
"Aku tidak menginginkan apa apa. Kamu pulang dengan selamat dalam keadaan sehat. Itu sudah cukup bagiku," kata Sinar kepada Danish lewat sambungan telepon milik nyonya Amalia. Entah mengapa dirinya bisa mengatakan seperti itu kepada Danish padahal dirinya muak kepada pria itu Tidak jauh dari tempat Sinar berdiri. Nyonya Amalia terharu mendengar jawaban Sinar. Wanita itu bisa merasa ketulusan hati Sinar dalam bersikap maupun dalam berbicara.
Dua hari setelah Danish dan Bintang pergi berlibur. Danish menghubungi nyonya Amalia dan ingin berbicara dengan Sinar. Dia menanyakan apa yang diinginkan oleh Sinar sebagai oleh oleh dari dirinya.
Danish seketika mengganti panggilan suara itu menjadi panggilan video. Danish yang sedang berada di sebuah toko menunjukkan barang barang di toko itu. Dia berharap Sinar memilih salah satu dari barang yang dia anggap sangat bagus.
"Kamu tidak mau ini?" tanya Danish sambil menunjukkan sebuah kalung yang sangat unik. Sinar menggelengkan kepalanya. Banyak barang barang unik yang ditunjukkan oleh Danish. Tapi satupun tidak ada yang menjadi pilihan Sinar. Sinar memang tidak mengharapkan apapun dari Danish selain melepaskan dirinya pergi dari rumah itu. Dia tidak tergiur dengan apapun. Dia hanya ingin seorang pria yang tulus mencintai dirinya.
Di layar ponsel itu. Sinar dapat melihat Danish menghembuskan nafasnya dengan kasar pertanda pria itu sedang kecewa.
"Jadi kamu tidak menginginkan sesuatu?" tanya Danish. Sinar hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan menerima apapun dari pria itu meskipun hanya sekedar oleh oleh. Jangankan menerima pemberian pria itu, untuk melihat wajah Danish saja. Sinar tidak ingin.
"Ini ponselnya Nyonya," kata Sinar. Panggilan video itu belum berakhir. Tapi Sinar memilih mengakhiri pembicaraan itu dengan mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Jangan pergi dulu Sinar. Duduk lah dulu," kata Nyonya Amalia. Mereka sekarang berada di ruangan pribadi nyonya Amalia. Sinar menurut, dia duduk di sofa panjang di dalam ruangan itu.
"Entah apa yang Ada di pikiran kamu Danish. Kamu masih dalam pemulihan. Tapi kamu sudah memaksakan diri untuk berlibur. Cinta boleh. Bodoh jangan dipelihara," kata mama Amalia kesal.
Bagaimana Nyonya Amalia tidak kesal. Kaki kanan Danish belum sembuh sempurna tapi pria itu sudah mengabaikan kesehatannya sendiri demi berlibur dengan wanita yang sangat dicintainya. Andaikan dirinya mengetahui rencana berlibur itu lebih awal. Nyonya Amalia pasti melarang Danish. Nyonya Amalia baru mengetahui liburan itu setelah Danish dan Bintang sudah di tempat liburan.
"Mama tenang saja. Bintang menjaga aku dengan sangat baik."
"Sudahlah, putuskan saja panggilannya," jawab Nyonya Amalia kesal. Nyonya Amalia tidak hanya kesal kepada Danish tapi juga kepada Bintang. Dia merasa, Bintang kurang pengertian akan kesehatan Danish. Seharusnya liburan itu ditunda sampai kaki kanan Danish benar benar sembuh. Sebagai seorang ibu. Nyonya Amalia sangat khawatir dengan kesehatan Danish.
Sinar mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya Amalia kepada Danish. Perkataan Nyonya Amalia mewakili isi hatinya. Ketika mendengar Danish hendak liburan. Di pikirannya Sinar hanya kesehatan kaki pria itu. Tapi untuk melarang atau memberikan saran. Sinar merasa tidak mampu karena dirinya sadar siapa dirinya bagi Danish dibandingkan Bintang. Sinar hanya berpikir apa yang menjadi tanggapan Nyonya Amalia jika mengetahui tujuan Danish melakukan pendakian terakhir yang ternyata untuk mengambil Bunga edelweiss permintaan Bintang sebagai bukti keseriusan cinta Danish kepada wanita itu.
Sinar memukul keningnya sendiri ketika menyadari di saat dirinya muak kepada Danish tapi masih saja mengkhawatirkan kesehatan pria itu.
"Ikut aku Sinar," ajak Nyonya Amalia sambil berjalan melewati Sinar. Sinar beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah wanita itu. Sinar mengerutkan keningnya ketika nyonya Amalia membawa dirinya ke sebuah pintu tapi bukan pintu keluar masuk ruangan itu.
"Ayo masuk."
Sinar tercengang. Ternyata ruangan pribadi nyonya Amalia terhubung dengan ruangan lain yang dia perkirakan sebagai ruangan salon pribadi wanita itu. Di ruangan itu, alat alat salon seperti hair steamer, massage bed dan peralatan lainnya tersedia dengan dua wanita yang sedang bersiap melakukan pekerjaan mereka.
"Pantas saja Nyonya Amalia sangat cantik dan awet muda. Ternyata dia punya salon pribadi di rumah ini," batin Sinar mengagumi ruangan itu dan kecantikan nyonya Amalia.
"Lina, perkenalkan. Dia Sinar calon menantuku yang aku bicarakan dua hari yang lalu kepada mu. Tolong berikan pelayanan mu yang terbaik untuk dia," kata Nyonya Amalia sambil menarik Sinar dengan lembut. Sinar dan wanita bernama Lina itu saling berjabat tangan. Sinar membantah dalam hati jika dirinya calon menantu Nyonya Amalia.
"Aku pastikan, Nyonya akan puas melihat hasil pelayanan kami pada non Sinar," jawab wanita itu sambil mempersilahkan Sinar untuk duduk di kursi yang di depannya ada cermin besar.
__ADS_1
"Kita mulai dari merapikan rambutnya ya non," kata Lina. Sinar menoleh ke nyonya Amalia.
"Tinggalkan kami berdua dulu Lina," perintah Nyonya Amalia. Nyonya Amalia dapat melihat kebingungan dan rasa sungkan di wajah Sinar.
"Nyonya, aku tidak bisa menerima ini," kata Sinar. Perlakuan Nyonya Amalia Dan tuan Santosh sangat berbeda. Dan Sinar tidak ingin menerima kebaikan Nyonya Amalia karena dirinya sudah membuat perjanjian dengan Tuan Santosh. Sinar tidak ingin dianggap manusia yang tidak tahu berterima kasih nantinya oleh Nyonya Amalia.
"Aku tidak menerima penolakan Sinar. Asal kamu tahu seorang wanita itu perlu merawat diri Sinar. Jangan berpikiran yang lain lain atas apa yang aku lakukan ini. Apa pun yang aku berikan kepada kamu. Hal itu tidak akan membuat kamu terikat nantinya. Percaya padaku. Ini aku lakukan untuk kebaikan kamu di kemudian hari."
Sinar tidak bisa menolak perawatan diri yang ditawarkan oleh Nyonya Amalia. Kini Lina, sudah melakukan pekerjaannya dengan memulai merapikan rambut Sinar.
"Kalau sering perawatan. Aku pastikan kamu pasti sangat cantik non," kata Lina sambil melakukan facial di wajah Sinar. Sinar hanya tersenyum. Begitu juga dengan Nyonya Amalia yang juga melakukan perawatan wajah di ruangan itu.
Nyonya Amalia membenarkan perkataan Lina. Sinar memang terlihat tidak cantik dan tidak jelek itu karena kulitnya yang terlihat sedikit kusam karena sering beraktivitas di bawah matahari. Nyonya Amalia sangat yakin jika kulit Sinar lebih cerah dan wajahnya bening. Kecantikan wanita itu pasti akan terpancar. Dan Nyonya Amalia menginginkan hal itu sebelum tiba pertunangan antara Danish dan Bintang.
"Bagaimana rasanya Sinar. Lebih ringan dan segar kan?" tanya Lina setelah perawatan itu selesai. Hampir dua jam dia dan Nyonya Amalia melakukan perawatan itu.
"Iya mbak. Rasanya memang lebih ringan dan segar," jawab Sinar jujur dan malu malu. Nyonya Amalia hanya tersenyum mendengar pengakuan jujur dan sikap yang ditunjukkan oleh Sinar.
Sinar tidak hanya mendapatkan perawatan hari ini. Nyonya Amalia juga memberikan skincare yang jauh lebih bagus daripada yang diperiksa oleh Bintang.
"Nyonya, apa ini tidak berlebihan?" tanya Sinar. Ternyata di dalam paper bag berisi skincare itu ada juga ponsel yang lengkap dengan kotaknya.
Bukan hanya untuk tampil lebih cantik. Nyonya Amalia juga menginginkan Sinar untuk mempunyai wawasan yang luas.
Sinar masih terlihat ragu untuk menerima pemberian nyonya Amalia itu. Tapi anggukan kepala Nyonya Amalia dan sorot matanya yang memancarkan ketulusan membuat Sinar tidak tega menolak pemberian itu. Dia takut, Nyonya Amalia akan tersinggung jika dirinya tidak menerima pemberian itu.
"Ayo, sekarang ikut aku lagi," kata Nyonya Amalia. Sinar ingin bertanya tapi Nyonya Amalia sudah menggandeng tangan Sinar dan membawa Sinar keluar dari salon pribadi Nyonya Amalia. Lagi lagi sikap Nyonya Amalia menunjukkan jika dirinya tidak bisa ditolak.
Sinar hanya pasrah ketika nyonya Amalia menyuruh dirinya masuk ke dalam mobil. Percuma dirinya menolak karena Nyonya Amalia tidak bisa dibantah. Sinar hanya pasrah kemana supir itu membawa mereka berdua. Sinar memandangi jalanan itu dengan termenung. Dua minggu lebih sejak dirinya menginjakkan kaki di Kota. Ini pertama kalinya dia keluar dari rumah Danish. Di kota ini, untuk yang kedua kalinya. Sinar patah hati oleh laki laki yang dia pikir mencintai dirinya. Dan beberapa minggu lagi. Sinar akan meninggalkan kota ini dengan membawa luka hati yang entah kapan sembuh.
"Ayo turun Sinar."
Sinar tersadar dari lamunannya. Dia membuka pintu mobil dan kemudian turun. Dia menengadah ke atas dan melihat gedung tinggi.
"Ayo masuk."
Sinar melangkah. Memperhatikan sekeliling dan berusaha tidak kampungan. Ketika pintu kaca otomatis terbuka. Sinar sudah menduga jika tempat yang mereka datangi saat ini adalah mall. Tidak ingin mempermalukan nyonya Amalia. Sinar memperhatikan gerak gerik Nyonya Amalia dan menirunya ketika Naik escalator. Hampir saja kakinya tertinggal tapi dengan cepat, Sinar melompat ke escalator. Sinar merasa lega karena posisi nyonya Amalia berada di depannya sehingga tidak melihat apa yang terjadi di belakang tubuhnya.
"Tunggu sebentar ya," kata Nyonya Amalia setelah Sinar duduk di bangku kayu atas perintah Nyonya Amalia di depan stan penjual es krim.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Nyonya Amalia muncul di hadapan Sinar dengan dua cup es krim. Nyonya Amalia memberikan satu cup es krim kepada Sinar.
"Kamu memperhatikan suasana kota dan mall ini Sinar?" tanya Nyonya Amalia. Sinar menganggukkan kepalanya. Apa yang kamu perhatikan sepantasnya perjalanan tadi?.
Sinar menceritakan dengan polos dan apa adanya. Dia menyebutkan banyaknya gedung gedung yang menjulang tinggi, padatnya kendaraan dan juga aksi para pengemis dan pengamen di lampu merah.
"Begini lah kehidupan di kota Sinar. Penuh kesenangan bagi yang bisa mengalahkan kejamnya ibukota dan penuh kepahitan bagi mereka yang dikalahkan oleh kekejaman ibukota."
"Sudah hukum alam orang yang berduit dan punya jabatan dihargai dan dihormati. Dan untuk menjadi orang berduit dan mempunyai jabatan butuh perjuangan dan proses. Ada saatnya nanti orang yang lemah akan menjadi kuat. Orang yang dihina akan dihargai. Tentu saja, jika orang tersebut mau berjuang dan berproses. Kamu lihat pelayan itu?" tanya Nyonya Amalia sambil menunjuk seorang pelayan yang sedang sibuk melayani pembeli.
"Iya Nyonya."
"Kamu lihat, dia seorang pelayan. Tapi kita tidak tahu perjuangannya menaklukkan kejamnya ibukota ini."
"Apa maksudnya nyonya."
"Kita tidak tahu apa yang dia kerjakan selain bekerja sebagai pelayan. Bisa saja dia kerja sambil kuliah atau mempunyai kerja sampingan lainnya. Banyak perjuangan positif para pelayan seperti mereka demi mengubah masa depan yang cerah. Bisa saja kita melihatnya saat ini sebagai pelayan tapi Lima tahun lagi. Dia sudah menjadi seorang manager atau lebih hebat dari itu."
Sinar mencerna kata kata Nyonya Amalia dengan baik. Dia menangkap apa yang dikatakan nyonya Amalia untuk memotivasi dirinya.
"Aku akan mendaftarkan kamu di perguruan tinggi tahun ajaran ini. Aku ingin kamu berjuang dan berproses demi dirimu sendiri dan Masa depan kamu. Aku percaya kamu bisa menjadi istri yang baik sekaligus sebagai mahasiswa. Aku percaya, kamu pasti bisa sukses nantinya.
Nyonya Amalia menatap Sinar. Dia sengaja membawa Sinar ke luar dari rumah untuk menunjukkan kepada Sinar bagaimana perjuangan masyarakat kecil untuk bertahan hidup dan berproses. Dia sudah menyukai Sinar dan menginginkan wanita itu menjadi menantunya. Terlepas dari pertolongan Sinar kepada Danish, Nyonya Amalia menyukai sikap Sinar yang sopan dan tidak pemalas. Dia juga menyukai sikap Sinar yang sangat pengertian kepada Danish. Nyonya Amalia siap untuk membantu Sinar berjuang menjadi wanita mandiri dan mempunyai bobot.
Sebagai seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan putranya. Nyonya Amalia membandingkan sikap Sinar dan Bintang. Nyonya Amalia tidak menginginkan menantu yang kaya, berwasasan luas dan berpendidikan tapi egois. Nyonya Amalia menilai sikap Bintang yang memaksakan liburan dengan Danish adalah sikap yang egois.
"Bagaimana Sinar. Kamu bersedia kan?.
Sinar tidak menjawab. Dalam hati dirinya ingin berjuang dan berproses tapi bukan bantuan dari Nyonya Amalia. Kata kata Tuan Santosh masih jelas tersimpan di pikirannya. Jika dirinya menerima tawaran Nyonya Amalia. Itu artinya, dia akan mendapatkan penghinaan lagi. Sinar menghargai apa yang sudah dilakukan dan diberikan oleh Nyonya Amalia kepada dirinya.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Bintang merasa kesal kepada Danish. Mereka sudah merencanakan liburan itu selama satu minggu. Tapi Danish ingin pulang besok dengan alasan pekerjaan yang sangat mendesak.
"Kamu boleh melanjutkan liburan kamu sesuai dengan rencana Kita. Tapi aku tetap kembali besok," kata Danish dengan tegas. Bintang bersikeras untuk tetap menghabiskan satu minggu untuk liburan.
"Pulang lah. Entah dimana hati mu tega meninggalkan aku sendirian di tempat asing seperti ini. Aku rasa kalau tentang pekerjaan bisa diwakilkan kepada bawahan kamu. Kecuali kalau menyangkut perasaan. Harus bertemu obatnya kan?" tanya Bintang sinis.
"Apa maksud kamu Bintang?"
"Jujur saja Danish. Kamu pasti merindukan Sinar. Makanya buru buru ingin pulang."
__ADS_1