangat besar untuk menjadi Direksi. Jika dirinya menunda kehamilan itu artinya. Dia tidak mendukung keinginan suaminya.


Sinar akhirnya membulatkan tekadnya mendekati apotik. Dia tidak ingin anaknya kelak jadi korban jika Tuan Santosh bersikeras memisahkan dirinya dari Danish.


"Mbak, pil kontrasepsi ada?" tanya Sinar.


"Ada mbak," jawab petugas apotik itu.


"Maafkan aku Danish. Mungkin yang aku lakukan ini adalah jalan yang salah. Tapi ini lebih baik daripada seorang anak menjadi korban keegoisan papa kamu," batin Sinar.

__ADS_1


__ADS_2